Bab 1: Transformasi Sang “Dewa”
Seminggu kemudian, saat mentari pagi menembus tirai sutra di kamar utama mansion mewah mereka, Donya Trixie terbangun dengan jeritan yang membelah keheningan. Sir Bojie melompat dari ranjang, tangannya refleks meraba udara, mengira ada perampok yang masuk.
“Trixie! Ada apa? Apa Lord Voldemort digigit nyamuk?”
Trixie hanya bisa menunjuk ke arah bantal bulu angsa di sampingnya dengan jari yang gemetar. Di sana, di atas kain satin yang harganya lebih mahal dari gaji bulanan seorang manajer, bukan lagi sesosok makhluk merah muda keriput yang mereka dapati.

Di sana, seekor kucing dengan bulu lebat, kasar, dan berwarna abu-abu kusam yang tidak beraturan sedang duduk menatap mereka dengan tatapan yang sangat… biasa saja. Tidak ada lagi aura “Sphynx aristokrat”. Yang tersisa hanyalah kucing kampung dengan bekas kudis yang sudah mengering di sekujur tubuhnya, membentuk pola-pola aneh yang membuatnya tampak seperti peta buta.
“Voldemort?” gumam Bojie tidak percaya. “Kenapa dia… dia berbulu?”
Kucing itu mengeong—suara nyaring, parau, dan tipikal kucing pasar yang sering mereka dengar di balik pagar perumahan. “Meoooong! Meoooong!”
Bab 2: Krisis Identitas dan Skandal Sosial
“Ini tidak mungkin,” Trixie hampir menangis sambil memegangi syal Hermes-nya yang kini penuh dengan bulu kucing murah. “Kita sudah menghabiskan tiga puluh juta rupiah untuk sashimi dan Wagyu! Kita menyalakan AC 24 jam! Dia seharusnya menjadi investasi masa depan kita, sebuah simbol status!”
Mereka segera memanggil dokter hewan paling ternama di ibu kota. Dokter tersebut datang dengan jas putih bersih, memeriksa kucing itu selama sepuluh detik, lalu tertawa terbahak-bahak hingga kacamata emasnya merosot.
“Tuan dan Nyonya, ini bukan Sphynx. Ini adalah kucing kampung lokal, Felis catus biasa, yang menderita kudis parah dan malnutrisi hebat. Makanan mewah kalian justru yang menyelamatkan sistem imunnya, sehingga bulunya tumbuh kembali dengan cepat.”
Trixie hampir pingsan. Harga diri mereka hancur. Bayangkan, mereka yang selalu pamer di media sosial tentang “kucing eksotis” mereka, kini harus menghadapi kenyataan bahwa mereka telah memanjakan seekor kucing jalanan dengan pelayanan bintang lima.
“Buang dia, Bojie!” perintah Trixie dingin. “Buang dia ke jalanan sekarang juga. Aku tidak sudi melihat makhluk ini di dalam rumahku lagi.”
Bab 3: Teror Malam yang Tak Terduga
Malam itu, Bojie membawa “Voldemort” ke sebuah taman kota yang jauh dari rumah mereka. Dengan berat hati—karena jujur saja, kucing itu sudah terlanjur manja dan tidur di pangkuannya setiap malam—Bojie melepaskannya.
“Pergilah, Voldemort. Maafkan kami yang sombong ini.”
Bojie pulang dengan perasaan lega sekaligus hampa. Namun, keanehan dimulai saat ia sampai di rumah. Rumah mereka yang luas itu terasa sunyi, namun anehnya, ada bau amis yang menyengat di setiap sudut.
Trixie berlari turun dari tangga, wajahnya pucat pasi. “Bojie! Lihat ke lemari perhiasanku!”
Pintu brankas mereka terbuka lebar. Namun, bukan uang atau emas yang hilang. Seluruh koleksi berlian Trixie masih ada di sana. Yang hilang hanyalah… kalung-kalung kucing. Dan yang lebih mengerikan, di atas meja rias, terdapat tumpukan bulu kucing yang sengaja disusun membentuk sebuah simbol aneh yang mirip dengan mata kucing.
Tiba-tiba, suara mengeong bergema dari seluruh sudut rumah. Bukan dari satu arah, melainkan dari sela-sela dinding, dari plafon, dan dari bawah lantai.
Meong… Meong…
Bab 4: Konspirasi Kucing Jalanan
Trixie dan Bojie terkunci di ruang tamu. Pintu otomatis mereka tidak bisa dibuka. Listrik padam. Dalam kegelapan, mereka melihat ribuan pasang mata hijau berpendar di luar jendela.
Kucing-kucing jalanan dari seluruh kota—semua kucing yang pernah mereka usir, semua kucing yang mereka pandang rendah saat mereka sedang memamerkan kemewahan di atas mobil mewah mereka—kini berkumpul di halaman mansion.
Dan di depan pintu masuk, berdiri Lord Voldemort. Namun, dia tidak lagi sendirian. Dia berdiri tegak, seolah-olah menjadi pemimpin dari pasukan kucing tersebut. Dengan satu gerakan tangan (yang kini tampak seperti memberikan komando), pintu mansion itu jebol.
Bukan karena kekuatan fisik, tapi karena ribuan kucing itu secara bersamaan menekan tuas dan menggerogoti kabel listrik di luar.
Voldemort masuk ke ruang tamu dengan langkah yang sangat anggun, jauh berbeda dari saat ia masih sakit. Ia menatap Trixie dan Bojie bukan lagi sebagai majikan, melainkan sebagai… pelayan.
Bab 5: Pembalikan Nasib
Keesokan harinya, para tetangga dikejutkan dengan pemandangan yang tidak masuk akal. Mansion Trixie dan Bojie kini berubah menjadi “Pusat Rehabilitasi Kucing Terlantar”.
Trixie dan Bojie, yang dulunya adalah sosialita yang memuja kemewahan, kini terlihat mengenakan seragam lusuh. Mereka sedang membersihkan kotoran kucing, menyiapkan makan siang berupa ikan murah, dan menyikat bulu-bulu ribuan kucing yang kini menguasai rumah mereka.
Lord Voldemort duduk di kursi utama—kursi yang dulunya adalah tempat duduk favorit Trixie. Ia memakai kalung berlian milik Trixie yang paling mahal.
Kucing itu tidak berubah menjadi dewa, bukan pula mutan. Ia tetaplah kucing kampung biasa. Namun, ia adalah kucing yang cerdas. Selama seminggu dipelihara oleh keluarga tersebut, ia memperhatikan bagaimana Trixie dan Bojie mengatur segalanya. Ia belajar bahwa manusia hanyalah makhluk yang bisa dikendalikan jika mereka diberikan rasa “eksklusivitas”.
Voldemort tidak melakukan sihir. Ia hanya menggunakan instingnya untuk memanggil kawanannya, dan menggunakan kepanikan Trixie serta Bojie yang takut akan gosip sosialita untuk menekan mereka.
Trixie dan Bojie kini hidup dalam ketakutan. Jika mereka berhenti melayani kucing-kucing tersebut, Voldemort akan mengeong dengan nada tertentu—sebuah sinyal—dan ribuan kucing itu akan mencakar semua koleksi tas mewah Trixie hingga hancur berkeping-keping.
Di sudut ruangan, Trixie menatap Voldemort dengan mata berkaca-kaca. “Bojie… apakah ini karma?”
Bojie hanya bisa menghela napas sambil terus membersihkan lantai yang penuh bulu. “Mungkin ini pelajaran, Sayang. Kita ingin memelihara raja, tapi kita malah menjadi budak dari rakyat jelata.”
Kisah ini pun berakhir dengan sebuah ironi yang getir: keluarga miliarder tersebut kini menjadi pengasuh kucing paling setia di dunia, sementara Lord Voldemort, kucing kampung penyandang kudis, kini menjadi penguasa sah dari mansion seharga puluhan miliar itu.
Dan di setiap malam, Voldemort akan duduk di teras, menatap bulan, seolah berkata kepada seluruh kucing di dunia: “Jangan pernah membiarkan manusia berpikir bahwa kitalah yang membutuhkan mereka. Sebenarnya, merekalah yang membutuhkan kita untuk merasa penting.”
Selesai.
