Hari pertama Chloe Wijaya menginjakkan kaki di SMA Rizal Jakarta langsung menjadi bahan pembicaraan seluruh sekolah. Bukan hanya karena ia cantik, percaya diri, dan berasal dari sekolah unggulan di Surabaya, tetapi juga karena kalimat yang diucapkannya di depan seluruh kelas saat guru memperkenalkannya.
“Aku pindah ke sini hanya untuk satu tujuan,” katanya sambil menatap lurus ke arah Patricia. “Aku akan merebut posisi juara satu darimu.”
Seketika ruangan menjadi sunyi. Semua orang tahu siapa Patricia.

Selama tiga tahun terakhir, namanya seperti legenda. Nilainya selalu sempurna, wajahnya selalu datar, dan kehidupannya seolah hanya berputar di antara buku, soal-soal olimpiade, dan ruang kelas. Tidak ada yang pernah melihatnya tertawa lepas. Tidak ada yang benar-benar mengenalnya.
Patricia mengangkat kepalanya dari buku matematika dan memandang Chloe beberapa detik.
“Semoga berhasil.”
Hanya dua kata itu, lalu ia kembali menulis.
Bagi teman-teman sekelas, sikap Patricia terasa dingin dan menyebalkan. Sebaliknya, Chloe yang mudah tersenyum dan cepat berbaur segera menjadi pusat perhatian. Dalam hitungan minggu, ia sudah akrab dengan hampir semua orang.
Daniel, teman masa kecil Patricia, bahkan menjadi orang yang paling sering menemani Chloe. Mereka belajar bersama, makan siang bersama, dan sering pulang bersama. Banyak yang diam-diam berharap Chloe benar-benar bisa menjatuhkan Patricia dari singgasananya.
Namun ujian bulanan pertama memberikan hasil yang tidak mereka inginkan.
Patricia tetap berada di peringkat satu.
Selisihnya hanya dua poin.
Bagi orang lain, dua poin mungkin tidak berarti apa-apa. Namun bagi Chloe, itu adalah kekalahan. Ia menangis di atas meja, sementara seluruh kelas berusaha menenangkannya.
Ketika Patricia dengan tenang berkata bahwa ujian berikutnya ia akan unggul dua puluh poin, suasana langsung memanas.
Semua orang menganggap Patricia terlalu arogan.
Hanya Patricia sendiri yang tetap tenang.
Hari-hari berikutnya, persaingan mereka semakin sengit.
Chloe mulai datang lebih pagi daripada siapa pun. Lampu perpustakaan bahkan sering kali masih menyala ketika petugas keamanan hendak menguncinya pada malam hari, dan Chloe masih duduk di sana.
Orang-orang semakin mengaguminya.
“Dia benar-benar bekerja keras.”
“Patricia memang pintar sejak lahir, tapi Chloe pantas dihormati.”
Ucapan-ucapan seperti itu terus terdengar.
Sementara itu, Patricia tetap seperti biasa. Ia datang tepat waktu, belajar sendirian, dan menghabiskan waktu istirahat dengan mengerjakan soal.
Semakin hari, Daniel semakin kesal melihat sikapnya.
Suatu sore, saat hujan turun deras dan sekolah hampir kosong, Daniel menemukan Patricia sendirian di kelas.
“Apa susahnya bersikap lebih baik pada Chloe?”
Patricia tidak mengangkat kepala.
“Aku tidak punya kewajiban untuk menyenangkan siapa pun.”
“Kamu selalu seperti ini sejak kecil.” Daniel mengepalkan tangan. “Semua orang berusaha mendekatimu, tapi kamu selalu mendorong mereka pergi.”
Untuk pertama kalinya, Patricia berhenti menulis.
“Kalau begitu, kenapa kamu masih berbicara denganku?”
Daniel terdiam.
Karena bahkan dirinya sendiri tidak tahu jawabannya.
Mereka berteman sejak SD. Ia tahu Patricia selalu sendirian. Ia juga tahu bahwa di balik nilai-nilai sempurna itu, ada sesuatu yang tidak pernah diceritakan Patricia kepada siapa pun.
Namun Patricia sudah lebih dulu berdiri dan meninggalkan kelas.
Beberapa minggu kemudian, ujian tengah semester dimulai.
Seluruh sekolah menaruh perhatian pada pertarungan antara Patricia dan Chloe. Bahkan para guru diam-diam bertaruh siapa yang akan menang.
Saat hasil diumumkan, papan peringkat dipenuhi siswa.
Patricia tetap nomor satu.
Dan seperti yang pernah ia katakan, selisih nilainya tepat dua puluh poin.
Chloe berdiri terpaku di depan papan pengumuman.
Wajahnya pucat.
Teman-temannya mencoba menghibur, tetapi kali ini ia tidak menangis. Ia hanya memandangi angka-angka itu tanpa berkedip.
Malam harinya, sebuah unggahan anonim muncul di forum sekolah.
“Ada yang aneh dengan Patricia. Tidak mungkin seseorang selalu mendapat nilai sempurna.”
Komentar-komentar bermunculan.
“Mungkin dia punya bocoran soal.”
“Atau keluarganya punya koneksi dengan sekolah.”
Dalam semalam, rumor menyebar ke seluruh penjuru sekolah.
Keesokan paginya, seseorang menemukan secarik kertas di laci Patricia. Tulisan di atasnya sederhana.
Penipu.
Patricia membuang kertas itu ke tempat sampah dan duduk seperti biasa.
Tetapi rumor tidak berhenti.
Bahkan beberapa guru mulai mempertanyakan bagaimana seorang siswi bisa mempertahankan nilai sempurna selama bertahun-tahun.
Kepala sekolah akhirnya memutuskan untuk mengadakan ujian tambahan khusus bagi Patricia dan Chloe. Soal dibuat langsung oleh tim guru provinsi, dan keduanya akan mengerjakan di ruang terpisah dengan pengawasan ketat.
Seluruh sekolah menunggu hasilnya.
Chloe tampak gugup. Untuk pertama kalinya sejak pindah, senyum cerahnya menghilang.
Sementara Patricia tetap tenang.
Tiga jam kemudian, ujian selesai.
Dua hari setelahnya, hasil diumumkan.
Patricia memperoleh nilai tertinggi.
Bukan hanya lebih tinggi dari Chloe, tetapi juga mencetak skor tertinggi dalam sejarah sekolah.
Semua rumor langsung runtuh.
Namun yang paling mengejutkan justru terjadi setelahnya.
Saat para siswa sibuk membicarakan hasil ujian, Chloe tiba-tiba menghilang.
Ia tidak masuk sekolah selama tiga hari berturut-turut.
Daniel mulai khawatir. Ia mencoba menelepon, tetapi nomor Chloe tidak aktif.
Pada hari keempat, wali kelas memanggil seluruh siswa.
Suasana kelas mendadak hening ketika beliau berkata pelan, “Chloe mengundurkan diri dari sekolah.”
Semua orang terkejut.
“Apa?”
“Kenapa?”
Tidak ada yang tahu jawabannya.
Bahkan Daniel langsung berlari menuju alamat rumah Chloe yang pernah diantarnya beberapa kali.
Namun rumah besar itu kosong.
Tetangga hanya mengatakan bahwa keluarga Chloe sudah pindah.
Selama beberapa minggu berikutnya, kursi Chloe tetap kosong.
Orang-orang perlahan melupakan kepergiannya.
Hanya Daniel yang masih sering memikirkan satu hal.
Kenapa Chloe pergi begitu saja?
Jawaban itu datang secara tak terduga.
Suatu sore, saat hujan turun dan sekolah sudah sepi, Daniel tanpa sengaja melihat Patricia memasukkan sebuah amplop ke dalam tasnya. Amplop itu jatuh ke lantai.
Sebelum Patricia sempat mengambilnya, Daniel sudah lebih dulu melihat isi surat tersebut.
Di sudut kanan atas tertulis nama Chloe.
“Apa ini?” tanya Daniel.
Patricia terdiam beberapa saat sebelum akhirnya merebut surat itu.
Namun Daniel sudah sempat membaca beberapa kalimat.
Terima kasih karena sudah menepati janjimu.
Terima kasih karena sudah membuatku menyerah.
Daniel membeku.
“Maksudnya apa?”
Patricia memandang ke luar jendela.
Lama sekali ia tidak menjawab.
Ketika akhirnya berbicara, suaranya jauh lebih pelan daripada biasanya.
“Aku mengenal Chloe jauh sebelum dia pindah ke sini.”
Daniel menoleh cepat.
Patricia menghela napas.
Dua tahun sebelumnya, ia dan Chloe pernah bertemu dalam sebuah pelatihan olimpiade nasional. Saat itu, Chloe adalah siswi paling berbakat di angkatannya.
Namun beberapa bulan setelahnya, ayah Chloe meninggal mendadak karena serangan jantung. Keluarganya hancur. Nilainya menurun drastis, dan ia mulai kehilangan tujuan hidup.
Sebelum mereka berpisah, Chloe pernah berkata kepada Patricia bahwa ia iri melihat seseorang yang selalu berada di puncak.
“Dia bilang ingin mengalahkanku suatu hari nanti,” ucap Patricia.
“Lalu?”
“Lalu aku mengatakan bahwa aku akan menunggunya.”
Daniel masih tidak mengerti.
Patricia menunduk.
“Setahun yang lalu, aku menerima pesan darinya. Dia bilang keluarganya bangkrut dan akan pindah ke Jakarta. Dia memintaku melakukan satu hal.”
“Apa?”
“Jangan pernah mengalah padanya.”
Hujan di luar semakin deras.
Patricia menggenggam surat itu erat-erat.
“Dia tahu dirinya sedang kehilangan arah. Dia bilang, kalau aku menunjukkan belas kasihan, dia akan semakin membenci dirinya sendiri.”
Daniel terdiam.
Selama ini, ia mengira Patricia hanya perempuan dingin yang tidak peduli pada siapa pun.
Ternyata, justru karena peduli, ia memilih menjadi orang yang paling dibenci.
Patricia menyerahkan surat itu.
Tangan Daniel gemetar ketika membaca bagian terakhir.
Patricia.
Kalau suatu hari aku pergi tanpa pamit, jangan merasa bersalah.
Terima kasih karena tidak pernah memperlakukanku sebagai orang yang rapuh.
Semua orang selalu berusaha menghiburku dan mengatakan bahwa aku sudah cukup hebat.
Hanya kamu yang terus mengatakan bahwa aku masih bisa melangkah lebih jauh.
Untuk pertama kalinya setelah ayah meninggal, aku merasa hidupku punya tujuan lagi.
Aku tidak kalah darimu karena aku bodoh.
Aku kalah karena aku akhirnya sadar bahwa ada banyak cara untuk menang dalam hidup.
Aku akan pergi ke luar negeri bersama ibuku dan memulai semuanya dari awal.
Suatu hari nanti, kita akan bertemu lagi.
Dan saat itu, aku masih ingin mengalahkanmu.
Daniel menurunkan surat itu perlahan.
Di hadapannya, Patricia tetap berdiri dengan ekspresi tenang yang sama seperti biasanya.
Tetapi untuk pertama kalinya sejak mereka berteman, Daniel melihat sesuatu di matanya.
Kesepian.
Beberapa bulan kemudian, kelulusan tiba.
Patricia kembali menjadi lulusan terbaik sekolah.
Semua orang bersorak ketika namanya dipanggil ke panggung.
Namun di tengah tepuk tangan itu, Patricia hanya memandang kursi kosong di barisan belakang aula.
Setelah acara selesai, Daniel menghampirinya.
“Aku rasa selama ini aku salah paham.”
Patricia tersenyum tipis.
Senyuman kecil yang belum pernah dilihat Daniel selama bertahun-tahun.
“Tidak masalah.”
“Kamu tidak marah?”
Patricia menggeleng.
“Aku tidak hidup untuk disukai orang lain.”
Daniel tertawa pelan.
“Kamu masih sama.”
Patricia menatap langit sore Jakarta yang mulai berubah jingga.
“Tidak juga.”
Ia mengeluarkan ponselnya.
Sebuah pesan baru baru saja masuk dari nomor asing.
Isinya singkat.
Aku diterima di sekolah baruku di Singapura. Jangan lengah. Lain kali, aku pasti menang.
Untuk pertama kalinya, Patricia tertawa kecil.
Lalu ia mengetik balasan.
Kalau begitu, belajar yang rajin.
Karena lain kali, aku akan unggul tiga puluh poin.
