Malam itu, aku tidak menunggu fajar. Meski hujan deras masih mengguyur lereng gunung di Jawa Tengah, aku memacu mobilku menembus kegelapan menuju stasiun terdekat, lalu memesan tiket penerbangan paling awal menuju Pekanbaru. Selama di pesawat, pikiranku berkecamuk. Kemarahan, rasa iba, dan kebingungan bercampur menjadi satu. Mengapa Ayah memilih untuk membuang harga dirinya demi “perlindungan” yang justru menyakiti kami secara batin?
Sesampainya di Pekanbaru, hawa panas menyambutku, kontras dengan udara dingin desa yang baru kutinggalkan. Berbekal secarik kertas yang ditulis Ibu dengan tangan gemetar, aku mencari alamat kos tersebut. Lokasinya jauh dari pusat kota, berada di gang sempit yang diapit oleh gudang-gudang tua dan tumpukan peti kemas.
Aku berhenti di depan sebuah bangunan semi-permanen yang nyaris rubuh. Bau lembap dan debu pabrik sangat menyengat. Di sudut teras, seorang pria tua duduk di kursi kayu yang reyot. Kakinya yang kanan terlihat kaku, dibalut sepatu bot karet yang sudah usang. Ia sedang memegang senter, bersiap untuk giliran jaga malam.
“Pak?” suaraku tercekat.
Pria itu menoleh. Wajahnya—keriput yang dalam, kumis tipis yang memutih—adalah versi tua dari pria yang ada di foto pudar di dompetku. Ayah.
Dia terpaku. Senter di tangannya jatuh ke tanah, mengeluarkan suara dentuman tumpul. “Rian?” suaranya parau, hampir seperti bisikan angin.
Aku tidak bisa menahan diri. Aku berlari dan memeluknya. Tubuhnya kurus kering, jauh berbeda dengan sosok tegap yang ada dalam ingatanku. Kami menangis di sana, di tengah debu jalanan. Setelah tenang, aku membawanya ke sebuah rumah makan sederhana. Aku ingin tahu segalanya.
Namun, saat aku mulai menanyakan tentang masa lalu, tentang rentenir itu, Ayah justru tersenyum masam. “Rentenir itu?” katanya pelan. “Ibu mungkin tidak pernah memberitahumu, Rian. Bukan karena ia takut melindungiku. Tapi karena ia takut kau tahu siapa sebenarnya yang membuat kita bangkrut.”
Jantungku berhenti berdetak. “Apa maksud Ayah?”
Ayah menatapku tajam. “Saat itu, bukan rentenir yang merusak hidup kita. Desa kita tidak pernah ada rentenir yang sampai mengancam nyawa. Yang terjadi adalah, ibumu memiliki kecanduan judi kartu yang sangat parah. Ia menghabiskan semua tabunganku, menjual sawah diam-diam, dan menumpuk hutang pada orang-orang berbahaya di kota kabupaten. Aku pergi bukan untuk bekerja di Riau karena hutang medis Dewi. Aku pergi karena aku yang menanggung semua hutang judi ibumu agar ia tidak dipenjara.”
Duniaku seakan runtuh. Ibu yang selama ini kulihat sebagai malaikat, perempuan tabah yang menahan lapar demi kami, adalah alasan di balik kemiskinan dan penderitaan kami selama 12 tahun?
“Tapi… Ibu bilang dia menunggu kabar Ayah. Ibu bilang dia rindu,” ucapku, suaraku bergetar hebat.
Ayah tertawa pahit. “Ibu meneleponku setiap bulan. Bukan untuk menanyakan kabarku, tapi untuk memastikan aku masih sanggup mengirim uang. Setiap rupiah yang kukirim, sebagian besar habis untuk membiayai gaya hidupnya yang masih tertutup rapi di balik topeng ‘Ibu yang menderita’. Aku tidak kembali bukan karena malu kakiku cacat. Aku tidak kembali karena aku tahu, jika aku pulang, dia akan menghabiskan uang hasil kerja kerasmu yang kau kirim ke desa setiap bulan.”
Tiba-tiba, ponselku bergetar. Sebuah pesan masuk dari Ibu. Isinya singkat: “Rian, apa kau sudah bertemu Ayah? Hati-hati, dia pembohong besar. Dia sengaja pergi karena dia punya keluarga lain di sini. Jangan percaya apa pun yang dia katakan.”
Aku memandang Ayah, lalu menatap layar ponselku. Siapa yang harus kupercaya? Ibu yang membesarkanku dengan penuh pengorbanan, atau Ayah yang hidup dalam pengasingan?

Aku memutuskan untuk melakukan penyelidikan sendiri. Aku menyewa seorang detektif swasta di Pekanbaru dan juga menghubungi seorang teman lama di desa. Dua hari kemudian, kebenaran yang jauh lebih mengerikan terungkap.
Ternyata, Ayah benar. Ibu memang memiliki masalah judi, namun ada satu hal lagi yang tidak Ayah ketahui. Ibu tidak hanya berjudi; dia telah menjalin hubungan dengan seorang pria kaya di kota kecamatan sejak aku merantau ke Jakarta. Pria itulah yang sebenarnya membiayai pendidikan Budi dan Dewi, bukan uang hasil kerja keras yang kukirim selama ini. Uang yang kukirim setiap bulan? Ibu menabungnya di rekening tersembunyi yang kini totalnya sudah mencapai miliaran rupiah.
Aku kembali ke penginapan dengan perasaan hampa. Aku merasa seperti orang asing di dalam keluargaku sendiri. Namun, saat aku hendak meninggalkan Pekanbaru, aku menerima telepon dari Budi di desa.
“Mas Rian,” suara Budi terdengar gemetar. “Cepat pulang. Ibu… Ibu ditemukan meninggal di gubuk tadi pagi. Polisi bilang ini pembunuhan.”
Aku kembali ke desa dengan perasaan campur aduk. Di gubuk tua itu, polisi menemukan brankas yang selama ini tersembunyi di bawah lantai tanah. Saat dibuka, isinya bukan sekadar uang. Ada sebuah buku harian.
Aku membacanya di depan jenazah Ibu. Ternyata, Ibu tidak berjudi karena keinginan sendiri. Dia dipaksa oleh ayah kandung Budi—bukan Ayahku—yang ternyata adalah seorang bandar judi besar yang mengancam akan membunuh kami semua jika Ibu tidak menuruti perintahnya. Pria yang dianggap “simpanan” oleh Ayah adalah orang yang sama yang memeras Ibu.
Ibu mengorbankan reputasinya, membiarkan kami membencinya, dan hidup dalam kemiskinan agar kami tidak pernah tahu bahwa ayah kandung Budi adalah monster yang memburu keluarga kami. Ibu meninggal karena dia mencoba melarikan diri dari pria itu setelah dia tahu aku sudah sukses dan bisa melindungi kami.
Malam itu, aku duduk di depan gubuk, menatap hujan yang masih jatuh dengan derasnya. Ayah datang menyusulku dari Pekanbaru. Dia memandang makam di belakang rumah yang baru saja digali. Kami tidak bicara. Kebenaran tidak selalu membebaskan; kadang-kadang, kebenaran hanya meninggalkan luka yang terlalu dalam untuk disembuhkan.
Tiba-tiba, sebuah mobil mewah berhenti di depan gubuk. Seseorang keluar dari mobil tersebut. Itu adalah pria yang selama ini memeras Ibu. Dia membawa tas besar, tersenyum sinis padaku.
“Ibumu sudah mati, dan sekarang, semua hutang itu jatuh kepadamu, Rian,” ucapnya dingin.
Aku berdiri, menatapnya dengan tatapan yang sudah tidak lagi mengenal takut. Di belakangku, Budi dan Dewi keluar dari gubuk, memegang dokumen legal yang selama ini disimpan Ibu. Dokumen yang membuktikan bahwa pria itu adalah otak di balik semua tragedi kami.
“Ternyata, Ibu sudah menyiapkan segalanya untuk menjebakmu sebelum dia pergi,” kataku sambil tersenyum tipis. “Polisi sudah menunggu di balik pohon itu sejak sepuluh menit yang lalu.”
Pria itu terbelalak, berbalik mencoba lari, namun terlambat. Sirene polisi memecah kesunyian malam.
Saat pria itu digiring masuk ke mobil polisi, aku menoleh ke arah Ayah. Kami saling mengangguk. Kami telah kehilangan Ibu, kehilangan masa lalu yang indah, dan kehilangan rasa percaya. Namun, di bawah hujan yang perlahan mulai reda, kami sadar bahwa gubuk tua ini akhirnya benar-benar milik kami kembali. Kami tidak perlu lagi membangun rumah baru. Kami akan memperbaiki gubuk ini, karena di sinilah tempat di mana semua kebohongan dan pengorbanan itu akhirnya menemukan ujungnya.
Aku melihat ke langit, berbisik pelan, “Terima kasih, Bu. Kami sudah aman sekarang.”
Dan untuk pertama kalinya setelah dua belas tahun, aku bisa bernapas dengan lega, meskipun aku tahu, hidup tidak akan pernah sama lagi.
