Santi tersentak, menoleh dengan mata sembab. Saat melihat saya, ia mencoba tersenyum, namun yang keluar justru isakan kecil yang tertahan. “Mas Rian… maaf, aku belum sempat beres-beres. Tadi… mereka minta dimasakan makan malam, lalu mereka bilang lelah dan langsung menonton TV.”
Saya tidak menjawab. Saya hanya mencium keningnya dengan lembut, lalu membimbingnya duduk di kursi meja makan. “Duduklah, Sayang. Biarkan aku yang selesaikan ini.”
Setelah memastikan Santi duduk dengan nyaman, saya berjalan keluar dari dapur, menuju ruang tamu. Suara tawa Aris meledak saat melihat adegan komedi di layar TV. Mereka begitu nyaman, seolah rumah ini adalah milik mereka sendiri.
Saya berdiri tepat di depan televisi, menghalangi pandangan mereka. Saya menekan tombol power dan mematikan TV itu. Hening yang mendadak terasa mencekam.
“Rian! Apa-apaan kamu? Kami sedang seru-serunya!” seru Ibu Ratna dengan wajah tersinggung.
Saya menatap mereka satu per satu. Tatapan saya tajam, dingin, dan menusuk. “Ibu, Dita, Aris. Selama sebulan ini, saya diam. Saya pikir kalian datang untuk membantu. Tapi apa yang saya lihat tadi? Istri saya yang hamil delapan bulan sedang menangis di dapur, sementara kalian bersantai seperti raja dan ratu di rumah yang saya cicil dengan darah dan keringat.”
Aris berdiri, bertingkah menantang. “Eh, Rian. Kamu jangan berlebihan. Santi itu istri, ya wajar saja melayani keluarga. Lagipula, kamu kan laki-laki, tugasmu cari uang, bukan mengatur urusan rumah tangga!”
“Oh, ya?” Saya tersenyum sinis. Saya mengeluarkan kunci rumah dan dokumen dari saku saya. “Aris, rumah ini atas nama saya. Dan asal kamu tahu, saya tidak pernah menunggak satu sen pun untuk cicilannya.”
Saya berjalan menuju pintu depan, membukanya lebar-lebar. “Pergi. Sekarang juga.”
“Apa?! Kamu mengusir Ibu kandungmu sendiri?” teriak Ibu Ratna tidak percaya.
“Ibu bukan tamu. Tamu punya tata krama. Kalian parasit. Dan saya sudah lelah menjadi inang bagi orang-orang yang tidak tahu terima kasih,” jawab saya tegas.
Setelah perdebatan yang sengit dan ancaman yang saya lontarkan—bahwa saya akan menelepon polisi jika mereka tidak segera angkat kaki—mereka akhirnya keluar dengan wajah penuh kemarahan dan umpatan. Pintu saya kunci rapat. Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sebulan, rumah kami terasa sunyi dan damai kembali.
Namun, kejutan sesungguhnya belum berakhir.
Seminggu setelah mereka pergi, saya menemukan sebuah buku catatan kecil di bawah sofa—tempat Aris biasanya tidur. Itu adalah buku harian milik Dita. Iseng, saya membukanya. Namun, apa yang saya baca membuat darah saya mendidih.
Ternyata, mereka tidak datang karena rumah di kampung sedang diperbaiki. Mereka datang karena Aris terjerat utang judi online yang sangat besar. Dan yang lebih mengejutkan lagi, mereka sengaja menyiksa Santi secara psikologis—memaksanya melakukan pekerjaan berat dan tidak memberinya makan dengan layak—semuanya atas perintah seseorang yang tidak terduga.
Di halaman terakhir, tertulis sebuah nama: Santi.

Tangan saya gemetar. Saya membalik halaman-halaman sebelumnya. Ternyata, Santi dan Dita sudah bersekongkol sejak awal. Mereka adalah teman masa kecil yang ternyata memiliki rencana busuk untuk menguras tabungan saya melalui skema “penumpang rumah”.
Santi bukan korban. Dia adalah dalang.
Pintu kamar terbuka. Santi masuk dengan wajah yang terlihat sangat lelah—aktingnya masih berjalan. Namun, saat melihat saya memegang buku harian itu, wajahnya pucat pasi.
“Rian… itu tidak seperti yang kamu bayangkan,” suaranya bergetar.
Saya perlahan bangkit dari sofa. Saya berjalan ke arahnya, namun tidak untuk memeluknya. Saya mengeluarkan ponsel dan menunjukkan layar yang merekam semua percakapan kami sejak saya masuk rumah tadi.
“Aku sudah tahu semuanya, Santi. Termasuk fakta bahwa kamu tidak hamil delapan bulan, bukan?”
Santi membeku. Ia memegangi perutnya yang tampak buncit. Saya mendekat, menarik daster yang ia kenakan. Bukan gundukan bayi yang saya temukan, melainkan bantal silikon yang ia gunakan sebagai penyamaran agar saya tidak berani menyentuhnya atau mengajaknya ke dokter.
“Ibu dan keluargaku hanyalah pionmu untuk membuatku stres agar aku mencairkan asuransi jiwa yang kamu buat atas namaku tanpa sepengetahuanku,” ujar saya tenang.
Tiba-tiba, Santi tertawa. Tawanya bukan lagi tawa seorang istri yang lembut, melainkan tawa dingin seorang wanita yang licik. Ia melepaskan bantal itu ke lantai. “Kamu pintar sekali, Rian. Sayangnya, kamu terlambat. Seluruh tabunganmu sudah kupindahkan ke rekening luar negeri sejak tadi pagi saat kamu memberikan akses mobile banking untuk membayar tagihan rumah sakit palsu itu.”
Saya terdiam, seolah baru saja dipukul oleh palu godam. Namun, detik berikutnya, saya justru tersenyum lebar. Senyum yang membuat Santi justru merasa tidak nyaman.
“Santi, apa kamu pikir aku membiarkanmu memegang ponselku tanpa pengawasan? Kamu lupa siapa yang mendesain sistem keamanan perusahaan konstruksiku?”
Saya menekan sebuah tombol di jam tangan pintar saya. Seketika, lampu rumah mati total, dan sebuah notifikasi muncul di ponsel Santi. Saldo rekeningnya yang tadi ia banggakan, tiba-tiba nol. Bukan itu saja, akses ke seluruh identitas digitalnya di Indonesia secara otomatis terkunci karena sistem mendeteksi percobaan pencurian data yang dilakukan olehnya.
“Aku tidak bekerja 14 jam sehari hanya sebagai buruh kasar, Santi. Aku seorang site engineer yang juga memahami enkripsi data tingkat tinggi,” bisik saya tepat di telinganya. “Polisi sudah di depan pagar. Mereka tidak datang untuk mengusir keluargamu, mereka datang untuk menjemputmu atas tuduhan penipuan, pemalsuan dokumen, dan percobaan pembunuhan terencana.”
Sirene polisi meraung di luar. Santi terduduk lemas di lantai, sementara saya melangkah tenang menuju pintu keluar. Saat petugas memborgol tangannya, dia menatap saya dengan kebencian yang mendalam.
“Kenapa? Kenapa kamu tidak langsung mengusirku dari dulu?” teriaknya saat diseret keluar.
Saya menatapnya untuk terakhir kali sebelum menutup pintu. “Karena aku ingin melihat sejauh mana kamu bisa membohongi orang yang benar-benar mencintaimu, sebelum aku menghancurkan duniamu dengan satu ketukan jari.”
Rumah itu kembali sunyi. Saya menuangkan segelas kopi, duduk di sofa, dan menatap ke arah jendela. Akhirnya, saya bisa menikmati malam dengan tenang—benar-benar tenang. Tanpa parasit, tanpa kepalsuan, dan tanpa beban.
Hanya ada saya, kesunyian, dan sebuah pelajaran hidup yang mahal: Kadang, monster yang paling menakutkan bukan mereka yang datang dari luar, tapi mereka yang tidur di samping kita setiap malam.
