Tanganku gemetar saat Bianca merogoh saku celanaku. Aku mundur beberapa langkah sambil memeluk tas kecil yang kubawa, tetapi tubuhnya jauh lebih besar dariku. Dalam hitungan detik, smartwatch yang tadi kupakai untuk menghubungi Ayah sudah berpindah ke tangannya.
“Nah, apa ini?” katanya sambil mengangkat jam itu tinggi-tinggi. “Jam semahal ini dipakai anak kecil? Jangan-jangan hasil mencuri data perusahaan.”
“Astaga, itu milik saya! Tolong kembalikan!”

Bianca mengabaikanku. Ia menyerahkan jam itu kepada Loida, manajer HR yang sejak tadi menatapku dengan penuh kecurigaan.
Loida memeriksa jam tersebut lalu mengernyit. “Barang ini memang mahal. Dari mana kamu mendapatkannya?”
“Ayah yang membelikannya.”
Bianca tertawa sinis. “Ayah lagi, ayah lagi. Sejak tadi cuma itu yang dia katakan.”
Aku menggigit bibir. Pipiku masih terasa panas akibat tamparan Bianca, sementara lututku sakit karena ditendang. Yang paling membuatku sedih adalah kalung pemberian Ibu yang sekarang tersembunyi di saku wanita itu.
Di luar ruangan HR, semakin banyak karyawan berkumpul. Mereka berbisik-bisik, memandangku seolah aku benar-benar penjahat yang menyebabkan kerugian besar bagi perusahaan.
“Aku baru masuk seminggu, sudah ada masalah begini.”
“Katanya kontrak dengan keluarga Tiangco gagal.”
“Kerugiannya besar sekali.”
Suara-suara itu membuat dadaku sesak. Aku memang baru tiga belas tahun, tetapi aku tahu apa artinya dicurigai dan dipermalukan di depan banyak orang.
“Aku ingin pulang,” kataku pelan.
“Pulang?” Bianca menyilangkan tangan. “Kamu belum menjelaskan semuanya.”
Loida ikut berbicara, “Kalau memang bukan karyawan di sini, sebutkan nama ayahmu.”
Aku mengangkat kepala. “Ayah saya Tadeo Wijaya.”
Ruangan itu hening selama beberapa detik, lalu Bianca tertawa lebih keras daripada sebelumnya.
“Luar biasa. Anak ini benar-benar tidak tahu malu.”
“Kalau Pak Tadeo mendengar ini, mungkin dia akan tertawa,” tambah Loida.
Aku ingin marah, tetapi tidak tahu harus berkata apa lagi. Selama ini, Ayah memang tidak pernah membawa kami ke acara perusahaan. Ibuku seorang peneliti yang sering bekerja di luar negeri. Karena alasan keamanan dan privasi, identitas keluarga kami dirahasiakan. Bahkan banyak kerabat yang jarang bertemu dengan kami.
Beberapa bulan sebelumnya, Ayah pernah berkata sambil tersenyum, “Suatu hari nanti, Ayah akan memperkenalkanmu kepada semua orang.”
Aku tidak menyangka hari itu justru dimulai dengan mimpi buruk.
Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka. Seorang pria muda berjas masuk dengan wajah tegang.
“Bu Loida, rapat direksi sudah selesai. Pak Tadeo sedang mencari dokumen…”
Kalimatnya terputus saat melihat kerumunan.
“Ada apa?”
Bianca langsung maju. “Pak Reno, kami berhasil menemukan orang yang menyebabkan masalah email klien. Dia bahkan mengaku sebagai anak Pak Tadeo.”
Pria bernama Reno itu menatapku sekilas, lalu menggeleng.
“Anak Pak Tadeo? Mustahil.”
Dadaku semakin sakit mendengarnya.
Bianca semakin percaya diri. “Benar, kan? Saya sudah bilang dari tadi bahwa anak ini pembohong.”
Namun, Reno tidak langsung menjawab. Tatapannya berhenti pada smartwatch di tangan Loida.
“Tunggu sebentar.”
Ia melangkah mendekat dan mengambil jam itu.
“Aku pernah melihat jam seperti ini.”
Bianca tampak bingung. “Memangnya kenapa?”
Reno menekan sesuatu di layar jam tersebut. Seketika, muncul foto layar kunci yang membuat seluruh ruangan terdiam.
Di sana terlihat foto seorang pria yang sedang menggendong anak laki-laki kecil di pantai. Pria itu tidak lain adalah Tadeo Wijaya.
Wajah Bianca langsung memucat.
“Itu… mungkin hasil editan.”
Aku buru-buru berkata, “Foto itu diambil waktu kami liburan di Bali tiga tahun lalu.”
Reno menatapku semakin serius.
“Sebutkan nama ibumu.”
Aku ragu beberapa detik sebelum menjawab, “Maya Santoso.”
Mata Reno membelalak. Ia pernah menjadi asisten pribadi Ayah selama bertahun-tahun, jadi tentu saja ia mengenal nama itu.
“Tidak mungkin…”
Sebelum siapa pun sempat berkata apa-apa, terdengar suara langkah cepat dari lorong. Semua orang spontan menoleh.
Seorang pria tinggi dengan jas hitam berjalan masuk dengan wajah dingin. Seluruh ruangan langsung berdiri.
“Selamat sore, Pak Tadeo.”
Ayah tidak menjawab. Pandangannya langsung tertuju kepadaku yang berdiri di sudut ruangan dengan wajah bengkak dan rambut berantakan.
Untuk pertama kalinya sejak siang, aku tidak mampu menahan air mata.
“Ayah…”
Tas kecilku jatuh ke lantai saat aku berlari memeluknya.
Tubuh Ayah membeku. Tangannya perlahan menyentuh pipiku yang merah.
“Siapa yang melakukan ini?”
Suaranya pelan, tetapi semua orang bisa merasakan kemarahan yang ditahannya.
Aku belum sempat menjawab ketika Bianca maju dengan wajah pucat.
“Pak Tadeo, ini semua salah paham. Anak ini mengaku-ngaku sebagai putra Bapak dan…”
“Diam.”
Satu kata itu membuat seluruh ruangan membisu.
Ayah berlutut di depanku. Matanya berubah merah saat melihat bekas tamparan di wajahku.
“Siapa yang menyakitimu?”
Aku terisak.
“Sekretaris Ayah mengambil kalung pemberian Ibu.”
Tatapan Ayah langsung beralih kepada Bianca.
“Apa benar?”
Bianca mundur satu langkah. “Pak, saya tidak tahu bahwa dia…”
“Aku bertanya, apa benar kau mengambil kalungnya?”
Tangannya mulai gemetar. Dengan terbata-bata, ia mengeluarkan kalung yang kusut dari sakunya.
Semua orang tercengang.
Loida buru-buru mencoba menjelaskan. “Pak Tadeo, kami hanya menjalankan prosedur perusahaan.”
“Prosedur perusahaan?” Ayah berdiri perlahan. “Apakah prosedur perusahaan memperbolehkan memukul anak di bawah umur?”
Tidak ada yang berani menjawab.
Reno memanggil petugas keamanan dan meminta mereka menutup akses ke ruangan. Karyawan di luar mulai panik karena menyadari bahwa situasinya jauh lebih serius daripada yang mereka bayangkan.
Bianca tiba-tiba menangis.
“Pak, saya benar-benar mengira dia mata-mata. Kontrak dengan keluarga Tiangco gagal karena email klien terlewat. Saya hanya ingin melindungi perusahaan.”
Ayah menatapnya tanpa ekspresi.
“Kalau begitu, mari kita bicarakan soal email itu.”
Ia meminta Reno memanggil tim IT.
Lima belas menit kemudian, beberapa staf teknologi informasi datang membawa laptop. Mereka membuka log sistem perusahaan dan memeriksa riwayat email yang dimaksud.
Semua orang menunggu dalam ketegangan.
Tak lama kemudian, salah satu staf berkata pelan, “Pak, email dari klien sebenarnya masuk tepat waktu.”
“Apa maksudmu?” tanya Loida.
“Email itu memang diterima perusahaan, tetapi dipindahkan secara manual ke folder arsip sebelum sempat dibaca.”
Ruangan mendadak sunyi.
“Siapa yang memindahkannya?” tanya Ayah.
Staf IT menelan ludah.
“Akun yang digunakan adalah akun sekretaris CEO.”
Bianca langsung menggeleng panik.
“Itu tidak mungkin! Pasti ada yang menjebak saya!”
Namun, pemeriksaan belum selesai.
Beberapa menit kemudian, tim IT menemukan fakta lain yang lebih mengejutkan. Email itu ternyata sengaja dipindahkan sehari setelah Bianca menerima pesan pribadi dari perusahaan pesaing.
Wajah Bianca berubah pucat pasi.
“Aku bisa menjelaskan…”
Tetapi penjelasannya tidak pernah keluar.
Reno meletakkan beberapa dokumen di meja. Ternyata selama beberapa bulan terakhir, ada penyelidikan internal terkait kebocoran informasi perusahaan. Semua jejak perlahan mengarah kepada Bianca, tetapi mereka belum memiliki bukti kuat.
Hari itu, tanpa sengaja, semuanya terbongkar.
Bianca jatuh terduduk.
“Aku… aku hanya terdesak. Ibuku sakit, adikku punya utang besar. Mereka menawariku uang…”
Tidak ada yang berbicara.
Aku menatap wanita yang beberapa menit lalu menarik rambutku dan mengancam akan membunuhku. Untuk sesaat, aku tidak lagi melihat sosok yang menakutkan, melainkan seseorang yang telah membuat pilihan yang salah dan harus menanggung akibatnya.
Petugas keamanan membawa Bianca keluar ruangan. Sebelum pergi, ia menoleh ke arahku.
“Aku minta maaf.”
Aku tidak menjawab.
Setelah itu, Ayah memanggil Loida ke ruangannya.
Selama bertahun-tahun, Loida dikenal sebagai manajer yang tegas dan profesional. Namun, hari itu, semua orang melihat sisi lain dirinya: seseorang yang terlalu cepat menghakimi.
Malamnya, Loida keluar dari ruang CEO dengan mata sembab. Ia mengajukan pengunduran diri sebelum Ayah sempat memecatnya.
Gedung perusahaan yang biasanya ramai mendadak terasa sunyi.
Ayah membawaku ke klinik untuk memeriksa luka-lukaku. Dalam perjalanan pulang, kami hampir tidak berbicara.
“Ayah minta maaf,” katanya akhirnya.
Aku menoleh ke luar jendela.
“Kenapa Ayah minta maaf?”
“Karena terlalu sibuk menjaga perusahaan sampai lupa melindungi keluargaku sendiri.”
Aku terdiam.
Sejujurnya, selama ini aku sering kesal karena Ayah jarang hadir di acara sekolah atau ulang tahunku. Namun, melihat wajahnya malam itu, aku sadar bahwa ia juga manusia biasa yang tidak selalu bisa melakukan semuanya dengan sempurna.
“Aku tidak marah.”
Ayah tersenyum tipis.
“Kalungmu akan diperbaiki.”
Aku mengangguk.
Seminggu kemudian, perusahaan mengadakan rapat besar. Untuk pertama kalinya, Ayah memperkenalkanku secara resmi kepada seluruh karyawan.
Ruangan yang dulu dipenuhi tatapan sinis kini dipenuhi rasa malu.
“Aku ingin semua orang mengingat satu hal,” kata Ayah di depan panggung. “Kesalahan terbesar dalam sebuah perusahaan bukanlah kehilangan uang, melainkan kehilangan rasa kemanusiaan. Kita terlalu cepat percaya pada rumor dan terlalu lambat mendengarkan kebenaran.”
Tidak seorang pun bertepuk tangan. Semua orang hanya menundukkan kepala.
Setelah acara selesai, beberapa karyawan menghampiriku untuk meminta maaf. Ada yang memberiku cokelat, ada yang menanyakan keadaan pipiku.
Aku menerima permintaan maaf mereka, tetapi kejadian hari itu tetap membekas di hatiku.
Beberapa bulan kemudian, saat membantu Ayah di kantornya lagi, aku melihat sebuah bingkai baru tergantung di dekat ruang rapat utama.
Di bawah logo perusahaan tertulis sebuah kalimat:
“Jangan pernah menilai seseorang hanya dari penampilannya, karena kebenaran sering kali datang dari tempat yang paling tidak kita duga.”
Aku tersenyum kecil sambil menyentuh kalung yang sudah diperbaiki.
Hari itu, aku akhirnya mengerti bahwa menjadi kuat bukan berarti tidak pernah terluka. Menjadi kuat adalah mampu tetap percaya pada kebaikan, bahkan setelah diperlakukan dengan buruk oleh orang lain.
