IBUNYA PULANG DARI ARAB SAUDI HANYA MEMBAWA SATU KOTAK TUA BERISI SABUN—ANAK-ANAKNYA MENGUSIRNYA KARENA TIDAK ADA IPHONE. MEREKA TIDAK TAHU, DI BAWAH SABUN-SABUN ITU TERSEMBUNYI CEK SENILAI 10 MILIAR RUPIAH.

“Cuma sabun?”

Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Rico, diikuti tawa sinis yang membuat dada Bu Teresita terasa sesak.

Dua puluh tahun.

Dua puluh tahun ia menghabiskan masa mudanya di Arab Saudi sebagai pekerja rumah tangga. Dua puluh tahun melewatkan ulang tahun anak-anaknya, hari pertama mereka masuk sekolah, wisuda, bahkan pemakaman suaminya yang meninggal karena sakit ketika ia masih terikat kontrak kerja di luar negeri.

Setiap malam ia menangis diam-diam di kamar sempit tempat para pekerja tinggal. Setiap kali rindu menyerang, ia membuka album foto lusuh yang selalu disimpan di bawah bantal.

Yang membuatnya bertahan hanyalah satu keyakinan.

Suatu hari nanti, semua pengorbanan itu akan terbayar ketika ia pulang dan memeluk anak-anaknya.

Namun kenyataan ternyata jauh lebih pahit.

Hari itu ia tiba di rumah kontrakan sederhana yang selama ini ia biayai. Tubuhnya pegal setelah perjalanan panjang. Rambutnya mulai dipenuhi uban. Wajahnya dipenuhi garis-garis usia yang muncul terlalu cepat karena kerja keras.

Belum sempat ia duduk, Rico sudah bertanya dengan nada kecewa.

“Mana Air Jordan-ku?”

Carla langsung menyusul.

“Mana iPhone yang Mama janjikan?”

Bu Teresita tersenyum tipis.

“Mama memang membawa sesuatu untuk kalian.”

Ia menunjuk kardus bekas yang diikat dengan tali rafia.

“Yuk, kita buka sama-sama.”

Harapan di mata Rico dan Carla langsung berubah menjadi rasa jijik begitu isi kardus terlihat.

Sabun cuci.

Cokelat murah.

Beberapa kaleng kornet.

Handuk bekas.

“Itu saja?” Carla hampir berteriak.

“Mama serius? Dua puluh tahun kerja di Arab cuma bawa beginian?”

Rico menggeleng kesal.

“Aku sudah bilang ke teman-temanku kalau hidup kita bakal berubah. Ternyata Mama bikin malu.”

Bu Teresita mencoba menjelaskan.

“Mama hidup sangat hemat selama di sana…”

“Terus uangnya ke mana?” potong Rico tajam. “Jangan-jangan habis buat orang lain.”

Ucapan itu menghantam hati Bu Teresita lebih keras daripada tamparan.

Ia bahkan tidak sempat membela diri ketika Rico menendang kardus tersebut.

Sabun-sabun berhamburan ke seluruh ruangan.

Kaleng-kaleng menggelinding.

Cokelat-cokelat pecah.

Carla ikut menendang salah satu bungkus hingga robek.

“Kalau cuma begini, lebih baik Mama nggak usah pulang!”

Air mata Bu Teresita jatuh tanpa suara.

Ia berjongkok, memunguti satu demi satu sabun yang berserakan. Tangannya gemetar bukan karena marah, melainkan karena hatinya benar-benar hancur.

Dulu, setiap kali anak-anaknya meminta uang sekolah, ia rela tidak makan siang.

Setiap kali mereka ingin membeli buku, ia bekerja lembur membersihkan rumah majikannya.

Ia selalu percaya suatu hari mereka akan memahami semua pengorbanannya.

Ternyata mereka hanya menghitung harga hadiah yang ia bawa.

Ia berdiri perlahan.

“Kalau memang kehadiran Mama cuma membuat kalian kecewa, Mama akan pergi.”

“Bagus,” jawab Rico dingin.

“Kami juga nggak punya uang buat ngurus Mama.”

Tanpa berkata apa-apa lagi, Bu Teresita mengangkat kardusnya lalu berjalan keluar.

Tidak ada yang mengejarnya.

Tidak ada yang meminta maaf.

Hujan turun deras ketika ia menaiki taksi.

Sopir melihat wajahnya melalui kaca spion.

“Ibu baik-baik saja?”

Bu Teresita menarik napas panjang.

“Ke Grand Horizon Tower.”

Sesampainya di sana, suasana berubah total.

Begitu pintu lift terbuka, beberapa pegawai langsung berdiri menyambutnya.

“Selamat datang, Bu Teresita.”

Sales Manager yang mengenalnya segera menghampiri.

“Kami sudah menunggu Ibu. Bukankah hari ini anak-anak Ibu juga ikut untuk memilih desain rumah?”

Bu Teresita meletakkan kardus tua di atas meja.

Ia membuka salah satu sabun.

Dengan tenang ia menyobek bungkusnya.

Dari balik plastik itu muncul sebuah cek bank.

Manager tersenyum.

“Luar biasa, Bu.”

Ia membuka sabun kedua.

Ada cek lagi.

Sabun ketiga.

Deposito.

Cokelat pertama.

Sertifikat investasi.

Semua pegawai yang melihat hanya bisa saling berpandangan.

Tak ada yang menyangka benda-benda murah itu ternyata menjadi tempat penyimpanan seluruh hasil kerja keras Bu Teresita.

Total nilainya mencapai sepuluh miliar rupiah.

Selama dua puluh tahun, ia sengaja tidak menyimpan semua dokumen itu di tas atau koper.

Ia tahu barang mewah sering menjadi sasaran pencurian.

Sebaliknya, siapa yang mau mencuri sabun murahan?

Rencananya sangat sederhana.

Ia ingin melihat ekspresi bahagia anak-anaknya saat mengetahui bahwa kehidupan mereka akan berubah selamanya.

Namun yang berubah justru hatinya.

“Apakah rumah untuk anak-anak tetap diproses, Bu?” tanya sang manager.

Bu Teresita memandang keluar jendela.

Ia teringat tatapan jijik Carla.

Tendangan Rico.

Kalimat “lebih baik Mama tidak usah pulang.”

Perlahan ia menggeleng.

“Tidak.”

Manager terlihat bingung.

“Tapi rumah itu sudah hampir selesai desainnya.”

“Saya ingin membatalkannya.”

“Lalu dana ini?”

“Saya ingin membeli penthouse.”

Manager terdiam beberapa detik.

“Atas nama siapa?”

“Atas nama saya sendiri.”

Hari itu juga seluruh proses selesai.

Bu Teresita resmi memiliki penthouse mewah dengan pemandangan kota Jakarta dari lantai tertinggi.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidur tanpa memikirkan cicilan, tanpa takut dimarahi majikan, tanpa harus bangun sebelum matahari terbit.

Hari-harinya perlahan berubah.

Ia mengikuti kelas melukis.

Belajar memasak makanan yang dulu tak pernah sempat ia cicipi.

Mengunjungi Bali, Labuan Bajo, Jepang, Turki, hingga Swiss.

Setiap tempat yang ia datangi selalu mengingatkannya bahwa hidup ternyata jauh lebih luas daripada dapur sempit tempat ia bekerja selama bertahun-tahun.

Sementara itu, kehidupan Rico dan Carla justru semakin berantakan.

Mereka tetap hidup pas-pasan.

Rico kehilangan pekerjaannya karena sering terlambat.

Carla terlilit utang akibat gaya hidup yang dipaksakan demi terlihat kaya di media sosial.

Suatu hari mereka bertemu dengan Pak Hendra, tetangga lama yang dulu sering membantu mengurus surat-surat Bu Teresita.

Tanpa sengaja Pak Hendra berkata,

“Ibu kalian sekarang tinggal di penthouse Grand Horizon. Hebat sekali ya. Katanya beliau baru membeli unit hampir sepuluh miliar.”

Rico tertawa.

“Itu pasti orang lain.”

Pak Hendra menggeleng.

“Saya sendiri yang mengantar beliau waktu serah terima unit.”

Dunia Rico seperti berhenti berputar.

Ia langsung menghubungi Carla.

Malam itu mereka mencari informasi ke sana-sini.

Semua cerita mengarah pada satu kenyataan.

Ibunya memang kaya.

Bukan kaya karena warisan.

Melainkan karena tabungan hasil kerja keras selama dua puluh tahun.

Barulah mereka mengingat sabun-sabun yang mereka tendang.

Rico tiba-tiba terduduk.

“Jangan-jangan…”

Carla langsung menangis.

“Sabun itu…”

Mereka baru menyadari bahwa beberapa bungkus terlihat jauh lebih tebal daripada biasanya.

Mereka menghancurkan semuanya sebelum sempat melihat isinya.

Keesokan harinya mereka datang ke Grand Horizon.

Mereka memohon kepada petugas keamanan agar diizinkan bertemu.

Awalnya ditolak.

Namun Bu Teresita yang melihat mereka dari kamera akhirnya berkata,

“Biarkan mereka naik.”

Begitu pintu terbuka, Rico langsung berlutut.

“Ma… maafkan kami.”

Carla menangis histeris.

“Kami benar-benar menyesal.”

Bu Teresita memandang mereka lama.

Wajah kedua anaknya tampak jauh lebih tua daripada beberapa bulan lalu.

“Kenapa kalian datang?”

“Kami kangen Mama.”

Bu Teresita tersenyum tipis.

“Benarkah?”

“Iya, Ma.”

“Kalau kalian tidak tahu Mama punya uang, apakah kalian akan datang?”

Tak ada yang menjawab.

Kesunyian menjadi jawaban paling jujur.

Bu Teresita berjalan menuju dapur.

Ia kembali membawa sebuah kantong plastik.

Rico menerimanya dengan tangan gemetar.

Saat dibuka, isinya hanya beberapa batang sabun dan beberapa cokelat murah.

Persis seperti isi kardus yang dulu mereka hina.

Carla kembali menangis.

Bu Teresita berkata pelan,

“Dulu Mama berharap kalian melihat kasih sayang di balik isi kardus itu.”

“Tapi yang kalian lihat hanya harga barangnya.”

“Mama sudah memaafkan kalian.”

Wajah Rico berbinar.

“Jadi Mama mau pulang?”

“Tidak.”

Senyum di wajah Rico perlahan menghilang.

“Memaafkan bukan berarti Mama harus mengulang kesalahan yang sama.”

“Mama mencintai kalian.”

“Tapi Mama juga akhirnya belajar mencintai diri Mama sendiri.”

Ia lalu menyerahkan dua amplop.

Rico membukanya lebih dulu.

Di dalamnya terdapat bukti pelunasan seluruh utang kontrakan mereka selama setahun.

Carla membuka amplopnya.

Isinya voucher pelatihan kerja dan sejumlah uang yang cukup untuk memulai hidup baru.

“Bukan warisan?” tanya Carla lirih.

Bu Teresita menggeleng.

“Warisan bukan untuk anak yang menunggu orang tua meninggal agar bisa hidup enak.”

“Ini kesempatan.”

“Kalau kalian benar-benar berubah, bangun hidup kalian sendiri.”

“Tunjukkan bahwa kalian bisa menjadi manusia yang tahu bersyukur.”

Rico menangis sambil memeluk amplop itu.

Untuk pertama kalinya sejak kecil, ia sadar bahwa kasih sayang ibunya tidak pernah hilang.

Yang hilang hanyalah rasa hormat mereka sebagai anak.

Beberapa tahun kemudian, Rico berhasil membuka bengkel kecil hasil kerja kerasnya sendiri.

Carla menjadi perawat setelah menyelesaikan pendidikan yang dibiayai dari bantuan terakhir ibunya.

Mereka tidak pernah lagi meminta uang.

Setiap akhir pekan mereka datang membawa makanan buatan sendiri, bukan untuk meminta apa pun, tetapi hanya untuk menemani ibunya minum teh sambil menikmati matahari terbenam dari balkon penthouse.

Suatu sore, Rico memandang kardus tua yang kini tersimpan rapi di ruang kerja ibunya.

“Ma, kenapa kardus itu masih disimpan?”

Bu Teresita tersenyum lembut.

“Itu bukan sekadar kardus.”

“Itu adalah benda yang mengajarkan Mama bahwa kekayaan terbesar bukanlah sepuluh miliar rupiah.”

“Lalu apa, Ma?”

“Mengetahui siapa yang tetap mencintaimu ketika mereka mengira kau tidak memiliki apa-apa.”

Sejak hari itu, Rico dan Carla tidak pernah lagi melihat sabun sebagai benda murah.

Karena mereka tahu, pernah ada seorang ibu yang menyembunyikan seluruh masa depan keluarganya di balik sebungkus sabun, sementara cinta yang ia sembunyikan di dalam hatinya ternyata jauh lebih berharga daripada semua uang yang pernah berhasil ia kumpulkan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang