Bagian 2: Bayangan yang Terhapus
Dunia tidak berhenti berputar hanya karena aku merasa tidak terlihat. Hari-hari setelah percakapan di meja makan itu berlalu dengan keheningan yang tajam. Aku menjadi hantu di rumahku sendiri. Mereka masih hidup dalam gelembung kenyamanan mereka, sementara aku—dalam diam—membangun jembatan untuk melarikan diri.
Aku tidak lagi meminta perhatian. Aku tidak lagi berharap pada sisa-sisa kasih sayang yang harus kuperjuangkan seperti memungut remah-remah roti. Aku menjual koleksi buku-buku lamaku, tabungan hasil menjaga toko kelontong di depan kompleks, dan setiap koin yang kusembunyikan di balik kaleng biskuit. Semuanya kusembunyikan di bawah lapisan baju di koper tua yang sudah tak pernah mereka sentuh.

Setiap malam, saat rumah sudah senyap oleh dengkur Papa dan suara keyboard mekanik Jun-jun yang kini sudah dipasang, aku menatap layar ponsel retakku. Surat penerimaan universitas itu ada di sana, di kotak masuk surelku. Aku diterima di program beasiswa penuh di Mindanao, lengkap dengan asrama.
Kepergianku adalah sebuah naskah yang sudah kutulis rapi. Tidak akan ada perpisahan yang dramatis. Tidak akan ada tangisan. Aku tidak butuh restu untuk menyelamatkan diriku sendiri.
Bagian 3: Malam Tanpa Jejak
Tiga minggu kemudian, malam keberangkatan tiba. Hujan kembali mengguyur Manila, seolah langit mengerti bahwa ini adalah waktunya untuk menghapus jejak.
Aku melangkah keluar dari kamar. Kak Anya sedang tertidur di sofa dengan laptop di pangkuannya, layarnya menampilkan deretan kode tugas kuliah yang bahkan tidak dia kerjakan sendiri—mungkin dia membayar orang lain untuk melakukannya. Jun-jun? Dia sedang berada di luar, entah di mana, mungkin menghabiskan uang Papa untuk hal-hal yang tak perlu.
Aku berhenti sejenak di meja ruang makan. Di sana, di atas meja marmer yang dingin, aku meletakkan sebuah amplop putih. Isinya bukan surat perpisahan yang panjang, melainkan dokumen-dokumen penting yang harus kusimpan, beserta sebuah catatan singkat:
“Terima kasih untuk tempat tinggal selama delapan belas tahun. Aku sudah mendaftar di universitas, dan aku tidak akan membebani kalian lagi. Jangan mencariku.”
Aku berjalan menuju pintu, memutar kunci, dan keluar ke dalam dinginnya malam. Tak ada yang menoleh. Tak ada yang terbangun. Seolah-olah selama ini memang tidak pernah ada seorang anak bernama Janine di dalam rumah itu.
Bagian 4: Kejutan yang Menunggu di Mindanao
Perjalanan menuju Mindanao adalah perjalanan menuju kedewasaan yang sesungguhnya. Selama enam bulan pertama, aku bekerja keras, belajar lebih dari siapa pun, dan hidup dengan sangat hemat. Aku hampir tidak pernah memeriksa media sosial, tidak ingin tahu apa yang terjadi di Manila. Aku membangun identitas baru di mana namaku bukan lagi “Janine yang tidak penting,” melainkan “Janine sang peraih nilai tertinggi.”
Namun, di bulan ketujuh, sebuah paket datang ke asramaku. Pengirimnya tidak bernama, hanya alamat dari Manila—alamat rumahku yang dulu.
Dengan tangan gemetar, kubuka paket itu. Di dalamnya ada sebuah flashdisk dan sebuah surat tulisan tangan yang berantakan dari Kak Anya.
“Janine, kau pergi saat rumah ini hancur. Papa bangkrut seminggu setelah kau pergi. Utang-utang yang disembunyikannya selama ini meledak. Rumah disita. Jun-jun… dia tidak pernah kuliah, dia hanya menghabiskan uang untuk berjudi online. Mama jatuh sakit dan terus memanggil namamu, bukan karena dia rindu, tapi karena dia baru sadar bahwa kau adalah satu-satunya orang yang membayar tagihan listrik dan air selama dua tahun terakhir dengan uang tabunganmu sendiri. Kami tidak tahu kau sepintar itu. Maafkan kami, kami adalah orang tua yang buta.”
Duniaku berhenti. Aku tertawa, sebuah tawa pahit yang terasa menyayat tenggorokan. Mereka baru sadar? Mereka baru merasa kehilangan?
Bagian 5: Twist yang Tak Terduga
Aku memutuskan untuk tidak membalas. Namun, rasa penasaran membawaku mencolokkan flashdisk itu ke laptopku. Isinya adalah sebuah rekaman video tersembunyi dari kamera CCTV di ruang tamu rumah lama kami.
Jantungku berdegup kencang saat melihat rekaman tersebut. Itu adalah rekaman malam saat aku pergi.
Di video itu, aku melihat diriku sendiri keluar dari pintu depan dengan koper. Namun, yang membuatku membeku bukanlah diriku, melainkan apa yang terjadi setelah aku menutup pintu.
Tak lama setelah aku pergi, sebuah mobil hitam mewah berhenti di depan rumah. Tiga pria berjas keluar dan masuk ke dalam rumah. Papa keluar menemui mereka dengan wajah ketakutan, bukan karena masalah utang, tapi karena sesuatu yang lebih gelap.
Pria itu berbicara kepada Papa: “Di mana dia? Kami tahu dia sudah mendaftar di universitas itu. Dia adalah satu-satunya yang memiliki ‘kunci’ itu.”
Papa menunjuk ke arah kamarku yang kosong. Mereka menggeledah kamarku, menghancurkan segalanya, dan kemudian salah satu dari mereka menatap langsung ke arah kamera—seolah tahu ada yang merekam—dan tersenyum dingin.
“Ternyata dia sudah tahu dan lari sebelum kita sampai. Tapi dia tidak akan bisa lari dari takdirnya sebagai pewaris tunggal Yayasan itu.”
Aku ternganga. Yayasan? Kunci? Aku hanyalah anak yang diabaikan, anak yang harus lari ke warnet di tengah badai hanya untuk mendaftar kuliah. Siapakah aku sebenarnya?
Pesan terakhir di layar laptopku muncul secara otomatis, seolah sistem ini sudah terhubung dengan seseorang yang mengamatiku dari jauh:
“Selamat datang di permainan yang sesungguhnya, Janine. Kau pikir kau melarikan diri dari keluarga, padahal kau baru saja memasuki wilayah buruan. Jangan kembali ke Manila, karena di sini mereka menunggumu dengan senjata. Tetaplah di Mindanao, karena hanya di sana kau aman… untuk saat ini.”
Aku terduduk lemas di lantai asrama. Badai yang kuhadapi di Manila hanyalah rintik hujan dibandingkan dengan badai yang kini menungguku di depan sana. Ternyata, orang tuaku bukan sekadar tidak peduli; mereka selama ini menyembunyikanku. Dan sekarang, perlindungan itu sudah hilang.
Aku menatap cermin di dinding asrama. Gadis yang menatap balik padaku bukan lagi gadis yang ketakutan di warnet. Dia adalah target, dia adalah kunci, dan dia adalah seseorang yang baru saja menyadari bahwa hidupnya hanyalah pion dalam permainan besar yang bahkan belum dia pahami aturannya.
Aku menarik napas dalam-dalam. Jika mereka ingin bermain, maka aku akan menjadi pemain yang paling mematikan. Aku mematikan laptop, mengemas tas, dan menatap pintu asrama. Petualanganku untuk bertahan hidup baru saja dimulai, dan kali ini, tidak ada lagi yang bisa mengabaikanku.
