AKU DIJEBAK KELUARGA CALON SUAMIKU UNTUK MENGUJI KESETIAANKU—TAPI MEREKA TIDAK TAHU RAHASIA TERBESAR MEREKA SUDAH TERBONGKAR

Di Filipina, ada satu pepatah yang selalu diingat ibuku sejak aku kecil. Katanya, yang paling menyakitkan dalam cinta bukanlah ketika seseorang memilih orang lain, melainkan ketika harga dirimu dijadikan permainan oleh keluarga orang yang kau cintai. Dulu aku menganggap itu hanya nasihat orang tua. Sampai akhirnya aku sendiri menjadi bukti bahwa pepatah itu benar.

Namaku Maeve Santiago. Selama bertahun-tahun aku hidup sederhana di Quezon City bersama ibuku setelah ayahku meninggal ketika aku masih remaja. Aku bekerja sebagai arsitek muda di sebuah perusahaan konsultan di Manila. Hidupku biasa saja sampai aku bertemu Adrian Castillo dalam sebuah proyek pembangunan kawasan komersial di Makati.

Adrian tampan, sopan, dan selalu memperlakukanku dengan hormat. Baru beberapa bulan kemudian aku mengetahui bahwa dia adalah pewaris Castillo Group, salah satu keluarga konglomerat yang memiliki proyek properti di Makati, Bonifacio Global City, dan berbagai kota besar lainnya.

Aku sempat ingin mengakhiri hubungan kami karena perbedaan status yang terlalu jauh. Namun Adrian menggenggam tanganku sambil berkata, “Aku tidak peduli siapa keluargamu. Yang penting adalah kita.”

Aku mempercayainya.

Sayangnya, keluarganya tidak pernah mempercayaiku.

Sejak pertama kali diperkenalkan, ibu Adrian menatapku seolah aku datang untuk mencuri sesuatu. Kakaknya berbicara dengan nada merendahkan setiap kali kami makan bersama. Dan Sofia, adik angkat Adrian yang tinggal bersama keluarga Castillo sejak kecil, selalu tersenyum manis di depanku tetapi diam-diam melontarkan sindiran yang hanya bisa kupahami ketika kami berdua.

“Kamu beruntung sekali,” katanya suatu hari di Greenbelt. “Tidak semua perempuan miskin bisa mendapatkan kesempatan seperti ini.”

Aku hanya tersenyum.

Aku tidak ingin memperpanjang masalah.

Aku berpikir, suatu hari nanti mereka pasti akan menerimaku.

Ternyata aku salah.

Selama tiga tahun hubungan kami, tanpa pernah kusadari, mereka membuat sembilan ujian untuk membuktikan apakah aku benar-benar mencintai Adrian atau hanya mengincar uang keluarganya.

Mereka sengaja mengirim perempuan cantik untuk menggoda Adrian di depanku.

Mereka pernah memalsukan kabar bahwa bisnis keluarga Castillo bangkrut hanya untuk melihat apakah aku akan pergi.

Mereka bahkan menyuruh seseorang menawarkan uang lima puluh juta peso agar aku membatalkan pertunangan.

Aku menolak semuanya.

Tetapi ujian yang paling kejam terjadi dua tahun sebelum pernikahan.

Hari itu Adrian memintaku menemuinya di Makati. Aku berangkat menggunakan motor. Di tengah perjalanan di EDSA, roda motorku menghantam kawat besi yang sengaja dipasang melintang. Aku kehilangan kendali dan terlempar ke aspal.

Saat sadar di rumah sakit, tulang selangkaku robek cukup dalam hingga harus dijahit tujuh jahitan.

Aku mengira itu kecelakaan.

Baru sehari sebelum pernikahan, aku mengetahui kenyataan yang sebenarnya.

Mantan pacarku tiba-tiba mengirim pesan.

“Aku ingin bertemu sekali saja.”

Aku datang ke sebuah hotel di Bonifacio Global City.

Pintu terbuka.

Yang berdiri di sana bukan mantanku.

Melainkan Adrian.

Di sampingnya ada Sofia.

Sofia menepuk tangan perlahan sambil tersenyum dingin.

“Selamat.”

“Kamu berhasil melewati ujian kesetiaan yang kesembilan.”

Aku merasa seluruh tubuhku membeku.

“Apa maksudmu?”

Dia tertawa kecil.

“Kami hanya ingin memastikan kamu layak menjadi bagian keluarga Castillo.”

Aku menatap Adrian.

Dia menunduk.

Tidak membantah.

Tidak juga meminta maaf.

Saat itulah aku menarik kerah bajuku hingga bekas luka panjang di dekat tulang selangka terlihat jelas.

“Ingat ini?”

Aku bertanya dengan suara bergetar.

“Kecelakaan di EDSA.”

Sofia menjawab tanpa rasa bersalah.

“Itu salah satu tes.”

Dadaku seperti dihantam sesuatu yang jauh lebih menyakitkan daripada kawat besi waktu itu.

“Kalian hampir membuatku mati.”

“Tapi kamu tidak mati.”

Jawaban Sofia terdengar begitu ringan.

Seolah nyawaku memang tidak pernah berarti.

Aku melepas cincin pertunangan bernilai sekitar satu koma dua juta peso dari jariku lalu melemparkannya ke arah Adrian.

“Hubungan kita selesai.”

Aku baru melangkah beberapa langkah ketika ponselku bergetar.

Sebuah video anonim masuk.

Aku membukanya.

Di layar terlihat Adrian dan Sofia saling berpelukan di sebuah apartemen yang gelap.

Lalu muncul tulisan.

“Masih yakin mereka hanya saudara angkat?”

Aku mengangkat kepala.

Untuk pertama kalinya aku melihat wajah Adrian benar-benar panik.

“Maeve, dengarkan aku dulu.”

Aku tertawa.

Bukan karena lucu.

Melainkan karena semuanya akhirnya masuk akal.

Perhatian berlebihan Sofia.

Tatapan Adrian setiap kali Sofia menangis.

Cara mereka saling memahami tanpa perlu berbicara.

Aku menekan satu nomor yang selama ini kusimpan.

“Konfirmasi.”

Suara di seberang langsung menjawab.

“Konfirmasi diterima, Nona Santiago.”

“Seluruh fasilitas kredit dan pendanaan Castillo Group mulai dibekukan sesuai instruksi.”

“Nilai keseluruhan delapan belas koma tujuh miliar peso.”

Ruangan langsung sunyi.

Adrian memandangku seperti melihat orang asing.

“Apa yang sudah kamu lakukan?”

Aku menatapnya tenang.

“Kamu pikir aku benar-benar perempuan miskin?”

Sofia mulai mundur.

“Itu tidak mungkin.”

Aku menghela napas.

“Nama lengkapku Maeve Isabella Santiago.”

“Dan ayahku bukan pria biasa.”

Ayahku memang tidak pernah hidup mewah. Itulah sebabnya hampir tidak ada orang yang mengenalnya. Namun sebelum meninggal, beliau adalah salah satu pemegang saham terbesar Arcadia Capital, perusahaan investasi yang selama bertahun-tahun menjadi penyandang dana utama berbagai proyek Castillo Group.

Setelah beliau wafat, seluruh saham diwariskan kepadaku melalui sebuah perwalian yang baru bisa kuakses saat usiaku tiga puluh tahun.

Usiaku genap tiga puluh minggu lalu.

Aku sengaja tidak pernah memberi tahu Adrian.

Aku ingin dicintai sebagai diriku sendiri.

Bukan karena kekayaan.

Ironisnya, justru keluarganya yang sibuk mengujiku.

Padahal merekalah yang tidak pernah lulus ujian sebagai manusia.

Hari itu aku meninggalkan hotel tanpa menoleh lagi.

Keesokan paginya berita tentang krisis likuiditas Castillo Group memenuhi media bisnis di Manila.

Bank mulai menarik fasilitas pinjaman.

Investor kehilangan kepercayaan.

Harga saham perusahaan mereka jatuh drastis.

Teleponku tidak pernah berhenti berdering.

Adrian menelepon lebih dari seratus kali.

Aku tidak pernah mengangkatnya.

Tiga hari kemudian, ibunya datang ke apartemenku.

Perempuan yang dulu selalu memandang rendah diriku kini duduk dengan mata sembab.

“Tolong selamatkan perusahaan kami.”

Aku menuangkan teh untuknya.

Lalu duduk di hadapannya.

“Dulu ketika saya meminta restu untuk menikahi Adrian, Ibu mengatakan saya tidak pantas.”

Beliau menunduk.

“Saya salah.”

Aku tersenyum tipis.

“Yang terluka bukan hanya harga diri saya.”

“Tetapi juga kepercayaan saya.”

Beliau menangis.

Namun air mata itu datang terlambat.

Seminggu kemudian Adrian akhirnya berhasil menemuiku di taman dekat Manila Bay.

Dia terlihat jauh berbeda.

Wajahnya lelah.

Jas mahalnya tidak lagi serapi biasanya.

“Aku benar-benar mencintaimu.”

Aku menatap laut.

“Aku percaya.”

Dia terdiam.

“Lalu kenapa semua ini harus berakhir?”

Aku mengembuskan napas panjang.

“Karena cinta tanpa keberanian hanya akan melukai orang lain.”

“Kamu selalu tahu keluargamu mengujiku.”

“Kamu tahu mereka mempermalukanku.”

“Kamu tahu aku hampir kehilangan nyawa.”

“Tapi kamu memilih diam.”

Adrian menutup wajahnya.

“Aku pengecut.”

Aku mengangguk pelan.

“Ya.”

“Itulah alasan sebenarnya.”

Bukan karena kami berbeda.

Bukan karena keluarganya kaya.

Tetapi karena laki-laki yang kucintai tidak pernah cukup berani untuk melindungiku.

Beberapa bulan kemudian, Castillo Group resmi dijual kepada konsorsium investor untuk menyelamatkan ribuan karyawan mereka dari kebangkrutan total.

Aku ikut menyetujui restrukturisasi itu.

Bukan demi keluarga Castillo.

Melainkan demi para pegawai yang tidak bersalah.

Adrian mengundurkan diri dari seluruh jabatan perusahaan.

Konon ia memilih tinggal di luar negeri untuk memulai hidup baru.

Aku tidak pernah mencarinya lagi.

Setahun berlalu.

Aku kembali berdiri di atap sebuah gedung baru yang menghadap cakrawala Makati.

Gedung itu dibangun oleh perusahaan tempatku bekerja, dengan investasi dari Arcadia Capital.

Di lobi gedung terdapat sebuah kutipan yang kuusulkan sendiri.

“Kepercayaan adalah fondasi yang lebih mahal daripada gedung setinggi apa pun.”

Suatu sore, saat matahari mulai tenggelam di balik gedung-gedung Manila, aku menerima sebuah amplop tanpa nama.

Di dalamnya hanya ada satu foto lama.

Foto pertunanganku dengan Adrian.

Di bagian belakangnya tertulis sebuah kalimat.

“Aku akhirnya mengerti bahwa orang yang gagal dalam ujian itu bukan kamu. Melainkan kami.”

Tidak ada tanda tangan.

Aku tersenyum kecil.

Lalu melipat foto itu dan memasukkannya kembali ke dalam amplop.

Sebagian luka memang tidak pernah benar-benar hilang.

Namun luka tidak selalu harus dibalas dengan kebencian.

Kadang, balasan paling menyakitkan adalah membiarkan mereka hidup selamanya dengan penyesalan, sementara kita terus melangkah menuju kehidupan yang jauh lebih baik daripada yang pernah mereka bayangkan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang