Ruangan itu mendadak hening, seolah oksigen tersedot habis dari setiap sudut. Langkah kaki Ibu Ratna terdengar berirama, tajam dan ritmis di atas lantai marmer, seperti detak jam yang menghitung mundur sisa karier Adrian.
Ibu berhenti tepat di sampingku. Ia tidak menatapku. Ia tidak menatap Hakim. Matanya terkunci pada Adrian, tajam seperti pisau bedah yang siap menguliti kebohongan.
“Yang Mulia,” suara Ibu tenang, namun kekuatannya membuat Hakim Sari Dewi secara refleks merapikan posisi duduknya. “Mohon maaf atas keterlambatan saya. Saya tidak datang sebagai Hakim Agung, melainkan sebagai seorang ibu yang selama sepuluh tahun terakhir telah mengamati betapa ‘kreatifnya’ menantu saya dalam mengelola keuangan keluarga.”
Hadi Santoso, pengacara itu, mencoba bangkit dengan kegugupan yang kentara. “Keberatan, Yang Mulia! Pihak tergugat tidak memiliki izin untuk berbicara selain melalui perwakilan resmi—”
“Duduk, Pak Hadi,” potong Ibu tanpa melirik sedikit pun ke arah pengacara itu. “Saya tidak perlu izin untuk menyajikan fakta. Anda berbicara tentang aset di Pondok Indah? Anda menyebut uang lima ratus juta sebagai angka yang ‘besar’?”
Ibu mengeluarkan sebuah dokumen tipis dari tasnya dan meletakkannya di meja hakim. “Sinta memang tak punya pengacara. Tapi dia punya saya. Dan saya punya akses ke catatan yang tidak bisa dihapus oleh perangkat lunak akuntansi mana pun.”
Adrian mencoba tertawa, namun suaranya tercekat. “Apa yang kau bicarakan, Bu Ratna? Itu hanya… itu hanya investasi pribadi.”
“Investasi?” Ibu tersenyum tipis, sebuah senyum yang lebih menakutkan daripada kemarahan mana pun. “Adrian, kau sangat percaya diri dengan harta yang kau kumpulkan dari perusahaan real estate-mu. Tapi tahukah kau? Setiap proyek yang kau bangun di SCBD, setiap kontrak yang kau tanda tangani dengan nama samaran di luar negeri, semuanya tercatat. Dan sayangnya, kau menggunakan rekening bersama yang kau buat atas nama Sinta—tanpa dia sadari—sebagai tempat penampungan dana pencucian uang selama tujuh tahun terakhir.”
Dunia seakan runtuh bagi Adrian. Wajahnya yang tadinya pucat kini berubah kelabu. Ia menoleh ke arahku dengan mata yang membelalak penuh horor. “Sinta… kau… kau mengkhianatiku?”
Aku menatapnya dengan tenang. “Tidak, Adrian. Aku hanya tidak lagi membiarkanmu menggunakan namaku untuk menutup jejak kriminalmu. Tiga bulan lalu, aku mendatangi Ibu. Bukan untuk meminta cerai, tapi untuk memintanya melacak semua jejak digital yang kau tinggalkan di komputer rumah kita.”

Ibu melangkah maju selangkah lagi. “Bukan hanya aset, Adrian. Hak asuh Mila? Kau merasa layak karena kau punya uang? Saya memiliki salinan rekaman percakapanmu dengan kolega bisnis tentang rencana ‘membuang’ Mila ke sekolah asrama di Swiss agar dia tidak mengganggu gaya hidupmu. Kami juga memiliki laporan kesehatan mental terbaru yang kau coba palsukan untuk mendiskreditkanku sebagai ibu yang tidak stabil.”
Hadi Santoso, yang sejak tadi berusaha mencari celah, perlahan-lahan merapikan berkas-berkasnya dan memasukkannya ke dalam tas. Ia tahu kapal ini sudah tenggelam. Ia tidak dibayar untuk membela seseorang yang menghadapi dakwaan tindak pidana pencucian uang dan pemalsuan dokumen negara.
“Yang Mulia,” kata Ibu Ratna, menatap Hakim dengan wibawa seorang veteran yang tak terbantahkan. “Saya menyerahkan bukti-bukti ini. Bukan hanya untuk membatalkan tuntutan cerai yang curang ini, tetapi untuk memastikan bahwa Tuan Adrian Pratama tidak akan pernah lagi melangkah keluar dari ruangan ini sebagai pria bebas.”
Adrian mencoba berdiri, kakinya lemas. Ia menatapku, memohon dengan matanya yang kini penuh air mata ketakutan. “Sinta… tolong… kita bisa bicara. Jangan lakukan ini. Demi Mila…”
“Mila akan tumbuh besar tanpa harus melihat ayahnya menindas orang lain dengan uang,” jawabku dingin.
Detik berikutnya, pintu ruang sidang terbuka lagi. Kali ini bukan oleh seorang kerabat, melainkan oleh dua orang pria dengan seragam aparat hukum yang sudah menunggu di luar. Mereka tidak menunggu palu hakim diketuk untuk kedua kalinya. Mereka melangkah masuk dengan tegas, langsung menuju ke arah Adrian.
Adrian mencoba berontak, meneriakkan namaku, menyebut namaku berkali-kali seolah itu adalah jimat yang bisa menyelamatkannya. Namun, genggaman aparat itu terlalu kuat. Saat ia diseret keluar, ia menatapku untuk terakhir kalinya. Bukan lagi dengan tatapan meremehkan, melainkan dengan tatapan penuh kebencian yang dalam.
Namun, ada satu hal yang tidak ia sadari. Saat ia ditarik paksa, sebuah amplop cokelat terjatuh dari saku jasnya—amplop yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat.
Ibu memungutnya dan membukanya. Kami berdua terpaku. Di dalamnya bukan surat aset, bukan pula data keuangan. Itu adalah tiket pesawat satu arah ke luar negeri atas nama Adrian dan… seorang wanita yang selama ini menjadi asisten pribadinya, tertanggal untuk keberangkatan malam ini.
Ia tidak berniat memenangkan hak asuh Mila. Ia bahkan tidak berniat menceraikanku dengan cara yang adil. Ia berniat menculik Mila, menguras semua rekening yang tersisa, dan melarikan diri tepat setelah sidang ini selesai, meninggalkan aku dengan utang pajak yang akan membuatku dipenjara seumur hidup.
Dia tidak hanya mencoba menceraikanku. Dia mencoba memusnahkanku dari muka bumi ini.
Ibu Ratna menatapku, tangannya sedikit gemetar saat ia merangkul bahuku. “Sinta, kau baru saja menyelamatkan hidupmu sendiri lebih dari yang kau sadari.”
Sidang itu ditutup dengan cara yang tak pernah dibayangkan oleh siapa pun di Jakarta Selatan. Aku berjalan keluar dari pengadilan, di bawah terik matahari yang terasa lebih hangat dari sebelumnya. Aku tidak menangis. Aku tidak lagi merasa kecil.
Namun, di dalam mobil dalam perjalanan pulang, Ibu memberikan sebuah dokumen terakhir yang belum ia tunjukkan di ruang sidang.
“Sinta,” katanya pelan. “Ada satu hal lagi. Adrian memang penjahat, tapi dia hanyalah pion. Seluruh kerajaan real estate-nya sebenarnya dimiliki oleh seseorang yang jauh lebih besar di atasnya. Dan orang itu… baru saja mengirimiku pesan sebelum aku masuk ke ruang sidang tadi.”
Aku menoleh, jantungku berdegup kencang. “Siapa, Bu?”
Ibu Ratna terdiam sejenak, menatap ke luar jendela mobil, ke arah cakrawala Jakarta yang penuh gedung pencakar langit. “Ayah kandung Adrian yang selama ini kita kira sudah meninggal di luar negeri. Dan dia tahu persis apa yang kita lakukan hari ini.”
Sebuah senyum getir tersungging di bibir Ibu. Ternyata, Adrian hanyalah umpan. Kami telah berhasil menghancurkan sang pion, tetapi kami baru saja membangunkan naga yang sebenarnya.
“Ini baru permulaan, Sinta,” bisik Ibu.
Aku memegang ponselku. Di layar, sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal: “Terima kasih sudah menyingkirkan sampah yang tak berguna itu. Sekarang, mari kita bicara tentang warisan yang seharusnya menjadi milikmu.”
Aku menatap layar itu, lalu menatap gaun biruku. Ternyata, drama yang kupikir akan berakhir di ruang sidang ini, hanyalah prolog dari perang yang sesungguhnya. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa siap untuk menjadi monster bagi mereka yang mencoba menghancurkanku.
