MANTAN SUAMI MILIARDERKU SENGAJA DUDUK DI SEBELAHKU DI PESAWAT UNTUK MENGHINAKU

Blake tertawa terbahak-bahak, suaranya menggema di lobi VIP yang mewah. “Penjemputmu? Apa? Taksi daring? Atau mungkin seseorang dengan mobil sewaan yang sudah karatan?”

Dia menunjuk ke arah barisan mobil di kejauhan dengan dagunya yang terangkat angkuh. “Lihat itu, Clara. Itu Bentley Mulliner edisi terbatas milikku. Dibangun khusus untuk pria yang memiliki segalanya. Sekarang, saksikanlah bagaimana hidup yang sebenarnya terlihat.”

Tepat pada saat itu, sebuah Bentley Continental GT berwarna midnight blue yang berkilau di bawah lampu sorot bandara meluncur dengan keanggunan seorang predator. Mobil itu berhenti tepat di depan kami. Blake membusungkan dada, bersiap untuk memamerkan kekayaannya kepada sang sopir.

Namun, pintu mobil itu terbuka bukan oleh sopir, melainkan oleh tiga sosok kecil yang berlari keluar dengan penuh semangat. Mereka adalah dua anak laki-laki kembar yang tampak berusia empat tahun dan seorang anak perempuan berusia enam tahun dengan gaun sutra yang cantik.

“MOMMY!” teriak mereka serempak, mengabaikan Blake sepenuhnya.

Rahang Blake jatuh. Matanya membelalak, hampir keluar dari rongganya. Dia berdiri mematung, seolah tersambar petir di siang bolong. “Apa… apa ini? Siapa anak-anak ini?” gagapnya, suaranya pecah.

Aku berlutut, merentangkan tangan, dan memeluk ketiga malaikat kecilku. “Kalian merindukan Mommy, ya?” ucapku sambil mencium pipi mereka satu per satu.

Seorang pria jangkung dengan setelan jas bespoke turun dari kursi pengemudi. Dia bukan sopir. Dia adalah suamiku saat ini, Julian, salah satu taipan real estat paling berpengaruh di Asia, yang jauh lebih kaya dan lebih berkuasa daripada Blake Harrington.

Julian berjalan mendekat, merangkul pinggangku dengan posesif namun lembut, lalu menatap Blake dengan tatapan yang dingin dan mematikan. “Ada masalah, Harrington? Atau kamu sedang terpesona melihat betapa bahagianya istriku?”

Blake tidak bisa berkata-kata. “T-tapi… dokter bilang… dia mandul. Dia tidak bisa… dia tidak mungkin punya anak!”

Aku berdiri, memeluk Julian dengan mesra, lalu menatap mata Blake yang penuh ketidakpercayaan. “Dokter yang kamu sewa saat itu adalah teman dekatmu, bukan, Blake? Dia dibayar untuk memalsukan hasil tes karena kamu ingin alasan untuk menyingkirkanku tanpa harus membagi harta gono-gini. Kamu membuangku karena kamu ingin menikah dengan wanita yang bisa memberikanmu ‘pewaris’ untuk menutupi kelemahanmu sendiri—karena faktanya, kamulah yang tidak bisa memberikan keturunan.”

Dunia Blake seakan runtuh. Wajahnya pucat pasi. “Itu… itu mustahil…”

“Itu adalah kebenaran yang kamu kubur demi ego besarmu,” lanjutku tegas. “Dan omong-omong soal istrimu yang akan datang—model cantik itu? Dia baru saja melarikan diri tadi pagi dengan membawa setengah aset likuidmu ke kepulauan Cayman. Berita itu baru saja masuk ke ponselku.”

Aku mengeluarkan ponsel, menunjukkan notifikasi berita utama ekonomi yang terpampang besar: ASET KELUARGA HARRINGTON TERANCAM BANGKRUT SETELAH PENIPUAN SKALA BESAR OLEH PASANGANNYA.

Blake jatuh terduduk di lantai bandara. Kebanggaannya, uangnya, dan egonya hancur dalam hitungan detik.

Namun, plot cerita tidak berhenti di sana.

Julian, yang selama ini diam, mengeluarkan selembar kertas dari saku jasnya. “Oh, dan satu lagi, Blake. Kontrak merger yang kamu tandatangani minggu lalu dengan perusahaan indukku? Itu bukan untuk menyelamatkan perusahaanmu. Itu adalah langkah terakhirku untuk mengambil alih seluruh asetmu karena kegagalan pembayaran utang jatuh tempo hari ini.”

Julian membelai rambutku dengan lembut. “Ayo sayang, anak-anak sudah lapar. Kita punya reservasi makan malam di restoran yang baru saja kubeli untukmu.”

Kami berbalik meninggalkan Blake yang hancur di lantai. Tapi saat aku hampir masuk ke dalam Bentley, aku berhenti sejenak. Aku mengeluarkan sebuah amplop kecil dari tas tanganku dan melemparkannya ke arah Blake.

“Itu cek untukmu,” kataku dingin.

Blake menatapku dengan mata berkaca-kaca, penuh harap. Dia mengira aku masih memiliki belas kasihan. Dia membuka amplop itu dengan tangan gemetar.

Wajahnya berubah menjadi abu. Itu bukan cek uang. Itu adalah tagihan biaya upgrade kursi First-Class yang dia bayarkan lima ribu dolar tadi di pesawat, ditambah tagihan pembersihan untuk noda kopi yang tumpah di lantai bandara akibat kejatuhannya tadi. Di bawahnya tertulis sebuah catatan: Bayarlah hutangmu sebelum kamu menjadi gelandangan.

Kami meluncur pergi dengan Bentley, meninggalkan miliarder arogan yang kini hanya menjadi sejarah dalam hidupku.

Ternyata, karma tidak datang dalam bentuk petir atau badai. Karma datang dalam bentuk Bentley, keluarga yang penuh kasih, dan sebuah kebenaran telak yang menghancurkan semua kebohongan yang pernah ia bangun. Blake Harrington tidak hanya kehilangan hartanya; dia kehilangan identitasnya sendiri. Dan saat mobil kami menjauh, aku tidak lagi menoleh ke belakang. Bagiku, dia bukan lagi mantan suami; dia hanyalah debu yang tertinggal di landasan pacu, terlupakan oleh waktu yang terus bergerak maju.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang