Suasana aula kantor yang tadinya riuh mendadak sunyi senyap, seperti kuburan. Puluhan pasang mata menatapku dengan campuran antara iba dan jijik. Aku merasakan panas yang menjalar di pipiku akibat tamparan Samantha, namun di dalam dadaku, sebuah sensasi dingin yang mematikan mulai merayap.
“Maya, kamu dipecat hari ini juga!” suara Ms. Brenda menggelegar, penuh kemenangan. “Segera bereskan barang-barang sampahmu dan enyah dari gedung ini sebelum saya memanggil keamanan untuk menyeretmu keluar!”
Aku menundukkan kepala. Bukan karena takut atau malu, melainkan untuk menyembunyikan kilatan di mataku. Aku tahu, di suatu tempat di lantai teratas gedung ini—atau mungkin di sebuah jet pribadi yang sedang terbang melintasi samudra—seorang pria sedang menatap layar lebar dengan tatapan yang bisa membekukan api.
“Baik, Bu Brenda,” bisikku pelan. “Tapi Anda mungkin ingin memikirkan kembali keputusan ini.”
“Jangan berani-berani memerintahku, wanita miskin!” Samantha menyela, tertawa kecil sambil merapikan rambutnya yang sempurna.
Aku berjalan menuju mejaku, mengabaikan tatapan sinis rekan-rekanku. Aku tidak mengambil apa pun, hanya ponselku. Saat aku berbalik untuk melangkah keluar, pintu utama aula terbuka lebar dengan suara dentuman keras yang mengejutkan semua orang.

Seorang pria tinggi dengan setelan jas hitam yang tampak seperti dipotong dengan presisi laser melangkah masuk, dikawal oleh dua pria berjas hitam yang memancarkan aura intimidasi murni. Itu adalah asisten pribadi suamiku, Pak Aris. Di belakangnya, suasana berubah mencekam.
Ms. Brenda yang tadi tampak angkuh tiba-tiba berubah pucat pasi. “Pak… Pak Aris? Ada apa Anda datang ke departemen kecil kami?”
Pak Aris tidak menjawab. Ia berjalan lurus, melewati kerumunan karyawan yang mulai mundur memberi jalan, dan berhenti tepat di depanku. Ia membungkuk dalam, sebuah gerakan hormat yang membuat rahang Samantha jatuh ke lantai.
“Nyonya Maya, saya memohon maaf atas keterlambatan kami,” suara Aris dingin dan formal. Ia mengeluarkan sebuah tablet dan menyambungkannya ke proyektor aula kantor.
Layar besar yang biasanya digunakan untuk presentasi bulanan tiba-tiba menyala. Bukannya grafik penjualan, layar itu menampilkan rekaman CCTV yang sangat jernih.
Di sana, terlihat jelas Samantha sedang mengendap-endap ke mejaku saat jam istirahat. Ia memasukkan flashdisk ke komputermu, melakukan transfer 44 miliar rupiah ke rekening offshore miliknya, lalu dengan sengaja meninggalkan jejak digital seolah-olah itu berasal dari akunku. Bahkan terdengar percakapan suara antara Samantha dan Ms. Brenda melalui mikrofon ruangan yang tersembunyi, di mana mereka merencanakan skenario untuk memfitnahku agar mereka bisa menguasai bonus departemen.
Seluruh ruangan ternganga. Suara Samantha yang melengking di rekaman itu terdengar sangat jelas: “Setelah Maya pergi, kita akan bagi dua uangnya dan membuat hidupnya hancur. Lagipula, dia cuma ‘karyawan miskin’ yang tidak punya siapa-siapa.”
“Nyonya Maya,” lanjut Pak Aris, suaranya kini cukup keras untuk didengar semua orang. “Tuan Alexander Imperial menyaksikan semuanya secara langsung. Beliau sangat… tidak senang.”
Tiba-tiba, ponsel Ms. Brenda berdering keras. Itu adalah telepon dari departemen HRD pusat. Wajahnya berubah pucat pasi, lalu menjadi kelabu. Ia gemetar hebat sampai ponselnya jatuh ke lantai.
“Bu… Brenda?” Samantha bergumam, ketakutan.
“Kalian berdua,” Pak Aris menatap mereka dengan tatapan predator, “telah melakukan penggelapan dana, pencemaran nama baik, dan percobaan penipuan terhadap pemegang saham utama. Kepolisian sudah menunggu di lobi. Dan lebih dari itu, Tuan Alexander telah memerintahkan untuk menggugat kalian secara perdata hingga kalian kehilangan segalanya—bahkan rumah yang kalian tinggali saat ini.”
Saat polisi masuk dan memborgol Ms. Brenda dan Samantha, suasana kantor benar-benar berubah. Rekan-rekan kerjaku yang tadi mencemoohku kini tampak gemetar ketakutan, beberapa bahkan mulai berbisik meminta maaf.
Aku berjalan mendekati Samantha yang sedang ditarik paksa oleh polisi. Aku berhenti tepat di depannya. Ia menatapku dengan mata yang membelalak penuh ketakutan.
“Kamu… kamu istrinya?” bisiknya, suaranya tercekat.
Aku tersenyum tipis, senyum yang tidak menyentuh mataku. “Aku hanya seorang ‘karyawan miskin’ yang tidak ingin dipermainkan, Samantha. Kamu yang memilih untuk bermain dengan api.”
Namun, di saat itulah sebuah plot twist yang tidak terduga terjadi.
Sebelum polisi berhasil membawa mereka keluar, pintu aula terbuka lagi. Kali ini, Alexander Imperial sendiri yang berjalan masuk. Kehadirannya membuat seluruh ruangan seolah berhenti bernapas. Ia berjalan ke arahku, mengabaikan semua orang, dan memelukku di depan semua karyawan.
“Maafkan aku, Sayang,” bisiknya lembut. “Aku sudah memecat seluruh manajemen senior yang membiarkan orang seperti mereka bekerja di bawahmu.”
Tapi, saat ia berbalik untuk menatap karyawan lainnya, tatapannya berubah menjadi tajam. “Kalian semua juga dipecat.”
Ruangan itu meledak dalam protes. “Apa?!” seru seseorang.
Alexander tertawa dingin. “Kalian semua melihat Maya dihina, kalian semua tahu dia tidak bersalah, tapi kalian diam. Kalian menikmati pertunjukan itu. Aura Global Enterprises tidak membutuhkan pengecut sebagai karyawan.”
Aku tertegun. Aku tidak menyangka ia akan melakukan pembersihan total. Tapi saat aku melihat wajah-wajah orang yang selama dua tahun ini berpura-pura menjadi temanku namun membiarkanku menderita, aku sadar: mungkin ini adalah awal baru yang lebih baik.
Kami berjalan keluar gedung, meninggalkan kekacauan di belakang kami. Saat masuk ke mobil mewah yang menunggu, Alexander memegang tanganku. “Besok, aku akan mengumumkan identitasmu. Kamu tidak perlu lagi bersembunyi.”
Aku menoleh ke arah gedung yang mulai ditinggalkan oleh ratusan karyawan yang panik. Ternyata, hukuman terberat bukanlah penjara bagi Brenda dan Samantha, melainkan kenyataan pahit bagi orang-orang yang merasa diri mereka “aman” dengan bersikap netral terhadap ketidakadilan. Mereka semua kehilangan pekerjaan karena satu hal: diam saat mereka seharusnya bicara.
Kini, aku bukan lagi Maya si analis rendahan. Aku adalah Maya Imperial, dan permainan ini baru saja dimulai.
