Malam itu, hujan mengguyur kawasan Kota Tua Jakarta tanpa ampun. Jalanan yang biasanya ramai berubah lengang, hanya menyisakan suara air yang memukul atap-atap bangunan kolonial tua. Di ujung gang sempit yang tersembunyi dari keramaian, berdiri Toko Buku Pustaka Nusantara, sebuah bangunan peninggalan keluarga Wijaya yang telah bertahan selama puluhan tahun.
Di dalamnya, Tala Wijaya duduk sendirian di balik meja kayu jati warisan ayahnya. Cahaya lampu minyak memantulkan bayangan rak-rak penuh naskah kuno yang memenuhi ruangan. Dengan sarung tangan tipis, ia membersihkan halaman-halaman rapuh sebuah manuskrip tua yang ditemukan beberapa bulan lalu. Aroma kertas usang bercampur dengan wangi melati yang selalu diletakkan Tala di dekat jendela.
Tak seorang pun tahu bahwa di balik toko sederhana itu, tersimpan rahasia yang dapat menentukan nasib kota.

Tiba-tiba, jendela belakang pecah dihantam tubuh seseorang. Tala berdiri refleks ketika seorang pria bertubuh tinggi jatuh ke lantai kayu, meninggalkan jejak darah di belakangnya. Dalam hitungan detik, pria itu bangkit dan mengarahkan pistol ke dada Tala.
“Jangan berteriak.”
Suara pria itu serak dan penuh ancaman. Wajahnya dipenuhi lumpur, sementara luka panjang di pelipis kirinya terus mengeluarkan darah.
Tala menatapnya tanpa berkedip.
“Aku tidak berniat berteriak,” jawabnya tenang.
Pria itu adalah Joaquin Santos, atau yang lebih dikenal dengan nama Jake, mantan perwira intelijen yang kini memimpin jaringan rahasia yang berusaha melindungi Jakarta dari serangkaian sabotase misterius. Selama berminggu-minggu, kelompoknya menerima laporan tentang pengkhianat yang menjual informasi pertahanan kota kepada organisasi asing.
Dan semua petunjuk mengarah ke toko buku itu.
Jake melangkah maju, pistolnya tetap terangkat.
“Kau menyembunyikan sesuatu di sini.”
Tala tidak menjawab. Ia hanya mengambil kain bersih dan kotak obat dari rak terdekat.
“Kau kehilangan terlalu banyak darah.”
“Aku tidak butuh bantuanmu.”
“Kalau begitu, kau akan mati dalam satu jam.”
Untuk pertama kalinya, Jake ragu. Tubuhnya memang hampir menyerah. Sejak dua hari terakhir, ia tidak tidur dan terus dikejar orang-orang bersenjata yang membantai sebagian anggota kelompoknya.
Sementara ia mengawasi setiap gerakan Tala, perempuan itu membersihkan luka di dahinya tanpa sedikit pun menunjukkan rasa takut.
“Kau terlalu mudah menuduh orang,” kata Tala pelan.
“Ayahku dibunuh di ruangan ini karena menolak menjual dokumen negara. Jangan samakan aku dengan para pengkhianat yang kau cari.”
Jake memperhatikan foto tua di atas meja. Seorang pria paruh baya tersenyum sambil memegang buku tebal. Bingkai itu retak.
“Ayahmu?”
Tala mengangguk.
“Tiga tahun lalu.”
Sebelum Jake sempat berkata apa pun, suara tembakan terdengar dari luar. Keduanya spontan mematikan lampu. Dari celah jendela, beberapa kendaraan hitam berhenti di depan toko.
Jantung Jake berdetak lebih cepat.
“Mereka menemukanku.”
“Siapa mereka?”
Jake tidak langsung menjawab.
“Aku tidak tahu siapa yang bisa dipercaya lagi.”
Tala mengintip ke luar. Enam pria bersenjata turun dari mobil. Salah satu dari mereka mengenakan jaket militer.
“Mereka bukan polisi.”
Jake mengepalkan rahangnya.
“Karena memang bukan.”
Tala menoleh.
“Apa yang sebenarnya terjadi?”
Pria itu terdiam beberapa saat sebelum akhirnya berkata, “Ada seseorang di dalam pemerintahan yang menjual sistem pertahanan Jakarta. Besok malam, pusat komunikasi kota akan diretas. Jika itu terjadi, seluruh jaringan keamanan akan lumpuh.”
“Dan kau pikir aku terlibat?”
“Aku menerima informasi bahwa kode akses terakhir disembunyikan di toko ini.”
Tala tertawa pendek, tetapi matanya menyiratkan kemarahan.
“Lucu sekali. Kau masuk sambil menodongkan pistol, menghancurkan tokoku, lalu berharap menemukan jawaban.”
Suara langkah kaki mulai mendekat. Tanpa banyak bicara, Tala menarik Jake menuju ruang bawah tanah yang tersembunyi di balik rak buku.
Ruangan itu sempit dan dipenuhi peti-peti tua. Jake terkejut melihat puluhan dokumen, peta, dan arsip sejarah yang tersusun rapi.
“Tempat apa ini?”
“Warisan keluargaku.”
Tala membuka sebuah peti besi kecil dan mengeluarkan buku harian milik ayahnya.
“Ayahku pernah mengatakan bahwa ada sesuatu yang lebih berharga daripada semua koleksi ini. Tapi aku baru memahami maksudnya setelah ia meninggal.”
Jake memperhatikan halaman-halaman buku itu. Sebagian besar berisi catatan tentang proyek pemerintah, jalur komunikasi bawah tanah, dan nama-nama yang sudah lama menghilang.
Tiba-tiba, suara ledakan mengguncang bangunan di atas mereka.
Debu berjatuhan dari langit-langit.
“Mereka masuk,” bisik Jake.
Tala membuka halaman terakhir buku harian itu. Ada kalimat yang ditulis tergesa-gesa.
“Jika suatu hari kota ini berada di ambang kehancuran, carilah kebenaran di bawah darah keluarga kita.”
Jake mengernyit.
“Apa artinya?”
Tala memandang gaun putih yang dikenakannya malam itu. Sejak tadi, bagian bawah gaunnya ternoda darah Jake yang menetes saat ia merawat lukanya.
Tangannya gemetar ketika menyentuh lapisan kain di bagian dalam.
Lalu, dengan pisau kecil, ia menyobek jahitan yang sudah tua.
Sesuatu jatuh ke lantai.
Sebuah lempengan logam tipis berukuran telapak tangan.
Jake membeku.
Di permukaan logam itu terukir rangkaian angka dan simbol.
“Ini…” gumamnya.
“Ayahku menjahitnya di pakaian ibuku sebelum beliau meninggal,” kata Tala lirih. “Aku tidak pernah tahu isinya.”
Jake mengenali simbol-simbol tersebut. Itu adalah kode akses menuju jaringan pertahanan kota yang selama ini dianggap hilang.
Ia menatap Tala dengan perasaan campur aduk.
Selama ini, perempuan yang ia tuduh sebagai pengkhianat justru menyimpan satu-satunya harapan untuk menyelamatkan jutaan orang.
Suara langkah semakin dekat.
“Kita harus pergi sekarang.”
Mereka keluar melalui terowongan tua yang terhubung ke saluran air peninggalan Belanda. Hujan masih turun deras ketika mereka muncul di sisi lain kota.
Namun, pelarian mereka tidak berlangsung lama.
Di bawah jembatan layang yang sepi, sebuah mobil menghadang mereka.
Jake langsung menarik Tala ke belakang.
Pintu mobil terbuka.
Seorang pria tua keluar dengan tenang.
Jake terdiam.
“Pak Arman?”
Pria itu adalah mentor Jake selama bertahun-tahun, orang yang mengajarinya bertahan hidup dan mempercayai negara.
“Aku sudah mencarimu sejak kemarin,” kata Arman sambil tersenyum tipis.
“Bagaimana kau bisa menemukan kami?”
Arman melirik Tala.
“Karena aku tahu apa yang kalian bawa.”
Jake merasakan sesuatu yang dingin menjalar di punggungnya.
“Tidak mungkin.”
Arman menghela napas panjang.
“Kau selalu terlalu idealis, Jake. Dunia tidak berjalan dengan kesetiaan dan pengorbanan.”
Perlahan, beberapa pria bersenjata muncul dari balik kendaraan.
Tala memucat.
“Dia pengkhianat?”
Jake tidak mampu menjawab.
Semua potongan teka-teki akhirnya menyatu.
Informasi yang bocor, operasi yang selalu gagal, anggota tim yang terbunuh satu per satu—semuanya mengarah kepada satu orang yang selama ini paling ia percaya.
“Ayah Tala mati karena menolak menyerahkan kode itu kepadaku,” kata Arman datar. “Dan sekarang, kalian akan melakukan kesalahan yang sama.”
Jake menggenggam pistolnya.
“Mengapa?”
Arman tersenyum pahit.
“Karena negara yang kau bela membuang orang-orang seperti kita. Mereka membiarkan keluargaku hancur. Aku hanya mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku.”
Tembakan pertama memecah malam.
Jake mendorong Tala berlindung di balik pilar beton. Baku tembak terjadi di tengah hujan deras. Suara peluru memantul di bawah jembatan.
Satu per satu lawan tumbang, tetapi Jake terkena tembakan di bahu.
Tala menahan darah yang mengalir dari luka itu.
“Kita harus pergi!”
Jake menggeleng.
“Kalau kita lari, dia akan mengejar kita selamanya.”
Di kejauhan, Arman berjalan mendekat sambil menodongkan pistol.
“Kalian kalah.”
Jake memandang Tala.
Untuk pertama kalinya malam itu, ia tersenyum.
“Aku minta maaf karena telah salah menilaimu.”
Tala menatapnya, matanya dipenuhi air mata.
“Kau masih bisa memperbaikinya.”
Jake mengambil lempengan logam dari tangan Tala.
Lalu, tanpa diduga, ia melemparkannya ke saluran sungai yang mengalir deras di bawah jembatan.
Arman berteriak marah.
“Dasar bodoh!”
Ia berlari menuju tepi sungai, berusaha melihat ke mana benda itu jatuh.
Saat itulah sirene polisi terdengar dari kejauhan.
Arman menoleh, terkejut.
Jake tersenyum lemah.
“Aku mengirim lokasi kita satu jam yang lalu.”
Wajah Arman berubah.
“Kau mengorbankan semuanya?”
“Tidak.”
Jake memandang Tala.
“Kami menyelamatkannya.”
Arman mencoba melarikan diri, tetapi pasukan keamanan yang tiba berhasil mengepungnya.
Beberapa menit kemudian, pria tua itu diborgol dan dibawa pergi.
Hujan mulai reda.
Tala duduk di trotoar, memandangi sungai yang gelap.
“Kodenya hilang.”
Jake tertawa pelan meski menahan sakit.
“Tidak.”
Tala mengernyit.
Jake mengetuk pelipisnya.
“Aku menghafalnya saat melihatnya di ruang bawah tanah.”
Tala terdiam beberapa detik sebelum akhirnya tertawa untuk pertama kalinya malam itu.
Beberapa bulan kemudian, jaringan pengkhianatan yang dipimpin Arman berhasil dibongkar sepenuhnya. Pemerintah diam-diam memulihkan sistem keamanan kota dan menutup rapat seluruh operasi tersebut dari publik.
Toko Buku Pustaka Nusantara dibuka kembali setelah direnovasi.
Orang-orang datang untuk membeli buku, tanpa pernah mengetahui bahwa tempat itu pernah menjadi pusat pertarungan yang menentukan masa depan Jakarta.
Suatu sore, Jake datang membawa sekotak kecil berisi bunga melati.
“Aku dengar kau mencari pegawai baru,” katanya.
Tala menatapnya sambil tersenyum tipis.
“Dengan kemampuan apa?”
Jake mengangkat bahu.
“Aku cukup ahli menjaga buku agar tidak dicuri.”
Tala tertawa.
Kemudian, dari balik meja tua tempat ayahnya dulu mengembuskan napas terakhir, ia mengeluarkan buku harian keluarga yang selama ini disimpannya.
Di halaman terakhir, ada satu kalimat yang belum pernah ia baca sebelumnya karena tersembunyi di balik lipatan kertas.
Ia membacanya perlahan.
“Rahasia terbesar bukanlah apa yang disembunyikan manusia, melainkan siapa yang tetap memilih bertahan ketika seluruh dunia mengajarinya untuk curiga.”
Tala menutup buku itu dan memandang Jake yang sedang merapikan rak-rak di dekat jendela.
Di luar, matahari mulai tenggelam di balik gedung-gedung Jakarta.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa bahwa warisan ayahnya bukanlah kode rahasia, bukan pula dokumen negara.
Melainkan keberanian untuk tetap percaya kepada seseorang, bahkan setelah dikhianati oleh begitu banyak orang.
