Panggung itu tidak lagi terasa seperti podium kemenangan bagi Raka; panggung itu telah berubah menjadi tiang gantungan bagi ambisinya sendiri. Lampu sorot yang tadinya ia idamkan kini terasa seperti pisau bedah yang membedah kebohongannya di depan mata ratusan orang paling berpengaruh di ibu kota.
CEO Apex Global Solutions, Pak Bramantya, melangkah mendekat ke arah kursi roda Sinta. Ia tidak lagi menatap ke arah Raka, melainkan membungkuk hormat kepada wanita itu.
“Hadirin sekalian,” suara Pak Bramantya bergema di seluruh ballroom yang sunyi senyap. “Mungkin banyak dari Anda mengenal saya sebagai wajah Apex. Namun, struktur kepemilikan perusahaan ini telah berubah sejak tiga tahun lalu melalui holding yang berbasis di Singapura. Wanita di samping saya ini, Sinta Larasati, adalah pemegang saham mayoritas tunggal yang menyelamatkan kita dari kebangkrutan saat krisis pandemi.”

Raka merasa kakinya gemetar. Ia mencoba mencari celah untuk keluar, namun kerumunan tamu sudah mengepungnya, menunggu reaksinya.
Sinta mengambil mikrofon yang diserahkan oleh Pak Bramantya. Suaranya jernih, tenang, dan tanpa nada dendam yang meledak-ledak. “Selama lima tahun terakhir,” ucap Sinta, matanya masih terkunci pada Raka, “saya memilih untuk berada di balik layar. Saya membiarkan orang yang saya cintai merintis kariernya, memberikan dukungan, dana, dan kesempatan, karena saya percaya pada potensi pria yang saya nikahi.”
Ia berhenti sejenak, membiarkan keheningan menekan dada Raka.
“Namun, malam ini saya belajar satu hal penting. Bahwa ketika seseorang terlalu silau oleh pantulan cahaya kesuksesan yang ia pinjam, ia mulai menganggap bahwa cahaya itu adalah miliknya sendiri. Dan lebih buruk lagi, ia mulai merasa malu pada sumber cahaya tersebut hanya karena cara ia bergerak tidak lagi sesuai dengan estetika ambisinya.”
Raka menunduk. Keringat dingin mengalir di pelipisnya. Ia ingin memotong pembicaraan, ingin memohon, atau setidaknya memutar balik waktu, namun bibirnya terasa kaku.
“Raka Ardiansyah,” panggil Sinta dengan suara tegas.
Raka mendongak, meski enggan.
“Tadi di apartemen, kamu bilang kamu tidak bisa membawaku karena kursi roda ini akan merusak citramu. Kamu benar. Citramu memang rusak malam ini, tapi bukan karena aku, melainkan karena kebenaran.”
Sinta memberi isyarat kepada salah satu asistennya. Asisten itu mengeluarkan sebuah dokumen dari map kulit dan menyerahkannya kepada Pak Bramantya.
“Sebagai pemilik, saya berhak menentukan siapa yang duduk di posisi Wakil Presiden,” kata Sinta, suaranya kini dingin seperti es. “Raka, proyeksi kariermu berakhir di sini. Tidak ada promosi. Dan mulai besok pagi, seluruh wewenangmu di Apex dicabut. Tim hukum saya sudah menyiapkan berkas perceraian kita. Kamu tidak perlu khawatir soal harta gono-gini; kamu tidak akan mendapat sepeser pun dari aset yang selama ini kamu nikmati atas namaku.”
Ruangan pecah dalam bisikan. Beberapa investor besar mulai menjauh dari Raka, seolah pria itu membawa penyakit menular. Mereka yang tadi menepuk punggung Raka dengan hangat, kini menatapnya dengan tatapan merendahkan.
Raka mencoba melangkah maju ke panggung, suaranya tercekat. “Sinta… ini tidak adil. Kita bisa bicara di rumah…”
“Di rumah yang mana, Raka?” potong Sinta dengan senyum tipis yang mematikan. “Apartemen itu atas namaku. Kartu kredit yang kamu gunakan untuk membeli jas mahal itu atas namaku. Malam ini, saat kamu keluar dari pintu apartemen itu, kuncinya sudah saya ganti. Kamu tidak punya rumah untuk pulang.”
Sinta kemudian menatap para tamu. “Pesta ini tetap berlanjut. Saya ingin memperkenalkan Direktur Operasional yang baru, yang selama ini telah bekerja dengan integritas tanpa harus berpura-pura.”
Seorang pria paruh baya, yang selama ini Raka anggap sebagai saingan terlemahnya, naik ke panggung dengan wajah berseri-seri.
Raka tersungkur. Bukan secara fisik, namun egonya hancur lebur. Ia melihat Sinta berputar dengan kursi rodanya—gerakan yang menurutnya memalukan, namun kini terlihat begitu berwibawa dan penuh kuasa di mata semua orang di ruangan itu. Kursi roda itu bukan simbol kelemahan, melainkan takhta bagi seorang ratu yang baru saja membuang pengkhianat dari kerajaannya.
Raka berjalan keluar dari ballroom dengan gontai. Lampu kristal yang tadinya berkilau indah kini terasa menyesakkan. Ia keluar ke lobi hotel yang dingin. Saat ia sampai di pintu keluar, satpam hotel yang biasanya menyambutnya dengan hormat, kini hanya memandangnya dengan tatapan dingin.
“Mobil Anda sudah ditarik oleh pihak perusahaan, Pak Raka,” ujar satpam itu datar.
Raka berdiri di trotoar Jakarta yang bising, terjebak di tengah malam dengan setelan jas mahal yang kini terasa seperti kostum badut. Ia baru menyadari bahwa ia telah membuang satu-satunya orang yang benar-benar membangunnya dari nol hanya demi menjaga citra di depan orang-orang yang bahkan tidak peduli padanya.
Di dalam ballroom, Sinta menyesap sampanye dengan tenang. Ia tidak menoleh lagi. Baginya, Raka hanyalah sebuah investasi yang gagal—sebuah kesalahan perhitungan yang baru saja ia hapus dari neraca kehidupannya.
Sisi Gelap yang Tak Terduga
Namun, ada satu detail yang tidak diketahui Raka—detail yang membuat kehancuran hidupnya semakin sempurna.
Tiga bulan setelah malam gala itu, Raka yang kini hidup terlunta-lunta mencoba mencari pekerjaan kecil. Ia akhirnya diterima di sebuah perusahaan logistik kelas menengah. Di hari pertamanya, ia diperkenalkan dengan klien besar yang akan bermitra dengan perusahaan tersebut.
Saat pintu ruang pertemuan terbuka, Raka membeku. Di sana, di balik meja besar, Sinta duduk dengan anggun di kursi rodanya. Namun, ia tidak sendiri. Di sampingnya berdiri pria yang menggantikan posisi Raka di Apex. Mereka tidak hanya rekan bisnis; mereka sudah menikah sebulan setelah perceraian Sinta dan Raka.
Lebih mengejutkan lagi, Sinta tidak lagi menggunakan kursi roda. Ia berdiri dengan bantuan tongkat yang sangat artistik saat menyambut klien, menyembunyikan fakta bahwa sebenarnya kondisi kakinya sudah membaik sejak lama—ia hanya menggunakan kursi roda untuk menguji kesetiaan Raka.
Raka jatuh terduduk di lantai ruang pertemuan. Ia baru menyadari bahwa selama lima tahun, ia tidak hanya diuji, tetapi ia sedang dimainkan dalam sebuah skenario psikologis yang dirancang untuk menyingkirkan parasit dari kehidupan Sinta.
“Jangan menatapku seperti itu, Raka,” ucap Sinta dengan nada dingin namun tenang. “Kamu tidak pernah jatuh karena aku. Kamu jatuh karena karaktermu sendiri. Kursi roda ini? Itu hanya cermin. Jika kamu pria yang baik, kamu akan melihat kecantikan. Jika kamu pria yang angkuh, kamu hanya akan melihat penghalang.”
Sinta tidak menghancurkan Raka dengan amarah; ia menghancurkannya dengan membiarkan Raka menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya. Raka bukan hanya kehilangan karier, ia kehilangan jati dirinya di bawah tatapan mata wanita yang dulunya ia anggap sebagai beban, namun ternyata adalah hakim dari takdirnya sendiri.
Pintu ditutup, dan Raka ditinggalkan sendirian di lorong yang sunyi. Ia menangis, bukan karena kehilangan uang atau kemewahan, tetapi karena ia baru menyadari bahwa ia telah membuang berlian demi segenggam kerikil yang ia pikir adalah emas.
