Aku tidak pernah menyangka bahwa keputusan yang kuambil dalam waktu kurang dari sepuluh menit akan menghancurkan seluruh hidupku.
Ketika Lorena mengancam akan pergi membawa kedua anak kami jika ibuku tidak diusir hari itu juga, aku merasa seolah sedang berdiri di tepi jurang. Di satu sisi ada perempuan yang telah mengandung, melahirkan, dan membesarkanku seorang diri. Di sisi lain ada istri dan anak-anak yang selama ini kuanggap sebagai masa depanku.
Aku memilih masa depan, tanpa sadar sedang membuang akar yang menopang hidupku.
Saat notaris itu membuka map kulit tua milik ibuku, suasana rumah berubah sunyi. Bahkan Lorena yang tadi masih tersenyum penuh kemenangan mulai terlihat gelisah.
“Perkenalkan,” kata pria berjas hitam itu dengan tenang. “Nama saya Arif Rahman, notaris yang ditunjuk oleh almarhum Bapak Surya Wijaya untuk menangani dokumen ini.”
Aku mengernyit.
“Bapak Surya?”
Aku sama sekali tidak mengenal nama itu.
Notaris membuka beberapa lembar dokumen yang tampak sudah disimpan bertahun-tahun.
“Rumah ini secara hukum bukan milik Saudara ataupun istri Saudara. Pemilik sah rumah ini adalah Ibu Clara Santoso.”
Lorena langsung memotong.

“Itu tidak mungkin! Sertifikat rumah atas nama suami saya!”
Notaris menggeleng.
“Sertifikat yang Anda lihat hanyalah hak pakai yang diberikan sementara. Kepemilikan penuh tetap berada di tangan Ibu Clara.”
Dadaku mulai sesak.
“Tapi… bagaimana bisa?”
Pria itu menarik napas panjang.
“Dua puluh lima tahun lalu, almarhum Bapak Surya membeli rumah ini atas nama Ibu Clara sebagai bentuk rasa terima kasih karena beliau pernah menyelamatkan nyawanya saat mengalami kecelakaan.”
Aku benar-benar terkejut.
Ibuku tidak pernah menceritakan hal itu.
“Beliau juga meninggalkan sebuah wasiat.”
Tangannya membuka halaman berikutnya.
“Apabila suatu hari Ibu Clara diusir, dipaksa meninggalkan rumahnya sendiri, atau diperlakukan tidak manusiawi oleh ahli waris yang diberi hak tinggal, maka seluruh hak pakai otomatis dicabut. Semua penghuni wajib mengosongkan rumah dalam waktu empat puluh delapan jam.”
Lorena memucat.
“Apa maksudnya?”
“Artinya, mulai detik Ibu Clara keluar dari rumah karena dipaksa, Saudara berdua sudah tidak lagi memiliki hak tinggal di sini.”
Lorena berdiri sambil berteriak.
“Ini penipuan!”
Notaris hanya menyerahkan salinan putusan pengadilan yang telah dilegalisasi.
“Semuanya telah didaftarkan sejak lima belas tahun lalu.”
Aku tidak mampu berkata apa-apa.
Tiba-tiba aku teringat bagaimana selama bertahun-tahun ibuku selalu menolak ketika aku ingin mengurus balik nama rumah.
Beliau hanya berkata, “Belum waktunya.”
Sekarang aku mengerti alasannya.
Lorena mulai panik.
“Kita masih bisa bicara dengan ibu tua itu. Dia pasti mau memaafkan.”
Aku langsung berlari keluar rumah.
Hujan masih turun deras.
Aku menyusuri jalan sambil memanggil nama ibuku.
“Bu! Ibu!”
Tidak ada jawaban.
Aku pergi ke halte, ke taman kecil dekat kompleks, bahkan ke mushola tempat beliau biasa salat.
Tidak ada.
Malam itu aku baru mengetahui bahwa beliau telah dijemput sebuah limusin hitam beberapa menit setelah meninggalkan rumah.
Aku tidak tahu harus mencari ke mana.
Hari berikutnya, kami menerima surat resmi bahwa rumah harus dikosongkan.
Lorena mulai marah kepadaku.
“Semua ini salah ibumu!”
Aku menatapnya dengan tatapan yang berbeda untuk pertama kalinya.
“Bukan. Semua ini salah kita.”
“Tidak! Kalau ibumu normal, dia pasti bilang rumah ini miliknya.”
“Ibu tidak pernah ingin membuatku merasa berutang.”
Lorena mendengus.
“Itu urusan dia.”
Hari itu juga aku mulai melihat sisi Lorena yang selama ini kutolak untuk kuakui.
Ia tidak pernah menanyakan apakah ibuku sudah makan.
Ia tidak pernah peduli saat ibuku demam.
Ia hanya memikirkan kenyamanannya sendiri.
Anehnya, baru setelah ibuku pergi, mataku benar-benar terbuka.
Kami akhirnya pindah ke sebuah rumah kontrakan kecil.
Lorena terus mengeluh.
“Dulu kita punya rumah besar.”
“Dulu kita punya halaman.”
“Dulu anak-anak punya kamar masing-masing.”
Setiap keluhan itu menusuk hatiku.
Sebulan berlalu tanpa kabar tentang ibuku.
Aku melapor ke polisi.
Aku menghubungi rumah sakit.
Aku mencari ke panti jompo.
Hasilnya nihil.
Suatu sore, sebuah amplop tiba di kontrakan kami.
Di dalamnya hanya ada sebuah foto.
Foto ibuku sedang tersenyum di sebuah kebun bunga yang indah.
Di belakang foto tertulis satu kalimat.
“Aku baik-baik saja. Jangan mencariku sebelum kamu benar-benar mengerti arti keluarga.”
Aku menangis sepanjang malam.
Sejak saat itu aku berubah.
Aku bekerja lebih keras.
Aku mulai mengantar anak-anak sekolah sendiri.
Aku belajar memasak.
Aku berhenti membiarkan Lorena memperlakukan orang lain dengan semena-mena.
Namun perubahan itu justru membuat rumah tanggaku semakin retak.
Suatu malam Lorena berkata dengan dingin.
“Kamu sudah tidak seperti dulu.”
“Aku memang berubah.”
“Aku tidak suka.”
“Aku juga tidak suka menjadi laki-laki yang mengusir ibunya sendiri.”
Lorena terdiam.
Beberapa minggu kemudian aku menemukan bukti bahwa selama ini Lorena diam-diam menggunakan kartu kredit atas namaku untuk memenuhi gaya hidupnya.
Jumlah utangnya sangat besar.
Saat kutanya baik-baik, ia malah menyalahkanku.
“Kalau kamu menghasilkan lebih banyak uang, aku tidak perlu berutang.”
Hari itu kesabaranku habis.
Kami resmi bercerai enam bulan kemudian.
Hak asuh anak diberikan bersama karena hakim menilai kami sama-sama mencintai mereka.
Meski begitu, anak-anak memilih lebih sering tinggal bersamaku.
Mereka sering bertanya.
“Ayah, kapan kita bertemu Nenek?”
Aku tidak pernah punya jawaban.
Satu tahun berlalu.
Aku benar-benar berubah menjadi pribadi yang berbeda.
Aku menjadi sukarelawan di panti lansia setiap akhir pekan.
Aku membantu orang-orang tua yang ditinggalkan keluarganya.
Entah kenapa, setiap melihat wajah mereka, aku selalu melihat wajah ibuku.
Suatu hari, pengurus panti berkata kepadaku.
“Ada seseorang ingin bertemu Anda.”
Aku menoleh.
Seorang wanita tua duduk membelakangiku.
Jantungku berdegup sangat kencang.
“Ibu?”
Beliau perlahan berdiri.
Memang benar.
Itu ibuku.
Tanpa berpikir panjang aku berlutut sambil memeluk kedua kakinya.
“Maafkan aku, Bu… maafkan aku…”
Aku menangis seperti anak kecil.
Beliau mengusap rambutku.
“Sudah selesai menangisnya?”
“Aku pantas dibenci.”
“Tidak.”
“Aku mengusir Ibu.”
“Kamu hanya sedang tersesat.”
Aku semakin menangis.
“Ibu… kenapa Ibu menghilang selama setahun?”
Beliau tersenyum lembut.
“Karena kalau Ibu langsung memaafkanmu, kamu tidak akan pernah belajar.”
Aku terdiam.
Beliau kemudian mengajakku naik mobil menuju sebuah kawasan perumahan yang sangat tenang.
Di sana berdiri sebuah rumah sederhana tetapi indah.
“Aku tinggal di sini sekarang.”
“Rumah siapa ini?”
“Ibu membelinya.”
“Dengan uang dari mana?”
Beliau tertawa kecil.
“Lelaki yang dulu menolong Ibu ternyata bukan orang biasa. Sebelum meninggal, dia juga meninggalkan beberapa investasi atas nama Ibu. Selama ini Ibu tidak pernah menyentuhnya.”
Aku benar-benar tidak tahu.
“Ibu sengaja hidup sederhana supaya kamu belajar menghargai usaha, bukan harta.”
Kami duduk di teras.
Beliau menggenggam tanganku.
“Rumah lama sudah Ibu sumbangkan.”
Aku terkejut.
“Disumbangkan?”
“Ya. Sekarang menjadi rumah singgah untuk para lansia yang ditelantarkan keluarganya.”
Air mataku kembali jatuh.
“Ibu…”
“Kamu tahu kenapa?”
Aku menggeleng.
“Karena tidak ada orang tua yang pantas diusir dari rumah yang penuh kenangan.”
Beberapa bulan kemudian aku ikut menjadi pengelola rumah singgah itu.
Setiap hari aku melihat begitu banyak ayah dan ibu yang ditinggalkan anak-anak mereka.
Setiap kali ada keluarga datang untuk meminta maaf dan menjemput orang tua mereka, aku selalu berharap kisah mereka berakhir lebih cepat daripada kisahku.
Suatu sore, anak sulungku bertanya kepada neneknya.
“Nek, apakah Nenek masih marah kepada Ayah?”
Ibuku tersenyum sambil memandangku.
“Kalau hati dipenuhi dendam, tidak akan ada ruang untuk kasih sayang.”
Anakku lalu memelukku.
“Ayah jangan menangis lagi.”
Aku tersenyum di antara air mata.
Hari itu aku akhirnya memahami sesuatu yang dulu tidak pernah kupahami.
Rumah bukanlah bangunan yang diwariskan kepada anak.
Rumah adalah hati seorang ibu yang, bahkan setelah dihancurkan oleh anaknya sendiri, masih mampu membuka pintunya untuk menyambut kepulangan orang yang telah menyakitinya.
