Ponselku berdering tanpa henti selama lima menit sebelum akhirnya berhenti.

Tiga hari setelah mengantar suamiku ke bandara untuk memulai pekerjaan barunya di Kanada, ponselku berbunyi pelan di atas meja makan. Sebuah notifikasi dari bank muncul di layar.

Ada penarikan dana sebesar dua ratus juta rupiah dari rekening gabungan kami.

Di kolom keterangan, hanya ada empat kata singkat.

“Ada keperluan mendadak, jangan khawatir.”

Aku menatap angka delapan miliar delapan ratus juta rupiah yang masih tersisa di rekening itu. Secangkir kopi hangat di tanganku perlahan kehilangan uapnya, sama seperti perasaanku terhadap pria bernama Mark Chandra, suamiku selama delapan tahun terakhir.

Aku tahu persis Mark masih memiliki tabungan pribadinya sendiri. Bonus tahunan, uang lembur, berbagai pemasukan yang diam-diam ia sisihkan selama bertahun-tahun. Aku selalu pura-pura tidak tahu. Bagiku, pernikahan bukan berarti menghilangkan ruang pribadi seseorang.

Namun kali ini, yang disentuhnya justru uang peninggalan orang tuaku.

Uang yang sebelum menikah sudah dibuatkan perjanjian hukum. Uang yang dititipkan ayah dan ibuku sebelum mereka meninggal dalam kecelakaan beberapa tahun silam.

Dulu, saat kami baru menikah, Mark menggenggam tanganku erat sambil berkata bahwa ia ingin kami menjadi keluarga yang sesungguhnya. Ia memintaku memindahkan seluruh tabunganku ke rekening bersama.

“Aku akan menjaganya seperti aku menjagamu.”

Kalimat itu dulu terdengar seperti janji paling tulus di dunia.

Sekarang, baru tiga hari menginjakkan kaki di Toronto, ia sudah mulai mengambilnya.

Aku membuka media sosialnya. Mark baru saja mengunggah foto selfie di apartemen sewanya. Matahari sore menyinari wajahnya dari balik jendela besar.

“Awal hidup yang baru. Semangat!”

Senyumnya begitu lebar.

Terlalu lebar.

Aku tidak memberi tanda suka. Aku hanya mengirim pesan pendek.

“Sayang, aku mau memindahkan sedikit uang untuk kebutuhan pribadiku, ya.”

Balasannya datang hanya beberapa detik kemudian.

“Pakai saja. Kamu pantas mendapatkannya. Selama ini juga capek mengurus rumah.”

Aku tersenyum dingin.

Mungkin dia mengira aku hanya akan mengambil sedikit uang untuk membeli tas baru atau pergi ke salon. Dia masih menganggapku Grace yang dulu, perempuan yang terlalu percaya pada cinta.

Tanganku bergerak mantap di layar.

Delapan miliar delapan ratus juta rupiah.

Masukkan kata sandi.

Konfirmasi.

Ponselku bergetar pelan.

Dana berhasil dipindahkan.

Aku menyimpan tangkapan layar transaksi itu, berdampingan dengan bukti penarikan Mark, lalu memasukkannya ke folder tersembunyi.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, dadaku terasa ringan.

Delapan tahun.

Delapan tahun aku berhenti bekerja demi mendukung kariernya. Delapan tahun menjadi menantu yang baik, istri yang sempurna, dan orang yang selalu mengalah.

Mark bilang, ia harus menetap di Kanada selama delapan tahun untuk membangun masa depan kami.

“Percayalah, Grace. Nanti aku jemput kamu.”

Kini aku mengerti. Dalam masa depan yang ia bayangkan, tidak pernah ada tempat untukku.

Ponselku mulai bergetar tanpa henti.

Mark menelepon berkali-kali.

Aku hanya menatap nama “Hubby” yang berkedip di layar, lalu meletakkan ponsel itu kembali.

Lima menit kemudian, panggilan video mulai berdatangan.

Aku memblokir nomornya.

Memblokir akunnya.

Menghapus permainan daring yang dulu kami mainkan bersama.

Aku menghapus semua foto pernikahan kami.

Aneh sekali. Tidak ada tangisan. Tidak ada amarah.

Hanya kehampaan yang tenang.

Keesokan harinya, aku mengenakan gaun merah yang sudah tiga tahun tersimpan di lemari. Mark selalu melarangku memakainya.

“Terlalu mencolok.”

Hari itu, aku sengaja memakainya.

Aku pergi ke pengadilan agama untuk berkonsultasi soal pembatalan pernikahan dan pembagian aset. Pengacara yang kutemui menjelaskan bahwa prosesnya mungkin panjang, apalagi Mark berada di luar negeri.

“Apa Ibu yakin ingin melanjutkan?”

Aku mengangguk.

“Sangat yakin.”

Saat keluar dari gedung pengadilan, matahari Jakarta bersinar terang. Aku mengambil foto langit dan mengunggahnya ke story.

“Hidup baru.”

Tak lama kemudian, Liza menelepon.

Liza adalah sahabatku sejak kuliah, satu-satunya orang yang tahu semua pengorbanan yang kulakukan selama menikah.

“Grace, serius? Kamu benar-benar meninggalkan Mark?”

“Aku sudah selesai.”

“Bagaimana uangmu?”

“Aman. Semuanya.”

Liza tertawa lega.

“Malam ini kita makan malam. Tidak ada penolakan.”

Aku menyetujuinya.

Namun sebelum sempat menyalakan mobil, sebuah pesan masuk dari ibu mertuaku, Nora.

“Grace, kenapa tidak aktif di grup keluarga? Nanti pulang beli ayam, ya. Malam ini video call dengan Mark supaya dia tenang.”

Aku membaca pesan itu dua kali.

Delapan tahun hidup bersama keluarga mereka membuatku hafal betul pola pikir mereka. Bahkan setelah Mark pergi ke luar negeri, mereka masih menganggapku sebagai pengurus rumah tangga gratis.

Aku membalas singkat.

“Bu, itu rumah Ibu. Bukan rumah saya lagi.”

Lalu aku keluar dari grup keluarga.

Telepon dari Nora langsung masuk beberapa detik kemudian. Aku membiarkannya berdering sampai mati.

Tak lama, pesan suara berdatangan.

“Grace, kamu ini kenapa? Baru ditinggal suami beberapa hari sudah berubah begini? Jangan bikin masalah. Mark kerja jauh-jauh demi kalian.”

Aku tidak membalas.

Malam itu, aku bertemu Liza di sebuah restoran kecil di kawasan Senopati. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku bisa duduk tanpa memikirkan siapa yang harus dimasakkan sarapan besok pagi atau siapa yang harus diantar ke rumah sakit.

“Menurutmu, kapan Mark mulai berubah?” tanya Liza.

Aku terdiam cukup lama.

“Mungkin dia tidak pernah berubah. Aku saja yang terlalu lama menolak melihat kenyataan.”

Liza mengangguk pelan.

Lalu ia mengeluarkan ponselnya.

“Aku sebenarnya sudah lama ingin memberitahumu sesuatu.”

Perutku tiba-tiba terasa tidak nyaman.

“Apa?”

Liza ragu-ragu sebelum memperlihatkan sebuah foto.

Di sana, Mark sedang berdiri di sebuah pusat perbelanjaan di Toronto. Di sampingnya ada seorang perempuan muda berwajah oriental yang menggandeng lengannya.

Foto itu diambil dua bulan lalu.

“Aku dapat ini dari temanku yang tinggal di sana,” kata Liza lirih. “Aku tidak ingin merusak rumah tanggamu, jadi aku diam.”

Aku memandangi foto itu tanpa berkedip.

Anehnya, tidak ada rasa sakit.

Yang kurasakan hanyalah kelegaan.

Semua teka-teki akhirnya tersusun.

Keberangkatannya yang mendadak.

Desakannya agar aku tidak ikut.

Rencana delapan tahun yang terasa begitu ganjil.

Mark sudah merencanakan semuanya jauh sebelum pesawat itu lepas landas.

Aku pulang malam itu dengan perasaan yang aneh. Sedih, marah, tetapi juga bebas.

Namun drama sesungguhnya baru dimulai tiga hari kemudian.

Pagi-pagi sekali, bel apartemenku berbunyi keras.

Ketika kubuka pintu, Nora berdiri di sana bersama adik perempuan Mark, Anita.

Wajah mereka penuh kemarahan.

“Di mana uang Mark?” bentak Nora tanpa basa-basi.

Aku bersandar di kusen pintu.

“Uang Mark?”

“Jangan pura-pura bodoh! Mark menelepon semalaman. Kamu mengambil semua uang di rekening bersama!”

Aku tersenyum tipis.

“Uang itu milik saya.”

“Milikmu bagaimana? Kalian suami istri!”

Aku masuk ke dalam dan kembali membawa map berisi dokumen.

“Ini perjanjian pranikah yang ditandatangani Mark sendiri delapan tahun lalu.”

Nora terdiam.

Aku melanjutkan, “Bahkan penarikan dua ratus juta yang dilakukan Mark minggu lalu sudah termasuk pelanggaran terhadap kesepakatan.”

Wajah Anita memerah.

“Kak Mark tidak mungkin seperti itu!”

Aku menatap mereka berdua.

“Kalau begitu, tanyakan padanya mengapa dia pergi ke Kanada bersama perempuan lain.”

Kalimat itu membuat ruang tamu mendadak sunyi.

Nora tampak kehilangan kata-kata.

Mereka pergi lima belas menit kemudian tanpa berhasil mengatakan apa pun lagi.

Kupikir semuanya akan selesai di situ.

Aku salah.

Seminggu kemudian, Mark akhirnya berhasil menghubungiku menggunakan nomor asing.

“Grace, tolong dengarkan aku.”

Suaranya terdengar lelah.

“Aku sedang mendengarkan.”

“Kamu salah paham.”

Aku tertawa kecil.

“Salah paham tentang perempuan yang tinggal bersamamu di Toronto? Atau salah paham tentang uang orang tuaku yang ingin kamu ambil?”

Mark terdiam beberapa detik.

“Aku hanya ingin meminjamnya.”

“Untuk memulai hidup baru?”

“Grace…”

“Tidak usah menjelaskan lagi.”

Nada suaraku begitu tenang hingga aku sendiri terkejut.

Mark mulai memohon.

Ia mengatakan bahwa perempuan itu hanyalah teman kerja. Ia mengatakan bahwa ia tetap mencintaiku. Ia bahkan berkata bahwa semua ini hanya kesalahpahaman.

Lalu, untuk pertama kalinya setelah delapan tahun, aku memotong ucapannya.

“Mark, kamu tahu hal yang paling menyakitkan?”

Dia diam.

“Bukan karena kamu selingkuh. Bukan karena kamu ingin mengambil uangku.”

“Lalu?”

“Karena selama delapan tahun, aku benar-benar percaya bahwa kamu mencintaiku.”

Di seberang sana, hanya ada suara napas panjang.

Aku menutup telepon.

Sebulan kemudian, proses hukum mulai berjalan. Aku kembali bekerja sebagai konsultan desain interior, profesi yang kutinggalkan setelah menikah. Hidupku perlahan berubah.

Aku mulai bepergian sendiri.

Mulai bertemu teman-teman lama.

Mulai tertawa tanpa beban.

Lalu, pada suatu sore, sebuah kabar datang dari Liza.

“Grace, kamu duduk dulu.”

“Ada apa?”

“Mark ditangkap polisi imigrasi Kanada.”

Aku membeku.

Ternyata perusahaan yang menjanjikan pekerjaan besar itu hanyalah kedok. Visa kerja yang digunakan Mark bermasalah. Perempuan yang bersamanya ternyata agen ilegal yang menipu puluhan orang Asia dengan iming-iming kehidupan baru.

Seluruh tabungan pribadi Mark habis dalam waktu singkat.

Dan uang dua ratus juta yang sempat ia ambil dari rekening bersama menjadi satu-satunya dana yang tersisa.

Aku duduk lama di balkon apartemen sambil memandang lampu-lampu kota Jakarta yang mulai menyala.

Ponselku berbunyi lagi.

Sebuah pesan masuk dari Mark.

Kali ini hanya satu kalimat.

“Aku menyesal.”

Aku membacanya berulang kali.

Dulu, mungkin aku akan menangis membaca pesan itu.

Namun sekarang, aku hanya tersenyum pelan.

Penyesalan memang selalu datang terlambat.

Aku membuka galeri ponsel dan menemukan foto langit yang kuunggah beberapa minggu lalu dengan caption “Hidup baru”.

Tanpa berpikir panjang, aku menghapus foto itu.

Aku tidak lagi membutuhkannya.

Karena ternyata hidup baru bukanlah sesuatu yang dimulai setelah kita meninggalkan seseorang.

Hidup baru dimulai pada saat kita akhirnya berhenti mengkhianati diri sendiri demi mempertahankan orang yang tidak pernah benar-benar menghargai kita.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang