MAS, RUMAH MEWAH YANG KUBANGUN DENGAN GAJI SEPULUH TAHUN DI DUBAI KE MANA

Budi memegang sertifikat itu dengan tangan yang bergetar hebat. Ia membuka lipatan kertas itu. Matanya membelalak. Sertifikat tanah itu bukan atas nama Mas Agus, bukan pula atas nama dirinya. Sertifikat itu atas nama sebuah yayasan: Yayasan Panti Asuhan Tunas Bangsa.

“Apa ini, Mas? Kenapa sertifikat rumah kita atas nama yayasan? Dan di mana rumahnya?” tanya Budi dengan suara parau.

Agus menghela napas panjang, setiap embusan napasnya terdengar seperti gesekan amplas di paru-paru. “Itu bukan rumah, Budi. Itu adalah sekolah dan panti asuhan di ujung desa ini. Tempat di mana anak-anak yatim piatu belajar, tempat di mana mereka punya atap untuk tidur tanpa kehujanan. Mereka adalah anak-anak yang ditinggal orang tuanya karena bencana tanah longsor lima tahun lalu.”

Budi tertegun. “Tapi uangku… uang sepuluh tahun itu…”

“Semuanya di sana,” jawab Agus sambil menunjuk ke arah utara, ke arah bukit kecil di mana bangunan sekolah yang megah berdiri kokoh. “Aku tidak pernah menghabiskan uangmu untuk judi atau wanita, Dik. Aku menggunakannya untuk membelikan tanah itu, membangun ruang kelas, membeli buku, dan memastikan anak-anak itu tidak mengalami nasib yang sama seperti kita dulu—kehilangan orang tua tanpa ada yang menopang.”

Budi terdiam. Kemarahannya yang semula meluap perlahan berubah menjadi rasa sesak yang aneh di dadanya. Namun, ada satu hal yang mengganjal. “Lalu kenapa kamu hidup seperti ini, Mas? Kenapa kamu membiarkan dirimu membusuk di kandang kambing yang bau ini sementara kau membangun istana untuk orang lain?”

Agus terkekeh kecil, batuk kering mengguncang tubuh kurusnya. “Karena aku tidak punya apa-apa lagi untuk diberikan, Budi. Uangmu habis untuk pembangunan tahap kedua sekolah itu. Aku sendiri? Aku bekerja sebagai kuli batu di proyek pembangunan desa sebelah. Kaki ini…” Agus menunjuk kakinya yang diperban, “tertimpa beton dua tahun lalu. Aku tidak punya biaya untuk berobat ke rumah sakit bagus, jadi aku hanya mengobatinya dengan dedaunan.”

Budi terduduk lemas di tanah berlumpur di samping kandang itu. Ia merasa dunianya runtuh. Sepuluh tahun di gurun yang panas, menahan rindu, menahan lapar, hanya untuk pulang dan mendapati dirinya tidak memiliki apa-apa. “Kenapa kau lakukan ini padaku, Mas? Kenapa kau tidak bilang?”

“Jika aku bilang, kau pasti akan melarangku. Kau akan memintaku menggunakan uang itu untuk membangun rumah kita sendiri. Dan aku tahu, Budi… aku tahu jika kau punya rumah mewah di sini, kau akan menetap sebentar lalu kembali ke Dubai karena tuntutan pekerjaan. Kamu akan pergi lagi, dan aku akan sendirian sampai mati di rumah mewah itu.”

Agus meraih tangan adiknya, menggenggamnya dengan jari-jarinya yang kasar dan penuh kapalan. “Aku tidak butuh rumah mewah, Budi. Aku hanya butuh adikku pulang. Aku tahu, jika kau kembali dan mendapati semuanya lenyap, kau tidak akan punya alasan untuk pergi ke Dubai lagi. Kau akan marah, kau akan kecewa, tapi setidaknya kau ada di sini. Di sampingku.”

Budi menatap kakaknya dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada benci, ada cinta, dan ada rasa sesak yang luar biasa. Ia menyadari sebuah kebenaran yang pahit: obsesi Agus akan keberadaan adiknya telah membuatnya melakukan tindakan “penyelamatan” yang justru menghancurkan hidup Budi.

Namun, kejutan sebenarnya datang saat seorang pria paruh baya berpakaian rapi datang mendekati gubuk itu, diikuti oleh beberapa orang berpakaian dinas.

“Pak Agus?” pria itu menyapa dengan sopan.

“Ya, Pak Lurah?” jawab Agus pelan.

Pria itu menatap Budi sejenak, lalu menatap Agus. “Kami datang karena yayasan telah diaudit. Kami menemukan bahwa sertifikat yang Anda jaminkan untuk pembangunan sekolah itu ternyata… ilegal.”

Budi berdiri. “Apa maksud Anda?”

Pria itu mengeluarkan map. “Pak Agus menggunakan akta tanah milik orang lain yang sudah meninggal—tanah sengketa yang dia klaim sebagai miliknya—untuk meminjam uang lebih banyak ke bank demi menyelesaikan pembangunan sekolah. Dan sekarang, bank akan menyita semuanya. Bukan hanya tanah yayasan, tapi seluruh harta benda yang terikat atas nama orang yang tercantum dalam sertifikat.”

Budi jatuh terduduk. Ia menatap sertifikat di tangannya. Nama yang tercantum sebagai penjamin bukanlah Agus, melainkan nama Budi sendiri. Agus telah memalsukan tanda tangan Budi melalui dokumen-dokumen yang ia urus sepuluh tahun lalu sebelum Budi berangkat ke Dubai.

“Mas… apa yang kau lakukan?” bisik Budi, suaranya hampir hilang.

Agus hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tampak tulus namun mengerikan di mata Budi. “Aku melakukannya agar kau terikat, Dik. Jika tanah itu disita, kau bukan hanya sekadar pulang. Kau adalah pemilik sah yang bertanggung jawab atas utang-utang itu. Mereka tidak akan membiarkanmu pergi ke Dubai. Kau harus tinggal di sini, menghadapi hukum, dan bersama-sama denganku di sini.”

Budi menatap kakaknya dengan ngeri. Orang yang selama ini ia anggap pahlawan, yang ia anggap pengganti orang tua, ternyata adalah seorang manipulator ulung yang telah merencanakan “penjara” ini sejak sepuluh tahun lalu.

“Kau tidak melindungiku, Mas,” ucap Budi dengan suara bergetar karena emosi yang mencapai titik didih. “Kau membunuh masa depanku hanya untuk memuaskan kesepianmu.”

“Dan sekarang,” suara Agus terdengar sangat pelan, hampir seperti bisikan iblis, “kita akan hidup bersama selamanya di gubuk ini, Budi. Karena tidak ada tempat lain lagi bagi kita berdua.”

Budi memandang langit senja yang mulai gelap. Ia menyadari bahwa ia tidak pernah benar-benar memiliki rumah. Ia hanya seorang pengembara yang baru saja menyadari bahwa ia telah dirantai oleh orang yang paling ia percayai di dunia ini. Di dalam gubuk yang bau itu, di tengah kehancuran harta dan namanya, Budi akhirnya mengerti arti dari kata “pulang” bagi sang kakak: pulang berarti tidak pernah pergi lagi, dengan cara apa pun, bahkan jika itu berarti harus saling menghancurkan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang