Isabela membeku.
Amplop putih itu jatuh begitu saja di atas aspal, tepat di depan sepatu kulit Rafael.
Waktu seolah berhenti.
Angin sore berembus pelan, menggeser sedikit lembar foto USG yang masih mengilap. Tulisan “Usia Kehamilan: 6 Minggu” terlihat jelas.
Rafael menunduk.
Dahinya berkerut.
“Apa ini?”
Jantung Isabela berdegup begitu keras hingga telinganya berdenging.
Ia ingin mengambilnya. Ingin menyembunyikannya lagi. Tetapi semuanya sudah terlambat.
Rafael membungkuk, mengambil foto itu, lalu membaca seluruh hasil pemeriksaan dengan wajah yang perlahan berubah.
“Kamu… hamil?”
Isabela tidak menjawab.

Ia hanya memandang pria yang pernah menjadi seluruh dunianya.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun menikah, Rafael terlihat kehilangan kata-kata.
“Kenapa kamu tidak bilang?”
Isabela tersenyum hambar.
“Kapan aku punya kesempatan?”
Telepon Rafael kembali berdering.
Nama Celine muncul di layar.
Rafael ragu sesaat.
Kemudian, seperti kebiasaannya selama ini, ia mengangkat telepon.
“Celine?”
Suara perempuan itu terdengar menangis.
“Aku jatuh… Rafa… aku takut.”
Tanpa berpikir panjang, Rafael mengembalikan amplop itu kepada Isabela.
“Tunggu di mansion. Kita bicara nanti.”
Lalu ia masuk ke mobil dan pergi.
Meninggalkan Isabela berdiri sendirian di tepi jalan.
Sekali lagi.
Perempuan itu menatap mobil yang semakin menjauh hingga akhirnya menghilang di tikungan.
Ia tertawa pelan.
Bukan karena lucu.
Melainkan karena akhirnya ia mendapatkan jawaban yang selama ini selalu ia cari.
Bahkan setelah mengetahui dirinya sedang mengandung anak mereka, Rafael tetap memilih perempuan lain.
Itulah akhir dari semua harapan.
Malam itu juga Isabela tidak masuk ke mansion keluarga Villareal.
Ia memesan taksi menuju apartemen kecil milik sahabat lamanya, Maya.
Begitu pintu terbuka, Maya langsung memeluknya.
“Astaga, Bella… kenapa wajahmu seperti ini?”
Isabela tidak sanggup menjawab.
Ia hanya menangis.
Tangisan yang selama tiga tahun ia tahan akhirnya pecah tanpa sisa.
Keesokan paginya, Rafael pulang ke rumah.
Ia mencari Isabela ke setiap ruangan.
Tidak ada.
Walk-in closet kosong.
Sebagian pakaian hilang.
Paspor hilang.
Dokumen penting hilang.
Di atas meja hanya ada sebuah amplop.
Surat gugatan cerai.
Di bagian bawah hanya tertulis satu kalimat.
“Aku tidak ingin anakku tumbuh dengan belajar bahwa cinta berarti terus dipilih terakhir.”
Rafael membaca kalimat itu berulang kali.
Tangannya gemetar.
Untuk pertama kalinya, rumah megah itu terasa begitu sunyi.
Hari-hari berikutnya berlalu dengan cepat.
Nomor Isabela tidak aktif.
Media sosialnya menghilang.
Tidak ada seorang pun yang tahu ia pergi ke mana.
Rafael mulai menyadari sesuatu yang selama ini tidak pernah ia rasakan.
Rindu.
Ia membuka lemari.
Masih ada syal yang pernah dibelikan Isabela.
Masih ada mug dengan tulisan “Bella & Rafa Forever.”
Masih ada aroma parfum yang samar tertinggal di bantal.
Rumah itu ternyata selama ini hidup karena Isabela.
Tanpa perempuan itu, semuanya terasa kosong.
Sementara itu Isabela memulai hidup baru.
Ia pindah ke Bandung.
Dengan tabungan pribadinya, ia membuka sebuah toko roti kecil.
Ia sengaja tidak memakai nama keluarga Villareal.
Hanya sebuah papan sederhana bertuliskan “Bella’s Oven.”
Perutnya mulai membesar.
Setiap pagi ia membuat roti sendiri.
Setiap malam ia berbicara kepada bayi di dalam kandungannya.
“Nak… kita mungkin tidak punya keluarga yang sempurna. Tapi Ibu janji, kamu akan tumbuh dikelilingi cinta.”
Bulan demi bulan berlalu.
Bella’s Oven perlahan menjadi terkenal.
Video tentang roti buatannya viral.
Orang-orang datang dari berbagai kota.
Tanpa disadari, suatu pagi seorang pria berdiri di depan toko.
Rafael.
Wajahnya jauh lebih kurus.
Lingkar hitam menghiasi matanya.
Ia memandang Isabela yang sedang melayani pelanggan dengan senyum hangat.
Senyum yang dulu selalu ia anggap biasa.
Sekarang justru menjadi hal yang paling ia rindukan.
Setelah toko tutup, Rafael menghampirinya.
“Halo.”
Isabela mengangkat wajah.
Ekspresinya tenang.
Tidak ada kebencian.
Tidak ada cinta.
Hanya ketenangan yang asing.
“Apa yang kamu lakukan di sini?”
“Aku mencarimu.”
“Sudah ketemu.”
“Bisakah kita bicara?”
Isabela mengangguk pelan.
Mereka duduk di bangku taman kecil di depan toko.
Rafael menatap perut Isabela yang kini sudah memasuki bulan ketujuh.
Matanya memerah.
“Aku sudah menjadi ayah…”
“Kamu memang ayah biologisnya.”
Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada teriakan.
“Aku minta maaf.”
Isabela tersenyum tipis.
“Dulu aku menunggu kalimat itu setiap malam.”
“Aku benar-benar menyesal.”
“Penyesalan tidak bisa mengubah pilihan.”
Rafael menunduk.
“Aku sudah mengakhiri semuanya dengan Celine.”
“Aku tahu.”
Rafael terkejut.
“Kamu tahu?”
“Berita kalian ada di mana-mana.”
Memang benar.
Sebulan setelah Isabela pergi, Celine mengumumkan pertunangannya dengan seorang pengusaha Singapura.
Selama ini Rafael hanyalah pelarian.
Saat pria itu benar-benar memilih Isabela, Celine justru memilih pria lain yang lebih kaya.
Rafael kehilangan keduanya sekaligus.
Ia akhirnya sadar.
Perempuan yang selalu ia kejar tidak pernah benar-benar mencintainya.
Sedangkan perempuan yang selalu mencintainya justru ia sia-siakan.
“Aku ingin memperbaiki semuanya.”
Isabela memandang langit sore.
“Ada hal-hal yang bisa diperbaiki.”
“Lalu kita?”
“Aku bukan salah satunya.”
Beberapa minggu kemudian Isabela melahirkan seorang bayi perempuan.
Rafael datang ke rumah sakit.
Ia tidak masuk.
Ia hanya berdiri di luar ruang perawatan sambil membawa boneka kecil.
Maya keluar.
“Kamu tidak masuk?”
Rafael menggeleng.
“Aku tidak berhak.”
Maya menatap pria itu lama.
Lalu mengambil boneka tersebut.
“Aku akan berikan.”
Hari-hari terus berjalan.
Rafael tidak pernah memaksa.
Setiap bulan ia mengirim biaya pendidikan ke rekening anaknya.
Tidak pernah terlambat.
Tidak pernah meminta balasan.
Saat putrinya berusia tiga tahun, Isabela akhirnya mengizinkan Rafael bertemu.
Anak kecil itu berlari menghampiri pria asing yang selama ini hanya ia lihat lewat foto.
“Om, siapa?”
Rafael tersenyum, meski air matanya jatuh.
“Aku…”
Suara itu tersangkut.
“Aku ayahmu.”
Anak kecil itu memiringkan kepala.
“Lho, Ayah kok baru datang?”
Pertanyaan polos itu menghancurkan seluruh pertahanan Rafael.
Ia berlutut.
Menangis tanpa suara.
Tidak ada hukuman yang lebih menyakitkan daripada menyadari bahwa anak sendiri menganggapmu orang asing.
Sejak hari itu Rafael berusaha menjadi ayah yang baik.
Ia datang setiap akhir pekan.
Mengantar sekolah.
Membacakan dongeng.
Mengajari naik sepeda.
Namun hubungan mereka dengan Isabela tetap sebatas orang tua bagi anak yang sama.
Tidak lebih.
Suatu malam, putri mereka bertanya.
“Ibu, kenapa Ayah tidak tinggal sama kita?”
Isabela tersenyum lembut.
“Karena kadang orang dewasa belajar terlambat bagaimana cara mencintai.”
“Kalau begitu Ayah sedih?”
“Mungkin.”
“Kasihan ya.”
Isabela memeluk putrinya.
“Setiap pilihan punya akibat. Karena itu nanti kalau kamu sudah besar, jangan pernah menyia-nyiakan orang yang selalu ada untukmu.”
Bertahun-tahun kemudian, Bella’s Oven berkembang menjadi jaringan toko roti yang sukses di berbagai kota.
Isabela berdiri di atas panggung menerima penghargaan sebagai pengusaha inspiratif.
Di antara para tamu, Rafael duduk di barisan paling belakang.
Ia bertepuk tangan paling lama.
Bukan karena berharap Isabela kembali.
Melainkan karena akhirnya ia mengerti.
Cinta bukan tentang mengejar orang yang sulit didapat.
Cinta adalah menjaga orang yang setiap hari memilih tetap tinggal.
Dan ia baru memahami arti itu setelah perempuan yang pernah ia panggil “milikku” benar-benar pergi, membawa separuh hatinya yang tak akan pernah bisa ia miliki kembali.
