Di tengah hiruk-pikuk lobi rumah sakit yang mewah dan berbau antiseptik, teriakan satpam itu memicu perhatian para pengunjung. Karding, dengan pakaian yang kumal dan berlumuran lumpur, tidak bergeming. Ia memeluk tas kulit hitam itu erat-erat di dadanya, seolah-olah itu adalah nyawa anaknya sendiri.
“Saya harus bertemu Dr. Arthur Gomez!” teriak Karding, suaranya serak karena dingin. “Saya punya miliknya!”

Satpam itu tertawa sinis, hendak menyeret Karding keluar. Namun, sebelum tangannya menyentuh bahu Karding, sebuah pintu ruangan di ujung koridor terbuka. Seorang pria paruh baya dengan jas putih yang tampak lelah keluar dari ruangan tersebut. Dialah Dr. Arthur Gomez.
“Ada apa ini?” tanya Dr. Arthur dengan suara berat.
Karding tidak menunggu. Ia menerobos paksa dari cengkeraman satpam dan bersujud di kaki sang dokter. Dengan tangan gemetar, ia menyodorkan tas kulit tersebut.
“Dokter… tas ini tertinggal di kedai kopi. Saya tidak membukanya, saya hanya ingin mengembalikannya karena anak saya diajarkan untuk jujur, meski kami sedang sekarat,” ucap Karding lirih.
Dr. Arthur terpaku. Ia membuka tas itu sebentar, melihat tumpukan uangnya masih utuh, lalu menatap Karding. Tatapannya beralih ke gerobak di belakang Karding, tempat Bongbong terbaring lemah, matanya terpejam dengan napas yang satu-satu.
Wajah dokter itu berubah. Ia mengenali gerobak itu. Ia ingat kejadian beberapa jam lalu saat perawatnya menolak pasien itu dengan alasan kebijakan rumah sakit.
“Siapa nama anak ini?” tanya Dr. Arthur.
“Bongbong, Dok,” jawab Karding takut-takut.
Tanpa berkata sepatah kata pun, Dr. Arthur berteriak ke arah perawat, “Siapkan ruang ICU terbaik sekarang! Berikan perawatan penuh, tanpa syarat apa pun!”
Karding menangis haru. Harapan itu akhirnya datang. Bongbong segera dilarikan ke dalam. Malam itu, Karding tidur di lantai koridor rumah sakit, merasa bahwa dunia akhirnya berpihak padanya.
Tiga hari kemudian, Bongbong sudah sadar. Ia duduk di tempat tidur rumah sakit yang empuk, menikmati bubur hangat. Dr. Arthur masuk ke ruangan dengan senyum lebar.
“Karding,” panggilnya. “Kamu telah menunjukkan kejujuran yang jarang saya temui. Uang itu sebenarnya adalah dana darurat rumah sakit yang akan saya gunakan untuk pembangunan sayap baru. Karena kejujuranmu, saya ingin memberikanmu hadiah.”
Dr. Arthur mengeluarkan sebuah cek. “Ini 100.000 peso. Untuk biaya hidupmu. Dan saya ingin menawarkanmu pekerjaan sebagai staf pemeliharaan di sini. Kamu tidak perlu lagi memulung.”
Karding merasa dunianya berubah 180 derajat. Ia menangis tersedu-sedu, berterima kasih berkali-kali.
Namun, di balik senyum lebar Dr. Arthur, ada sesuatu yang ganjil. Dokter itu terus menatap jam tangannya, tampak cemas, dan sering melirik ke arah pintu ruang rawat Bongbong.
Seminggu kemudian, saat Bongbong hendak diperbolehkan pulang, Dr. Arthur mengundang Karding ke ruangannya.
“Karding, anakmu sudah pulih sepenuhnya berkat ‘perawatan khusus’ yang kami berikan,” ucap Dr. Arthur.
“Terima kasih banyak, Dok. Saya tidak tahu harus membalas budi bagaimana lagi,” jawab Karding.
Dr. Arthur tersenyum tipis. “Sebenarnya, ada satu syarat. Kami telah melakukan tes medis lengkap pada Bongbong selama dia dirawat. Kami menemukan sesuatu yang langka dalam darahnya. Dia memiliki antibodi yang sangat unik, sesuatu yang bisa menyelamatkan ribuan nyawa pasien kami yang sakit parah.”
Karding mengerutkan kening. “Apa maksudnya, Dok?”
“Kami hanya perlu mengambil sedikit sampel darah dan sumsum tulang belakangnya secara rutin setiap bulan. Sebagai imbalannya, kamu dan anakmu akan tinggal di apartemen milik rumah sakit, dan Bongbong akan disekolahkan di sekolah terbaik.”
Karding merasa ini adalah berkah. Ia menyetujuinya tanpa curiga sedikit pun.
Enam bulan berlalu. Hidup Karding tampak sempurna. Namun, ia mulai menyadari keanehan. Bongbong semakin kurus. Rambutnya mulai rontok, dan ia sering tampak linglung. Setiap kali Karding bertanya pada pihak rumah sakit, mereka hanya menjawab, “Itu efek samping dari pengobatan rutinnya.”
Suatu malam, Karding terbangun karena mendengar suara aneh dari ruang arsip bawah tanah rumah sakit saat ia sedang berjalan pulang dari shift kerjanya. Pintu itu sedikit terbuka.
Karding mengintip. Ia melihat Dr. Arthur sedang berbicara dengan seorang pria berpakaian hitam di ruang yang penuh dengan tabung-tabung kaca.
“Sampel darah anak itu sangat berharga,” kata pria berpakaian hitam itu. “Pasien di luar negeri berani membayar jutaan dolar untuk ‘serum pemuda abadi’ yang kita ekstrak dari sumsumnya.”
Jantung Karding berhenti berdetak. Ia bukan diselamatkan karena belas kasihan. Bongbong dijadikan tambang emas biologis.
Karding gemetar hebat. Ia ingin mendobrak masuk, namun ia tahu ia akan mati seketika. Ia teringat kembali pada hari ia menemukan tas itu. Ia tersadar akan satu detail kecil yang selama ini ia abaikan: Mengapa seorang Direktur Rumah Sakit membawa uang tunai satu juta peso di dalam tas kulit di kedai kopi saat jam kerja?
Ternyata, tas itu bukan tertinggal. Tas itu sengaja diletakkan di sana.
Itu adalah umpan. Dr. Arthur sedang mencari seseorang yang “dibuang” oleh masyarakat, seseorang yang tidak akan dicari oleh siapa pun jika tiba-tiba menghilang, untuk dijadikan subjek eksperimen ilegal. Karding adalah pemulung yang dipilih secara acak, dan kejujurannya justru menjadi bumerang yang mengunci nasib anaknya.
Tiba-tiba, sebuah tangan dingin mencengkeram bahu Karding dari belakang. Itu adalah satpam yang dulu mengusirnya.
“Sudah kubilang, jangan pernah mengintip urusan orang besar, pemulung,” bisik satpam itu di telinganya.
Pintu ruang bawah tanah terbuka lebar. Dr. Arthur berdiri di sana, menatap Karding dengan tatapan tanpa emosi, memegang sebuah alat suntik yang berisi cairan bening.
“Karding,” ujar Dr. Arthur tenang. “Terima kasih telah datang kembali. Bongbong sudah bangun, dan kami butuh ‘panenan’ bulan ini. Dan karena kamu sudah tahu rahasianya, mungkin sudah saatnya kamu juga ikut serta dalam eksperimen ini. Anakmu membutuhkan donor yang cocok, bukan?”
Karding sadar, ia tidak akan pernah bisa keluar dari gedung ini. Ia menatap ke arah koridor, berharap ada keajaiban, namun yang ia lihat hanyalah bayangan dirinya sendiri di cermin dinding yang retak—seorang pemulung yang mengira ia telah menemukan keberuntungan, padahal ia baru saja berjalan masuk ke dalam lubang kematian yang ia gali sendiri dengan kejujurannya.
Di luar, hujan turun kembali. Sama persis seperti hari di mana ia menemukan tas itu. Namun kali ini, tidak ada lagi harapan. Hanya suara pintu besi yang terkunci rapat, menutup segala jeritan yang tidak akan pernah didengar dunia.
Apakah menurutmu Karding seharusnya tetap menyimpan uang itu dan melarikan diri ke kota lain daripada mengembalikannya ke rumah sakit tersebut?
