SEORANG WANITA PENGEMIS HANYA MEMINTA TUJUH PULUH LIMA RIBU RUPIAH KEPADA SEORANG MILIARDER JAKARTA

Suara statis yang pecah memenuhi lobi, diikuti oleh rekaman suara yang jauh lebih muda—suara Arman sepuluh tahun lalu, bercampur dengan isak tangis wanita dan deru mesin mobil di tengah hujan deras.

“Biar mereka mengira aku cacat, Laras! Dengan begitu, tidak ada yang akan mencariku lagi. Tidak ada yang akan meminta pertanggungjawaban atas uang yang kusembunyikan di rekening luar negeri itu. Bima sudah mati, dan semua orang akan menyalahkan kursi roda ini sebagai hukuman dari Tuhan. Aku akan menjadi martir yang malang, dan uang itu akan menjadi milik kita berdua!”

Lobi Menara Wicaksono mendadak seperti kuburan.

Arman, yang baru saja merasakan sensasi bangga karena bisa berdiri, kini seperti dipukul dengan gada besi tepat di ulu hati. Kakinya yang gemetar hebat mendadak kehilangan tenaga. Ia ambruk kembali ke kursi rodanya dengan suara dentuman yang memilukan.

Ibu Ratih menatapnya dengan tatapan yang bukan lagi milik seorang pengemis. Sorot matanya tajam, dingin, dan penuh dengan akumulasi dendam selama satu dekade.

“Anda tidak pernah berdiri karena kaki Anda lumpuh, Arman,” suara Ibu Ratih bergema di lobi yang kini sunyi senyap. “Anda tetap duduk karena hati nurani Anda adalah beban yang lebih berat daripada kursi besi ini.”

Dika, asisten setia yang selama ini mengurus segala kebutuhan Arman, mendekat dengan wajah pucat. Ia menatap alat perekam itu, lalu menatap Arman. “Pak… apakah… apakah itu benar?”

Arman menatap sekeliling. Ratusan pasang mata karyawan, satpam, bahkan delegasi Jepang yang baru saja tiba di pintu masuk, kini menatapnya bukan sebagai kaisar properti, melainkan sebagai seorang kriminal yang sedang terpojok.

“Siapa kamu sebenarnya?” suara Arman parau, nyaris seperti bisikan yang hancur.

Ibu Ratih perlahan membuka kerudung yang menutupi wajahnya, menyibak rambut putih yang ternyata hanyalah penyamaran. Di balik itu, tampak wajah seorang wanita paruh baya dengan bekas luka bakar yang samar di pelipisnya—wajah Laras, istri Arman yang seharusnya tewas di dalam Pajero hitam sepuluh tahun silam.

Dunia Arman runtuh.

“Aku bukan Laras,” wanita itu menjawab, suaranya kini terdengar lebih muda namun penuh kebencian. “Aku adalah saksi yang Anda tinggalkan di dalam mobil saat Anda menarik Bima keluar—bukan untuk menyelamatkannya, tapi untuk memastikan dia tidak bisa bicara sebelum Anda membakar mobil itu.”

Wanita itu melangkah lebih dekat, membisikkan satu fakta terakhir yang membuat Arman mematung dalam ketakutan yang mutlak. “Dan Bima… dia tidak mati malam itu. Dia selamat, cacat, dan saat ini dia sedang menunggu di lantai paling atas gedung ini bersama polisi dan seluruh bukti transaksi haram Anda. Tujuh puluh lima ribu rupiah itu bukan untuk makan, Arman. Itu adalah harga sebuah peluru yang akan Anda beli untuk diri Anda sendiri.”

Tanpa menunggu reaksi Arman, wanita itu berbalik dan berjalan dengan tegak meninggalkan lobi yang kini dipenuhi oleh sirine polisi yang mulai mendekat dari arah Sudirman.

Arman Wicaksono, sang kaisar beton, mencoba berdiri kembali, namun kakinya kini benar-benar mati. Ia telah kalah bukan oleh dokter, bukan oleh takdir, melainkan oleh kebenaran yang ia kubur sendiri di bawah tumpukan uang triliunan rupiah.

Di lantai atas, suara langkah kaki petugas polisi mulai terdengar gemuruh mendekati lobi. Arman menatap tangannya sendiri, tangannya yang penuh dengan kotoran sejarah. Ia menyadari bahwa selama sepuluh tahun ini, dia bukan sedang menjalani hukuman—dia sedang menunggu waktu penjemputan untuk sebuah neraka yang lebih nyata.

Dan di tengah keriuhan itu, si wanita yang tadinya dikira pengemis, menghilang di balik kerumunan Jakarta, meninggalkan Arman sendirian di atas takhta besi yang akan segera menjadi sel penjara seumur hidupnya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang