Hujan di luar masih belum reda ketika Ibu Siti memeluk erat bungkusan plastik kecil berisi uang itu. Air matanya menetes tanpa bisa dihentikan. Selama perjalanan pulang, selama tubuhnya menggigil diterpa hujan, ia berkali-kali mencoba menghibur dirinya sendiri dengan berpikir bahwa mungkin Budi memang sedang kesulitan. Ia tidak pernah menyangka bahwa di balik sebungkus mi instan yang tampak begitu sederhana, anaknya menyembunyikan harapan untuk menyelamatkan hidupnya.
Dengan tangan yang masih gemetar, ia menghitung uang itu perlahan. Jumlahnya mencapai seratus lima puluh juta rupiah, jauh lebih dari cukup untuk biaya operasi dan kebutuhan pemulihan setelahnya. Di bagian paling bawah, terselip sebuah kartu ATM atas nama Budi beserta secarik kertas lain.
“Kalau ternyata masih kurang, gunakan kartu ini. PIN-nya tanggal lahir Ibu. Jangan khawatir soal uang. Yang penting Ibu sembuh. Tolong jangan beri tahu Rina dulu. Budi akan menjelaskan semuanya nanti.”
Ibu Siti menutup wajahnya. Ia tidak tahu mana yang lebih menyakitkan, penyakit di dadanya atau kenyataan bahwa putranya harus menyembunyikan kasih sayangnya sendiri di dalam rumah yang begitu megah.
Malam itu ia tidak jadi memasak mi instan tersebut. Bungkus kosongnya ia lipat rapi dan simpan bersama surat dari Budi. Entah mengapa, benda sederhana itu terasa jauh lebih berharga daripada emas.
Keesokan paginya, Ibu Ratna datang seperti biasa membawa bubur hangat. Ia terkejut melihat wajah Ibu Siti yang sembap tetapi dipenuhi senyum.

“Ada kabar baik ya, Bu?”
Ibu Siti hanya mengangguk pelan.
“Allah masih baik sama saya.”
Beberapa hari kemudian, dengan bantuan Pak Lurah dan tetangga-tetangga desa, Ibu Siti berangkat ke rumah sakit di Semarang untuk menjalani pemeriksaan lanjutan. Semua biaya langsung dibayarkan. Dokter yang menangani bahkan terlihat heran karena pasien yang sebelumnya tampak putus asa kini datang dengan semua persyaratan administrasi yang lengkap.
Operasi dijadwalkan tiga hari kemudian.
Selama menunggu, Budi tidak pernah muncul.
Namun setiap pagi seorang kurir datang mengantarkan buah-buahan, susu, dan kebutuhan lain tanpa nama pengirim. Ibu Siti tahu persis siapa yang mengirimnya.
Pada malam sebelum operasi, telepon genggam sederhana yang dipinjamkan perawat berdering.
“Bu…”
Suara di seberang langsung membuat mata Ibu Siti basah.
“Budi?”
“Iya, Bu.”
Mengapa suaranya terdengar begitu berat?
“Maaf Budi belum bisa datang.”
“Ibu mengerti.”
“Tidak, Bu… sebenarnya Ibu tidak tahu apa yang terjadi.”
Budi menarik napas panjang.
“Usaha Budi memang sedang baik, tapi semua aset ada atas nama Rina. Dulu waktu usaha mulai berkembang, Budi percaya sepenuhnya sama istri sendiri. Rumah, toko, rekening perusahaan, semuanya atas namanya supaya urusan pajak lebih mudah. Lama-lama Budi sadar kalau setiap kali ingin membantu Ibu, selalu ada pertengkaran besar di rumah.”
Ibu Siti terdiam.
“Budi tidak berani cerita karena tidak mau Ibu sedih.”
“Budi…”
“Uang yang Budi kasih itu hasil menjual jam tangan, motor koleksi, dan saham pribadi yang masih atas nama Budi sendiri. Itu semua yang benar-benar bisa Budi kuasai.”
Tangis Ibu Siti pecah lagi.
“Kenapa harus sejauh itu, Nak?”
“Karena dulu Ibu melakukan hal yang jauh lebih besar buat Budi.”
Sambungan telepon terputus setelah perawat meminta Ibu Siti beristirahat.
Operasi berlangsung hampir delapan jam.
Di luar ruang operasi, tidak ada keluarga yang menunggu.
Hanya Pak Lurah, Ibu Ratna, dan dua tetangga desa yang datang bergantian mendoakan.
Ketika dokter akhirnya keluar sambil tersenyum, semua orang mengucap syukur.
“Operasinya berhasil.”
Masa pemulihan berjalan perlahan. Tubuh Ibu Siti memang masih lemah, tetapi napasnya sudah jauh lebih lega daripada sebelumnya.
Satu minggu setelah operasi, seorang pria memakai masker dan topi datang menjenguk pada malam hari.
Begitu melihat matanya, Ibu Siti langsung mengenali.
“Budi.”
Putranya segera memeluknya erat.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, mereka menangis dalam pelukan yang sama.
“Maafkan Budi, Bu.”
“Tidak ada yang perlu dimaafkan.”
“Tapi semua ini salah Budi.”
Ibu Siti mengusap rambut putranya seperti ketika ia masih kecil.
“Selama hatimu masih ingat ibumu, kamu belum pernah menjadi anak yang buruk.”
Kalimat itu justru membuat Budi menangis semakin keras.
Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.
Dua hari kemudian, sebuah mobil mewah berhenti di depan rumah sakit.
Rina datang bersama seorang pengacara.
Wajahnya penuh amarah.
“Jadi benar uang perusahaan yang hilang dipakai buat ibumu?”
Budi berdiri tenang.
“Itu bukan uang perusahaan.”
“Jangan bohong.”
“Itu hasil penjualan aset pribadi.”
“Kamu jual tanpa izin aku?”
“Benda-benda itu milik saya.”
Rina tertawa sinis.
“Kamu pikir setelah ini semuanya akan baik-baik saja?”
Ia mengeluarkan beberapa lembar dokumen.
“Kalau begitu, kita cerai.”
Ibu Siti yang mendengar dari dalam kamar hanya bisa memejamkan mata.
Ia merasa dirinya menjadi penyebab hancurnya rumah tangga anaknya.
Setelah Rina pergi, Ibu Siti berkata lirih.
“Pulanglah. Kejar istrimu.”
Budi menggeleng.
“Bukan Ibu penyebab semua ini.”
“Lalu siapa?”
“Keserakahan.”
Beberapa bulan berikutnya menjadi masa yang sangat berat bagi Budi.
Perceraian benar-benar terjadi.
Lebih menyakitkan lagi, ia baru mengetahui bahwa selama ini Rina diam-diam memindahkan sebagian besar aset perusahaan ke rekening lain. Bahkan beberapa kontrak penting sudah dialihkan kepada perusahaan baru milik keluarga Rina.
Dalam waktu singkat, toko material yang dibangun Budi selama belasan tahun mengalami kebangkrutan.
Rumah mewah itu pun akhirnya dijual untuk menutup utang usaha.
Banyak orang yang dulu memujinya menghilang begitu saja.
Tak sedikit yang mencibir.
“Akhirnya jatuh juga.”
Namun di tengah semua itu, ada satu tempat yang selalu terbuka.
Rumah kayu reyot milik Ibu Siti.
Setelah kesehatannya membaik, Ibu Siti bersikeras kembali tinggal di desa.
Suatu sore, Budi datang hanya membawa dua tas pakaian.
“Bu… boleh Budi tinggal di sini sebentar?”
Ibu Siti tersenyum.
“Rumah ini memang kecil.”
Ia membuka pintu lebar-lebar.
“Tapi untuk anak sendiri, selalu cukup.”
Hari-hari berikutnya terasa aneh bagi Budi.
Pria yang dulu mengendarai mobil mewah kini membantu mencangkul kebun.
Yang dulu mengenakan sepatu kulit mahal kini berjalan tanpa alas kaki di pematang sawah.
Awalnya ia merasa malu.
Namun lama-kelamaan, ia justru menemukan ketenangan yang sudah lama hilang.
Setiap sore ia menemani ibunya menyiram tanaman.
Setiap malam mereka makan sederhana dengan lauk tempe, ikan asin, atau sayur hasil kebun.
Tidak ada kemewahan.
Tetapi ada tawa yang dulu telah lama menghilang.
Suatu hari, seorang lelaki tua datang ke desa.
Namanya Pak Harun.
Ia pernah menjadi mandor proyek tempat Budi memulai karier bertahun-tahun lalu.
“Aku dengar usahamu bangkrut.”
Budi hanya tersenyum pahit.
Pak Harun mengeluarkan map cokelat.
“Aku sudah pensiun. Tapi beberapa teman masih mencari orang jujur untuk mengelola proyek pembangunan gudang.”
“Banyak orang yang lebih hebat dari saya.”
“Mungkin.”
Pak Harun tersenyum.
“Tapi mereka tidak punya ibu seperti ibumu.”
Budi terdiam.
“Orang yang rela kehilangan segalanya demi ibunya tidak akan mencuri uang orang lain.”
Kalimat sederhana itu menjadi awal baru.
Perlahan-lahan, Budi kembali bekerja.
Bukan sebagai pemilik perusahaan besar.
Melainkan sebagai manajer proyek dengan gaji biasa.
Ia bekerja lebih keras daripada sebelumnya.
Bedanya, kali ini ia tidak mengejar kemewahan.
Setiap bulan, hal pertama yang ia lakukan setelah menerima gaji adalah membeli obat untuk ibunya.
Sisanya baru digunakan untuk kebutuhan lain.
Setahun berlalu.
Rumah kayu reyot itu kini sudah diperbaiki sedikit demi sedikit.
Atapnya tidak lagi bocor.
Dindingnya dicat ulang.
Halamannya dipenuhi bunga yang ditanam Ibu Siti.
Suatu pagi, ketika matahari baru terbit, seorang kurir datang membawa surat.
Pengirimnya adalah notaris.
Budi membukanya dengan bingung.
Ternyata surat itu berasal dari seorang pengusaha tua yang pernah menjadi pelanggan tokonya dulu.
Sebelum meninggal dunia, pengusaha tersebut meninggalkan wasiat.
Dalam surat itu tertulis bahwa selama bertahun-tahun ia diam-diam memperhatikan bagaimana Budi memperlakukan para pekerja dan para pelanggan.
Ia juga mendengar cerita tentang bagaimana Budi rela kehilangan hampir seluruh hartanya demi menyelamatkan ibunya.
Karena tidak memiliki anak, pengusaha itu memutuskan menyerahkan sebagian saham perusahaannya kepada seseorang yang dianggap masih memiliki hati nurani.
Nama yang tertulis di sana adalah Budi.
Nilainya jauh lebih besar daripada seluruh kekayaan yang pernah ia miliki dahulu.
Budi menatap surat itu lama sekali.
Ia kemudian melipatnya dan menyerahkannya kepada Ibu Siti.
“Ibu… kita kaya lagi.”
Ibu Siti hanya tersenyum lembut.
“Salah.”
“Apa?”
“Dulu kita miskin uang, tapi masih punya kasih sayang.”
“Sekarang?”
“Sekarang kita hanya dikembalikan apa yang memang tidak pernah benar-benar hilang.”
Budi memandang ibunya.
Baru saat itulah ia benar-benar memahami bahwa kekayaan terbesar yang pernah dimilikinya bukanlah rumah mewah, mobil mahal, ataupun rekening yang penuh.
Melainkan seorang ibu yang tetap mendoakan anaknya bahkan ketika diusir dengan halus dari depan gerbang rumahnya sendiri.
Dan bertahun-tahun kemudian, setiap kali melihat sebungkus mi instan di rak toko, Budi selalu berhenti sejenak. Bukan karena lapar, melainkan karena benda sederhana itu pernah menjadi tempat bersembunyi cinta terbesar yang tidak mampu diucapkan oleh seorang anak di depan dunia.
