Maya tidak langsung membungkuk mengambil uang yang berserakan di lantai. Tatapannya justru beralih ke gelas kopi yang masih berada di dalam kantong kertas di tangannya. Ia menarik napas pelan, lalu mengangkat kembali pandangannya ke arah Isabella.
“Aku dibayar untuk mengantarkan pesanan ini kepada nama yang tertera di aplikasi. Bukan untuk melayani penghinaan.”
Beberapa tamu saling berpandangan. Ada yang menahan tawa, ada pula yang mulai merekam menggunakan ponsel.
Isabella mengangkat dagunya.

“Kalau begitu cepat serahkan kopinya, lalu pergi. Kau membuat suasana pesta jadi murahan.”
Maya mengeluarkan satu gelas iced coffee dan membaca nama pada label.
“Pesanan atas nama… Daniel.”
Ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.
“Apakah ada yang bernama Daniel?”
Tak seorang pun menjawab.
Seorang pria tua yang berdiri di dekat panggung mengangkat tangan.
“Mungkin tamu dari pihak bisnis. Tadi memang ada yang bilang sedang menunggu seseorang.”
Maya mengangguk kecil.
“Baik. Aku akan menunggu beberapa menit.”
Isabella menggeleng kesal.
“Tidak perlu menunggu. Taruh saja di meja resepsionis.”
“Maaf. Prosedur perusahaan kami mewajibkan pesanan bernilai khusus diserahkan langsung kepada penerima.”
Ucapan itu kembali mengundang tawa.
“Bernilai khusus?” ejek salah satu tamu. “Itu cuma kopi.”
Maya hanya tersenyum tipis.
Beberapa menit berlalu.
Prosesi pernikahan kembali dilanjutkan. Musik mulai dimainkan. Pembawa acara mengambil alih suasana.
Namun tepat ketika Adrian hendak mengangkat gelas untuk bersulang, terdengar suara rem beberapa kendaraan dari luar paviliun.
Suara itu begitu kompak hingga seluruh ruangan kembali hening.
Seorang petugas keamanan berlari masuk dengan wajah pucat.
“Permisi…”
Belum sempat ia melanjutkan kalimatnya, belasan SUV hitam berhenti berjejer di depan pintu utama.
Beberapa pria dan wanita berjas hitam turun dengan langkah cepat namun teratur.
Di belakang mereka, sebuah sedan listrik berwarna hitam metalik berhenti tepat di depan tangga masuk.
Suasana pesta berubah total.
“Bukankah itu rombongan…”
“Aku pernah melihat logo itu.”
“Itu perusahaan teknologi…”
Bisik-bisik mulai terdengar dari segala arah.
Seorang wanita berusia sekitar empat puluh tahun melangkah masuk. Penampilannya sederhana tetapi berwibawa. Di belakangnya beberapa staf membawa map-map dokumen.
Ia melihat sekeliling ruangan selama beberapa detik.
“Laporan kami menyebutkan beliau masih berada di lokasi ini.”
Semua tamu saling berpandangan.
Isabella melangkah maju dengan senyum percaya diri.
“Selamat datang. Saya Isabella Monteverde.”
Wanita itu mengangguk sopan.
“Selamat atas pernikahannya.”
Isabella tersenyum semakin lebar.
“Apakah Anda datang untuk bertemu keluarga Monteverde?”
“Bukan.”
“Lalu dengan Adrian? Ia seorang arsitek.”
“Bukan.”
Wanita itu kembali melihat sekeliling hingga akhirnya pandangannya berhenti pada Maya yang masih memegang kantong kopi.
Wajahnya langsung berubah lega.
“Nona Maya.”
Seluruh ruangan mendadak sunyi.
Wanita itu berjalan cepat menghampiri Maya lalu sedikit membungkukkan badan.
“Maaf membuat Anda menunggu. Kami terjebak kemacetan dari Manila.”
Maya tersenyum.
“Tidak apa-apa.”
Wanita itu menerima gelas kopi dari tangan Maya.
“Terima kasih. Beliau sudah menunggu kopi ini sejak pagi.”
Isabella mengernyit.
“Maaf, saya tidak mengerti. Siapa sebenarnya yang Anda cari?”
Wanita itu menoleh.
“Kami mencari Nona Maya Reyes.”
Ruangan terasa membeku.
Adrian mengerutkan kening.
“Maya?”
Wanita itu mengangguk.
“Ya.”
“Lalu… mengapa?”
Wanita tersebut membuka salah satu map.
“Saya adalah penasihat hukum Horizon Nexus.”
Nama perusahaan itu langsung membuat beberapa tamu bisnis saling menatap.
Horizon Nexus adalah perusahaan teknologi terbesar di Asia Tenggara yang beberapa bulan terakhir ramai diberitakan karena sedang mempersiapkan penawaran saham internasional.
“Kami datang untuk meminta tanda tangan final.”
“Tanda tangan siapa?” tanya Isabella.
“Nona Maya Reyes.”
Terdengar suara gelas jatuh dari salah satu meja.
Adrian menatap Maya dengan bingung.
“Apa maksud semua ini?”
Wanita itu menjawab tenang.
“Empat tahun lalu Nona Maya mengembangkan algoritma kompresi data berbasis kecerdasan buatan bersama pendirinya.”
“Mustahil.”
“Itu proyek penelitian yang tidak pernah dipublikasikan. Setelah melalui proses audit internasional selama hampir dua tahun, hak kepemilikan intelektual akhirnya selesai diverifikasi minggu ini.”
Ia membuka halaman kontrak.
“Nilai akuisisi tahap pertama sebesar tiga ratus delapan puluh juta dolar Amerika.”
Ruangan benar-benar hening.
Tidak ada lagi suara musik.
Tidak ada lagi bisikan.
Hanya wajah-wajah yang dipenuhi keterkejutan.
Adrian tampak kehilangan warna di wajahnya.
“Itu… tidak mungkin.”
Maya menatap mantan kekasihnya tanpa sedikit pun rasa puas.
“Saat kita masih bersama, aku pernah bilang sedang mengembangkan sesuatu bersama teman kuliah.”
Adrian mengingatnya.
Saat itu Maya sering begadang di depan laptop tua miliknya.
Ia mengira Maya hanya mengerjakan proyek kecil yang tidak menghasilkan apa-apa.
Karena merasa masa depan Maya suram, ia mulai menjauh.
Lalu ketika bertemu Isabella yang berasal dari keluarga kaya, ia memilih mengakhiri hubungan mereka.
“Aku… aku tidak tahu…”
Maya tersenyum pahit.
“Kau memang tidak pernah benar-benar ingin tahu.”
Salah seorang tamu bertanya penasaran.
“Kalau begitu mengapa Anda masih bekerja sebagai kurir?”
Maya menjawab santai.
“Karena kontrak belum selesai. Selama proses hukum berlangsung aku menandatangani perjanjian kerahasiaan. Aku juga tidak ingin bergantung pada siapa pun.”
Wanita dari Horizon Nexus menambahkan,
“Beliau menolak uang muka, fasilitas mewah, bahkan pengawalan pribadi. Beliau berkata ingin tetap hidup seperti biasa sampai semuanya selesai.”
Seorang tamu berbisik pelan.
“Jadi… dia benar-benar miliarder teknologi?”
Wanita itu mengangguk.
“Setelah transaksi hari ini selesai, ya.”
Isabella mencoba tertawa meski wajahnya mulai pucat.
“Kalaupun benar, kenapa masih datang memakai seragam kurir ke pesta ini?”
Maya memandangnya.
“Karena aku memang sedang bekerja.”
“Lalu kenapa menerima pesanan ke tempat ini?”
“Aku tidak memilih alamat pelanggan.”
Ia berhenti sejenak.
“Lagipula, aku tidak pernah berniat datang sebagai tamu.”
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menusuk jauh lebih dalam daripada semua ejekan sebelumnya.
Adrian melangkah mendekat.
“Maya…”
Ia tampak ingin mengatakan sesuatu.
Namun kata-katanya tidak kunjung keluar.
Maya memandang pria yang dulu pernah menjadi pusat dunianya.
“Ada yang ingin kau sampaikan?”
“Aku…”
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Adrian tidak menemukan jawaban.
Semua penyesalan yang ia rasakan datang terlambat.
Ia sadar selama ini yang ia tinggalkan bukan perempuan tanpa ambisi.
Ia meninggalkan seseorang yang diam-diam sedang membangun masa depan luar biasa.
Namun lebih dari itu, ia meninggalkan perempuan yang selalu percaya kepadanya ketika dirinya belum menjadi siapa-siapa.
“Aku minta maaf.”
Suara Adrian hampir tak terdengar.
Maya mengangguk pelan.
“Aku sudah memaafkanmu sejak lama.”
Wajah Adrian sedikit terangkat.
“Tapi memaafkan bukan berarti ingin kembali.”
Kalimat itu membuat mata Adrian perlahan memerah.
Sementara Isabella berdiri membeku.
Selama ini ia selalu menganggap Maya sebagai perempuan gagal.
Hari itu ia baru sadar bahwa orang yang dihina di depan semua tamu ternyata jauh lebih sukses daripada siapa pun di ruangan tersebut.
Wanita dari Horizon Nexus kemudian membuka kontrak.
“Apabila Anda berkenan.”
Maya menerima pena.
Namun sebelum menandatangani, ia bertanya,
“Apakah program dana pendidikan yang kita bahas juga sudah dimasukkan?”
“Tentu.”
Wanita itu menunjukkan halaman terakhir.
“Lima belas persen saham pribadi Anda akan otomatis dialihkan ke yayasan pendidikan digital untuk siswa kurang mampu di Filipina dan Indonesia, sesuai permintaan Anda.”
Para tamu kembali terdiam.
Seseorang berbisik,
“Dia bahkan menyumbangkan sebagian besar kekayaannya.”
Maya tersenyum.
“Dulu ibuku pernah berkata, ilmu akan kehilangan nilainya kalau hanya membuat satu orang kaya.”
Ia menandatangani kontrak dengan tenang.
Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada sorak-sorai.
Semua orang hanya menyaksikan momen itu dalam diam.
Setelah selesai, wanita tersebut mengulurkan tangan.
“Selamat, Nona Maya.”
“Terima kasih.”
Beberapa staf kemudian menyerahkan sebuah kotak kecil.
Di dalamnya terdapat kartu akses perusahaan dan sebuah kunci mobil.
Maya menutup kembali kotak itu.
“Tolong mobilnya dikirim ke rumah ibu nanti malam saja.”
“Baik.”
“Lalu bagaimana dengan jaket kurir Anda?” tanya salah seorang staf.
Maya tersenyum.
“Aku masih punya dua pesanan lagi sebelum jam kerja selesai.”
Semua orang tertawa kecil, tetapi kali ini bukan tawa yang merendahkan.
Melainkan tawa penuh rasa hormat.
Sebelum pergi, Maya memungut uang yang tadi dilempar Isabella.
Semua tamu kembali memperhatikannya.
Maya melipat uang itu dengan rapi lalu menyerahkannya kepada pelayan yang sejak tadi berdiri gugup.
“Tolong masukkan ke kotak donasi staf.”
Pelayan itu terkejut.
“Untuk saya?”
“Bukan. Untuk semua pekerja yang membantu pesta hari ini.”
Pelayan itu menundukkan kepala haru.
“Terima kasih.”
Maya mengenakan kembali helmnya.
Ia berjalan menuju pintu keluar.
Di belakangnya, pesta pernikahan yang tadi dipenuhi kemewahan terasa begitu sunyi.
Tak seorang pun mencoba menghentikannya lagi.
Saat Maya menaiki motornya, salah satu staf Horizon Nexus bertanya,
“Apakah Anda menyesal datang ke sini?”
Maya memasang helm sambil menyalakan mesin.
“Kalau aku tidak datang, mungkin aku tidak akan benar-benar menutup bab terakhir hidupku.”
Motor itu perlahan melaju meninggalkan Blue Waters Country Club.
Di kaca spion, gedung megah itu semakin kecil.
Bersamaan dengan itu, semua luka, penghinaan, dan kenangan yang pernah membebaninya perlahan ikut tertinggal di belakang.
Hari itu semua orang belajar satu hal yang sama.
Seragam kerja tidak pernah menentukan nilai seseorang.
Yang menentukan adalah integritas, ketekunan, dan keberanian untuk terus melangkah bahkan ketika seluruh dunia meremehkanmu.
Karena sering kali, orang yang paling sederhana di ruangan itulah yang sedang membawa masa depan terbesar di tangannya.
