Pak Budi terdiam selama beberapa detik di ujung telepon.
“Baik, Bu Kirana. Saya sudah menunggu perintah itu selama tiga tahun.”
Mobil limousine melaju membelah hujan menuju sebuah kawasan elite di pusat kota Jakarta.
Begitu pintu rumah megah bergaya modern terbuka, puluhan staf langsung berdiri memberi hormat.
“Selamat datang kembali, Bu.”
Sudah tiga tahun mereka tidak melihatku tinggal di rumah ini.
Aku hanya mengangguk pelan sambil memegang perutku.
Malam itu juga dokter pribadiku datang memeriksa kondisi kandunganku.
“Syukurlah bayi Ibu baik-baik saja. Tetapi Ibu mengalami stres yang cukup berat.”
Aku hanya tersenyum tipis.
“Besok semuanya akan berakhir.”

Sementara itu…
Di apartemen, suasana justru penuh tawa.
Rendy membuka sebotol anggur.
Siska duduk di sampingnya sambil memeluk lengannya.
“Akhirnya wanita kampungan itu pergi juga,” kata Siska sambil tersenyum puas.
Ibu Maya ikut tertawa.
“Mulai sekarang keluarga kita akan naik kelas.”
Rendy mengangkat gelasnya.
“Besok malam aku menghadiri Annual Grand Gala Nusantara Prima Group. Katanya pemilik perusahaan juga akan muncul.”
Siska berbinar.
“Serius? Selama ini kan tidak ada yang pernah melihat pemilik aslinya.”
Rendy mengangguk bangga.
“Kalau aku bisa menarik perhatian beliau, promosi menjadi Vice President sudah di depan mata.”
Tak seorang pun menyadari bahwa wanita yang baru saja mereka usir adalah orang yang sedang mereka impikan untuk ditemui.
Keesokan harinya…
Seluruh gedung utama Nusantara Prima Group berubah menjadi lautan cahaya.
Karpet merah membentang dari pintu masuk hingga ballroom utama.
Ratusan wartawan memenuhi halaman.
Mobil-mobil mewah berdatangan tanpa henti.
Para petinggi perusahaan dari seluruh Indonesia hadir malam itu.
Acara tersebut memang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.
Undangan kali ini mencantumkan satu kalimat yang membuat semua orang penasaran.
“Founder dan Pemilik Nusantara Prima Group akan memberikan pidato resmi untuk pertama kalinya.”
Selama dua puluh tahun perusahaan berdiri, tidak ada satu pun karyawan yang pernah melihat pemilik sesungguhnya.
Semua hanya mengenal Pak Budi.
Bahkan para direktur mengira Pak Budi adalah pemilik perusahaan.
Rendy datang mengenakan jas mahal.
Di sampingnya berjalan Siska memakai gaun merah menyala.
Ibu Maya juga ikut hadir sebagai tamu keluarga.
Begitu memasuki ballroom, Rendy sibuk menyapa semua orang.
Ia sengaja berbicara keras agar terdengar penting.
“Tahun depan mungkin saya sudah duduk sebagai Vice President.”
Beberapa kolega tersenyum canggung.
Mereka memang mengenal Rendy sebagai orang yang pandai bekerja.
Namun mereka juga tahu sifatnya yang semakin arogan setelah kariernya melejit.
Tak lama kemudian…
Lampu ballroom perlahan diredupkan.
Pak Budi naik ke atas panggung.
Semua tamu langsung bertepuk tangan.
“Selamat malam.”
“Hari ini bukan hanya malam penghargaan.”
“Hari ini juga merupakan hari yang sangat bersejarah.”
“Hari ini, untuk pertama kalinya, saya akan memperkenalkan pendiri sekaligus pemilik tunggal Nusantara Prima Group.”
Seluruh ruangan langsung hening.
Rendy bahkan berdiri lebih tegak.
Ia berharap bisa menjadi orang pertama yang memberi salam.
Pak Budi tersenyum.
“Ladies and gentlemen…”
“Pimpinan saya…”
“Bu Kirana Wijaya.”
Pintu utama ballroom perlahan terbuka.
Semua kepala menoleh bersamaan.
Seorang wanita hamil berjalan masuk dengan gaun putih sederhana namun sangat elegan.
Di belakangnya berdiri beberapa pengawal.
Seluruh jajaran direksi langsung berdiri.
Begitu pula para komisaris.
Mereka serempak membungkukkan badan.
“Selamat malam, Bu Kirana.”
Suasana berubah sunyi.
Rendy membeku.
Wajahnya perlahan kehilangan warna.
Tangannya gemetar.
“Itu…”
“Itu tidak mungkin…”
Siska menatap tanpa berkedip.
Ibu Maya bahkan hampir menjatuhkan tas tangannya.
Wanita yang mereka usir semalam…
Kini sedang disambut bak seorang ratu.
Aku naik ke atas panggung dengan tenang.
Pandanganku berhenti tepat pada wajah Rendy.
Ia mulai melangkah mendekat.
“Kirana… ada salah paham…”
Aku mengangkat satu tangan.
“Silakan tetap di tempat.”
Suara itu terdengar lembut.
Namun cukup membuat petugas keamanan langsung menghadang Rendy.
Aku mengambil mikrofon.
“Tiga tahun lalu, saya memutuskan menyembunyikan identitas saya.”
“Saya ingin tahu apakah masih ada orang yang mencintai saya sebagai manusia biasa.”
Beberapa tamu saling berpandangan.
“Ternyata saya mendapat jawaban yang sangat mahal.”
Layar LED raksasa di belakang panggung tiba-tiba menyala.
Video rekaman CCTV muncul.
Semua orang terkejut.
Ternyata rekaman berasal dari kamera tersembunyi di depan apartemen.
Video itu memperlihatkan dengan jelas bagaimana Rendy melempar tas pakaianku ke luar.
Bagaimana Ibu Maya menghinaku.
Bagaimana Siska berdiri sambil tersenyum puas.
Seluruh ballroom mulai berbisik.
Rendy pucat.
“Video itu palsu!”
Pak Budi hanya mengangkat sebuah flashdisk.
“Rekaman asli sudah diperiksa tim forensik digital.”
“Lengkap dengan waktu dan metadata.”
Ruangan kembali sunyi.
Namun kejutan belum selesai.
Aku memandang seluruh tamu.
“Ada satu fakta lagi yang belum diketahui siapa pun.”
Aku mengangguk kepada sekretarisku.
Ia membawa sebuah map biru.
“Selama tiga tahun terakhir…”
“Regional Director Rendy mendapatkan promosi secara bertahap.”
“Semua rekomendasi promosi itu bukan berasal dari atasannya.”
“Tetapi dari saya.”
Semua orang terkejut.
Rendy mengangkat kepala.
“Apa?”
Aku mengangguk.
“Aku percaya suamiku memiliki kemampuan.”
“Setiap kali namamu diajukan, aku selalu menyetujuinya.”
“Bahkan saat ada kandidat yang lebih baik.”
Rendy terduduk lemas.
Selama ini ia mengira semua keberhasilannya murni hasil usahanya sendiri.
Ia baru sadar ada seseorang yang diam-diam melindunginya.
Orang itu justru wanita yang ia hina setiap hari.
Tetapi kejutan terbesar masih menunggu.
Pak Budi kembali berbicara.
“Tim audit internal selama enam bulan terakhir menemukan penyimpangan besar.”
Layar berubah.
Muncul berbagai transaksi.
Transfer uang.
Komisi.
Proyek fiktif.
Semua mengarah kepada satu nama.
Siska.
Wajah wanita itu langsung pucat.
“Aku… aku tidak tahu.”
Pak Budi menggeleng.
“Saudari Siska menggunakan jabatan sebagai Senior Manager untuk menerima suap dari vendor.”
Nilainya mencapai puluhan miliar rupiah.
Yang lebih mengejutkan…
Di layar muncul rekaman percakapan.
Suara Siska terdengar jelas.
“Tenang saja.”
“Rendy itu gampang diatur.”
“Kalau nanti dia jadi Vice President, kita bisa ambil proyek yang lebih besar.”
Seluruh ruangan gempar.
Rendy menoleh ke arah Siska.
Tatapan matanya penuh keterkejutan.
“Kamu memanfaatkan aku?”
Siska panik.
“Tidak… bukan begitu…”
Tetapi petugas dari divisi kepatuhan sudah menghampirinya.
“Berdasarkan hasil investigasi, Saudari diminta ikut bersama kami.”
Rendy merasa dunianya runtuh.
Ia kehilangan jabatan.
Kehilangan wanita yang ia pilih.
Kehilangan harga dirinya.
Namun pukulan terakhir datang beberapa menit kemudian.
Aku mengeluarkan sebuah amplop.
“Dua bulan sebelum malam pengusiran itu, sebenarnya aku sudah menyiapkan hadiah.”
Semua orang kembali memperhatikan.
“Aku berencana mengangkat Rendy menjadi Executive Director.”
Ruang ballroom kembali sunyi.
Aku memperlihatkan surat keputusan yang sudah ditandatangani.
Tanggalnya jelas.
Dua bulan sebelum perceraian.
“Promosi ini bernilai kenaikan saham, bonus puluhan miliar, dan hak kepemilikan perusahaan.”
“Namun surat itu tidak pernah kuberikan.”
Aku merobek surat tersebut tepat di depan semua orang.
Sobekan kertas jatuh perlahan ke lantai.
Rendy menangis.
Ia mencoba berlutut.
“Kirana… maafkan aku.”
“Aku benar-benar menyesal.”
Aku menatapnya tanpa kebencian.
Hanya ada rasa selesai.
“Orang yang meminta maaf setelah kehilangan segalanya bukan sedang menyesali perbuatannya.”
“Dia hanya menyesali akibatnya.”
Tak ada lagi yang bisa ia katakan.
Enam bulan kemudian…
Aku melahirkan seorang bayi perempuan yang sehat.
Media nasional akhirnya mengetahui siapa pemilik Nusantara Prima Group.
Namun aku tetap memilih hidup sederhana.
Sebagian besar keuntungan perusahaan dialihkan untuk membangun rumah sakit ibu dan anak gratis di berbagai daerah.
Program itu diberi nama “Harapan Kirana.”
Suatu sore, saat menghadiri peresmian rumah sakit pertama, aku melihat seorang pria sedang menyapu halaman sebagai petugas kebersihan kontrak.
Rambutnya mulai kusut.
Tubuhnya jauh lebih kurus.
Itu Rendy.
Setelah dipecat, seluruh asetnya habis karena utang dan tuntutan hukum yang muncul akibat keterlibatannya dalam kasus Siska, meski ia akhirnya dinyatakan tidak menikmati hasil korupsi.
Ia bekerja keras hanya untuk menyambung hidup.
Ketika mata kami bertemu, ia segera menundukkan kepala.
Tidak ada lagi kesombongan.
Tidak ada lagi ambisi.
Hanya penyesalan yang tidak akan pernah bisa mengubah masa lalu.
Aku menggandeng putriku yang mulai belajar berjalan.
“Bu, apakah Bapak itu kenal Mama?” tanya pengasuh sambil tersenyum.
Aku memandang langit yang cerah.
“Dulu… pernah.”
“Lalu sekarang?”
Aku tersenyum tipis.
“Sekarang dia hanyalah seseorang yang pernah diberi kesempatan memiliki segalanya… tetapi memilih kehilangan semuanya karena kesombongannya sendiri.”
Aku terus melangkah tanpa menoleh lagi.
Karena balas dendam terbaik bukanlah membuat seseorang menderita.
Melainkan membuktikan bahwa hidupmu tetap bersinar, bahkan setelah mereka yakin telah memadamkan cahayamu.
