DELAPAN BULAN AKU MENYULAM GAUN PENGANTIN IMPIAN KAMI DEMI DIA—TAPI SAAT SEMUANYA SELESAI, AKU BARU TAHU DIA TERNYATA BERLUTUT DI PARIS DI HADAPAN WANITA LAIN YANG MENGENAKAN GAUN IMPIANNYA

Malam itu, aku duduk sendirian di kamar hotel kecil di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Di hadapanku, ponsel masih menyala, menampilkan pesan dari nomor tak dikenal yang membuat jemariku gemetar.

“Kalau kamu ingin mengetahui kebenaran tentang Gabriel dan Bianca di Paris, tontonlah video ini.”

Aku tidak langsung membukanya.

Selama tujuh tahun, aku selalu percaya bahwa cinta dibangun dari kepercayaan. Bahkan ketika Gabriel mulai sering pulang larut, lupa hari ulang tahunku, atau membatalkan janji dengan alasan pekerjaan, aku tetap membelanya di hadapan semua orang. Aku yakin, semua pengorbanan itu akan terbayar saat kami menikah.

Namun, malam itu, untuk pertama kalinya, aku takut mengetahui kenyataan.

Aku menarik napas panjang lalu menekan tombol putar.

Video itu tampak direkam diam-diam dari dalam sebuah restoran mewah di Paris. Gambarnya sedikit berguncang, tetapi cukup jelas untuk membuat darahku seolah berhenti mengalir.

Gabriel duduk berhadapan dengan Bianca di dekat jendela besar yang menghadap Sungai Seine. Di atas meja, ada kotak beludru hitam.

“Aku sudah menunggu momen ini selama bertahun-tahun,” suara Gabriel terdengar jelas.

Bianca tersenyum.

“Tapi bagaimana dengan Mara?”

Gabriel tertawa kecil, seolah pertanyaan itu tidak penting.

“Mara terlalu baik untuk menyadari semuanya. Lagi pula, dia selalu melakukan apa pun yang kuminta.”

Aku merasa dadaku diremas.

Video belum selesai.

“Apa kamu benar-benar akan menikahinya?” tanya Bianca.

Gabriel menggeleng pelan.

“Sejak awal, aku hanya butuh waktu.”

“Waktu untuk apa?”

“Untuk membangun hidup yang kuinginkan.”

Bianca menatapnya.

“Dan gaun tradisional yang sedang dibuatnya?”

Gabriel mengangkat bahu.

“Anggap saja itu hadiah perpisahan.”

Tanganku langsung terlepas dari ponsel. Benda itu jatuh ke lantai dengan suara keras.

Selama delapan bulan, aku menusukkan jarum ke kain sambil membayangkan masa depan kami. Aku rela meninggalkan pekerjaanku sebagai desainer tekstil di sebuah perusahaan ternama di Jakarta demi membuat gaun yang katanya akan menjadi simbol cinta kami.

Ternyata, baginya, semua itu hanya hiburan.

Pagi harinya, Jenny datang ke hotel.

Ia membawa kopi dan sarapan, tetapi begitu melihat wajahku, ia meletakkan semuanya begitu saja.

“Kamu sudah menonton videonya?”

Aku mengangguk.

Jenny memelukku tanpa berkata apa-apa.

Untuk pertama kalinya sejak semalam, air mataku jatuh.

“Aku bodoh, ya?”

Jenny menggeleng.

“Bukan. Kamu hanya mencintai orang yang salah.”

Aku tertawa getir.

“Aku bahkan berhenti bekerja demi dia.”

“Kalau begitu, kembalilah bekerja. Buktikan bahwa hidupmu tidak berakhir karena seorang pria.”

Aku ingin mempercayai kata-katanya, tetapi semuanya terasa terlalu berat.

Tiga hari berikutnya, Gabriel terus menelepon. Aku tidak pernah menjawab.

Ia mengirim puluhan pesan.

Awalnya marah.

Lalu memohon.

Kemudian menyalahkanku.

“Aku bisa menjelaskan semuanya.”

“Kamu terlalu emosional.”

“Bianca tidak seperti yang kamu pikirkan.”

“Jangan menghancurkan hubungan tujuh tahun kita hanya karena kesalahpahaman.”

Namun aku sudah terlalu lelah untuk membalas.

Pada hari keempat, ibunya datang ke apartemen Jenny.

Wanita itu selalu baik kepadaku. Dulu, aku bahkan menganggapnya seperti ibu sendiri.

“Mara,” katanya pelan sambil menggenggam tanganku. “Gabriel membuat kesalahan, tapi dia mencintaimu.”

Aku menatap wajahnya yang tampak letih.

“Bu, apakah Ibu tahu dia ada di Paris?”

Perempuan itu terdiam.

Jawabannya sudah terlihat dari matanya.

“Ibu tahu?”

Beliau mulai menangis.

“Aku memintanya untuk jujur padamu, tapi dia bilang semuanya akan beres setelah pernikahan.”

Aku tersenyum pahit.

Setelah pernikahan.

Seolah pernikahan hanyalah alat untuk menyembunyikan kebohongan.

“Apa Ibu tahu sesuatu yang lain?”

Wanita itu ragu beberapa saat sebelum akhirnya mengeluarkan sebuah map dari tasnya.

“Aku tidak seharusnya memberikannya, tapi kamu berhak tahu.”

Di dalam map itu ada salinan dokumen perusahaan.

Aku membaca halaman demi halaman sambil berusaha memahami isi kepalaku yang mendadak kosong.

Ternyata perusahaan keluarga Bianca sedang berada di ambang kebangkrutan. Sementara perusahaan tempat Gabriel bekerja membutuhkan investor besar untuk menyelamatkan proyek mereka.

Dan pernikahan antara Gabriel dan Bianca akan menyatukan semuanya.

Aku mendongak.

“Jadi selama ini…”

Ibunya mengangguk pelan.

“Ayah Gabriel mendesaknya. Mereka percaya menikah dengan Bianca akan menyelamatkan bisnis keluarga.”

“Lalu aku?”

Wanita itu memejamkan mata.

“Kamu adalah seseorang yang benar-benar dicintainya dulu.”

Dulu.

Satu kata itu terasa lebih menyakitkan daripada penghinaan apa pun.

Malam itu, aku kembali ke apartemen yang dulu kutinggali bersama Gabriel.

Aku datang saat ia sedang tidak ada.

Tempat itu masih sama.

Cangkir favoritku masih berada di rak.

Tanaman kecil yang kubeli tahun lalu masih hidup.

Namun rumah itu sudah terasa asing.

Aku mengambil garment bag yang berisi gaun pengantin buatanku.

Aku membukanya perlahan.

Delapan bulan kerja keras.

Ribuan jahitan.

Setiap bunga yang kusulam dibuat dengan tanganku sendiri.

Aku menyentuh kainnya, lalu tiba-tiba muncul sebuah ide yang bahkan tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Dua minggu kemudian, Jenny menyeretku menghadiri sebuah pameran mode di Jakarta Selatan.

“Aku tidak ingin datang,” protesku.

“Kamu harus datang.”

“Tolong, Jen.”

“Percayalah padaku kali ini.”

Begitu memasuki aula, aku langsung membeku.

Di tengah ruangan, tergantung gaun pengantin yang sangat kukenal.

Gaun buatanku.

“Apa ini?”

Jenny tersenyum.

“Aku mengirim fotonya ke seorang kurator mode tanpa sepengetahuanmu.”

Aku menatapnya tak percaya.

“Dia menyukainya. Mereka bahkan menjadikannya karya utama pameran.”

Orang-orang berdiri mengelilingi gaunku.

Mereka memotretnya.

Membicarakan detail sulamannya.

Memuji keindahan setiap motif.

Seorang wanita paruh baya mendekat.

“Saya yang menghubungi Jenny,” katanya sambil mengulurkan tangan. “Nama saya Ratih Prameswari.”

Aku terdiam.

Aku mengenalnya.

Ratih adalah pendiri rumah mode terbesar di Indonesia.

“Saya membuat gaun itu hanya untuk diri saya sendiri,” kataku gugup.

Ratih tersenyum.

“Justru karena itulah gaun ini begitu istimewa. Setiap jahitannya memiliki jiwa.”

Hari itu mengubah hidupku.

Ratih menawariku pekerjaan.

Bukan sebagai pegawai biasa, melainkan sebagai desainer independen yang akan mengembangkan koleksi berbasis tekstil tradisional Nusantara.

Aku hampir menolak karena takut.

Namun untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa ada seseorang yang melihat kemampuanku, bukan sekadar pengorbananku.

Aku menerima tawaran itu.

Bulan-bulan berikutnya berlalu dengan cepat.

Aku kembali bekerja.

Aku belajar lagi.

Aku tertawa lagi.

Luka itu belum sepenuhnya hilang, tetapi setidaknya aku mulai mengingat siapa diriku sebelum mengenal Gabriel.

Suatu sore, hampir setahun setelah kejadian di Paris, aku menghadiri peluncuran koleksi pertamaku.

Acara itu diadakan di sebuah hotel mewah di Jakarta.

Ketika sedang berbicara dengan wartawan, aku melihat sosok yang sangat kukenal berdiri di ujung ruangan.

Gabriel.

Wajahnya tampak jauh lebih tua.

Tatapannya kosong.

Ia berjalan mendekat.

“Kamu terlihat berbeda.”

Aku tersenyum tipis.

“Banyak hal berubah dalam setahun.”

Ia mengangguk.

“Aku mendengar koleksimu sukses.”

“Syukurlah.”

Beberapa detik berlalu dalam keheningan.

“Aku dan Bianca batal menikah,” katanya akhirnya.

Aku tidak terkejut.

“Ayahnya dipenjara karena kasus penggelapan dana. Perusahaannya bangkrut.”

Aku hanya diam.

Gabriel tertawa kecil, tetapi terdengar pahit.

“Aku kehilangan semuanya.”

“Tidak semuanya.”

Ia menatapku.

“Kamu masih punya dirimu sendiri.”

Matanya memerah.

“Aku kehilangan diriku sejak kehilanganmu.”

Dulu, kalimat itu mungkin akan membuatku menangis.

Namun malam itu, aku hanya merasa sedih untuk seseorang yang terlalu lama mengejar hal-hal yang salah.

“Aku minta maaf, Mara.”

Aku memandang pria yang pernah menjadi pusat duniaku.

Pria yang pernah kuhadiahi delapan bulan hidupku.

Pria yang dulu kuhafal setiap kebiasaannya.

Dan untuk pertama kalinya, aku menyadari bahwa aku tidak lagi mencintainya.

“Aku memaafkanmu.”

Ia tampak terkejut.

“Benarkah?”

Aku mengangguk.

“Memaafkan bukan berarti melupakan. Aku hanya tidak ingin terus membawa luka itu.”

Sebelum pergi, Gabriel berhenti dan menoleh.

“Ada satu hal yang belum pernah kukatakan.”

Aku menunggu.

“Gaun yang kamu buat… itu adalah hal terindah yang pernah diberikan seseorang kepadaku.”

Aku tersenyum pelan.

“Sayangnya, kamu baru menyadarinya ketika semuanya sudah terlambat.”

Ia pergi tanpa berkata apa-apa lagi.

Aku berdiri sendirian di tengah aula yang dipenuhi cahaya.

Tak lama kemudian, Ratih menghampiriku sambil menyerahkan sebuah amplop.

“Ada seseorang yang menitipkan ini untukmu.”

Aku membuka amplop itu.

Di dalamnya terdapat foto gaun pengantinku yang dipajang di pameran tahun lalu.

Di balik foto itu tertulis sebuah kalimat dengan tulisan tangan yang kukenal.

“Aku berharap suatu hari nanti ada seseorang yang mengenakan gaun itu dan benar-benar mencintaimu seperti seharusnya.”

Tanpa nama.

Tanpa tanda tangan.

Aku tersenyum, lalu melipat kembali foto itu.

Di luar gedung, hujan mulai turun membasahi jalanan Jakarta.

Aku berdiri di dekat jendela sambil memperhatikan lampu-lampu kota yang berkilauan.

Delapan bulan yang dulu kuanggap sia-sia ternyata tidak pernah benar-benar hilang.

Benang-benang yang pernah kujahit dengan air mata tidak hanya menghasilkan sebuah gaun.

Mereka juga menjahit kembali diriku yang sempat hancur.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidak lagi memikirkan pernikahan yang gagal.

Aku justru memikirkan kehidupan baru yang akhirnya berhasil kusulam sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang