Malam itu, sekitar pukul dua dini hari, suara pintu kamar ICU kembali terbuka perlahan.
Aku mengenali langkah sepatu hak tinggi itu bahkan sebelum suara pintu tertutup rapat. Cordelia selalu berjalan dengan irama yang sama, tenang, anggun, seolah seluruh dunia harus memberi jalan kepadanya.
“Kita akhirnya sendirian,” katanya pelan.
Aku tetap diam.
Monitor jantung berdetak stabil. Mesin ventilator mengeluarkan desis ritmis yang menutupi suara napasnya.

Cordelia menarik kursi dan duduk begitu dekat hingga aku bisa mencium lagi aroma parfum mahal yang selama ini selalu membuatku mual.
“Aku tidak pernah menyukaimu, Lillian.”
Tidak ada jawaban dariku.
“Sejak pertama kali Adrian membawamu pulang, aku tahu kamu berbahaya.”
Dia tertawa kecil.
“Bukan karena kamu miskin. Orang miskin bisa dibeli.”
Dia berhenti sejenak.
“Tapi karena kamu pintar.”
Jantungku berdetak lebih cepat, namun aku memaksa tubuhku tetap tak bergerak.
“Seharusnya kamu berhenti setelah menemukan polis asuransi itu.”
Dia menghela napas panjang.
“Kalau saja kamu pura-pura tidak tahu, mungkin kamu masih bisa menikmati hidup sebagai istri Adrian.”
Tanganku yang terbungkus gips perlahan menekan tombol kecil alat perekam.
Lampu indikator di dalam gips berkedip sekali.
Semua kata-katanya kini tersimpan.
Cordelia berdiri lalu berjalan ke sisi jendela.
“Ayah Adrian membangun keluarga Voss selama empat puluh tahun. Aku tidak akan membiarkan semuanya runtuh hanya karena seorang akuntan yang merasa dirinya pahlawan.”
Dia kembali mendekat.
“Kamu ingin tahu sesuatu?”
Suasana menjadi sunyi.
“Pagar balkon itu memang kami longgarkan.”
Dadaku serasa berhenti berdetak.
“Awalnya hanya untuk menakutimu.”
Dia tersenyum tipis.
“Tapi ketika kamu benar-benar jatuh… kami sadar Tuhan sedang membantu kami.”
Aku ingin berteriak.
Ingin membuka mata.
Namun aku tetap membeku.
“Aku bahkan yang memerintahkan agar rekaman CCTV malam itu dihapus.”
Dia mengusap selimutku dengan lembut.
“Lucunya, semua orang percaya ini kecelakaan.”
Dia tertawa pelan sebelum meninggalkan ruangan.
Begitu pintu tertutup, aku mendengar langkah kaki lain memasuki kamar.
Jonah.
“Aku dengar semuanya,” bisiknya.
Dia mengambil kartu memori dari alat perekam dan menggantinya dengan yang baru.
“Ini lebih dari cukup untuk membuka penyelidikan.”
Aku berkedip dua kali.
“Tapi kita belum selesai.”
Dia menatap pintu.
“Kita belum mendapatkan Adrian.”
Esok paginya rumah sakit mendadak ramai.
Media mulai berdatangan.
Seorang anggota dewan direksi perusahaan Voss Holdings ditemukan tewas di apartemennya akibat serangan jantung.
Berita itu membuat harga saham perusahaan langsung bergejolak.
Di luar kamar ICU, aku mendengar Adrian berbicara melalui telepon.
“Kita harus selesaikan semuanya minggu ini.”
Suara di seberang terdengar samar.
“Aset di Singapura sudah dipindahkan?”
Adrian menjawab pelan.
“Sudah. Setelah Lillian dinyatakan meninggal, seluruh klaim asuransi akan cair.”
Aku menggertakkan gigi.
Jadi memang itu tujuan mereka.
Bukan sekadar membungkamku.
Mereka membutuhkan kematianku.
Siang harinya seorang dokter masuk bersama dua perawat.
Dokter itu memperkenalkan diri sebagai dokter baru yang akan menggantikan dokter sebelumnya.
Namun saat memeriksa infusku, jemarinya menyentuh telapak tanganku dua kali.
Kode.
Aku mengenalinya.
Jonah pernah memberitahuku bahwa jika operasi dimulai, seseorang akan memberi tanda itu.
Beberapa menit kemudian dokter dan perawat keluar.
Tidak lama setelah itu Cordelia kembali datang bersama Adrian.
“Aku sudah bicara dengan dokter,” kata Adrian.
“Kalau kondisinya terus begini, kemungkinan besar kerusakan otaknya permanen.”
Cordelia mengangguk puas.
“Lebih baik daripada dia bangun.”
Adrian tidak langsung menjawab.
Untuk pertama kalinya sejak semua ini terjadi, suaranya terdengar ragu.
“Bu… bagaimana kalau polisi membuka lagi penyelidikan?”
Cordelia menatap putranya dingin.
“Mereka tidak akan berani.”
“Lillian sempat memotret dokumen itu.”
“Wonselnya sudah kami hancurkan.”
“Kalau ada salinan?”
Cordelia mendekat.
“Lalu?”
“Kita punya hakim.”
“Kita punya jaksa.”
“Kita punya orang di kepolisian.”
“Kamu terlalu banyak berpikir.”
Aku bisa merasakan kecemasan Adrian.
Dia mulai takut.
Dan orang yang takut sering kali membuat kesalahan.
Sore harinya Jonah kembali muncul.
“Semuanya bergerak lebih cepat dari dugaan.”
Dia menunjukkan foto kecil di depan mataku.
Itu foto seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun.
“Kenal?”
Aku berkedip sekali.
“Tidak.”
“Itu Daniel Voss.”
Ayah Adrian.
“Ayahnya sendiri?”
Jonah mengangguk pelan.
“Secara resmi dia meninggal karena kecelakaan kapal lima tahun lalu.”
Dia berhenti.
“Masalahnya…”
“Mayatnya tidak pernah ditemukan.”
Aku menahan napas.
“Apa maksudmu?”
Jonah tersenyum tipis.
“Kami percaya dia masih hidup.”
Keesokan malam, semuanya berubah.
Sekitar pukul sebelas malam listrik rumah sakit tiba-tiba padam selama beberapa detik.
Generator darurat langsung menyala.
Namun dalam jeda singkat itu, seseorang masuk ke kamarku.
Bukan Cordelia.
Bukan Adrian.
Seorang pria tua mengenakan masker medis.
Dia berdiri memandang wajahku selama beberapa detik.
Lalu berbisik sangat pelan.
“Kamu lebih kuat daripada yang kukira.”
Suara itu berat.
Tenang.
Penuh wibawa.
“Aku minta maaf.”
Tangannya menyelipkan sebuah amplop tipis ke bawah bantalku.
“Aku terlambat menyadari siapa sebenarnya Cordelia.”
Dia berbalik hendak pergi.
Namun sebelum keluar, dia menoleh sekali lagi.
“Kalau kamu berhasil hidup…”
“Hancurkan keluarga ini.”
Pria itu menghilang secepat dia datang.
Begitu Jonah tiba beberapa menit kemudian, aku menggerakkan jari ke arah bantal.
Dia mengambil amplop itu dengan hati-hati.
Di dalamnya terdapat sebuah flash drive dan secarik kertas.
Tulisan tangan di kertas itu hanya terdiri dari satu kalimat.
“Semua dosa keluarga Voss tersimpan di akun Black Ledger.”
Jonah membeku.
Dia langsung memasukkan flash drive ke laptop kecil yang dibawanya.
Wajahnya berubah pucat.
“Ya Tuhan…”
“Apa?”
“Ini bukan sekadar penipuan asuransi.”
Dia menatapku dengan sorot mata yang belum pernah kulihat sebelumnya.
“Ini daftar pembayaran suap, pencucian uang, pembunuhan yang disamarkan sebagai kecelakaan, dan nama-nama pejabat yang mereka beli selama hampir dua puluh tahun.”
Aku memejamkan mata.
Kini aku mengerti.
Aku bukan korban pertama.
Dan jika gagal keluar dari rumah sakit hidup-hidup, aku juga bukan korban terakhir.
