Gabriel menggenggam kedua tangan Clara dengan hati-hati, seolah takut sentuhan kecil saja dapat menambah rasa sakit yang sudah terlalu lama ia pendam. Kulit di telapak tangan istrinya memerah, pecah-pecah, bahkan beberapa bagian masih mengeluarkan darah tipis. Luka-luka itu jelas bukan akibat pekerjaan sehari atau kecelakaan kecil. Itu adalah bekas kerja paksa yang dilakukan berhari-hari tanpa henti.
Mata Gabriel berubah merah. Selama lima tahun pernikahan mereka, ia bahkan tidak pernah membiarkan Clara mencuci secangkir kopi sendiri. Ia selalu berkata bahwa Clara adalah ratu di rumah ini. Semua pekerjaan rumah sudah ditangani para staf. Lalu bagaimana mungkin wanita yang ia cintai kini berdiri di depan wastafel seperti seorang pembantu?

“Siapa yang melakukan ini?” tanyanya pelan.
Clara menundukkan kepala.
“Aku tidak apa-apa.”
Gabriel mengangkat dagunya.
“Lihat aku.”
Perlahan Clara menatap mata suaminya. Di sanalah pertahanannya runtuh.
“Mama… dan Rina…” bisiknya lirih.
Gabriel terdiam.
Ibunya, Diana, dan adik perempuannya, Rina, memang tinggal sementara di rumah itu sejak tiga minggu lalu karena rumah mereka sedang direnovasi. Sebelum berangkat ke New York, Gabriel telah meminta Clara menjaga mereka dengan baik.
Ternyata justru sebaliknya.
Belum sempat Gabriel bertanya lagi, terdengar suara tawa dari arah ruang keluarga.
“Clara! Minumannya habis! Cepat bawa ke atas!”
Suara keras itu berasal dari Diana.
Gabriel mengepalkan tangan.
Ia menoleh kepada Clara.
“Berapa lama ini terjadi?”
Clara menggigit bibirnya.
“Sejak kamu berangkat.”
“Kenapa kamu tidak meneleponku?”
Clara tersenyum pahit.
“Mama bilang kalau aku mengganggu pekerjaanmu, beliau akan meninggalkan rumah ini dan membuat semua orang tahu kalau aku istri yang tidak tahu menghormati mertua. Aku tidak mau kamu terbebani.”
Gabriel memejamkan mata.
Ia baru menyadari selama ini ia terlalu percaya bahwa keluarganya akan menghormati wanita yang ia cintai.
Ia salah.
Sangat salah.
Dengan lembut ia melepas celemek kotor yang dikenakan Clara.
“Kamu tidak akan mencuci apa pun lagi.”
“Tapi tamunya…”
“Biarkan mereka menunggu.”
Gabriel menggenggam tangan Clara lalu mengajaknya keluar dari dapur.
Begitu mereka memasuki ruang utama di lantai dua, musik masih menggelegar. Hampir tiga puluh tamu sedang menikmati pesta mewah. Meja dipenuhi makanan mahal, anggur impor, dan berbagai hidangan yang nilainya mencapai ratusan juta rupiah.
Semua orang langsung menoleh ketika melihat Gabriel muncul.
Musik perlahan berhenti.
Diana berdiri dengan wajah terkejut.
“Gabriel? Bukannya kamu baru pulang lusa?”
Gabriel tidak menjawab.
Tatapannya justru tertuju pada pelayan-pelayan yang sedang berdiri santai di sudut ruangan.
“Kalian sedang apa?”
Salah seorang pelayan gugup.
“Ibu Diana bilang kami libur hari ini…”
Gabriel menoleh kepada ibunya.
“Jadi Clara yang mengerjakan semuanya?”
Diana tersenyum seolah tidak ada masalah.
“Namanya juga menantu. Masa tidak bisa membantu pekerjaan rumah?”
Beberapa tamu mengangguk setuju.
Gabriel tertawa kecil.
Tawa yang justru membuat seluruh ruangan mendadak sunyi.
“Membantu?”
Ia menunjuk kedua tangan Clara.
“Ini yang Mama sebut membantu?”
Diana mulai kesal.
“Gabriel, jangan berlebihan. Dulu waktu aku muda, aku juga mencuci piring.”
Gabriel menggeleng perlahan.
“Waktu Mama muda, apakah Nenek menyuruh Mama melayani tiga puluh tamu sendirian?”
Diana terdiam.
Gabriel berjalan menuju meja makan.
Ia melihat gelas-gelas bekas, piring kotor, bahkan sampah berserakan.
“Semua ini dikerjakan Clara sendiri?”
Rina menyela.
“Ya memang kenapa? Dia kan cuma di rumah. Lagian dia harus belajar jadi istri yang berguna.”
Kalimat itu baru selesai ketika suara tamparan keras menggema.
Semua tamu membeku.
Rina memegang pipinya yang memerah.
Gabriel menatap adiknya tanpa sedikit pun penyesalan.
“Itu untuk setiap air mata istriku.”
Diana berteriak.
“Berani sekali kamu menampar adikmu!”
Gabriel berbalik.
“Dan ini untuk Mama.”
Semua orang mengira Gabriel akan kehilangan kendali.
Namun yang ia lakukan justru jauh lebih menyakitkan.
Ia mengambil remote televisi raksasa di ruang keluarga.
Layar berubah menampilkan rekaman CCTV seluruh rumah.
Video demi video diputar.
Terlihat Diana menyuruh Clara membersihkan lantai sambil berlutut.
Terlihat Rina sengaja menjatuhkan semangkuk sup lalu menyuruh Clara membersihkannya.
Terlihat Clara membawa belasan kantong belanja seorang diri sementara mereka tertawa.
Bahkan ada rekaman ketika Diana berkata,
“Selama Gabriel di luar negeri, rumah ini milikku. Kamu cuma numpang hidup.”
Seluruh tamu langsung saling berpandangan.
Wajah Diana berubah pucat.
“Darimana kamu dapat rekaman itu?”
Gabriel tersenyum tipis.
“Aku yang memasang sistem keamanan rumah ini.”
Diana mulai panik.
“Kamu salah paham.”
“Salah paham?”
Gabriel memutar rekaman terakhir.
Di layar terlihat Clara diam-diam menangis di dapur pada malam hari sambil tetap mencuci piring hingga pukul dua dini hari.
Tak ada lagi yang mampu membela Diana.
Beberapa tamu mulai mengambil tas mereka.
Mereka sadar pesta yang mereka nikmati ternyata dibangun di atas penderitaan seorang wanita.
Gabriel memanggil seluruh staf rumah.
“Dengarkan baik-baik.”
Semua berkumpul.
“Mulai detik ini, Ibu Diana dan Nona Rina tidak lagi memiliki akses ke rumah ini.”
Diana terkejut.
“Kamu mengusir ibumu sendiri?”
Gabriel menjawab tenang.
“Aku tidak mengusir Mama.”
“Lalu?”
“Aku hanya mengembalikan rumah ini kepada pemiliknya.”
Ia menggenggam tangan Clara.
“Dan wanita ini adalah nyonya rumah yang sebenarnya.”
Diana masih mencoba melawan.
“Kalau begitu aku akan menuntutmu! Semua orang akan tahu kamu anak durhaka!”
Gabriel mengangguk santai.
“Silakan.”
Ia mengambil ponselnya.
“Aku juga akan mengunggah rekaman CCTV ini lengkap.”
Rina langsung menangis.
“Mas, jangan.”
“Terlambat.”
Namun kejutan sebenarnya baru dimulai.
Gabriel meminta pengacaranya datang malam itu juga.
Di depan semua tamu, ia menyerahkan sebuah map kepada Clara.
“Apa ini?”
“Buka saja.”
Clara membukanya perlahan.
Matanya membesar.
Seluruh saham perusahaan keluarga, rumah utama, vila di Bali, hingga beberapa aset investasi ternyata sudah dialihkan atas namanya sejak dua minggu lalu.
“Aku sudah menyiapkan semuanya sebelum berangkat.”
Clara memandang suaminya dengan bingung.
“Kenapa?”
Gabriel tersenyum.
“Karena aku tahu cepat atau lambat akan ada orang yang mencoba menyakitimu saat aku tidak ada.”
Clara tertegun.
“Kamu… sudah curiga?”
“Aku hanya tidak menyangka mereka akan sejauh ini.”
Diana langsung berdiri.
“Mustahil! Semua aset atas nama Clara?”
Pengacara mengangguk.
“Secara hukum benar.”
Wajah Diana kehilangan warna.
Selama ini ia memperlakukan Clara dengan buruk karena mengira wanita itu hanya bergantung pada Gabriel.
Kini justru seluruh kekayaan keluarga berada di tangan menantu yang ia hina setiap hari.
Diana berusaha mendekati Clara.
“Nak… Mama minta maaf.”
Untuk pertama kalinya sejak malam itu, Clara berbicara dengan suara tegas.
“Permintaan maaf seharusnya diberikan saat seseorang masih punya pilihan untuk tidak menyakiti orang lain.”
Ruangan kembali sunyi.
“Aku memaafkan Mama.”
Diana mulai tersenyum lega.
“Tapi memaafkan bukan berarti mengizinkan Mama mengulanginya lagi.”
Clara menyerahkan sebuah amplop kepada Diana.
“Apa ini?”
“Biaya hotel selama satu bulan.”
Diana kebingungan.
“Aku tidak mengerti.”
“Aku tidak akan membiarkan Mama tinggal di rumah ini lagi.”
Kalimat itu diucapkan tanpa nada marah.
Justru ketenangan Clara membuat semua orang merasakan wibawa yang sesungguhnya.
Diana akhirnya keluar bersama Rina malam itu juga.
Tak satu pun tamu berani berkata apa-apa.
Satu per satu mereka meninggalkan rumah dengan wajah malu.
Ketika rumah kembali sunyi, Gabriel mengajak Clara duduk di taman belakang.
Ia mengambil kotak merah yang tadi sempat terjatuh di dapur.
“Aku hampir lupa.”
Ia membuka kotak itu.
Kalung berlian berkilau indah di bawah cahaya lampu taman.
“Aku membelinya karena aku ingin merayakan lima tahun pernikahan kita.”
Clara tersenyum sambil menahan tangis.
Gabriel memakaikan kalung itu di leher istrinya.
“Maaf.”
Clara menggeleng.
“Bukan salahmu.”
“Aku gagal menjagamu.”
Clara menggenggam tangan suaminya.
“Kamu pulang.”
“Hanya itu yang penting.”
Enam bulan kemudian, rumah itu berubah sepenuhnya.
Bukan lagi tempat pesta yang penuh kesombongan, melainkan rumah yang setiap akhir pekan membuka dapurnya untuk memasak makanan bagi anak-anak panti asuhan dan para lansia yang membutuhkan.
Clara sendiri yang memimpin kegiatan itu.
Namun kali ini kedua tangannya tidak lagi dipenuhi luka.
Puluhan relawan bekerja bersamanya, sementara Gabriel selalu berdiri di sampingnya.
Banyak orang bertanya mengapa pasangan sekaya mereka masih mau turun langsung melayani orang lain.
Gabriel selalu memberikan jawaban yang sama.
“Karena seseorang yang pernah diperlakukan seperti pelayan akan lebih mengerti bagaimana menghargai sesama manusia.”
Dan setiap kali Clara melihat bekas luka tipis yang masih tersisa di telapak tangannya, ia tidak lagi mengingat rasa sakit yang pernah dialaminya.
Ia justru mengingat malam ketika semua topeng akhirnya jatuh, ketika harga diri yang sempat dirampas kembali ia dapatkan, dan ketika ia menyadari bahwa kekayaan terbesar dalam sebuah rumah bukanlah kemewahan atau harta, melainkan keberanian untuk berdiri di sisi orang yang kita cintai, bahkan saat seluruh dunia memilih membelakanginya.
