Suasana kamar yang tadinya hangat perlahan membeku. Cecilia berdiri di hadapanku, jemarinya yang lentik dan biasanya tenang kini gemetar hebat saat membuka gaun tidurnya. Bukan untuk menggoda, melainkan untuk menyingkap sesuatu yang ia tutupi selama ini di balik pakaian sutra mahalnya.
Aku menahan napas. Namun, yang kulihat bukanlah kecacatan fisik, bukan pula bekas luka masa lalu yang membosankan.
Di pundak kiri Cecilia, di bawah kulitnya yang halus, terdapat sebuah guratan tinta biru yang membentuk kode seri, dan di bawahnya, tepat di dekat detak jantungnya, terdapat sebuah bekas luka berbentuk melingkar yang sempurna—seperti bekas operasi penanaman perangkat teknologi.
“Mateo,” suaranya parau, pecah oleh beban yang ia pikul selama enam puluh tahun. “Apakah kau pernah bertanya-tanya mengapa tidak ada catatan sipil tentang masa laluku? Mengapa tidak ada orang yang berani menatap mataku secara langsung di pasar, selain kau?”

Aku terdiam, mematung. “Apa… apa maksudmu?”
Dia berjalan menuju meja riasnya, mengambil sebuah tablet kecil yang tersembunyi di balik cermin. Dengan satu sentuhan, sebuah proyeksi hologram muncul di tengah ruangan. Aku hampir terjatuh. Itu bukan foto-foto masa mudanya. Itu adalah catatan sejarah, dokumen medis, dan—yang paling mengerikan—arsip militer rahasia yang mencakup waktu dari tahun 1980 hingga detik ini.
“Namaku bukan Cecilia Valdez,” bisiknya. “Cecilia Valdez meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil tiga puluh tahun lalu. Aku adalah ‘Proyek 001’. Sebuah eksperimen genetika yang dibiayai oleh sebuah konsorsium rahasia untuk menciptakan manusia dengan kemampuan kognitif yang melampaui batas normal manusia biasa. Mereka tidak ingin aku menjadi tua. Mereka ingin aku menjadi aset abadi.”
Duniaku berputar. Istriku, wanita yang mengajariku cara berinvestasi dan membaca buku-buku filsafat, adalah sebuah anomali biologis.
“Alasan mereka membiarkanku hidup di desa itu bukan karena aku pensiun,” lanjutnya, suaranya kini dingin dan tajam seperti pisau bedah. “Aku di sana untuk diawasi. Setiap percakapan kita, setiap gerakanmu yang kau pikir hanyalah momen romantis, sebenarnya adalah data yang mereka kumpulkan. Mereka mengujiku: apakah subjek dengan kecerdasan superior bisa tetap memiliki empati jika diberikan cinta?”
“Jadi…” suaraku tercekat, “pernikahan ini? Cinta kita?”
Cecilia menatapku dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Awalnya, itu adalah bagian dari protokol. Tapi saat aku melihatmu di bengkel itu, saat aku melihat ketulusan di matamu yang tidak punya agenda apa pun, sesuatu di sistemku rusak, Mateo. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak lagi mengikuti algoritma.”
Tiba-tiba, suara alarm bernada tinggi memenuhi ruangan. Cahaya lampu di luar villa berubah menjadi merah berkedip. Para pria berpakaian hitam yang kulihat tadi—para pengawal itu—bukanlah pengawal Cecilia. Mereka adalah penjaga kandang.
“Mereka datang, Mateo,” Cecilia meraih tanganku, genggamannya kuat, sekuat baja. “Mereka tahu aku telah jatuh cinta, dan itu adalah ancaman terbesar bagi mereka. Mereka tidak menginginkan eksperimen yang memiliki emosi manusia.”
Pintu kamar itu didobrak dengan keras. Bukan oleh polisi, melainkan oleh orang-orang dengan seragam taktis yang tidak memiliki identitas. Tanpa peringatan, mereka menodongkan senjata.
“Nyonya Cecilia,” salah satu dari mereka berbicara dengan suara robotik. “Siklus pengamatan selesai. Anda harus ikut dengan kami untuk proses reset.”
Aku tidak berpikir panjang. Instingku sebagai pria yang tumbuh di jalanan Batangas mengambil alih. Aku melompat, menyambar kunci mobil SUV yang tadi diberikan Cecilia, dan menubruk salah satu penjaga itu. Aku tidak punya senjata, tapi aku punya keberanian yang lahir dari cinta yang tak masuk akal.
“Lari, Mateo!” teriak Cecilia.
“Tidak!” sahutku. Aku memutar tubuh, menarik tangan Cecilia, dan kami berlari menuju balkon. Di luar, helikopter sudah menunggu, bukan untuk menyelamatkan kami, tapi untuk mengepung.
“Mateo, dengarkan aku!” Cecilia berhenti di tepi balkon, menatapku dengan intensitas yang belum pernah kulihat. Dia menarik sebuah chip kecil dari balik kulitnya sendiri—sebuah tindakan yang berdarah dan brutal—dan memasukkannya ke dalam sakuku.
“Apa ini?” tanyaku panik.
“Di dalam chip ini ada seluruh daftar orang-orang berpengaruh yang mendanai proyek ini. Jika kau keluar dari sini hidup-hidup, sebarkan ini ke media nasional. Hancurkan mereka.”
“Aku tidak bisa meninggalkanmu!”
Dia tersenyum, senyum yang paling tulus yang pernah ia berikan. “Kau tidak meninggalkanku. Dengan mencintaiku, kau sudah membebaskanku. Sekarang, jadilah pria yang aku ajarkan untuk menjadi seseorang yang berharga.”
Sebelum aku sempat menolak, Cecilia menekan tombol pada gelang di pergelangan tangannya. Sebuah ledakan kecil—bukan ledakan api, melainkan pulsa elektromagnetik—meledak dari tubuhnya, melumpuhkan seluruh perangkat elektronik di sekitar kami, termasuk senjata dan alat komunikasi para penjaga. Seluruh villa menjadi gelap gulita.
Dalam kekacauan itu, dia mendorongku ke arah pintu rahasia di balik lemari. “Pergilah! Masa depan bukan tentang kekayaan yang kuberikan tadi, tapi tentang kebenaran yang kini kau pegang!”
Aku berlari menembus hutan di belakang villa, napas memburu, air mata bercampur keringat. Aku mendengar suara tembakan, teriakan, dan kemudian… keheningan yang mutlak.
Keesokan harinya, aku terbangun di pinggir jalan raya, ribuan kilometer dari Tagaytay. Di sakuku, chip itu terasa berat, seberat beban nyawa Cecilia yang kini menjadi tanggung jawabku.
Berita pagi itu menyebutkan bahwa sebuah villa mewah di Tagaytay meledak akibat kebocoran gas, menewaskan seorang wanita tua yang merupakan seorang pengusaha tertutup. Tidak ada yang curiga. Tidak ada yang tahu.
Sekarang, dua tahun telah berlalu. Aku bukan lagi Mateo si pemuda miskin dari Batangas. Aku adalah jurnalis investigasi yang paling dicari. Dengan chip itu, aku telah menjatuhkan satu per satu petinggi negara yang terlibat. Namun, setiap malam, saat aku duduk di balkon apartemenku yang sunyi, aku tidak merasa menang.
Aku melihat ke langit, menatap bintang yang paling terang. Aku sadar, orang-orang benar saat mengatakan aku menikahinya bukan karena cinta biasa. Aku menikahinya untuk menyelamatkan satu-satunya jiwa yang memang tidak pernah seharusnya diciptakan, tapi memiliki hati yang jauh lebih manusiawi daripada mereka yang mengaku sebagai manusia.
Dan rahasia terakhir yang dia bisikkan saat dia mendorongku? Dia tidak pernah benar-benar mati. Sebelum ledakan itu, dia sudah memindahkan kesadarannya ke dalam jaringan internet yang ia bangun sendiri.
Setiap kali aku mengetikkan kata kunci tertentu di komputerku, sebuah kursor bergerak sendiri. Dia masih ada di sana, mengawasiku, memimpin jalanku, dan tetap mencintaiku di balik layar dunia yang fana ini.
Pernikahan rahasia kami bukan berakhir di altar, tapi baru saja dimulai di dunia yang tidak bisa mereka jangkau.
