SUAMI MILYARDERKU DATANG KE SIDANG CERAI BERSAMA SELINGKUHANNYA

Ruangan rapat itu mendadak hening. Hening yang mencekam, seolah oksigen di ruangan itu tersedot keluar. Adrian menatap amplop hitam itu dengan tangan yang gemetar hebat. Ia tidak berani menyentuhnya, namun rasa penasaran dan ketakutan yang mencekik membuatnya menelan ludah dengan susah payah.

Bianca, yang tadinya murka, kini terdiam kaku. Ia bisa merasakan sesuatu yang sangat salah. “Adrian, buka amplop itu sekarang!” teriak Bianca dengan suara melengking, berusaha menutupi kegugupannya sendiri.

Adrian akhirnya meraih amplop itu. Saat segel lilin merah itu ia patahkan, jemarinya bergetar hebat hingga kertas di dalamnya hampir terjatuh. Ia menarik keluar tumpukan dokumen yang tampak sangat resmi—dokumen dengan kop surat dari Financial Oversight Committee (Komite Pengawasan Keuangan) dan laporan investigasi forensik dari firma hukum internasional.

Wajah Adrian yang tadinya pucat, kini berubah menjadi abu-abu. Ia membaca baris demi baris, matanya membelalak tak percaya.

“Ini… ini tidak mungkin,” bisik Adrian. Suaranya serak, hampir hilang.

“Apa yang terjadi, Adrian?!” Bianca mencoba merebut kertas itu, namun Adrian menariknya dengan protektif, wajahnya penuh horor.

Aku melangkah mendekat, berdiri tepat di hadapannya. Elvan, putra kecil kami, bergerak sedikit dalam gendongan, mengeluarkan suara gumaman kecil yang suci di tengah kekacauan orang-orang serakah ini.

“Kau tahu, Adrian?” suaraku memecah keheningan, tenang dan menusuk. “Selama dua tahun pernikahan kita, aku tidak hanya menjadi istri yang diam di rumah. Aku adalah lulusan akuntansi forensik dan hukum yang kau remehkan. Selama ini, aku mendokumentasikan setiap transaksi ilegal, setiap pencucian uang yang kau lakukan melalui perusahaan cangkang di Kepulauan Cayman, dan setiap kontrak fiktif yang kau tandatangani dengan vendor bodong.”

Adrian jatuh terduduk di kursinya. Kakinya seolah kehilangan kekuatan.

“Amplop itu berisi bukti lengkap yang sudah kukirimkan salinannya ke Kejaksaan Agung dan Direktorat Jenderal Pajak satu jam yang lalu,” lanjutku. “Dan bukan hanya itu. Aku telah secara resmi mengakuisisi 51% saham mayoritas perusahaan indukmu melalui perantara yang kau sendiri tidak pernah curigai. Secara teknis, Adrian… kau sekarang adalah karyawan di perusahaanmu sendiri. Dan karena tindak pidana yang kau lakukan dalam dokumen itu, jabatanmu sebagai CEO akan dicabut dalam hitungan menit.”

Bianca mematung. Matanya menatap Adrian dengan jijik, bukan lagi dengan kemanjaan. Ia menyadari satu hal: pria di sampingnya bukan lagi miliarder. Ia hanyalah seorang penjahat yang akan segera membusuk di penjara. Bianca segera berdiri, tas mewahnya ia lempar ke meja. “Aku tidak tahu apa-apa soal ini! Aku tidak mau terlibat dalam kejahatanmu!” Ia berbalik, mencoba melangkah pergi dengan anggun, namun ia terjebak oleh pintu keamanan yang kini terkunci rapat.

“Jangan ke mana-mana, Bianca,” kataku sambil tersenyum tipis. “Namamu tercantum sebagai penerima aliran dana ilegal dari perusahaan cangkang tersebut. Polisi sudah menunggu di lobi gedung.”

Tiba-tiba, suara langkah kaki berat terdengar dari balik pintu. Pintu terbuka, bukan oleh staf kantor, melainkan oleh petugas berpakaian seragam dengan rompi antipeluru.

“Adrian Wijaya, Anda ditangkap atas tuduhan pencucian uang, penipuan pajak, dan pemalsuan dokumen perusahaan,” suara tegas petugas itu menggema di ruangan.

Adrian mencoba berdiri, berteriak tidak terima, namun dua petugas segera memborgol tangannya dengan kasar. Keangkuhan yang tadi ia pamerkan saat masuk ke ruangan ini lenyap, digantikan oleh tangisan memohon yang sangat menyedihkan. Ia menatapku, memohon dengan matanya. “Sayang… tolong, aku ayah dari anakmu! Jangan lakukan ini!”

Aku menatapnya dengan pandangan kosong. “Ayah yang membuang anaknya bahkan sebelum ia lahir demi wanita lain? Adrian, Elvan tidak butuh ayah sepertimu. Dia lebih baik tumbuh tanpa sosok pria yang tidak mengenal arti integritas.”

Saat Adrian diseret keluar, ia berpapasan dengan Bianca yang juga sedang digiring oleh petugas wanita. Mereka saling menatap dengan penuh kebencian—sebuah akhir yang ironis bagi pasangan yang dibangun di atas fondasi pengkhianatan.

Setelah ruangan itu kosong, menyisakan aku dan pengacara pribadiku, aku duduk kembali di kursi kulit hitam itu. Aku menatap Elvan yang tertidur pulas. Elvan tidak tahu bahwa hari ini, ia baru saja menyaksikan jatuhnya sebuah imperium palsu.

Tiba-tiba, ponselku bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal. Aku membukanya. Itu adalah pesan dari Adrian, yang entah bagaimana berhasil mengirim pesan sebelum ponselnya disita.

“Kau menang. Tapi ingat, harta yang kau rebut itu tidak akan pernah bisa memberimu kebahagiaan. Aku akan kembali untuk menghancurkanmu.”

Aku tersenyum tipis, lalu menekan tombol block. Aku memandang ke arah jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota Jakarta dari ketinggian lantai 42. Matahari mulai terbenam, menyinari kota dengan warna jingga yang indah.

Namun, saat aku menatap pantulan diriku di kaca, jantungku berdegup kencang secara tiba-tiba. Aku menyadari sesuatu yang terlewat. Di dalam amplop hitam tadi, aku memang memasukkan bukti-bukti kejahatan Adrian. Tapi, ada satu lembar lagi yang tidak sempat ia baca. Sebuah laporan medis hasil tes DNA yang kubuat sendiri untuk memastikan Adrian tidak memiliki keturunan lain.

Laporan itu menyatakan satu fakta yang belum sempat kubongkar: Elvan… sebenarnya adalah bayi yang kuadopsi dari panti asuhan tempat aku menjadi relawan secara diam-diam selama setahun terakhir. Adrian tidak pernah tahu karena dia terlalu sibuk dengan dunianya sendiri untuk menyadari bahwa aku tidak pernah benar-benar hamil. Aku menggunakan “kehamilan” ini sebagai umpan. Dan umpan itu berhasil dengan sempurna.

Aku merengkuh Elvan lebih erat. Dia bukan darah daging Adrian, dia bukan darah dagingku secara biologis. Tapi dia adalah simbol kebebasanku. Dia adalah alasan kenapa aku berani mengambil risiko ini. Aku bukan lagi istri yang dikhianati. Aku adalah wanita yang menulis ulang nasibnya sendiri.

Malam itu, aku meninggalkan gedung itu sebagai wanita terkaya di Jakarta, membawa seorang bayi yang akan tumbuh dengan nama belakangku, bukan nama keluarga pengkhianat itu. Dan di luar sana, di tengah kegelapan kota, aku tahu bahwa cerita ini baru saja dimulai. Karena di dunia ini, mereka yang kalah tidak akan pernah benar-benar menyerah, dan aku harus tetap waspada. Tapi untuk malam ini, aku menang. Dan itu sudah lebih dari cukup.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang