PETANI DI MAL

Panen tahun itu menjadi salah satu panen terbaik yang pernah dialami Pak Ambo. Hamparan sawahnya di Nueva Ecija menghasilkan gabah yang melimpah, sementara ladang jagungnya juga memberikan keuntungan yang jauh lebih besar dibanding tahun-tahun sebelumnya. Namun, siapa pun yang melihat penampilannya hari itu tidak akan pernah menyangka bahwa pria tua berusia enam puluh lima tahun itu adalah salah satu petani paling berhasil di daerahnya.

Sepatu bot karetnya masih dipenuhi lumpur yang mulai mengering. Celana jins tuanya tampak kusam karena sering dipakai bekerja di sawah. Kemeja lengan panjang berwarna cokelat sudah mulai memudar, sementara caping bordir kesayangannya masih bertengger di kepala. Baginya, pakaian hanyalah pelindung tubuh ketika bekerja. Ia tidak pernah merasa perlu mengenakan barang-barang mahal hanya untuk mendapatkan penghormatan dari orang lain.

Sebelum pulang ke rumah, ia memutuskan mampir ke Makati. Hari itu adalah hari ulang tahun pernikahannya yang keempat puluh bersama istrinya, Lina. Sejak muda, Lina selalu mendampinginya melewati masa-masa sulit. Ketika sawah gagal panen karena banjir, ketika harga gabah jatuh, bahkan ketika mereka harus menjual hampir semua perhiasan demi membeli bibit baru, perempuan itu tidak pernah mengeluh.

Kini, setelah kehidupan mereka jauh lebih baik, Pak Ambo ingin memberikan sesuatu yang istimewa.

Ia mendengar tentang sebuah butik mewah bernama Lusso & Co. yang terkenal menjual gaun rancangan desainer ternama. Tanpa ragu, ia masuk ke pusat perbelanjaan yang dipenuhi lampu kristal, lantai marmer mengilap, dan etalase penuh barang-barang mewah.

Beberapa orang langsung melirik ke arahnya.

Ada yang menahan tawa.

Ada pula yang menutup hidung seolah-olah bau lumpur dari sepatunya akan mengotori seluruh mal.

Pak Ambo hanya tersenyum kecil.

Ia sudah terlalu sering diremehkan sepanjang hidupnya. Tatapan seperti itu bukan lagi hal baru.

Begitu memasuki butik, suasana berubah semakin canggung.

Para pegawai saling berbisik.

“Itu salah masuk toko, ya?”

“Kayaknya habis dari sawah.”

“Satpam kok bisa membiarkan orang begini masuk?”

Cindy, supervisor penjualan yang terkenal galak, segera menghampiri.

Dengan senyum yang dibuat-buat, ia berkata, “Maaf, Pak. Di sini bukan tempat meminta-minta.”

Pak Ambo tetap tersenyum.

“Saya tidak meminta apa pun, Mbak. Saya ingin membeli hadiah untuk istri saya.”

Cindy terkekeh.

“Hadiah?”

“Ya.”

“Bapak tahu harga barang di sini?”

“Saya belum melihatnya.”

“Gaun yang Bapak pegang itu harganya lima puluh ribu peso.”

Pak Ambo mengangguk pelan.

“Oh begitu.”

Reaksi itu justru membuat Cindy semakin kesal.

Ia berharap pria tua itu langsung pergi setelah mendengar harganya.

Namun Pak Ambo tetap memperhatikan gaun merah yang tergantung di etalase.

“Warnanya cantik sekali,” gumamnya. “Istri saya suka warna merah.”

Saat tangannya menyentuh kain gaun itu, Cindy langsung menepisnya.

“Jangan disentuh!”

Suara keras itu membuat seluruh butik terdiam.

“Kalau kotor bagaimana? Apa Bapak sanggup mengganti?”

Beberapa pelanggan mulai menoleh.

Seorang perempuan muda berbisik kepada temannya.

“Kasihan sekali.”

Namun tak seorang pun berani membela.

Cindy segera memanggil petugas keamanan.

Tak lama kemudian seorang satpam bernama Ramon datang.

Ia memandang Pak Ambo dengan wajah ragu.

Berbeda dengan Cindy, Ramon berasal dari keluarga petani. Ia mengenali lumpur yang menempel di sepatu Pak Ambo. Lumpur seperti itu bukanlah sesuatu yang memalukan baginya.

Dengan sopan ia berkata, “Maaf, Pak. Saya diminta mengantar Bapak keluar.”

Pak Ambo mengangguk.

“Saya mengerti. Kamu hanya menjalankan tugas.”

Tidak ada kemarahan.

Tidak ada teriakan.

Sikap tenangnya justru membuat Ramon merasa bersalah.

Saat mereka hampir keluar, seorang perempuan tua yang sedang duduk di ruang tunggu butik tiba-tiba berdiri.

Ia memperhatikan Pak Ambo sejak awal.

Perempuan itu mengenakan pakaian sederhana meski membawa tas bermerek.

“Pak,” katanya pelan.

Pak Ambo menoleh.

“Apa benar Bapak ingin membeli gaun itu untuk istri Bapak?”

“Iya.”

“Kenapa tidak marah diperlakukan seperti ini?”

Pak Ambo tersenyum.

“Karena kemarahan tidak membuat hati seseorang berubah.”

Perempuan itu terdiam.

Jawaban sederhana itu terasa begitu tulus.

Belum sempat percakapan berlanjut, Cindy menyela.

“Bu, jangan percaya. Orang seperti ini cuma cari perhatian.”

Perempuan tua itu menatap Cindy tajam.

“Siapa bilang?”

“Ya jelas kelihatan.”

“Kelihatan dari mana?”

“Pakaiannya.”

Perempuan itu tidak menjawab lagi.

Ia hanya kembali duduk sambil terus memperhatikan.

Di luar butik, Ramon berkata pelan.

“Pak, saya minta maaf.”

Pak Ambo menepuk bahunya.

“Kamu tidak salah.”

“Tapi…”

“Orang baik tetap bisa terjebak menjalankan perintah yang salah.”

Kalimat itu membuat Ramon semakin tidak enak hati.

Sebelum Pak Ambo benar-benar pergi, sebuah mobil hitam berhenti di depan butik.

Dua pria berpakaian rapi turun tergesa-gesa.

Mereka langsung mencari seseorang.

Begitu melihat Pak Ambo, keduanya membungkuk hormat.

“Selamat siang, Pak Ambo.”

Semua orang membeku.

Cindy mengernyit.

“Siapa mereka?”

Salah satu pria berkata, “Maaf kami terlambat. Rapat dengan koperasi selesai lebih lama dari perkiraan.”

Pak Ambo hanya tersenyum.

“Tidak apa-apa.”

“Kami sudah membawa dokumen yang Bapak minta.”

Pria itu menyerahkan sebuah map kulit.

Logo perusahaan agribisnis terbesar di Filipina terlihat jelas di sampulnya.

Ramon ikut terkejut.

Ia pernah melihat logo itu di televisi.

Perusahaan tersebut baru saja mengumumkan investasi miliaran peso untuk pengembangan pertanian modern.

Cindy mulai gelisah.

Ia memperhatikan cara kedua pria itu memperlakukan Pak Ambo.

Bukan seperti pelanggan biasa.

Melainkan seperti seseorang yang sangat dihormati.

Salah satu pria kemudian berkata dengan suara cukup keras hingga terdengar ke dalam butik.

“Pak Direktur sudah menunggu Bapak untuk menandatangani kerja sama pembangunan pusat pelatihan petani.”

Direktur?

Semua pelanggan saling berpandangan.

Cindy langsung pucat.

Pak Ambo tertawa kecil.

“Saya hampir lupa. Tapi sebelum itu saya ingin membeli hadiah untuk istri saya.”

“Baik, Pak.”

Kedua pria itu langsung mengajak Pak Ambo kembali masuk ke butik.

Kini suasananya berubah seratus delapan puluh derajat.

Pegawai yang tadi mencibir mendadak membungkuk.

Manajer butik berlari keluar dari ruang kantor setelah mendengar keributan.

“Ada apa ini?”

Begitu melihat kedua pria tersebut, wajahnya berubah.

Ia mengenali mereka sebagai petinggi perusahaan yang selama ini menjadi pelanggan eksklusif butik.

“Selamat datang, Pak.”

Cindy mulai gemetar.

Manajer bertanya pelan, “Kenapa tamu penting ini belum dilayani?”

Tak seorang pun berani menjawab.

Ramon berdiri di samping pintu sambil memperhatikan semuanya.

Ia tahu, sesuatu yang besar akan segera terjadi.

Dan ia merasa kisah hari itu belum benar-benar dimulai.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang