MANTAN MERTUA DAN KELUARGANYA DATANG SAAT PASKAH UNTUK MENGHINA KEBANGKRUTANKU SETELAH PERCERAIAN

Begitu mereka memasuki ruang tamu, keheningan yang canggung langsung menyelimuti seluruh ruangan.

Ibu Amara yang semula datang dengan kepala tegak kini beberapa kali menelan ludah. Pandangannya terus berkeliling. Lukisan-lukisan karya seniman ternama menghiasi dinding. Rak buku dari kayu walnut memenuhi salah satu sisi ruangan. Di sudut lain, sebuah piano grand berwarna hitam mengilap berdiri anggun.

Semuanya tampak asli, bukan pajangan yang disewa demi pencitraan.

Adrian mencoba mempertahankan harga dirinya.

“Kamu… pasti mendapatkan semua ini dari pria kaya yang menjadi simpananmu.”

Aku tersenyum kecil.

“Lucu sekali. Bahkan setelah bercerai, imajinasimu masih lebih berkembang daripada logikamu.”

Ibu Amara langsung menyela.

“Kalau bukan begitu, dari mana perempuan sepertimu bisa memiliki rumah sebesar ini?”

Aku belum sempat menjawab ketika seorang pria berjas memasuki ruangan.

“Selamat sore, Bu Kirana.”

Ia sedikit membungkuk hormat.

“Maaf mengganggu. Dokumen akuisisi dari Singapura sudah siap ditandatangani. Dewan direksi sedang menunggu keputusan Anda melalui konferensi video.”

Aku mengangguk pelan.

“Tolong beri mereka waktu lima belas menit.”

“Baik, Bu.”

Pria itu pergi.

Seluruh keluarga Adrian saling berpandangan.

Wajah Adrian berubah semakin pucat.

“Itu… siapa?”

“Direktur Operasional perusahaan saya.”

Suasana kembali membeku.

“Kamu punya… perusahaan?”

“Bukan hanya satu.”

Aku berjalan menuju meja kecil lalu meletakkan beberapa map di atasnya.

“Selama tujuh tahun menikah denganmu, setiap penghinaan ternyata memberiku banyak waktu untuk bekerja dalam diam.”

Aku membuka map pertama.

Di dalamnya terdapat laporan keuangan.

“Perusahaan teknologi.”

Map kedua.

“Perusahaan logistik.”

Map ketiga.

“Perusahaan investasi.”

Map keempat.

“Yayasan pendidikan.”

Ibu Amara mulai kehilangan keseimbangan.

“Tidak mungkin…”

Aku memandangnya tenang.

“Ada yang mustahil?”

Ia menggenggam map itu dengan tangan gemetar.

Angka-angka yang tercetak membuat wajahnya kehilangan warna.

Pendapatan tahunan grup usahaku ternyata beberapa kali lipat lebih besar daripada seluruh kekayaan keluarga mereka.

Adrian mendadak tertawa hambar.

“Kamu pasti memalsukan semua ini.”

Aku sama sekali tidak tersinggung.

Sebaliknya, aku mengambil remote televisi.

Layar besar di ruang tamu menyala.

Saluran berita ekonomi nasional sedang menyiarkan konferensi pers secara langsung.

Seorang pembawa acara berkata,

“Hari ini CEO Aurora Global Holdings akan mengumumkan investasi terbesar tahun ini…”

Beberapa detik kemudian fotoku muncul memenuhi layar.

Adrian membeku.

Ibu Amara hampir menjatuhkan gelas yang sedang dipegangnya.

Nama lengkapku terpampang jelas.

CEO dan Pendiri Aurora Global Holdings.

Perusahaan yang dalam beberapa bulan terakhir menjadi pembicaraan seluruh dunia bisnis.

“A… Aurora…”

Suara Adrian hampir tak terdengar.

“Itu perusahaan yang baru membeli tiga kawasan industri…”

Aku mengangguk.

“Benar.”

“Dan… pemiliknya kamu?”

Aku kembali mengangguk.

Selama ini media memang tak pernah memperlihatkan wajahku secara jelas.

Aku sengaja menjaga identitas agar perusahaan berkembang tanpa sensasi.

Karena itulah Adrian maupun keluarganya sama sekali tidak pernah menyadari siapa perempuan yang selama ini mereka hina setiap hari.

Ibu Amara tiba-tiba terduduk.

“Tidak…”

Air matanya mulai menggenang.

“Tidak mungkin…”

Aku tersenyum tipis.

“Masih ingat waktu Ibu pernah berkata bahwa aku hanya pandai memasak dan membersihkan rumah?”

Ia menundukkan kepala.

“Padahal setiap kali kalian menghadiri pesta keluarga, aku tinggal di rumah.”

“Aku memang tinggal.”

“Tetapi bukan untuk menangis.”

“Aku membangun perusahaan sampai dini hari.”

Adrian menggenggam kepalanya.

Semua potongan kenangan mulai tersusun.

Ia teringat setiap malam aku masih menatap laptop ketika ia pulang larut.

Ia mengira aku hanya bermain media sosial.

Padahal saat itu aku sedang menandatangani kontrak dengan investor luar negeri.

Ia teringat ketika aku beberapa kali pergi ke luar kota.

Ia mengira aku menghadiri seminar biasa.

Padahal aku sedang membuka cabang perusahaan.

Ia teringat setiap kali aku berkata sedang mengikuti pelatihan bisnis.

Ia bahkan menertawakanku.

Kini semuanya berubah menjadi tamparan keras.

Namun kejutan hari itu ternyata belum berakhir.

Ponselku berdering.

Aku mengangkatnya menggunakan pengeras suara.

“Selamat sore, Bu Kirana.”

Suara di seberang terdengar jelas.

“Kami dari Bank Nusantara ingin mengonfirmasi bahwa proses pengambilalihan seluruh pinjaman Grup Arta Sentosa telah selesai.”

Aku mengenali nama itu.

Grup Arta Sentosa.

Perusahaan keluarga Adrian.

Aku menjawab singkat.

“Baik.”

“Kirim seluruh berkasnya.”

Telepon ditutup.

Ruangan kembali sunyi.

Adrian berdiri perlahan.

“Waktu sebentar…”

“Grup Arta Sentosa…”

“Itu perusahaan keluargaku.”

Aku mengangguk.

“Benar.”

“Aku baru saja membeli seluruh utang perusahaan kalian.”

Kali ini bukan hanya wajah mereka yang pucat.

Seluruh tubuh mereka seperti kehilangan tenaga.

Ibu Amara berdiri tergesa.

“Kamu bercanda, kan?”

Aku menggeleng.

“Tidak.”

“Kondisi perusahaan keluarga kalian sebenarnya sudah buruk sejak dua tahun lalu.”

“Kalian hanya pandai mempertontonkan kemewahan.”

“Tetapi arus kas sudah lama bermasalah.”

Adrian langsung menoleh kepada ayahnya.

Ayahnya menutup mata.

Ia akhirnya mengaku.

“Benar…”

“Kita memang hampir bangkrut.”

“Kita menyembunyikannya dari semua orang.”

Ibu Amara langsung menatap suaminya dengan syok.

“Kau bilang semuanya baik-baik saja!”

Pria itu menghela napas panjang.

“Aku tidak ingin keluarga panik.”

Aku memandang mereka tanpa rasa dendam.

“Selama ini beberapa bank terus menolak memperpanjang kredit.”

“Akhirnya seluruh pinjaman dijual.”

“Dan perusahaan yang membelinya adalah milikku.”

Adrian tiba-tiba menghampiriku.

“Kirana…”

“Kalau begitu…”

“Kamu sekarang bisa mengambil seluruh aset kami?”

“Bisa.”

“Rumah.”

“Bisa.”

“Kantor.”

“Bisa.”

“Semua?”

“Ya.”

Tubuh Adrian bergetar.

Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, ia benar-benar ketakutan.

Namun tak lama kemudian ia berlutut.

“Kirana…”

“Aku salah.”

“Aku benar-benar menyesal.”

“Aku seharusnya tidak menceraikanmu.”

“Aku sadar sekarang…”

“Aku masih mencintaimu.”

Aku memandangnya datar.

“Yang kamu cintai bukan aku.”

“Lalu siapa?”

“Kekayaanku.”

Ia langsung terdiam.

Kalimat itu menghantamnya jauh lebih keras daripada bentakan apa pun.

Tak lama kemudian Ibu Amara ikut berlutut.

Air matanya jatuh tanpa henti.

“Kirana…”

“Ibu mohon.”

“Jangan hancurkan keluarga kami.”

“Ibu mengakui selama ini Ibu salah.”

“Ibu terlalu sombong.”

“Ibu menghina orang yang sebenarnya jauh lebih hebat daripada kami.”

“Ampunilah kami.”

Aku mengangkat napas perlahan.

Di luar jendela, cahaya matahari mulai berubah keemasan.

Hari Paskah perlahan mendekati senja.

Persis seperti yang mereka katakan dalam pesan singkat itu.

Mereka datang untuk memastikan apakah aku masih bisa makan.

Kini justru mereka yang memohon agar tetap bisa bertahan hidup.

Aku melangkah mendekati jendela.

Beberapa detik aku hanya memandangi langit.

Lalu aku berbalik.

“Kalian tahu apa arti Paskah bagiku?”

Tak seorang pun menjawab.

“Paskah adalah tentang kebangkitan.”

“Bukan tentang balas dendam.”

Semua mata menatapku.

“Aku bisa mengambil seluruh aset kalian hari ini.”

“Aku juga bisa membuat nama keluarga kalian hancur sebelum matahari terbenam.”

“Tetapi aku tidak akan melakukannya.”

Mereka mengangkat kepala bersamaan.

Ekspresi mereka dipenuhi harapan.

Aku melanjutkan,

“Aku akan memberikan kesempatan.”

“Tetapi bukan secara cuma-cuma.”

Aku mengeluarkan satu map terakhir.

“Ini adalah perjanjian restrukturisasi.”

“Kalian tetap dapat menjalankan perusahaan.”

“Namun seluruh saham pengendali menjadi milik Aurora Global.”

“Kalian harus bekerja sebagai profesional.”

“Bukan sebagai keluarga kaya yang merasa dunia berutang hormat.”

Air mata Ibu Amara kembali mengalir.

“Kamu… masih mau menolong kami?”

Aku tersenyum tipis.

“Aku tidak sedang menolong.”

“Aku sedang berinvestasi pada perusahaan yang masih bisa diselamatkan.”

“Lagipula…”

Aku berhenti sejenak.

“Pelajaran yang paling mahal bukanlah kehilangan uang.”

“Melainkan kehilangan kesombongan.”

Mereka menandatangani dokumen itu satu per satu.

Tepat ketika pena terakhir menyentuh kertas, matahari tenggelam di ufuk barat.

Sesuai ramalan yang tak pernah mereka bayangkan.

Sebelum matahari terbenam, seluruh keluarga yang datang untuk menghinaku benar-benar telah berlutut memohon ampun.

Namun kejutan terbesar justru datang beberapa menit setelah mereka hendak pulang.

Direktur Operasional kembali masuk dengan wajah sedikit bingung.

“Bu Kirana.”

“Ada tamu yang bersikeras ingin bertemu.”

“Katanya beliau adalah pendiri asli Aurora Global.”

Seluruh ruangan langsung terdiam.

Aku mengernyit.

“Itu tidak mungkin.”

Pintu utama perlahan terbuka.

Seorang pria tua berusia sekitar tujuh puluh tahun berjalan masuk dengan tongkat kayu sederhana.

Begitu melihat wajahnya, darahku seolah berhenti mengalir.

“Lelaki itu…”

Aku berbisik lirih.

“Ayah…”

Padahal selama dua puluh lima tahun, semua orang—termasuk ibuku—percaya bahwa beliau telah meninggal dalam kecelakaan kapal.

Pria tua itu menatapku dengan mata yang berkaca-kaca.

“Ayah tidak pernah meninggal, Kirana.”

“Ayah sengaja menghilang… karena ada seseorang yang selama ini berusaha membunuh keluarga kita demi menguasai seluruh warisan.”

Aku membeku.

Ruangan yang tadi dipenuhi kisah penghinaan mendadak berubah menjadi awal dari rahasia yang jauh lebih besar.

Dan saat itu aku sadar…

Selama ini aku bukan sedang membangun akhir dari penderitaanku.

Aku baru saja membuka pintu menuju babak paling berbahaya dalam hidupku.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang