Bersandar padaku… peluk aku seolah-olah kau mencintaiku. Mantanku sedang melihat.

“Aku tidak tahu kau sekarang punya uang untuk menyewa pasangan.”

Kalimat itu meluncur dari mulut Miguel dengan nada meremehkan yang sangat dikenal Lira. Dulu, nada itulah yang selalu membuatnya mengecilkan bahu, menundukkan kepala, dan diam-diam menyalahkan dirinya sendiri. Namun, malam ini ada sesuatu yang berbeda. Ada lengan hangat yang masih melingkari pinggangnya. Ada seseorang yang berdiri di sisinya tanpa terlihat malu.

Dan yang paling aneh, orang yang membuat Miguel pucat bukanlah seorang artis, atlet, atau pejabat.

Pria itu hanya berdiri diam, tetapi seluruh ekspresi Miguel berubah.

“Tuan Alcantara,” ulang Miguel, kali ini lebih pelan.

Bianca, yang sejak tadi merekam dengan ponselnya, mengernyit bingung. “Sayang, siapa dia?”

Pria itu akhirnya melepaskan pelukannya dari Lira, tetapi tetap berdiri di depannya, seolah tanpa sadar membentuk perisai.

“Kau mengenalku rupanya,” katanya tenang.

Keringat mulai muncul di pelipis Miguel. “Tentu saja. Semua orang di industri properti mengenal Anda.”

Lira menatap pria di sampingnya dengan kebingungan. Ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi.

Miguel bekerja sebagai direktur pemasaran di perusahaan keluarga Arriaga Group, salah satu pengembang properti yang sedang berkembang pesat di Jakarta. Selama bertahun-tahun, Miguel selalu membanggakan relasi bisnisnya, koneksinya, dan masa depannya yang cemerlang.

Tetapi malam itu, pria yang selalu tampil percaya diri itu tampak seperti karyawan magang yang dipanggil atasannya.

“Aku rasa ada kesalahpahaman,” kata Miguel sambil memaksakan senyum. “Lira dan aku hanya bercanda.”

“Begitukah?” tanya pria itu.

Tatapannya tajam, tetapi suaranya tetap datar.

“Karena dari yang kudengar, kau baru saja menghina perempuan yang dulu kau cintai.”

“Maksud saya tidak seperti itu.”

“Tapi kau mengatakannya.”

Suasana di sekitar mereka berubah. Beberapa tamu mulai berbisik. Band yang tadi bermain pelan kini bahkan berhenti sepenuhnya.

Lira ingin menghilang.

Ia benci menjadi pusat perhatian. Ia benci tatapan orang-orang. Bertahun-tahun bersama Miguel telah mengajarinya bahwa dirinya selalu terlalu besar, terlalu berisik, terlalu emosional, terlalu banyak.

Namun, pria bernama Alcantara itu justru menoleh kepadanya.

“Apakah kau baik-baik saja?”

Pertanyaan sederhana itu membuat tenggorokan Lira tercekat.

Tidak ada yang menanyakan hal itu selama berbulan-bulan.

“Aku… baik.”

Pria itu mengangguk kecil, lalu kembali menatap Miguel.

“Kalau begitu, izinkan aku memperkenalkan diri dengan benar.” Ia mengulurkan tangan. “Rafael Alcantara.”

Nama itu membuat Bianca terdiam.

Lira tidak mengenalnya, tetapi Bianca jelas mengenalnya.

“Keluarga Alcantara?” bisik Bianca.

Rafael tidak menjawab.

Namun, semua orang di ruangan itu tampaknya sudah mendapatkan jawaban mereka.

Keluarga Alcantara adalah pemilik Alcantara Holdings, konglomerasi besar yang bergerak di bidang properti, rumah sakit, teknologi, dan perhotelan di Asia Tenggara. Mereka jarang muncul di media. Sang pendiri telah meninggal beberapa tahun lalu, dan putra sulungnya, Rafael Alcantara, terkenal hampir tidak pernah menghadiri acara publik.

Lira memandang pria di sampingnya, sulit mempercayai bahwa ia baru saja meminta seorang konglomerat memeluknya demi menyelamatkan harga dirinya.

Miguel berdeham gugup.

“Tuan Alcantara, saya tidak bermaksud menyinggung siapa pun.”

Rafael tersenyum tipis.

“Lucu. Karena dari tempatku berdiri, sepertinya kau sangat menikmati melakukannya.”

Bianca buru-buru menyimpan ponselnya.

“Mungkin kita sebaiknya pergi, Miguel.”

Tetapi Rafael mengangkat satu tangan.

“Tunggu sebentar.”

Mereka berhenti.

“Aku hanya penasaran.” Rafael memasukkan tangannya ke saku jas. “Apa yang membuatmu merasa berhak mempermalukan seseorang karena bentuk tubuhnya?”

Miguel kehilangan kata-kata.

Lira menunduk. Dadanya terasa sesak.

Ia tidak ingin perdebatan itu berlanjut. Ia hanya ingin pulang, mengganti gaunnya, lalu melupakan malam yang melelahkan ini.

Namun, Rafael berbicara lagi.

“Aku tumbuh bersama seorang ibu yang selalu diejek karena tubuhnya setelah melahirkan.” Suaranya kini lebih pelan. “Ayahku mencintainya sampai akhir hidupnya, dan aku belajar satu hal darinya: orang yang mencintaimu tidak akan membuatmu membenci dirimu sendiri.”

Kalimat itu menghantam Lira lebih keras daripada penghinaan Miguel.

Karena untuk pertama kalinya, seseorang mengucapkan apa yang selama ini tidak berani ia pikirkan.

Miguel membuka mulut, tetapi panitia acara tiba-tiba mendekati Rafael.

“Tuan Alcantara, Ketua Yayasan sedang mencarimu. Acara lelang akan dimulai.”

Rafael mengangguk.

Sebelum pergi, ia menoleh kepada Lira. “Kau mau ikut denganku?”

Lira seharusnya menolak.

Ia baru mengenal pria itu selama lima belas menit.

Tetapi entah mengapa, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa aman.

Malam itu, Lira duduk di meja utama bersama Rafael dan para donatur penting lainnya. Ia merasa tidak pantas berada di sana. Berkali-kali ia memperbaiki posisi duduknya, menarik gaunnya, dan menghindari tatapan orang-orang.

Rafael memperhatikannya.

“Kau selalu seperti ini?”

“Seperti apa?”

“Meminta maaf karena hadir.”

Pertanyaan itu membuat Lira terdiam.

Ia ingin menyangkal, tetapi ia tahu pria itu benar.

Beberapa saat kemudian, acara lelang dimulai. Salah satu panitia naik ke panggung dan memperkenalkan Rafael sebagai donatur terbesar yayasan tahun itu.

Tepuk tangan memenuhi ruangan.

Baru saat itulah Lira menyadari bahwa pria yang tadi memeluknya bukan hanya kaya. Ia adalah orang yang selama ini diam-diam mendanai rumah singgah untuk perempuan korban kekerasan dan pusat rehabilitasi anak.

Di tengah pidatonya, Rafael tiba-tiba berkata, “Ada satu hal yang ingin kusampaikan malam ini. Kita hidup di dunia yang terlalu sibuk mengomentari tubuh orang lain, seolah nilai seseorang ditentukan oleh angka di timbangan.”

Ruangan menjadi sunyi.

“Tapi aku percaya bahwa luka paling berbahaya bukanlah yang terlihat di cermin. Melainkan kata-kata yang membuat seseorang merasa tidak layak dicintai.”

Tanpa sadar, mata Rafael mencari Lira.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, Lira menangis.

Bukan karena malu.

Melainkan karena merasa dipahami.

Setelah acara selesai, mereka duduk di balkon hotel yang menghadap lampu-lampu Jakarta.

“Aku minta maaf,” kata Lira pelan.

Rafael mengangkat alis. “Untuk apa?”

“Karena tadi… aku memanfaatkanmu.”

Rafael tertawa kecil.

“Kau meminta pelukan, bukan pinjaman miliaran rupiah.”

Lira ikut tertawa.

Sudah lama sekali ia tidak tertawa tanpa merasa bersalah.

Malam semakin larut, tetapi percakapan mereka justru semakin panjang. Lira bercerita tentang pekerjaannya sebagai ilustrator lepas, tentang kebiasaannya menyembunyikan diri dari kamera, tentang ibunya yang meninggal saat ia kuliah.

Rafael mendengarkan.

Benar-benar mendengarkan.

Bukan sekadar menunggu giliran bicara.

Dan ketika Lira selesai bercerita, Rafael hanya berkata, “Aku rasa kau sudah terlalu lama hidup di bawah suara orang lain.”

“Lalu bagaimana caranya menghentikannya?”

Rafael menatap langit Jakarta.

“Mulailah dengan berhenti mempercayai orang yang membuatmu merasa kecil.”

Malam itu berakhir dengan nomor telepon yang bertukar dan janji samar untuk bertemu lagi.

Namun, kehidupan tidak berubah dalam semalam.

Beberapa hari kemudian, potongan video dari pesta amal itu tersebar di media sosial. Entah siapa yang mengunggahnya. Dalam video itu, Miguel terlihat menghina Lira sebelum wajahnya berubah pucat saat melihat Rafael.

Komentar bermunculan.

Banyak yang mengecam Miguel.

Tetapi tidak sedikit yang kembali menyerang Lira.

“Kalau dia kurus, mantannya pasti tidak pergi.”

“Perempuan harus menjaga diri.”

“Untung kaya, jadi masih ada yang mau.”

Lira membaca semuanya hingga pukul tiga pagi.

Dan seperti biasa, suara-suara itu mulai masuk ke kepalanya.

Keesokan harinya, Rafael datang ke apartemennya membawa dua gelas kopi dan sekotak martabak.

“Aku tidak lapar,” bohong Lira.

Rafael membuka kotak itu dan mengambil sepotong.

“Bagus. Berarti aku bisa menghabiskannya sendiri.”

Lira tersenyum tipis.

Setelah beberapa menit diam, Rafael berkata, “Kau tahu apa yang paling menyedihkan?”

“Apa?”

“Orang-orang yang terluka sering kali lebih percaya pada hinaan daripada pujian.”

Lira memandangnya.

“Karena hinaan terdengar lebih jujur.”

Rafael menggeleng.

“Tidak. Karena kau terlalu sering mendengarnya.”

Waktu berlalu.

Hubungan mereka tumbuh perlahan. Bukan seperti kisah cinta dalam film yang penuh kejutan besar, melainkan seperti luka yang sembuh sedikit demi sedikit.

Rafael tidak pernah menyuruh Lira berdiet.

Ia tidak pernah mengomentari porsinya saat makan.

Ia tidak pernah memintanya berubah.

Sebaliknya, ia memotretnya saat tertawa, memujinya tanpa alasan, dan membuatnya sadar bahwa selama ini ia tidak pernah kekurangan apa pun.

Yang kurang hanyalah orang yang tepat.

Enam bulan kemudian, Arriaga Group mengalami krisis besar. Proyek utama mereka dibatalkan setelah investor menarik dukungan.

Baru saat itulah Lira mengetahui sesuatu yang mengejutkan.

Miguel ternyata selama ini berharap bisa mendapatkan kontrak kerja sama dengan Alcantara Holdings. Hubungan bisnis itu akan menyelamatkan perusahaan keluarganya.

Tetapi setelah malam gala tersebut, Rafael diam-diam menghentikan seluruh negosiasi.

Bukan karena dendam.

Melainkan karena hasil audit internal menemukan berbagai pelanggaran yang disembunyikan manajemen Arriaga Group.

Suatu sore, Miguel datang ke kantor Rafael.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, pria yang dulu begitu percaya diri itu menundukkan kepala.

“Aku ingin meminta maaf kepada Lira.”

Rafael memandangnya lama.

“Karena kau menyesal?”

Miguel terdiam.

“Atau karena sekarang kau membutuhkan sesuatu darinya?”

Miguel tidak bisa menjawab.

Dan dalam keheningan itulah Rafael memahami semuanya.

Beberapa hari kemudian, tanpa sepengetahuan siapa pun, Rafael mengatur pertemuan terakhir antara Miguel dan Lira di sebuah kafe.

Miguel datang lebih awal.

Ia tampak lebih tua, lebih lelah.

“Aku salah,” katanya pelan ketika Lira duduk di hadapannya.

Lira tidak menjawab.

“Aku membuatmu membenci dirimu sendiri.”

Masih diam.

“Aku pikir aku sedang membantumu menjadi lebih baik.”

Lira menatap pria yang pernah menjadi pusat dunianya.

Anehnya, ia tidak lagi marah.

Ia juga tidak sedih.

Yang tersisa hanyalah jarak.

“Kau tahu sesuatu yang lucu, Miguel?” katanya akhirnya.

Miguel mengangkat kepala.

“Dulu aku selalu berpikir kalau aku cukup kurus, cukup cantik, cukup sempurna, kau akan mencintaiku.”

Lira tersenyum tipis.

“Ternyata, masalahnya bukan tubuhku.”

Ia berdiri, mengambil tasnya, lalu menatap Miguel untuk terakhir kali.

“Masalahnya, aku meminta cinta dari orang yang bahkan tidak tahu cara mencintai.”

Malam itu, saat Lira keluar dari kafe, Rafael sudah menunggunya di trotoar.

Jakarta baru saja diguyur hujan.

Lampu-lampu kota memantul di jalanan yang basah.

“Bagaimana?” tanya Rafael.

Lira memandang pria yang beberapa bulan lalu hanyalah orang asing yang kebetulan berdiri di sudut ballroom.

Pria yang ia mintai pelukan karena putus asa.

Pria yang tanpa sengaja mengubah hidupnya.

Dengan mata berkaca-kaca, Lira menggenggam tangannya.

“Aku baru sadar sesuatu.”

“Apa?”

Lira tersenyum.

“Selama ini aku pikir orang yang menyelamatkanku adalah dirimu.”

Rafael mengernyit.

“Lalu?”

Lira menatap bayangannya sendiri di genangan air di bawah lampu jalan.

“Ternyata, malam itu kau hanya mengingatkanku bahwa aku sudah cukup sejak awal.”

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Lira pulang tanpa merasa harus meminta maaf atas ruang yang ia tempati di dunia.

Dan mungkin, itulah bentuk cinta yang paling langka: bukan cinta yang mengubah seseorang menjadi orang lain, melainkan cinta yang membuatnya berani kembali menjadi dirinya sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang