Pada malam pernikahanku, aku terpaksa menyerahkan tempat tidurku kepada ibu mertuaku karena katanya ia “terlalu mabuk” 

Suasana kamar yang biasanya terasa hangat, pagi itu berubah menjadi ruang hampa udara. Ibu mertuaku, Bu Ratna, bangkit terduduk dengan gerakan kaku. Matanya yang semalam sayu oleh alkohol, kini membelalak lebar, menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan—campuran antara ketakutan yang mendalam dan keputusasaan.

Suamiku, Aris, masih mendengkur halus. Dia tidak menyadari bahwa dunianya baru saja retak tepat di depan matanya.

“Ini… ini tidak seperti yang kamu pikirkan,” bisik Bu Ratna. Suaranya serak, nyaris tak terdengar. Tangannya refleks menarik selimut untuk menutupi bercak merah itu, tapi sudah terlambat. Jejak itu adalah noda permanen di atas kesucian pernikahan kami.

Aku tidak bisa bicara. Lidahku kelu. Rasanya seperti ada tangan tak terlihat yang mencekik leherku. Aku memutar tubuh dan berlari keluar kamar sebelum Aris terbangun. Aku tidak sanggup melihat wajahnya saat ini. Aku takut, jika aku melihatnya, aku akan melakukan sesuatu yang akan kusesali seumur hidup.

Aku mengurung diri di kamar tamu. Pikiranku berkecamuk. Bercak itu… itu adalah darah. Apakah mereka…? Tidak, pikiranku menolak keras. Aris adalah pria yang lembut, dan Bu Ratna… dia adalah ibu kandungnya. Itu tidak masuk akal.

Namun, sesuatu yang lain mengusik pikiranku. Malam itu, saat aku turun ke lantai bawah, aku mendengar suara langkah kaki. Itu bukan langkah kaki satu orang. Itu langkah kaki yang berat, tergesa-gesa, lalu disusul suara pintu yang terkunci rapat.

Dua jam kemudian, Aris mengetuk pintu kamar tamu. “Sayang, buka pintunya. Kita perlu bicara.”

Aku membukanya. Dia terlihat berantakan, matanya merah. Dia tampak seperti orang yang baru saja menjalani hukuman mati.

“Aku bisa jelaskan,” katanya, suaranya bergetar.

“Jelaskan saja,” kataku datar. “Tolong jangan berbohong.”

Aris menelan ludah dengan susah payah. Dia menatap lantai, lalu menatapku. “Mama tidak mabuk, Maya. Dia ketakutan. Dia datang ke rumah kita karena dia diikuti.”

“Diikuti? Oleh siapa?”

“Oleh orang dari masa lalunya yang seharusnya sudah mati dua puluh tahun lalu.”

Hatiku mencelos. Masa lalu ibu mertuaku? Selama ini, aku tahu Bu Ratna adalah janda kaya yang sangat menjaga privasinya. Tidak ada yang tahu siapa suaminya atau dari mana asal usul kekayaan itu.

“Apa hubungannya dengan bercak darah itu?” tanyaku menekan.

Aris menarik napas panjang. “Tadi malam, ada seseorang yang masuk ke kamar kita melalui jendela. Dia mencari sesuatu yang disimpan Mama. Mereka berkelahi. Mama terluka. Aku tidak bisa memanggil polisi karena orang itu mengancam akan membongkar rahasia keluarga kami yang bisa menghancurkan reputasi perusahaan Papa. Aku terpaksa mengobati luka Mama di tempat tidur agar kamu tidak curiga jika ada perban atau peralatan medis di kamar tamu.”

Penjelasan itu masuk akal, tapi ada yang janggal. “Kenapa tidak bangunkan aku? Kenapa membiarkan aku tidur di sofa sambil ketakutan?”

Aris menunduk. “Karena kau tidak boleh tahu siapa orang itu, Maya. Karena orang itu adalah…”

Tiba-tiba, suara pintu depan terbanting terbuka. Suara kegaduhan di ruang tamu membuat kami berdua tersentak. Aku berlari ke balkon lantai dua dan melihat ke bawah.

Di ruang tamu, Bu Ratna sedang berdiri berhadapan dengan seorang pria jangkung berbaju hitam. Pria itu memegang sebilah pisau, dan pakaiannya tampak kotor. Tapi yang membuatku hampir jatuh tersungkur adalah wajah pria itu.

Dia terlihat persis seperti Aris. Bukan mirip, tapi identik.

“Di mana dia, Ratna?” suara pria itu parau, penuh kebencian. “Di mana anak yang kau ambil dariku?”

Bu Ratna tertawa getir, sebuah tawa yang terdengar seperti jeritan. “Dia sudah menikah, Danu. Dia sudah punya kehidupan. Kau tidak bisa menghancurkannya lagi.”

“Dia anakku! Warisannya adalah milikku!”

Aku menoleh ke arah Aris. Wajahnya pucat pasi. “Itu kembaranmu?” tanyaku.

Aris memegang lenganku, mencengkeramnya erat. “Bukan, Maya. Itu ayahku. Ayah yang dikira sudah meninggal dalam kecelakaan kapal dua puluh tahun lalu.”

Duniaku berputar. Jika pria di bawah itu adalah ayahnya, lalu siapa pria yang berdiri di sampingku?

Aris berbisik, suaranya sedingin es. “Aku bukan Aris, Maya. Aris yang asli meninggal di kamar itu tadi malam. Luka di selimut… itu bukan luka Mama. Itu luka Aris yang tidak sempat kuselamatkan karena aku terlambat sampai.”

Aku ternganga. “Lalu… kau siapa?”

Pria yang berdiri di sampingku tersenyum. Senyuman yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Senyuman yang penuh perhitungan dan haus akan kekuasaan.

“Aku adalah orang yang disewa Aris untuk menggantikannya jika dia gagal mengamankan warisan. Tapi sayangnya, Aris terlalu lemah. Sekarang, dengan darahnya di atas seprai itu sebagai bukti ‘kematian’ dan ‘pengorbanan’ mereka, aku punya alasan untuk menyingkirkan pria di bawah sana, lalu mengklaim segalanya sebagai suamimu.”

Dia melangkah mendekat, membisikkan sesuatu di telingaku yang membuat darahku membeku. “Dan jangan khawatir, Maya. Kau akan tetap menjadi istriku. Karena di mata hukum, pria yang mati di bawah itu adalah suamimu, dan aku hanyalah ahli waris yang beruntung.”

Di bawah, pria berbaju hitam itu menghunuskan pisau ke arah Bu Ratna. Namun sebelum aku sempat berteriak, sebuah tembakan meletus dari balik pintu kamar.

Ibu mertuaku, Bu Ratna, dengan tangan gemetar memegang sebuah pistol kecil, baru saja menembak pria di bawah. Pria itu ambruk.

Suasana hening sejenak. Bu Ratna mendongak ke atas, menatap tepat ke mataku. Dia tidak menangis. Dia justru menatapku dengan pandangan memohon, seolah berkata: Lari. Sekarang.

Pria di sampingku berdecak kesal. “Sayang sekali. Rencananya sedikit berantakan.”

Dia menarik tanganku, menyeretku menuju tangga. “Ayo, Maya. Kita punya pernikahan untuk diselesaikan. Masih ada banyak tamu yang menunggu untuk melihat kebahagiaan kita.”

Aku menyadari satu hal yang lebih mengerikan dari sekadar penipuan. Bu Ratna, Aris yang sudah mati, dan pria yang mengaku sebagai pengganti ini… mereka semua adalah pion dalam permainan yang jauh lebih besar. Dan aku? Aku baru saja terjebak di dalam labirin yang tidak memiliki pintu keluar, menikah dengan orang asing yang bahkan tidak tahu namaku yang sebenarnya.

Saat kami menuruni tangga melewati jasad pria di bawah, pria di sampingku mencium keningku dengan lembut di depan keluarga besar yang mulai berdatangan.

“Selamat pagi, istriku,” bisiknya dengan senyum malaikat.

Aku tersenyum balik, berusaha menahan air mata, menyadari bahwa mulai detik ini, hidupku adalah sebuah sandiwara yang ditulis dengan tinta darah—dan satu-satunya cara untuk bertahan hidup adalah dengan menjadi aktris terbaik di panggung kematian ini.

Malam pernikahan itu tidak berakhir dengan cinta. Ia berakhir dengan sebuah kesepakatan diam-diam antara aku dan monster yang kini memegang tanganku.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang