…Aku memejamkan mata erat-erat, mengatur napas agar terdengar teratur. Tepat pukul sepuluh malam, aku merasakan kasur bergerak sedikit. Dante mengecup keningku dengan lembut—seperti yang selalu dia lakukan—lalu berbisik lirih, “Maafkan aku, Clarissa.”

Pintu kamar kami terbuka dan tertutup dengan suara klik yang sangat pelan.
Aku menunggu sekitar dua menit. Jantungku berdegup kencang, memompa adrenalin ke seluruh tubuhku. Aku menyibak selimut, turun dari tempat tidur tanpa alas kaki agar tidak menimbulkan suara, dan perlahan membuka pintu.
Koridor rumah sangat sepi dan remang-remang. Aku melihat bayangan Dante menghilang di balik pintu kamar Ibu mertuaku.
Aku melangkah berjinjit, menahan napas di setiap langkah. Kamar Ibu Soledad berada di ujung lorong. Pintunya tidak tertutup rapat, menyisakan celah kecil yang memancarkan cahaya lampu tidur yang kekuningan.
Aku menempelkan telingaku ke pintu, bersiap mendengarkan skenario terburuk yang selama ini menghantui pikiranku. Apakah aku akan mendengar suara wanita lain di telepon? Atau apakah aku akan mendengar Ibu mertuaku sedang menghasut suamiku untuk menceraikanku?
Namun, suara yang kudengar justru membuat dahiku berkerut. Itu adalah suara erangan rendah yang penuh penderitaan, disusul oleh suara napas yang terengah-engah.
Aku memberanikan diri untuk mengintip melalui celah pintu.
Kenyataan yang Menyayat Hati
Apa yang kulihat di dalam kamar itu seketika membuat seluruh persendianku melonggar. Lututku lemas, dan aku terpaksa berpegangan pada gagang pintu agar tidak jatuh tersungkur.
Ibu Soledad tidak sedang tidur. Dia sedang duduk di lantai, tubuhnya gemetar hebat, dan matanya menatap kosong penuh ketakutan. Dia mencakar-cakar lengannya sendiri sampai berdarah. Penyakit pikunnya—yang kukira hanya pikun biasa—ternyata jauh lebih mengerikan di malam hari. Itu adalah fase akut dari Sundowning Syndrome, gejala demensia parah di mana penderitanya mengalami kecemasan hebat, halusinasi menakutkan, dan agresi begitu matahari terbenam.
Dan di sana, Dante sedang berlutut di depan ibunya.
Pria yang kukira “anak mama” yang manja itu sedang memeluk erat ibunya yang sedang mengamuk. Dante membiarkan pundaknya dipukul dan dicakar oleh Ibu Soledad yang histeris, tanpa membalas sedikit pun.
“Ini Dante, Ma… Ini Dante, anak Mama. Mama aman di sini, tidak ada yang mau menyakiti Mama,” bisik Dante dengan suara serak, menahan tangis.
Dante dengan sabar membersihkan luka di lengan ibunya, memijat kaki ibunya yang kaku, dan dengan telaten menyuapkan obat penenang dosis tinggi yang harus diminum setiap malam. Proses itu memakan waktu berjam-jam. Dante tidak tidur di kasur yang nyaman; dia duduk di lantai, menyandarkan kepalanya di pinggiran ranjang ibunya, memegang tangan wanita tua itu agar tidak menyakiti dirinya sendiri sampai fajar menyingsing.
Aku melihat wajah suamiku dari dekat. Di bawah lampu temaram, lingkaran hitam di matanya terlihat begitu pekat. Tubuhnya kurus. Dia menanggung beban seberat ini sendirian setiap malam, lalu harus bangun pagi-pagi sekali untuk bekerja menghidupiku, tanpa pernah mengeluh.
Penyesalan dan Air Mata
Air mataku tumpah tak terkendali. Aku membekap mulutku sendiri dengan kedua tangan agar suara tangisanku tidak memecah keheningan malam. Aku terduduk lemas di lantai koridor yang dingin, menangis sejadi-jadinya.
“Ya Tuhan… Apa yang telah kulakukan?” bisikku dalam hati, didera rasa bersalah yang teramat sangat.
Selama tiga tahun ini, aku mencelanya. Aku menuduhnya egois, menuduhnya selingkuh, dan menganggapnya kekanak-kanakan. Sementara dia, dengan sisa-sisa kekuatannya, mencoba melindungiku dari kenyataan pahit ini. Dia tidak ingin aku stres, dia tidak ingin aku ikut terjaga semalaman, dan dia ingin aku tetap menghormati Ibu mertuaku yang ego dan harga dirinya sangat tinggi jika di siang hari.
Aku mengumpulkan sisa kekuatanku, mendorong pintu kamar itu hingga terbuka lebar.
Dante terkejut mendengarnya. Dia menoleh, matanya yang lelah membelalak mendapati aku berdiri di sana dengan wajah yang basah oleh air mata.
“Clarissa? Kamu… kenapa di sini?” tanya Dante gugup, mencoba menghalangi pandanganku dari ibunya yang mulai tenang karena efek obat.
Aku tidak menjawab. Aku langsung berlari memeluk Dante dari belakang, memeluk punggungnya yang tegap namun sebenarnya sudah sangat rapuh itu.
“Maafkan aku, Dante… Maafkan aku,” tangisku pecah di pundaknya. “Kenapa kamu tidak pernah cerita? Kenapa kamu menanggung ini semua sendirian?”
Dante tertegun sejenak, lalu perlahan memegang tanganku yang melingkar di dadanya. Bahunya melorot, seolah seluruh beban yang dia pikul selama tiga tahun ini akhirnya runtuh. Dia berbalik, memelukku erat, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Dante menangis di pelukanku.
“Aku hanya tidak ingin membebanimu, Clarissa. Mama berpesan padaku saat dia masih sadar dulu… dia tidak ingin menantunya melihatnya dalam kondisi menyedihkan seperti ini,” bisik Dante lirih.
Babak Baru Pernikahan Kami
Malam itu menjadi titik balik pernikahan kami. Kesalahpahaman yang membakar rumah tangga kami selama tiga tahun akhirnya padam oleh air mata penyesalan dan kasih sayang.
Mulai malam itu, Dante tidak lagi bertarung sendirian.
Kami sepakat untuk merawat Ibu Soledad bersama-sama. Aku belajar cara menangani penderita demensia, dan kami bergantian menjaga Ibu di malam hari. Hubunganku dengan Ibu mertuaku bahkan membaik; meski di siang hari dia tetap galak, aku tidak lagi sakit hati karena aku tahu itu adalah bagian dari penyakitnya.
Kini, meskipun Dante masih harus sering terjaga di kamar sebelah, aku tidak pernah lagi merasa kesepian. Karena aku tahu, di balik pintu kamar itu, ada seorang pria luar biasa—seorang anak yang berbakti, dan seorang suami yang cintanya teramat dalam untukku.
