MANTAN SUAMI MENGUNDANGKU KE PERNIKAHANNYA UNTUK MEMPERMALUKANKU, JADI AKU MENYEWA AKTOR TAMPAN

Bisikan-bisikan tertahan mulai terdengar seperti gerombolan lebah yang terusik. Aku bisa merasakan tatapan mata para sosialita yang biasanya memandangku dengan sebelah mata, kini berubah menjadi rasa ingin tahu yang meluap. Adrian, dengan ketenangannya yang dingin, merangkul pinggangku dengan posesif namun sopan. Sentuhan hangatnya di balik gaun sutraku memberikan keberanian yang tak pernah kusangka bisa kumiliki.

Kami berjalan melewati lorong yang dihiasi bunga mawar putih impor hingga mencapai area utama. Di sana, di atas panggung pelaminan yang sangat megah, Dimas berdiri dengan setelan jas hitam yang tampak sangat berusaha keras untuk terlihat berkelas. Di sampingnya, Karina—wanita yang merebutnya dariku—tersenyum lebar dengan gaun pengantin yang bertabur kristal Swarovski.

Saat mata Dimas menyapu ruangan, pandangannya terkunci padaku. Senyum angkuhnya seketika membeku. Ia tertegun melihatku, atau lebih tepatnya, melihat siapa yang menggandengku. Wajahnya yang semula penuh kemenangan berubah menjadi perpaduan antara kebingungan dan iritasi yang nyata.

“Maya?” gumamnya, cukup keras untuk didengar oleh tamu-tamu di barisan depan.

Adrian tidak membiarkanku menjawab. Dengan langkah yang anggun dan karismatik, dia membimbingku naik ke atas panggung. Aura yang dipancarkan Adrian begitu kuat sehingga para tamu seolah memberi jalan secara otomatis.

“Selamat, Dimas,” suara Adrian menggelegar, dalam dan tenang, sangat kontras dengan nada gugup Dimas. “Pernikahan yang… sangat menarik. Saya Adrian. Kebetulan sekali, Maya adalah rekan dekat saya. Kami tidak mungkin melewatkan momen besar ini.”

Dimas menjabat tangan Adrian dengan ragu. “Adrian? Saya rasa kita belum pernah bertemu di lingkaran bisnis mana pun.”

Adrian tersenyum tipis, sebuah senyuman predator yang sangat tipis namun mematikan. “Dunia ini luas, Dimas. Terlalu luas untuk hanya berputar di lingkaran yang itu-itu saja.”

Namun, saat pandangan Adrian beralih ke arah Karina, suasana di atas panggung berubah drastis.

Karina, yang sedari tadi terlihat sombong, tiba-tiba memucat. Warna merah di pipinya lenyap seketika, menyisakan wajah pucat pasi seperti kertas. Tangannya yang memegang buket bunga gemetar hebat hingga bunga-bunga itu nyaris jatuh. Matanya melebar, membelalak ketakutan saat menatap wajah Adrian, seolah-olah dia baru saja melihat hantu yang seharusnya sudah terkubur jauh di masa lalu.

“K-kau…” Karina terbata, suaranya hampir hilang ditelan kebisingan musik orkestra.

Adrian mencondongkan tubuhnya sedikit, mendekat ke arah telinga Karina, lalu berbisik dengan nada yang hanya bisa didengar oleh kami berempat. “Masih ingat perjanjian di pelabuhan tiga tahun lalu, Karina? Atau kau pikir dengan mengubah nama belakang, kau bisa menghapus rekam jejakmu yang kotor?”

Tubuh Karina limbung. Dia hampir jatuh jika tidak ditahan oleh Dimas yang masih tampak linglung.

“Karina? Sayang, kamu kenapa?” tanya Dimas panik.

“Aku… aku pusing. Tolong, bawa aku pergi dari sini!” Karina memekik, mengabaikan protokol pernikahan dan mulai menarik-narik jas Dimas dengan panik.

Suasana ballroom yang tadinya penuh dengan gumaman basa-basi kini berubah menjadi hening mencekam. Semua orang menatap panggung dengan rasa penasaran yang luar biasa. Adrian berdiri tegak, kembali ke posisi semula, dengan wajah tanpa dosa yang sangat meyakinkan.

“Sepertinya pengantin wanita Anda tidak sehat, Dimas,” ucap Adrian dengan nada prihatin yang dibuat-buat. “Mungkin dia sedang terkejut melihat betapa kecilnya dunia ini.”

Dimas memandangku dengan tatapan penuh tanya, namun sebelum dia bisa melontarkan tuduhan, Adrian memberikan kartu nama logam—bukan kertas—ke saku jas Dimas.

“Nikmati sisa pesta Anda, Dimas. Anda benar, pernikahan ini memang tontonan yang sangat berkesan,” ujar Adrian.

Tanpa menunggu balasan, Adrian menarik lenganku dengan lembut namun tegas untuk turun dari panggung. Kami berjalan melewati kerumunan tamu yang kini berbisik jauh lebih keras. Tidak ada yang berani menghalangi jalan kami.

Begitu kami keluar dari pintu ballroom dan sampai di area privat lobi hotel, napasku memburu. “Apa yang terjadi? Siapa kamu sebenarnya, Adrian? Kamu bukan sekadar aktor sewaan, kan?”

Adrian berhenti, dia melepas kacamata hitamnya dan menatapku dengan mata yang menyimpan rahasia kelam. Dia tidak lagi menunjukkan gestur ‘aktor profesional’. Dia terlihat seperti seseorang yang memiliki beban berat di pundaknya.

“Kamu benar, Maya. Aku bukan aktor sewaan,” katanya pelan. “Namaku sebenarnya bukan Adrian. Aku adalah penyelidik independen yang sudah dua tahun ini melacak sindikat pencucian uang yang melibatkan Karina. Aku sebenarnya tidak butuh bayaranmu. Aku hanya butuh akses masuk ke acara ini tanpa dicurigai.”

Aku terperangah. “Jadi, kamu menggunakan aku untuk masuk ke sini?”

“Awalnya begitu,” jawabnya jujur. “Tapi setelah melihat surat undangan yang kamu tunjukkan di agensi, aku tahu ini adalah kesempatan terbaik. Karina adalah kunci dari kasus yang kugeluti. Dan kamu, Maya, kamu adalah korban yang tidak sengaja membawaku ke target yang tepat.”

Tepat saat itu, ponselku bergetar. Sebuah notifikasi berita daring muncul: Breaking News: Penggerebekan besar-besaran di sebuah hotel bintang lima, seorang pengusaha wanita ternama ditangkap atas tuduhan penipuan investasi besar-besaran.

Aku menatap layar ponsel, lalu menatap Adrian. Dia tersenyum, kali ini senyum yang tulus, bukan senyum akting.

“Pesta itu sudah berakhir lebih cepat dari yang direncanakan,” ucapnya. “Dan untuk apa yang kamu bayarkan tadi? Anggap saja itu biaya untuk memberikanmu tiket barisan depan melihat kejatuhan mantan suamimu dan wanita yang menghancurkan hidupmu.”

Adrian berbalik, melangkah menuju mobilnya yang mewah, meninggalkan aku yang berdiri terpaku di lobi hotel. Malam itu, aku tidak hanya memenangkan pertarungan harga diri melawan Dimas. Tanpa sadar, aku telah menjadi saksi kunci dari kejatuhan orang-orang yang paling aku benci.

Aku menarik napas dalam-dalam. Ternyata, hidup tidak butuh skenario yang direncanakan dengan sempurna untuk menjadi dramatis. Terkadang, kebenaran adalah plot twist terbaik yang pernah ada. Aku berjalan keluar hotel dengan kepala tegak, tidak lagi memikirkan Dimas atau rasa sakit hati yang dulu menghantuiku. Malam ini, aku bukan lagi Maya yang ditinggalkan. Aku adalah Maya yang bebas.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang