Malam itu hujan baru saja reda ketika mobil pengantin berhenti di depan rumah besar bergaya lama di pinggiran Jakarta Selatan. Lampu-lampu taman menyala redup, memantulkan cahaya hangat di jalan batu yang basah. Di dalam mobil, Maya masih menggenggam bunga tangannya erat-erat, seolah itu satu-satunya benda yang bisa menahan jantungnya agar tidak berlari terlalu cepat.
Hari yang seharusnya menjadi awal hidup paling bahagia dalam hidupnya justru terasa seperti awal dari sesuatu yang tidak ia mengerti.
Rian menoleh padanya dan tersenyum kecil. “Capek?”
Maya mengangguk pelan, mencoba tersenyum balik. “Sedikit. Tapi senang.”

Ia benar-benar mencintai Rian. Pria itu tenang, lembut, tidak banyak bicara, tapi selalu memperlakukannya dengan penuh perhatian. Bahkan ibunya, Bu Ratih, selama ini terlihat sangat sopan, rapi, dan tidak pernah ikut campur. Semua orang bilang Maya beruntung. Tidak banyak menantu yang mendapat ibu mertua sebaik itu.
Namun entah kenapa, sejak pagi tadi, ada rasa tidak nyaman yang sulit ia jelaskan.
Rumah itu terlalu sunyi untuk sebuah rumah pesta pernikahan.
Tidak ada musik. Tidak ada tawa sisa tamu. Hanya suara jam dinding tua di ruang tamu yang berdetak seperti menghitung sesuatu yang tidak terlihat.
Begitu mereka masuk ke kamar pengantin, Maya menghela napas panjang. Kamar itu indah, dihias bunga putih dan cahaya lampu kuning lembut. Rian baru saja menutup pintu ketika terdengar ketukan pelan.
Tok. Tok. Tok.
Tidak keras, tapi cukup untuk membuat Maya menoleh cepat.
Rian membuka pintu. Di sana berdiri Bu Ratih.
Ia masih mengenakan kebaya sederhana warna gelap, wajahnya tenang seperti biasa. Namun di tangannya ada sebuah map cokelat.
“Ma, ada apa malam-malam begini?” tanya Rian.
Bu Ratih tidak langsung menjawab. Ia masuk tanpa menunggu dipersilakan, duduk di kursi dekat meja rias, lalu menatap mereka bergantian.
Maya merasa tenggorokannya tiba-tiba kering.
“Ada aturan yang harus kalian ikuti mulai malam ini,” kata Bu Ratih akhirnya.
Rian mengerutkan kening. “Aturan?”
Bu Ratih mengangguk. Ia membuka map itu, mengeluarkan selembar kertas, lalu meletakkannya di atas meja.
“Rian hanya boleh tidur satu kamar dengan istrinya selama dua jam setiap malam.”
Sunyi.
Maya merasa kata-kata itu tidak masuk akal. Ia bahkan sempat tertawa kecil, mengira ini semacam lelucon aneh setelah pernikahan. Tapi tidak ada seorang pun yang tertawa.
“Ma… ini maksudnya apa?” suara Rian meninggi sedikit.
Bu Ratih menatapnya dengan tenang, terlalu tenang. “Setelah dua jam, kamu harus kembali ke kamar lama kamu. Ini demi kesehatanmu.”
“Kesehatan?” Maya akhirnya berbicara. “Maksud Ibu… kami suami istri yang baru menikah. Kenapa harus dipisahkan seperti ini?”
Bu Ratih menatap Maya untuk pertama kalinya malam itu. Tatapannya dalam, tidak marah, tapi juga tidak lembut.
“Karena aku tahu apa yang terjadi kalau tidak dibatasi.”
Rian berdiri. “Ini tidak masuk akal, Ma. Kami bukan anak kecil.”
Untuk pertama kalinya, ekspresi Bu Ratih berubah sedikit. Ada sesuatu seperti ketegangan di wajahnya, cepat hilang, tapi cukup membuat Maya memperhatikan.
“Aku melakukan ini bukan tanpa alasan,” katanya pelan. “Dulu, ayah Rian juga… terlalu sering mengabaikan batas.”
Kalimat itu menggantung di udara.
Maya menatap Rian, tapi suaminya terlihat sama bingungnya.
“Ma, apa hubungannya dengan Ayah?” tanya Rian.
Bu Ratih berdiri perlahan. “Kalian akan mengerti kalau sudah waktunya. Tapi malam ini, ikuti aturan.”
Lalu ia keluar tanpa menunggu jawaban.
Pintu tertutup.
Dan dunia di dalam kamar itu terasa berubah.
Rian langsung mengacak rambutnya frustrasi. “Ini gila.”
Maya duduk di tepi ranjang, mencoba mencerna semuanya. “Kamu pernah dengar ini sebelumnya?”
“Tidak pernah. Aku pikir Mama sudah berubah sejak Ayah meninggal… tapi ini…” Rian berhenti, menghela napas panjang.
Malam itu mereka tetap tidur bersama, meski tidak sepenuhnya tenang. Ada jam di dinding yang terus berdetak, seperti mengingatkan bahwa waktu mereka terbatas.
Tepat dua jam kemudian, seperti seolah dunia sudah dijadwalkan, pintu kamar kembali diketuk.
Tok.
Kali ini lebih tegas.
Bu Ratih berdiri di luar.
“Waktunya selesai.”
Rian tidak membuka pintu. “Aku tidak akan keluar.”
Untuk sesaat, tidak ada jawaban.
Lalu suara Bu Ratih terdengar lebih rendah. “Kalau kamu tidak keluar, kamu akan menyesal.”
Kata-kata itu membuat Maya merinding.
Akhirnya Rian membuka pintu dengan wajah marah. “Ini sudah keterlaluan.”
Bu Ratih tidak menanggapi kemarahannya. Ia hanya menatap Maya sekali lagi, lalu berkata, “Jangan anggap ini kebencian. Ini perlindungan.”
Dan Rian dibawa keluar.
Maya ditinggal sendirian di kamar pengantin pada malam pertamanya sebagai istri.
Beberapa hari berikutnya berjalan seperti pola yang aneh. Setiap malam, tepat dua jam, Rian harus keluar kamar. Setiap malam, Bu Ratih memastikan aturan itu dipatuhi dengan ketat.
Maya mulai merasa seperti hidup dalam rumah yang memiliki jam tak terlihat.
Namun yang lebih aneh adalah Rian.
Pria itu mulai terlihat lelah. Bukan hanya fisik, tapi seperti seseorang yang memikul sesuatu yang berat tanpa bisa menjelaskannya. Kadang ia terlihat ingin berbicara, tapi selalu berhenti di tengah kalimat ketika Bu Ratih ada di dekat mereka.
Suatu malam, ketika Bu Ratih pergi ke rumah kerabat, Maya akhirnya tidak tahan lagi.
“Rian,” katanya pelan, “apa sebenarnya yang terjadi?”
Rian menatapnya lama. Sangat lama, seperti sedang berperang dengan dirinya sendiri.
“Aku tidak boleh bilang.”
“Kenapa?”
“Karena kalau aku bilang… kamu tidak akan bisa tidur di rumah ini lagi.”
Maya merasa dingin menjalar di punggungnya.
“Aku istrimu,” katanya tegas. “Aku berhak tahu.”
Rian duduk di tepi ranjang, menunduk. Suaranya hampir tidak terdengar.
“Ayahku tidak meninggal karena sakit seperti yang diceritakan orang.”
Jantung Maya berhenti sesaat.
“Apa maksudmu?”
Rian menarik napas dalam.
“Ibu selalu bilang Ayah meninggal karena serangan jantung. Tapi sebenarnya… Ayah ditemukan tidak bernyawa di kamar ini. Dan waktu itu… Ibu juga menerapkan aturan yang sama.”
Ruangan itu tiba-tiba terasa lebih sempit.
“Dan setelah itu?” bisik Maya.
Rian mengangkat wajahnya. Matanya merah.
“Setelah itu, Ibu tidak pernah mau menjelaskan lebih jauh. Tapi dia mulai percaya bahwa sesuatu terjadi kalau pasangan terlalu lama bersama di malam hari.”
Maya ingin mengatakan itu tidak masuk akal. Tapi kata-kata itu tersangkut di tenggorokannya.
Karena sesuatu tentang rumah ini… memang tidak normal.
Malam itu, Maya memutuskan sesuatu. Ia tidak akan lagi diam.
Ketika Rian keluar kamar sesuai aturan, Maya pura-pura tidur. Namun begitu rumah sunyi, ia bangun dan mengikuti langkah pelan ke arah lorong yang tidak pernah ia perhatikan sebelumnya.
Di ujung lorong, ada satu kamar yang selalu terkunci.
Kamar yang bahkan Rian tidak pernah masuk.
Tapi malam itu, pintunya sedikit terbuka.
Jantung Maya berdegup kencang ketika ia mendorongnya pelan.
Di dalam, bukan kamar kosong seperti yang ia bayangkan.
Ada foto-foto.
Banyak.
Foto Rian. Foto ayahnya. Foto dirinya sendiri—yang bahkan ia tidak ingat pernah diambil.
Dan di tengah ruangan, Bu Ratih berdiri.
Seolah sudah menunggu.
“Jadi kamu akhirnya melihatnya,” kata wanita itu pelan.
Maya mundur. “Apa ini semua?”
Bu Ratih berjalan mendekat, lalu menunjuk foto-foto di dinding.
“Aku tidak gila, Maya. Aku hanya belajar terlalu terlambat.”
“Belajar apa?”
Bu Ratih tersenyum tipis, tapi bukan senyum bahagia.
“Setiap keluarga ini… ada sesuatu yang bangun di malam hari kalau cinta terlalu dekat tanpa batas.”
Maya ingin lari, tapi kakinya tidak bergerak.
Dan saat itu, dari balik dinding kamar, terdengar suara ketukan pelan.
Tok. Tok. Tok.
Padahal tidak ada orang di luar.
Bu Ratih menutup matanya.
“Sudah mulai bangun lagi,” bisiknya.
Maya menatapnya, tubuhnya gemetar. “Apa yang bangun?”
Bu Ratih membuka mata, dan untuk pertama kalinya, suaranya terdengar benar-benar rapuh.
“Yang dulu membunuh suamiku.”
Lampu kamar berkedip.
Dan pintu di belakang Maya menutup sendiri.
Pelan.
Seperti terkunci dari luar.
