Duniaku runtuh di atas jok mobil yang dingin. Segala pengorbanan selama enam tahun—cairan infus yang harus kurebus, lecet di tanganku karena membalikkan tubuhnya agar tidak luka tekan, gaji yang habis untuk obat-obatan—terasa seperti lelucon yang kejam. Namun, di balik rasa sakit dan pengkhianatan yang mengoyak jiwa, muncul satu kesadaran dingin: Mengapa? Mengapa ia harus berpura-pura lumpuh? Jika ia sudah pulih, mengapa ia tidak melarikan diri bersama Ratna?
Ada sesuatu yang tidak beres. Rama bukan pria yang suka bermain drama. Dia pria yang efisien. Jika dia bisa bergerak, dia akan pergi. Jika dia tetap di sini, artinya ada alasan yang lebih besar dari sekadar perselingkuhan.
Aku menyeka air mata, napas mulai teratur meski hatiku masih perih. Aku tidak akan masuk dengan marah-marah seperti wanita bodoh. Aku akan mencari kebenaran.

Besoknya, aku tetap bersikap biasa. Ratna datang dengan seragam putihnya yang kaku, wajahnya sedatar papan. Aku memperhatikannya dengan ketajaman yang baru. Saat dia sibuk memeriksa nadi Rama, aku memperhatikan jarinya. Ada cincin tipis yang kusembunyikan di balik sarung tangan lateksnya.
Saat Ratna pergi ke dapur untuk mengambil air, aku mendekati Rama. Dia berbaring kaku, mata tertutup, napas dangkal. Sempurna.
“Mas,” bisikku di dekat telinganya. “Aku tahu kamu sudah bangun.”
Tak ada gerakan. Bahkan detak jantung di monitor tidak berubah. Jika dia adalah seorang aktor, dia pantas memenangkan Oscar.
“Aku menemukan gaun merah marun itu, Mas. Wangi cendanamu menempel di bantal.”
Kelopak mata Rama bergetar sedikit—hanya satu milimeter—tapi itu cukup bagiku. Namun, sebelum aku bisa bicara lebih lanjut, Ratna kembali.
“Nyonya, Tuan sepertinya butuh istirahat lebih,” ucapnya dingin.
Aku tersenyum, senyum yang paling manis yang bisa kubuat. “Tentu, Suster. Aku akan pergi ke kantor. Oh ya, besok adalah ulang tahun pernikahan kami yang kesepuluh. Aku berencana merayakannya di rumah. Mungkin… kita akan mengundang makan malam untuk merayakannya bersama.”
Wajah Ratna memucat sesaat, namun dia segera menguasai diri. “Itu ide yang sangat bagus, Nyonya.”
Malam perayaan itu tiba. Aku memesan makanan mewah, menyalakan lilin, dan meletakkan dua kursi di samping tempat tidur Rama. Aku mengundang Bu Wati untuk ikut, dengan alasan ingin berbagi kebahagiaan. Ratna terlihat gelisah, matanya melirik ke arah pintu berkali-kali.
“Ini untukmu, Mas,” kataku, meletakkan gelas anggur di meja. “Dan ini, Suster Ratna, terima kasih sudah merawat suami saya selama ini.”
Aku menuangkan minuman ke gelas Ratna dan diriku sendiri. Ratna ragu, tapi saat aku meneguknya, dia pun ikut minum. Tak lama kemudian, kesadaran Ratna mulai meredup. Obat penenang yang kucampurkan ke dalam gelasnya bekerja dengan cepat. Dia jatuh terkulai di kursi.
Bu Wati yang panik hendak berteriak, tapi aku menahannya. “Tenang, Bu. Ini demi kebenaran.”
Aku beralih ke Rama. “Mas, bangunlah. Ratna sudah tidak sadar.”
Rama tetap tak bergerak. Aku mulai marah. “Cukup! Aku tahu kau sadar! Mengapa kau melakukan ini? Apa aku kurang baik merawatmu?!”
Tiba-tiba, sebuah suara parau keluar dari tenggorokan Rama. Suara yang sudah enam tahun tak kudengar. “Sayang… jangan… lari…”
Aku tertegun. Rama membuka matanya, tapi bukan tatapan cinta yang dia berikan. Itu tatapan ketakutan yang luar biasa. Dia berusaha mengangkat tangannya, menunjuk ke arah tas medis milik Ratna.
Aku membuka tas itu. Di dalamnya, selain alat kesehatan, terdapat sebuah buku catatan kecil. Isinya bukan catatan medis, melainkan rincian transaksi bank dan nama-nama orang yang sudah “dibuang”.
Ratna bukan sekadar perawat. Dia adalah bagian dari sindikat yang menggunakan pasien vegetative untuk mencuci uang melalui asuransi jiwa yang digelembungkan. Mereka menyuntikkan obat dosis rendah yang membuat pasien tetap sadar di dalam tubuhnya sendiri, namun tidak bisa bergerak atau bicara, sehingga mereka bisa memanipulasi klaim asuransi terus-menerus.
Dan Rama… Rama bukan selingkuh dengan Ratna. Dia adalah tawanan di rumahnya sendiri.
“Dia… mengancam akan membunuhmu,” bisik Rama lemah, air mata mengalir di sudut matanya. “Jika aku… tidak mengikuti… rencananya…”
Ternyata, ciuman malam itu bukan ciuman cinta, melainkan bentuk intimidasi Ratna agar Rama tetap bersandiwara di depanku.
Tiba-tiba, pintu kamar terbuka lebar. Ratna, yang ternyata belum benar-benar pingsan, berdiri di sana dengan wajah yang menyeramkan. Dia memegang sebuah suntikan besar di tangannya.
“Kamu seharusnya tetap di kantor, Nyonya,” ucapnya dengan suara dingin yang mematikan.
Ratna menerjang ke arahku, namun Bu Wati—yang ternyata adalah mantan atlet judo sebelum menjadi pembantu—dengan sigap membanting Ratna ke lantai. Pergumulan terjadi. Dalam kekacauan itu, jarum suntik yang dipegang Ratna terlepas dan menusuk lengannya sendiri. Dosis tinggi obat pelumpuh otot yang dia siapkan untukku masuk ke aliran darahnya.
Dalam hitungan detik, Ratna kaku. Dia berbaring di lantai, matanya membelalak ketakutan, persis seperti Rama selama enam tahun terakhir.
Polisi datang tak lama kemudian. Ratna ditangkap dalam kondisi lumpuh total, namun kesadarannya masih utuh—hukum karma yang sempurna.
Tiga bulan kemudian, Rama mulai bisa duduk di kursi roda. Meskipun proses pemulihannya panjang, dia akhirnya bisa bicara dengan normal. Namun, ada satu hal yang tidak pernah aku ceritakan padanya sampai hari ini.
Malam itu, saat aku menggeledah ponsel Ratna sebagai bukti, aku menemukan foto-foto kami di rumah. Bukan foto acak, tapi foto kami sedang tidur, sedang makan, sedang berdebat. Dan ada satu pesan terakhir yang dikirim Ratna sebelum dia menyerangku, kepada seseorang yang tidak diketahui nomornya:
“Target sudah curiga. Eksekusi Rama malam ini, lalu habiskan istrinya.”
Aku menatap Rama yang sedang memandang jendela. Dia selamat, tapi aku tahu, ancaman itu tidak pernah benar-benar hilang. Di balik senyumnya yang kini perlahan kembali, aku terkadang masih mencium bau cendana yang samar di sudut rumah. Dan setiap kali aku menatap cermin, aku merasa ada seseorang di balik tirai yang sedang mengawasiku, menunggu kapan aku akan lengah lagi.
Apakah hidup kami benar-benar sudah aman, ataukah kami hanya pion dalam permainan yang jauh lebih besar yang belum tersingkap?
