Langkah kaki itu semakin mendekat, bergema nyaring di lantai rumah sakit yang steril. Sosok itu bukan Marco, melainkan seorang pria paruh baya dengan setelan jas hitam yang sangat kukenal. Itu adalah Pak Baskoro, tangan kanan mendiang ayahku yang seharusnya sudah pensiun dan menetap di luar negeri.
Wajahnya pucat pasi, dan di tangannya ia memegang sebuah dokumen segel merah.
“Nyonya, saya minta maaf karena datang terlambat,” suaranya bergetar. “Tapi situasinya jauh lebih buruk dari yang kita duga.”
Aku tidak mempedulikan Marco yang terus meneriakkan makian di ponsel yang masih tersambung di tanganku. Aku menjauhkan ponsel itu, mengabaikan teriakan Sofia yang kini terdengar melengking ketakutan, lalu menatap Pak Baskoro.

“Apa yang terjadi?” tanyaku dingin.
“Marco tidak bekerja sendiri,” bisik Pak Baskoro. “Dia sudah menandatangani surat perjanjian pengalihan aset secara notaris tiga hari lalu. Dia menyerahkan manajemen restoran dan kepemilikan rumah pantai kita kepada perusahaan cangkang milik Sofia. Secara hukum, mulai detik ini, Anda tidak memiliki hak atas properti-properti itu lagi.”
Aku tertegun. Jadi itu alasan kenapa dia berani memblokir kartuku. Dia merasa sudah memenangkan segalanya. Dia pikir dengan membuangku, dia bisa memulai hidup baru dengan ‘adik angkatnya’ yang tersayang.
“Tapi surat itu palsu,” kataku tenang. “Stempel yang dia gunakan adalah stempel lama yang seharusnya sudah dimusnahkan saat ayah meninggal.”
“Itu yang dia pikir,” jawab Pak Baskoro dengan senyum tipis yang getir. “Tapi dia tidak tahu bahwa stempel itu memiliki kode keamanan digital yang langsung terhubung ke sistem audit pusat. Begitu dia memakainya untuk transaksi ilegal, seluruh rekam jejak kriminalnya—termasuk penggelapan pajak yang dia lakukan selama tiga tahun terakhir—telah terkirim otomatis ke kantor kepolisian dan badan pajak.”
Tepat saat itu, dokter kembali berteriak, “Wali pasien! Cepat!”
Aku mengabaikan segalanya. Aku menandatangani surat operasi itu dengan tangan yang tidak lagi gemetar. Setelah menyerahkan dokumen itu, aku menoleh ke arah Pak Baskoro.
“Berapa lama waktu yang dia miliki sebelum polisi menjemputnya?”
“Mereka sudah dalam perjalanan ke toko perhiasan itu sekarang,” jawab Pak Baskoro.
Aku mengambil kembali ponselku yang masih terhubung. Marco masih berteriak-teriak, menuntutku untuk membuka blokir rekening. Aku memotongnya dengan suara yang jauh lebih dingin dari sebelumnya.
“Marco, dengarkan baik-baik,” kataku pelan. “Kau ingin menjadi pahlawan bagi Sofia? Selamat. Sekarang kalian bisa bersama-sama menghadapi tuntutan pidana atas penggelapan aset dan pemalsuan dokumen.”
Hening. Tidak ada lagi suara Sofia yang manja. Hanya ada suara napas Marco yang memburu.
“Apa maksudmu?” suaranya mulai goyah.
“Aku tidak perlu berlutut padamu,” lanjutku. “Karena saat kau sibuk mengemis pada Sofia, kau baru saja menandatangani surat kematian kariermu sendiri. Rumah sakit ini memiliki privasi yang tinggi, tapi polisi tidak. Bersiaplah, karena dalam sepuluh menit, hidup yang kau banggakan itu akan benar-benar berakhir.”
Aku memutus sambungan telepon itu.
Aku tidak perlu melihatnya lagi. Aku tidak perlu memohon. Aku berbalik, berjalan menuju pintu ruang operasi. Di belakangku, Pak Baskoro menjaga langkahku, sementara di kejauhan, aku bisa mendengar suara sirine polisi yang mulai mendekati pusat kota, tempat di mana Marco dan Sofia berada.
Ibuku akan selamat. Dan Marco? Dia akan mendapatkan tepat apa yang dia tanam.
Aku tidak lagi memiliki suami. Aku tidak lagi memiliki “keluarga” yang palsu itu. Tapi untuk pertama kalinya, aku merasa benar-benar bebas.
