Suamiku pergi setelah 37 tahun kami hidup bersama dan hanya meninggalkan satu kartu ATM untukku. Aku mengira itulah tindakan terakhir yang paling kejam dalam pernikahan kami. Sampai hari aku masuk ke bank dan menyadari bahwa selama ini aku sama sekali tidak mengetahui kenyataan yang sesungguhnya.

Suamiku pergi tepat setelah ulang tahunku yang keenam puluh lima. Tidak ada pelukan, tidak ada permintaan maaf, tidak ada air mata. Ia hanya meletakkan sebuah kartu ATM di atas meja makan yang telah kupakai menyajikan ribuan sarapan selama hampir empat puluh tahun pernikahan kami.

“Di dalamnya ada sedikit uang. Pakailah seperlunya.”

Hanya itu.

Kalimat sesingkat itu menutup kehidupan yang selama ini kuanggap akan bertahan sampai maut memisahkan.

Namaku Maria. Selama tiga puluh delapan tahun aku menjadi ibu rumah tangga. Aku tidak pernah memiliki rekening atas namaku sendiri. Gajiku adalah ucapan terima kasih yang hampir tidak pernah terdengar. Aku memasak, mencuci, merawat anak-anak, menjaga ibunya ketika sakit, bahkan menjual perhiasan warisan ibuku agar suamiku bisa membuka usaha.

Ketika usahanya berkembang, semua orang memujinya sebagai pria sukses.

Tak seorang pun bertanya siapa yang berdiri di belakangnya.

Setelah perceraian selesai, aku menyewa kamar kos kecil di pinggiran kota. Atapnya bocor saat hujan. Kipas anginnya berderit sepanjang malam. Untuk makan, aku bekerja membersihkan rumah dan mencuci pakaian milik orang lain.

Awalnya aku menolak menyentuh kartu ATM itu.

Bagiku, kartu itu adalah simbol penghinaan.

Aku lebih memilih bekerja sampai lututku bengkak daripada hidup dari belas kasihan mantan suamiku.

Namun waktu tidak berpihak kepada orang tua.

Tubuhku semakin lemah.

Pekerjaan semakin sedikit.

Suatu pagi aku jatuh pingsan ketika sedang mengepel lantai rumah majikan.

Dokter mengatakan aku mengalami kekurangan gizi dan anemia berat.

“Apa Ibu masih punya keluarga yang bisa membantu?”

Aku hanya tersenyum.

Anak-anakku memiliki kehidupan mereka sendiri. Mereka memang sesekali mengirim uang, tetapi mereka juga sedang berjuang membayar cicilan rumah, biaya sekolah anak, dan kebutuhan sehari-hari.

Aku tidak ingin menjadi beban.

Malam itu aku pulang sambil memandangi kartu ATM yang selama lima tahun kusimpan di dasar laci.

Akhirnya aku menyerah.

Lebih tepatnya, aku memilih tetap hidup.

Keesokan harinya aku datang ke sebuah bank di pusat kota.

Pendingin ruangan membuat tubuhku menggigil. Orang-orang berpakaian rapi berlalu-lalang sambil membawa map dan laptop. Aku merasa seperti orang asing.

Aku memasukkan kartu itu ke mesin ATM.

Kubaca angka PIN berkali-kali sebelum menekannya perlahan.

Mesin mengeluarkan bunyi pendek.

Layar berubah.

Lalu muncul sebuah tulisan.

“Silakan hubungi petugas bank.”

Aku mengira kartunya rusak.

Seorang pegawai muda menghampiriku dengan ramah.

“Ada yang bisa saya bantu, Bu?”

“Saya hanya ingin mengambil uang.”

Ia mempersilahkanku menuju meja layanan.

Pegawai itu memasukkan kartu ke komputernya.

Wajahnya yang semula santai tiba-tiba berubah serius.

Ia memandang layar cukup lama, lalu menatapku.

“Maaf, Bu. Apakah kartu ini benar milik Ibu?”

“Iya.”

“Ibu yakin?”

Aku mulai gelisah.

“Kenapa memangnya?”

Pegawai itu berdiri.

“Tunggu sebentar, Bu.”

Beberapa menit kemudian ia kembali bersama seorang manajer cabang.

Perempuan berusia sekitar lima puluh tahun itu tersenyum sopan.

“Selamat pagi, Bu Maria. Boleh kami berbicara di ruangan saya?”

Dadaku berdegup semakin kencang.

Aku takut ada masalah.

Mungkin kartunya sudah diblokir.

Mungkin uangnya sudah habis.

Begitu pintu ruangan tertutup, manajer itu berkata pelan,

“Ibu, apakah selama ini Ibu tidak pernah menggunakan kartu ini?”

“Belum pernah.”

“Selama lima tahun?”

Aku mengangguk.

Ia menarik napas panjang.

“Lalu… apakah Ibu benar-benar tidak tahu rekening ini?”

Aku menggeleng.

Manajer itu memutar monitor komputer menghadapku.

Aku tidak mengerti angka-angka yang muncul.

Tetapi aku bisa membaca satu baris paling atas.

Saldo tersedia.

Rp8.746.320.000.

Aku mengucek mata.

Kupikir aku salah membaca.

“Itu… delapan juta?”

Manajer itu tersenyum tipis.

“Bukan, Bu.”

“Delapan puluh juta?”

Ia menggeleng lagi.

“Itu delapan miliar tujuh ratus empat puluh enam juta rupiah.”

Aku membeku.

Rasanya seluruh ruangan berhenti bergerak.

“Itu tidak mungkin.”

“Ibu adalah pemilik sah rekening ini.”

“Ada kesalahan.”

“Kami sudah memverifikasi identitas Ibu.”

Aku mulai gemetar.

“Suami saya bilang hanya ada sedikit uang.”

Manajer itu saling berpandangan dengan pegawai di sampingnya.

“Ibu… selama lima tahun terakhir rekening ini justru terus menerima transfer.”

“Transfer dari siapa?”

Ia membuka riwayat transaksi.

Nama pengirimnya selalu sama.

Rafael Hartono.

Setiap bulan.

Tanpa pernah terlambat.

Jumlahnya semakin besar dari tahun ke tahun.

Aku tidak mampu berkata apa-apa.

“Kenapa dia melakukan ini?”

Manajer itu menggeleng.

“Kami tidak tahu.”

Air mataku jatuh begitu saja.

Bukan karena uangnya.

Melainkan karena selama lima tahun aku hidup kelaparan sementara miliaran rupiah tersimpan atas namaku tanpa pernah kuketahui.

Aku merasa marah.

Kecewa.

Bingung.

Semua bercampur menjadi satu.

Aku pulang dengan kepala penuh pertanyaan.

Beberapa hari kemudian aku memberanikan diri mencari Rafael.

Rumah lamanya telah dijual.

Tetangga mengatakan ia pindah ke kota lain.

Nomor teleponnya sudah tidak aktif.

Tak ada seorang pun yang tahu keberadaannya.

Aku hampir menyerah sampai seorang pengacara datang menemuiku.

Namanya Pak Dimas.

Ia menyerahkan sebuah amplop cokelat.

“Pak Rafael meminta saya memberikan ini jika suatu hari Ibu datang mencari beliau.”

Tanganku bergetar ketika membuka surat itu.

Tulisan tangan Rafael masih sama seperti dulu.

Maria.

Kalau kamu sedang membaca surat ini, berarti akhirnya kamu menggunakan kartu itu.

Aku sengaja mengatakan isinya hanya sedikit uang.

Aku mengenalmu lebih baik daripada siapa pun.

Kalau kubilang semua uangku kuberikan kepadamu, kamu pasti akan mengembalikannya.

Kalau kubilang itu hasil kerja keras kita, kamu akan menyuruhku membaginya dengan anak-anak.

Satu-satunya cara agar kamu menyimpannya adalah membuatmu membenciku.

Aku membaca kalimat itu berulang-ulang.

Surat itu berlanjut.

Lima tahun sebelum perceraian, dokter memberitahuku bahwa aku mengidap penyakit yang kemungkinan besar tidak akan bisa disembuhkan. Aku takut kamu menghabiskan sisa hidupmu merawat orang yang perlahan kehilangan dirinya sendiri. Aku juga tahu kalau usahaku mulai diincar rekan bisnisku yang tidak jujur. Kalau mereka tahu seluruh aset atas namaku, semuanya bisa disita melalui berbagai tuntutan hukum.

Karena itu aku memindahkan seluruh tabungan ke rekening atas namamu.

Aku memilih menjadi pria yang paling kamu benci agar kamu selamat.

Aku memilih pergi supaya mereka berhenti mengawasimu.

Saat membaca bagian itu, napasku terasa sesak.

Masih ada halaman terakhir.

Kalau ternyata aku masih hidup ketika kamu membaca ini, mungkin Tuhan masih memberiku kesempatan meminta maaf secara langsung.

Kalau aku sudah tiada, jangan ingat aku sebagai suami yang meninggalkanmu.

Ingatlah aku sebagai pria bodoh yang mencintaimu dengan cara yang salah.

Aku langsung bertanya kepada Pak Dimas.

“Di mana Rafael sekarang?”

Pengacara itu terdiam beberapa saat.

“Lima hari yang lalu beliau meninggal dunia.”

Dunia di sekelilingku terasa runtuh.

Aku terlambat.

Sangat terlambat.

Beberapa minggu kemudian aku mengunjungi makamnya untuk pertama kalinya.

Aku membawa bunga melati, makanan kesukaannya, dan surat itu.

Aku duduk cukup lama tanpa berbicara.

Akhirnya aku berbisik,

“Aku memaafkanmu. Tapi seandainya dulu kau mau percaya bahwa aku cukup kuat menghadapi kenyataan bersamamu, mungkin kita tidak perlu kehilangan lima tahun terakhir.”

Angin sore berembus pelan.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidak lagi menangis karena merasa ditinggalkan.

Aku menangis karena menyadari bahwa cinta tanpa kejujuran bisa berubah menjadi luka yang jauh lebih dalam daripada kebencian.

Dengan uang itu aku tidak membeli rumah mewah.

Aku mendirikan sebuah yayasan kecil bagi para perempuan lanjut usia yang ditelantarkan keluarganya. Mereka mendapatkan tempat tinggal, makanan hangat, pemeriksaan kesehatan, dan yang paling penting, seseorang yang mau mendengarkan cerita mereka.

Di pintu masuk yayasan itu terpasang sebuah kalimat sederhana.

“Jangan pernah menyembunyikan cinta di balik kebohongan. Karena waktu yang hilang tidak akan pernah bisa dibeli kembali, bahkan dengan miliaran rupiah.”

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang