Aku Mengirim Rp1,5 Miliar Setiap Bulan agar Ibuku Merawat Istriku Setelah Melahirkan. Namun Saat Pulang Tanpa Pemberitahuan, Aku Menemukan Istriku Dikurung di Gudang Gelap, Menggigil Sambil Memakan Nasi Basi dan Duri Ikan. Alasan Mengerikan di Baliknya Benar-Benar Menghancurkan Hatiku.

Aku tidak sanggup bernapas.

Tanganku yang memeluk Clara bergetar hebat saat mendengar kalimat itu.

“Mereka… menjual anak kita.”

Kalimat itu terus bergema di kepalaku.

“Tidak… itu tidak mungkin,” bisikku lirih.

Clara menangis tanpa suara. Air matanya terus mengalir di wajah yang pucat dan penuh lebam.

“Aku juga berharap itu tidak benar, Gabriel. Tapi aku mendengar sendiri.”

Aku menatap wajahnya.

“Ceritakan semuanya.”

Clara menarik napas panjang sebelum mulai berbicara dengan suara yang masih gemetar.

“Setelah aku melahirkan, aku sempat mendengar tangisan bayi kita. Dokter mengatakan anak kita sehat. Aku bahkan sempat menggendongnya beberapa menit.”

Ia berhenti karena isaknya semakin keras.

“Keesokan harinya, ibumu datang bersama Beatrice. Mereka menyuruh semua perawat keluar dari kamar. Setelah itu mereka memberiku obat. Aku merasa sangat mengantuk.”

“Apa yang terjadi setelah itu?”

“Saat aku bangun, bayi kita sudah tidak ada.”

Dadaku terasa sesak.

“Mama bilang Lucas meninggal karena gagal napas. Aku memohon ingin melihat jenazahnya, tapi mereka bilang rumah sakit sudah mengurus semuanya.”

Clara menatap lantai.

“Aku tidak percaya. Aku terus bertanya. Lalu mereka mulai bilang aku depresi setelah melahirkan. Mereka mengatakan aku berhalusinasi.”

Air mata kembali mengalir.

“Semakin aku bertanya, semakin mereka menghukumku.”

“Mereka mengurungku di gudang ini.”

“Mereka mengambil semua ponselku.”

“Mereka memberiku sisa makanan.”

“Mereka memukulku kalau aku menangis.”

Aku mengepalkan tangan hingga buku-buku jariku memutih.

Ibuku.

Adikku.

Orang-orang yang selama ini paling kupercaya.

Mereka memperlakukan Clara seperti binatang.

Aku segera melepas jas yang kupakai lalu menyelimuti tubuh Clara.

“Kita keluar dari sini.”

Belum sempat kami melangkah, terdengar suara langkah kaki dari arah lorong.

Ibuku muncul lebih dulu.

Di belakangnya berdiri Beatrice.

Begitu melihatku, wajah mereka langsung berubah pucat.

“Gabriel?” suara ibuku terdengar kaku. “Kenapa kamu pulang tanpa memberi tahu Mama?”

Aku berdiri di depan Clara.

“Aku juga ingin bertanya hal yang sama.”

“Kalian sedang apa?”

Ibuku langsung memasang senyum yang sangat kukenal.

“Clara mengalami gangguan jiwa setelah melahirkan. Dia sering mengamuk. Demi keselamatannya, kami terpaksa mengisolasinya sementara.”

Aku menatap pakaian Clara yang kotor.

Luka-luka di lengannya.

Ruangan tanpa jendela itu.

Lalu aku kembali menatap ibuku.

“Jadi menurut Mama, beginilah cara merawat orang yang depresi?”

Ibuku tidak menjawab.

Beatrice malah menyela.

“Kak, jangan mudah percaya omongan wanita gila.”

Plak!

Tanpa kusadari, telapak tanganku sudah mendarat keras di pipi Beatrice.

Seluruh rumah mendadak sunyi.

Selama hidupku, aku belum pernah menyentuh adikku.

Beatrice memegang pipinya sambil menatapku tidak percaya.

“Kakak menamparku?”

“Kalau kau bukan adikku, tamparan itu bukan yang terakhir.”

Aku mengeluarkan ponsel.

Dengan satu panggilan, belasan petugas keamanan pribadi yang selama ini menjaga perusahaan langsung memasuki mansion.

“Minta ambulans.”

“Panggil polisi.”

“Dan jangan biarkan siapa pun keluar dari rumah ini.”

Wajah ibuku akhirnya kehilangan ketenangannya.

“Gabriel, kamu sudah gila?”

“Tidak.”

“Aku baru saja sadar.”

Beberapa menit kemudian polisi datang.

Namun ibuku masih terlihat sangat percaya diri.

Ia bahkan tersenyum.

“Silakan periksa rumah ini. Kalian tidak akan menemukan apa pun.”

Aku merasa ada sesuatu yang janggal.

Benar saja.

Setelah dua jam pemeriksaan, tidak ada bukti mengenai Lucas.

Tidak ada dokumen.

Tidak ada rekaman.

Tidak ada jejak.

Seolah-olah anakku memang telah meninggal.

Polisi mulai memandang Clara dengan ragu.

Aku menolak menyerah.

Aku meminta seluruh rekaman CCTV rumah.

Semua file selama enam bulan terakhir ternyata sudah dihapus.

Saat itulah aku sadar.

Semua ini sudah direncanakan jauh sebelum aku pulang.

Malam itu aku membawa Clara ke rumah sakit.

Dokter yang memeriksanya menangis melihat kondisinya.

Ia mengalami kekurangan gizi berat, anemia, infeksi karena luka yang tidak pernah diobati, dan trauma psikologis yang sangat dalam.

Saat Clara tertidur setelah diberi obat penenang, seorang perawat muda menghampiriku.

“Pak Gabriel…”

“Ada apa?”

Perawat itu terlihat sangat gugup.

“Saya pernah bekerja di rumah sakit tempat istri Bapak melahirkan.”

Aku langsung berdiri.

“Apa yang Anda ketahui?”

Ia melihat ke kanan dan kiri sebelum berbisik.

“Malam setelah persalinan, saya melihat seorang wanita membawa bayi keluar melalui pintu belakang.”

“Siapa?”

“Saya tidak berani memastikan. Tapi saya mengenali wanita itu.”

“Siapa?”

“Ibu Bapak.”

Jantungku kembali berdetak sangat kencang.

“Apakah ada bukti?”

Perawat itu mengangguk pelan.

“Saya diam selama ini karena diancam.”

“Lalu kenapa sekarang bicara?”

Karena saat melihat kondisi istri Bapak, saya tidak sanggup lagi menyimpan semuanya.”

Ia menyerahkan sebuah flashdisk kecil.

“Saya sempat menyimpan salinan rekaman CCTV rumah sakit.”

Tanganku gemetar saat menerima benda itu.

Pagi harinya, aku bersama polisi membuka isi flashdisk tersebut.

Rekaman menunjukkan waktu pukul dua dini hari.

Terlihat jelas ibuku berjalan keluar dari ruang bayi sambil menggendong Lucas.

Di sampingnya berjalan Beatrice.

Mereka kemudian menyerahkan Lucas kepada seorang pria asing di area parkir bawah tanah.

Polisi langsung memperbesar gambar wajah pria itu.

Beberapa detik kemudian salah seorang penyidik berkata,

“Saya mengenalnya.”

“Dia bagian dari jaringan perdagangan bayi internasional.”

Darahku serasa membeku.

Polisi bergerak cepat.

Dari ponsel Beatrice yang berhasil disita, mereka menemukan transaksi senilai hampir lima puluh miliar rupiah.

Seluruh uang itu digunakan membeli mobil mewah, perhiasan, dan investasi atas nama pribadi.

Ternyata Rp1,5 miliar yang kukirim setiap bulan bahkan tidak pernah digunakan untuk Clara.

Semuanya masuk ke rekening pribadi ibuku.

Yang lebih mengejutkan lagi, penyidik menemukan percakapan lama.

Beatrice menulis,

“Kalau bayi itu tetap hidup bersama Gabriel, seluruh warisan keluarga nanti akan jatuh ke anak desa itu.”

Ibuku membalas,

“Kalau bayi itu hilang, Gabriel pasti akan menikah lagi. Kita masih bisa mengendalikan hidupnya.”

Aku membaca pesan itu berkali-kali.

Ternyata semua ini bukan sekadar soal uang.

Mereka takut kehilangan kendali atas kekayaanku.

Lucas hanyalah penghalang bagi ambisi mereka.

Selama tiga minggu berikutnya, polisi bekerja sama dengan Interpol.

Jaringan perdagangan bayi itu akhirnya terlacak hingga ke Singapura.

Aku ikut dalam operasi penyelamatan.

Setiap detik terasa seperti bertahun-tahun.

Di sebuah rumah mewah milik pasangan kaya yang tidak mengetahui asal-usul bayi tersebut, kami menemukan seorang balita kecil yang sedang tertawa memainkan balok kayu.

Usianya hampir sama dengan waktu Lucas menghilang.

Saat melihatku, anak itu tersenyum.

Entah mengapa, dadaku langsung dipenuhi perasaan yang sulit dijelaskan.

Tes DNA dilakukan secepat mungkin.

Hasilnya keluar dua hari kemudian.

Kecocokannya mencapai 99,99 persen.

Dia benar-benar putraku.

Aku memeluk Lucas sambil menangis tanpa malu.

Clara yang berdiri di sampingku hampir pingsan karena terlalu bahagia.

Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, keluarga kecil kami kembali utuh.

Pasangan yang selama ini merawat Lucas juga menangis.

Mereka ternyata menjadi korban penipuan sindikat yang memalsukan seluruh dokumen adopsi.

Mereka memeluk kami dan meminta maaf berkali-kali.

Aku tidak menyalahkan mereka.

Pelaku sebenarnya adalah orang-orang yang paling dekat denganku.

Beberapa bulan kemudian, persidangan dimulai.

Ibuku dijatuhi hukuman penjara yang sangat berat atas perdagangan manusia, penyiksaan, penculikan, penggelapan, dan berbagai tindak pidana lainnya.

Beatrice menerima hukuman yang tidak jauh berbeda.

Saat hakim membacakan putusan, ibuku menoleh ke arahku.

“Gabriel… Mama tetap ibumu.”

Aku menatapnya tanpa kebencian.

“Tidak.”

“Ibuku sudah mati pada hari dia memilih menjual cucunya sendiri.”

Ia menangis histeris saat dibawa keluar ruang sidang.

Aku tidak lagi merasakan apa pun.

Beberapa luka memang bisa sembuh.

Tetapi ada pengkhianatan yang tidak pernah bisa diperbaiki.

Setahun kemudian, aku menjual mansion keluarga di Menteng.

Aku dan Clara memilih tinggal di rumah yang jauh lebih sederhana di pinggir Jakarta.

Aku mulai pulang tepat waktu setiap hari.

Aku mengantar Lucas ke sekolah.

Aku menemani Clara memasak pada akhir pekan.

Perusahaanku tetap berkembang, tetapi kini aku tahu bahwa kesuksesan tidak pernah berarti jika orang-orang yang kita cintai harus membayarnya dengan penderitaan.

Suatu malam, Lucas yang sudah mulai bisa berbicara memeluk leherku.

“Papa.”

“Iya, Nak?”

“Jangan pergi lama-lama lagi.”

Aku memandang Clara.

Ia tersenyum sambil menggenggam tanganku.

Aku mengangguk kepada putraku.

“Tidak akan.”

Karena hari itu aku akhirnya mengerti satu pelajaran yang tidak pernah diajarkan oleh sekolah bisnis mana pun.

Musuh paling berbahaya tidak selalu datang dari luar.

Terkadang, mereka duduk di meja makan yang sama, memanggil kita keluarga, dan tersenyum sambil perlahan menghancurkan hidup kita.

Dan cinta sejati bukan dibuktikan oleh seberapa banyak harta yang mampu kita berikan, melainkan oleh keberanian untuk melindungi orang yang kita cintai, bahkan ketika musuhnya ternyata adalah darah daging kita sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang