Aku menjalani hubungan online selama tiga tahun dengan seorang pria yang kukira hanya mekanik biasa dari desa kecil.

Tanganku membeku di dalam genggaman Leon.

“…ayahmu adalah alasan aku mencarimu selama tiga tahun.”

Dunia di sekelilingku seolah berhenti bergerak. Suara ombak di pelabuhan, deru kendaraan di Esplanade, bahkan suara burung camar yang biasanya berisik mendadak menghilang dari pendengaranku.

“Ayahku sudah meninggal lima belas tahun lalu,” kataku lirih.

Leon mengangguk pelan.

“Aku tahu.”

“Kalau begitu kenapa mencariku?”

Tatapannya berubah berat.

“Karena kematian ayahmu bukan kecelakaan seperti yang selama ini kamu percaya.”

Dadaku langsung sesak.

Sejak kecil, ibuku selalu mengatakan bahwa ayah meninggal akibat kapal barang yang meledak saat bersandar di pelabuhan. Semua orang di kampung mempercayai cerita itu.

“Aku tidak mengerti…”

Leon belum sempat menjawab ketika seorang anggota polisi kembali menghampiri.

“Pak, tim sudah mengepung gudang. Kami menunggu perintah.”

Leon menoleh kepadaku.

“Mara, ikut aku. Jangan jauh dariku.”

“Aku?”

“Orang-orang di gudang itu mungkin juga sedang mencarimu.”

Kalimat itu membuat kakiku hampir lemas.

Aku mengikuti Leon masuk ke SUV hitam. Beberapa kendaraan polisi bergerak menuju kawasan gudang tua dekat pelabuhan Iloilo. Jalan yang biasanya ramai kini dipenuhi sirene.

Selama perjalanan, Leon akhirnya mulai bercerita.

“Tiga tahun lalu kami membongkar jaringan penyelundupan senjata yang beroperasi melalui pelabuhan-pelabuhan kecil di Filipina.”

Aku menatapnya tanpa berkedip.

“Jaringan itu sangat rapi. Mereka menggunakan kapal nelayan, kapal barang, bahkan kapal wisata.”

“Apa hubungannya dengan ayahku?”

Leon menarik napas panjang.

“Ayahmu bukan anggota mereka.”

“Lalu?”

“Dia saksi.”

Aku langsung menggeleng.

“Mustahil.”

“Dia bekerja di pelabuhan. Suatu malam dia melihat transaksi yang seharusnya tidak pernah dia lihat.”

Jantungku berdetak semakin cepat.

“Mereka memintanya tutup mulut. Ayahmu menolak.”

“Lalu kapal itu…”

“Diledakkan.”

Air mataku langsung mengalir.

Selama ini aku hidup dengan keyakinan bahwa ayah meninggal karena nasib buruk.

Ternyata seseorang sengaja membunuhnya.

“Tapi kenapa baru sekarang?”

“Karena semua saksi lain sudah dibungkam.”

Aku menatap Leon.

“Termasuk ibuku?”

Wajah Leon berubah muram.

“Ibumu tidak pernah tahu seluruh kebenarannya.”

Mobil berhenti sekitar seratus meter dari gudang tua yang tampak kosong dari luar.

Puluhan polisi bersenjata sudah mengambil posisi.

Leon mengenakan rompi antipeluru.

Sebelum turun, dia menatapku.

“Apa ayahmu pernah meninggalkan sesuatu?”

Aku menggeleng.

“Tidak ada.”

“Surat? Buku? Kotak?”

Aku berpikir keras.

Lalu tiba-tiba aku teringat sesuatu.

“Jam tangan.”

Leon langsung menoleh.

“Apa?”

“Jam tangan tua milik ayah. Rusak. Ibuku selalu bilang jangan dibuang.”

“Di mana sekarang?”

“Di rumah.”

Leon tampak berpikir.

Saat itulah suara tembakan terdengar dari arah gudang.

Dor!

Dor!

Dor!

Polisi langsung bergerak.

“Masuk!”

Leon berlari bersama timnya.

Aku tetap di dalam mobil seperti yang diperintahkannya.

Namun beberapa menit kemudian sesuatu membuat bulu kudukku berdiri.

Seseorang mengetuk kaca mobil.

Seorang pria tua berpakaian petugas kebersihan.

“Mbak Mara?”

Aku membuka sedikit jendela.

“Iya?”

“Ada yang menyuruh saya memberikan ini.”

Dia menyerahkan sebuah amplop cokelat.

Sebelum aku sempat bertanya, pria itu langsung berjalan pergi.

Di dalam amplop hanya ada selembar foto lama.

Foto ayahku.

Sedang memelukku saat aku masih balita.

Di belakang foto tertulis satu kalimat.

Jam menunjukkan jalan pulang.

Aku langsung teringat jam tangan itu.

Tanpa berpikir panjang aku menelpon Leon.

Nomornya tidak aktif.

Aku panik.

Akhirnya aku memutuskan naik ojek menuju rumah.

Sesampainya di sana, aku membuka lemari tua peninggalan ibu.

Jam tangan ayah masih tersimpan di dalam kotak kayu.

Saat kupegang, aku sadar beratnya tidak normal.

Aku mencoba membuka bagian belakangnya menggunakan pisau dapur.

Klik.

Penutupnya terbuka.

Di dalamnya ada kartu memori kecil.

Tanganku gemetar.

Belum sempat aku bernapas lega, suara pintu depan didobrak.

Brak!

Tiga pria bertopeng masuk.

“Cari kartunya!”

Aku langsung berlari ke belakang rumah sambil menggenggam kartu memori.

Salah satu pria mengejarku.

Aku berlari melewati gang sempit menuju pasar.

Orang-orang berteriak melihat kami.

Pria itu hampir menangkapku saat tiba-tiba sebuah motor tua berhenti di depanku.

“Naik!”

Leon.

Aku langsung melompat ke belakangnya.

Motor melesat membelah keramaian.

Beberapa peluru menghantam dinding toko.

Leon tidak berhenti.

“Apa kamu menemukannya?”

Aku menunjukkan kartu memori.

Dia tersenyum lega.

“Itu yang kami cari.”

Kami menuju markas sementara polisi.

Seorang ahli forensik langsung menyalin isi kartu.

Ruangan menjadi sunyi ketika video pertama diputar.

Rekaman dari kamera kecil.

Tanggalnya enam belas tahun lalu.

Terlihat beberapa pria memindahkan peti-peti kayu dari kapal ke gudang.

Lalu muncul wajah seorang pria yang membuat seluruh ruangan membeku.

Seorang pejabat tinggi kepolisian.

Kini sudah menjadi jenderal.

“Mustahil…” bisik salah satu polisi.

Video berikutnya menunjukkan ayahku berbicara diam-diam ke kamera.

“Kalau kalian melihat rekaman ini, berarti saya mungkin sudah mati.”

Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan.

Ayah menatap kamera dengan wajah lelah.

“Nama-nama mereka ada di buku hitam. Jangan percaya siapa pun.”

Video berakhir.

Leon langsung berdiri.

“Di mana buku hitam itu?”

Aku menggeleng.

“Aku tidak tahu.”

Semua kembali buntu.

Sampai akhirnya aku teringat warungku.

Setiap hari aku menggunakan meja kayu tua peninggalan ayah.

Meja yang tidak pernah kuganti.

“Leon…”

“Ada apa?”

“Ayah selalu bilang jangan pernah jual meja itu.”

Kami langsung menuju warung.

Warung kecilku masih tutup sejak pagi.

Leon membalik meja tua itu.

Di bagian bawah ada ukiran kecil yang hampir tidak terlihat.

Angka.

Leon menekan ukiran tersebut.

Sebuah laci rahasia terbuka.

Di dalamnya terdapat buku hitam yang sudah kusam.

Ruangan langsung sunyi.

Semua nama ada di sana.

Pengusaha.

Pejabat.

Polisi.

Bahkan beberapa politisi terkenal.

Leon segera menyerahkan buku itu kepada tim khusus.

Namun sebelum mereka pergi, suara ledakan terdengar dari luar.

Boom!

Warungku hancur.

Kaca berhamburan ke segala arah.

Leon langsung melindungiku.

Orang-orang berteriak panik.

Seseorang masih ingin menghapus semua bukti.

Malam itu juga operasi besar dilakukan di berbagai kota.

Puluhan orang ditangkap.

Beberapa melawan.

Sebagian mencoba melarikan diri ke luar negeri.

Termasuk sang jenderal.

Dua hari kemudian berita penangkapannya memenuhi seluruh televisi nasional.

Jaringan yang selama belasan tahun tak tersentuh akhirnya runtuh.

Aku duduk sendirian di depan sisa warung yang tinggal puing.

Leon datang membawa dua gelas kopi.

“Warungnya memang hilang.”

Aku tersenyum tipis.

“Tapi nama ayahku sudah bersih.”

Leon duduk di sampingku.

“Ayahmu pahlawan.”

Aku memandang laut yang mulai diterangi matahari pagi.

“Kenapa kamu memilih mendekatiku lewat internet?”

Leon tertawa kecil.

“Awalnya bukan pilihan.”

“Maksudnya?”

“Kami hanya punya satu petunjuk.”

“Apa?”

“Username TambaySaPier sering muncul di forum motor yang juga dikunjungi seseorang yang diduga terkait jaringan itu.”

“Jadi kamu menyamar?”

“Iya.”

“Lalu?”

“Lalu aku bertemu perempuan yang cerewet, keras kepala, suka memasak bakso ikan, dan selalu bertanya apakah aku sudah makan.”

Aku tertawa pelan.

“Kamu tahu kapan penyamaranku gagal?”

“Kapan?”

“Saat aku mulai benar-benar menunggu pesan darimu setiap pagi.”

Aku menatapnya.

“Jadi… kamu mencintaiku bukan karena tugas?”

Leon menggeleng mantap.

“Kalau hanya karena tugas, aku sudah berhenti setelah tahu identitasmu.”

“Tapi kamu tetap tinggal.”

“Karena aku tidak bisa pergi.”

Aku memegang tangannya.

“Tapi aku sudah membohongimu soal foto.”

Dia tersenyum.

“Aku justru harus berterima kasih pada sepupumu.”

“Kenapa?”

“Kalau bukan karena foto-foto daster itu, mungkin aku tidak akan memperhatikan pantulan rice cooker yang memperlihatkan wajah perempuan paling keras kepala yang pernah kutemui.”

Aku memukul lengannya pelan sambil tertawa.

Beberapa bulan kemudian, warung makan kecilku kembali berdiri.

Lebih besar dari sebelumnya.

Bukan karena uang hadiah.

Melainkan karena begitu banyak warga yang datang membantu membangunnya kembali.

Di dinding warung, kupasang foto ayah sedang tersenyum.

Di bawahnya tertulis satu kalimat.

“Kejujuran mungkin membuat seseorang kehilangan segalanya untuk sementara, tetapi kebohongan selalu meminta harga yang jauh lebih mahal.”

Suatu sore Leon datang dengan motor tuanya.

Bukan SUV.

Bukan mobil dinas.

“Hari ini benar-benar jadi mekanik,” katanya sambil menunjukkan tangannya yang penuh oli.

Aku tertawa.

“Dan aku benar-benar penjual bakso ikan.”

Dia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku jaket.

“Mara.”

“Iya?”

“Tiga tahun kita saling mengenal lewat layar. Sekarang aku ingin menjalani sisa hidup tanpa ada layar di antara kita.”

Dia membuka kotak itu.

Sebuah cincin sederhana berkilau diterpa cahaya senja.

“Aku tidak bisa menjanjikan hidup yang selalu aman.”

“Aku tahu.”

“Aku juga mungkin sering menghilang karena tugas.”

“Aku juga tahu.”

“Tapi setiap kali pulang, aku ingin tempat pertama yang kutuju adalah warung ini.”

Air mataku kembali mengalir.

Kali ini bukan karena kehilangan.

Melainkan karena akhirnya aku mengerti satu hal.

Tiga tahun lalu, aku memulai hubungan itu dengan sebuah kebohongan kecil karena takut tidak cukup berharga.

Namun pada akhirnya, seseorang jatuh cinta bukan pada foto yang kukirim, bukan pada wajah yang kusembunyikan, melainkan pada perempuan yang selalu ada di balik semua itu.

Dan untuk pertama kalinya sejak ayah pergi, aku merasa rumah bukan lagi sekadar sebuah tempat.

Rumah adalah seseorang yang tetap memilih menggenggam tanganmu, bahkan setelah mengetahui seluruh kebenaran.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang