Waktu terus merayap. Sisa penerbangan 10 jam terasa seperti sebuah simfoni kehancuran yang dimainkan dalam sunyi. Saya memesan segelas sampanye, menyesapnya perlahan sambil menatap pantulan wajah saya di jendela kabin yang gelap. Wajah itu tenang, dingin, dan mematikan.
Di belakang saya, Adrian dan Valerie masih terbuai dalam fantasi mereka. Mereka merencanakan liburan romantis di Paris setelah kesepakatan “sukses” itu. Mereka tidak tahu bahwa setiap detik yang mereka habiskan di atas awan ini adalah detik-detik terakhir kemewahan yang akan mereka nikmati.
Pukul 02.00 dini hari waktu London. Ponsel saya yang terhubung dengan Wi-Fi satelit mulai bergetar hebat. Itu bukan telepon, melainkan deretan notifikasi dari sistem pusat Apex Ventures.

“Nyonya, dokumen telah diterima dan diverifikasi,” bunyi pesan singkat dari kepala legal saya. “Pengumuman pembatalan investasi telah dijadwalkan tepat saat pesawat mendarat. Dewan Direksi Prime Tech juga sudah merespons email Anda. Mereka sedang mengadakan rapat darurat secara virtual. Saham Prime Tech di bursa pasar modal sedang mengalami free fall karena rumor kebocoran skandal ini mulai tersebar di forum-forum finansial.”
Saya tersenyum tipis. Saya tidak hanya menghancurkan bisnisnya; saya memastikan bahwa namanya akan menjadi bahan tertawaan di seluruh korporasi dunia.
Tiba-tiba, suara di belakang saya berubah. Adrian tampak mulai memeriksa ponselnya.
“Apa?” suara Adrian meninggi, penuh keterkejutan. “Kenapa akses kartu kredit korporat ditolak? Sial! Ada apa ini?”
Suasana di kabin First Class yang tenang seketika pecah. Adrian berdiri dengan panik, wajahnya pucat pasi. Dia mencoba menelepon manajer keuangannya, namun tentu saja, tidak ada yang akan menjawab panggilannya sekarang. Dia adalah orang asing bagi semua orang yang dulu menjilatnya.
“Adrian, ada apa?” Valerie tampak bingung dan mulai gelisah.
“Sesuatu yang buruk terjadi di kantor,” suara Adrian bergetar. “Seseorang membocorkan data kita. Investasi Apex Ventures… dibatalkan! Dan mereka menuntut audit forensik atas penggunaan dana perusahaan!”
Saya tidak bisa menahan tawa kecil. Saya memutar kursi saya, menghadap ke arah mereka. Adrian terdiam saat melihat saya. Dia menatap saya seolah-olah saya adalah hantu yang baru saja bangkit dari kubur.
“Kirana? Kamu… kamu di sini?” Adrian gagap. Dia melirik ke arah layar laptop saya yang masih terbuka sedikit, lalu ke arah mata saya yang tajam.
“Selamat malam, Adrian,” sapa saya dengan nada paling lembut yang bisa saya berikan. “Sepertinya penerbangan ini tidak berjalan sesuai rencana, ya?”
Adrian berlari mendekat, wajahnya memerah karena amarah dan ketakutan yang bercampur aduk. “Apa yang kamu lakukan?! Kamu yang melakukan ini, bukan? Kamu yang membocorkan semuanya?!”
Saya berdiri, merapikan syal sutra saya. Saya tidak merasa terintimidasi sedikit pun. Justru, dia yang terlihat seperti tikus yang terpojok.
“Aku tidak melakukan apa-apa, Adrian,” jawab saya dingin. “Aku hanya memastikan bahwa sebuah perusahaan dikelola oleh orang yang memiliki integritas. Dan sayangnya, integritas bukanlah sesuatu yang kamu miliki.”
“Kamu akan menyesal! Aku akan menceraikanmu! Kamu tidak akan mendapatkan sepeser pun!” teriaknya. Penumpang lain mulai terbangun, menatap ke arah kami dengan heran.
Saya mendekat ke telinganya, berbisik pelan agar hanya dia yang bisa mendengar. “Ceraikan aku? Adrian, kamu bahkan tidak lagi memiliki rumah untuk pulang. Aku telah mengosongkan semua properti yang dibeli dengan uang warisanku. Kamu bukan hanya bangkrut, kamu sekarang memiliki utang pribadi sebesar 50 juta dolar kepada investor yang marah karena kamu menggunakan dana operasional untuk kebutuhan pribadimu.”
Dunia Adrian runtuh. Dia jatuh terduduk di lorong kabin, memegangi kepalanya. Valerie, wanita yang tadi memeluknya, kini perlahan menjauh, mencoba berpura-pura tidak mengenal pria ini. Dia tahu kapal ini sudah karam.
Saat pengumuman pesawat akan mendarat di Heathrow mulai bergema, saya tidak merasakan kesedihan. Tidak ada penyesalan.
Namun, situasi menjadi tak terduga.
Tiba-tiba, seorang pria berjas rapi yang duduk di kursi 3A—seseorang yang selama ini saya kira hanyalah penumpang biasa—berdiri dan berjalan mendekati Adrian. Dia bukan staf maskapai. Dia adalah agen dari otoritas keuangan yang sudah saya bayar untuk memastikan “penjemputan” yang dramatis.
“Adrian wijaya?” tanya pria itu dengan suara berat. “Anda ditahan atas tuduhan penggelapan dana perusahaan dan penipuan investasi berskala internasional.”
Adrian menatap saya, matanya memohon. Saya hanya memberikan tatapan kosong.
Tepat saat roda pesawat menyentuh landasan pacu, saya berdiri dan mengambil tas tangan saya. Namun, sebelum saya melangkah keluar, saya berbalik ke arah Valerie yang gemetar.
“Valerie,” kataku sambil tersenyum manis. “Jangan khawatir. Kamu punya waktu untuk mencari pekerjaan baru. Tapi sebaiknya kamu mulai belajar cara hidup tanpa uang haram.”
Saya berjalan keluar dari pesawat, melewati Adrian yang sedang diborgol oleh petugas di depan pintu kabin. Kamera awak media yang entah bagaimana sudah menunggu di gerbang kedatangan (saya memastikan mereka tahu jadwal penerbangan kami) langsung menyorot ke arah Adrian.
Saya melangkah keluar dari bandara menuju limusin yang sudah menunggu. Saya tidak menoleh lagi. Di tangan saya, saya memegang dokumen yang menyatakan bahwa seluruh aset Prime Tech kini telah disita oleh perusahaan induk saya.
Saya menang. Namun, kejutan terakhir menanti saya di dalam limusin. Di sana, duduk seorang pria paruh baya yang merupakan pengacara kepercayaan almarhum ayah saya.
“Nyonya Kirana,” ucapnya sambil memberikan map hitam. “Selamat atas keberhasilan Anda menghancurkan Prime Tech. Namun, ada satu hal yang harus Anda ketahui.”
Saya mengerutkan kening. “Apa itu?”
“Ternyata, Adrian selama ini tidak hanya berselingkuh dengan sekretarisnya. Dia telah memalsukan tanda tangan Anda selama tiga tahun terakhir untuk mengalihkan warisan tanah keluarga Anda ke sebuah yayasan fiktif miliknya sendiri. Dia telah merencanakan ini jauh sebelum dia bertemu Anda.”
Saya terdiam. Hati saya sedikit bergetar, bukan karena sedih, tapi karena kemarahan yang lebih besar.
“Di mana yayasan itu?” tanya saya.
Pengacara itu tersenyum misterius. “Itu bukan yayasan, Nyonya. Itu adalah rekening atas nama Anda sendiri, yang dia gunakan untuk menampung seluruh uang hasil pencucian bisnis ilegalnya. Secara hukum, sekarang semua uang itu milik Anda. Anda tidak hanya menghancurkan bisnisnya, Anda justru mendapatkan keuntungan berlipat ganda dari kejahatannya.”
Saya menatap keluar jendela limusin yang membawa saya melintasi London. Saya tidak hanya memenangkan pertarungan; saya baru saja mendapatkan kembali jauh lebih banyak daripada yang pernah saya berikan.
Adrian mungkin akan menghabiskan sisa hidupnya di balik jeruji besi, memikirkan bagaimana seorang “istri bodoh” bisa meruntuhkan dunianya dalam 14 jam. Dan saya? Saya baru saja memulai babak baru—menjadi satu-satunya penguasa dari imperium yang justru dia bangun dengan keringat dan kejahatannya sendiri untuk saya.
Permainan ini tidak berakhir saat pesawat mendarat. Permainan ini baru saja dimulai.
