Nama Vivian Lim terus menghantuiku sepanjang malam itu.
Aku duduk sendirian di kamar yang dulu menjadi kamar kami, memandangi empat kotak hadiah yang tersusun rapi di dalam laci rahasia Lucas. Masing-masing dibungkus dengan warna yang berbeda, dan setiap kartu kecil yang terselip di dalamnya ditulis dengan tulisan tangan Lucas yang kukenal luar kepala.
Tahun pertama.

“Aku akan bekerja lebih keras agar bisa membahagiakanmu.”
Tahun kedua.
“Aku masih menunggumu pulang.”
Tahun ketiga.
“Aku bermimpi melihatmu mengenakan gaun putih.”
Tahun keempat.
“Aku akan mengumpulkan seluruh cintaku untuk memberikan mawar putih terindah kepada Vivian-ku.”
Tanganku gemetar ketika menutup kotak terakhir.
Selama empat tahun pernikahan, aku hidup di samping seorang pria yang setiap malam memelukku, makan bersamaku, tertawa bersamaku, tetapi diam-diam menyimpan seluruh hatinya untuk perempuan lain.
Malam itu, Lucas pulang lebih larut dari biasanya. Begitu melihat semua kotak tergeletak di atas tempat tidur, wajahnya langsung pucat.
“Kenapa membuka barang-barang itu?”
Aku menatapnya lama.
“Siapa Vivian?”
Untuk pertama kalinya sejak kami menikah, Lucas tidak langsung menjawab pertanyaanku. Ia melepaskan seragam militernya, duduk di tepi tempat tidur, lalu mengusap wajahnya.
“Aku mengenalnya sebelum masuk akademi militer.”
“Kalau begitu, kenapa kau menikah denganku?”
Lucas tersenyum pahit.
“Karena keluargaku memintaku.”
Jawaban sesederhana itu menghancurkan semua yang selama ini kupercaya.
Aku tertawa pelan, tetapi air mata terus mengalir.
“Jadi selama ini, aku hanya pengganti?”
Lucas tidak menyangkal.
Malam itu, aku tidur di ruang tamu. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa begitu bodoh karena mencintai seseorang terlalu dalam.
Sejak saat itu, segalanya berubah.
Lucas tetap menjadi suami yang baik di mata orang lain. Ia tidak pernah membentakku, tidak pernah pulang dalam keadaan mabuk, bahkan masih mengingat hari ulang tahunku. Namun, aku tahu semua itu hanyalah tanggung jawab, bukan cinta.
Vivian tinggal di luar negeri. Kadang-kadang, telepon rumah kami berdering larut malam. Lucas akan pergi ke balkon dan berbicara selama berjam-jam dengan suara yang begitu lembut, suara yang tidak pernah kudengar saat ia berbicara denganku.
Aku pernah bertanya apakah ia mencintainya.
Ia hanya menjawab, “Ada beberapa orang yang tidak bisa kita lupakan, seberapa keras pun kita mencoba.”
Jawaban itu cukup bagiku.
Setahun kemudian, aku hamil.
Ketika melihat hasil pemeriksaan dokter, aku pikir segalanya akan berubah. Aku percaya seorang anak bisa menyelamatkan pernikahan kami.
Namun, seminggu setelah itu, Vivian menelepon dari Amerika.
Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan malam itu, tetapi keesokan paginya Lucas mengatakan bahwa Vivian akan pulang ke Indonesia untuk selamanya.
Beberapa bulan berikutnya menjadi mimpi buruk yang tak pernah bisa kulupakan.
Lucas mulai sering pergi. Kadang-kadang ia menghilang berhari-hari dengan alasan tugas militer. Aku mulai mengalami pendarahan saat kandunganku memasuki bulan ketiga.
Dokter mengatakan bahwa kondisiku berbahaya dan aku membutuhkan dukungan suami.
Namun, Lucas sedang berada di luar kota bersama Vivian.
Aku meneleponnya berkali-kali.
Tidak ada jawaban.
Ketika akhirnya ia mengangkat telepon, suara Vivian terdengar di belakangnya.
“Lucas sedang sibuk. Nanti kami hubungi lagi.”
Malam itu, aku kehilangan anakku.
Aku menjalani operasi sendirian.
Ibuku sudah meninggal, ayahku tinggal di kampung halaman, sementara bibiku sedang berada di Surabaya untuk urusan bisnis. Saat sadar dari anestesi, hal pertama yang kulihat adalah langit-langit rumah sakit yang putih dan dingin.
Dua hari kemudian, Lucas datang membawa surat perceraian.
Anehnya, aku tidak menangis.
Mungkin karena semua air mataku telah habis bersama anak yang tak sempat lahir.
Setelah Lucas pergi, aku memulai hidup baru.
Dengan uang peninggalan mertuaku, aku membuka butik kecil di Jakarta Selatan. Pada awalnya, aku tidak mengerti apa-apa tentang bisnis. Aku hanya tahu cara menggambar dan menjahit.
Setiap pagi, aku datang paling awal dan pulang paling akhir. Aku belajar menghitung keuntungan, berbicara dengan pelanggan, bahkan mengantar pesanan sendiri.
Orang-orang menganggapku nekat karena menghabiskan hampir seluruh tabunganku untuk usaha yang belum tentu berhasil.
Namun, untuk pertama kalinya dalam hidup, aku merasa hidup untuk diriku sendiri.
Enam bulan berlalu.
Butikku mulai dikenal. Desain-desain buatanku dipakai oleh beberapa selebritas lokal, dan pesanan datang tanpa henti.
Aku hampir melupakan Lucas ketika telepon dari Vivian datang.
Lucas ditangkap polisi.
Kalimat itu terus terngiang di kepalaku bahkan setelah sambungan telepon terputus.
Aku tidak berniat membantu mereka.
Namun, malam harinya, seseorang mengetuk pintu apartemenku.
Ketika kubuka, Vivian berdiri di sana.
Ia jauh lebih cantik daripada yang kubayangkan.
Rambut panjang, pakaian mahal, wajah pucat penuh kecemasan.
Begitu melihatku, ia langsung menangis.
“Tolong bantu Lucas.”
Aku menyilangkan tangan.
“Aku mantan istrinya, bukan pengacaranya.”
Vivian menggigit bibir.
“Dia dituduh menerima suap dari kontraktor proyek militer.”
Aku terdiam.
Lucas adalah orang yang keras kepala, tetapi ia bukan tipe pria yang mudah tergoda uang.
“Aku tidak percaya.”
“Aku juga tidak percaya.” Vivian menunduk. “Tapi semua bukti mengarah kepadanya.”
Aku hampir menutup pintu ketika Vivian tiba-tiba berkata, “Dia melakukan semuanya untukku.”
Kalimat itu membuatku berhenti.
Vivian bercerita bahwa setelah kembali ke Indonesia, ia mengalami masalah besar. Ayahnya bangkrut, keluarganya terlilit utang miliaran rupiah, dan para penagih utang terus mengejarnya.
Lucas diam-diam menjual banyak aset pribadinya untuk membantu Vivian.
Ketika uang itu tidak cukup, seseorang menawarkan proyek ilegal dengan imbalan besar.
Lucas menerimanya.
Aku tidak tahu apakah harus tertawa atau marah.
Pria yang selama lima tahun tidak pernah benar-benar mencintaiku justru rela menghancurkan masa depannya demi perempuan lain.
“Lalu, apa hubungannya denganku?”
Vivian mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata.
“Karena hanya kau yang bisa menyelamatkannya.”
Aku tertawa dingin.
“Aku bahkan tidak bisa menyelamatkan pernikahanku sendiri.”
Namun, sebelum pergi, Vivian meninggalkan sebuah amplop.
“Aku pikir kau berhak mengetahui semuanya.”
Setelah ia pergi, aku membuka amplop itu.
Di dalamnya ada puluhan surat.
Semua ditulis oleh Lucas.
Tetapi tak satu pun pernah dikirim.
Surat pertama ditulis beberapa minggu setelah kami menikah.
“Vivian, aku sudah menikah. Aku berusaha melupakanmu.”
Surat berikutnya ditulis setahun kemudian.
“Aku pikir aku bisa mencintainya, tetapi aku gagal.”
Aku membaca semuanya hingga larut malam.
Lalu, pada surat terakhir yang ditulis beberapa bulan sebelum perceraian kami, tanganku membeku.
“Vivian, jangan kembali ke Indonesia. Aku mulai mencintai Teresa.”
Aku membaca kalimat itu berulang kali.
Jantungku berdegup begitu keras hingga terasa menyakitkan.
Surat itu berlanjut.
“Setiap kali aku melihatnya tertidur di sofa sambil menungguku pulang, aku merasa bersalah. Setiap kali ia tersenyum karena hal kecil yang kulakukan, aku takut kehilangan dirinya.”
“Aku tidak tahu kapan semuanya berubah.”
“Tetapi sekarang, aku sadar bahwa orang yang selama ini kucari ternyata selalu berada di sampingku.”
Tanganku gemetar.
Kalau begitu, kenapa ia tetap memilih pergi?
Jawabannya ada di halaman terakhir.
“Aku baru tahu bahwa Vivian sakit keras. Dokter mengatakan ia mungkin tidak akan hidup lama. Aku tidak sanggup meninggalkannya sendirian setelah semua yang pernah kami lalui.”
Aku terduduk lama di lantai.
Untuk pertama kalinya, aku memahami pilihan Lucas.
Ia bukan pergi karena berhenti mencintaiku.
Ia pergi karena terlambat menyadari perasaannya.
Keesokan harinya, aku mendatangi kantor polisi.
Lucas tampak jauh lebih kurus. Seragamnya kusut, matanya merah karena kurang tidur.
Begitu melihatku, ia terdiam.
“Kenapa kau datang?”
Aku meletakkan amplop itu di atas meja.
“Aku membaca semuanya.”
Wajahnya langsung pucat.
Untuk beberapa saat, tak ada satu pun dari kami yang berbicara.
Akhirnya Lucas tersenyum pahit.
“Aku tidak pernah bermaksud membuatmu tahu.”
Aku menatap pria yang pernah menjadi seluruh duniaku.
“Apa kau mencintaiku?”
Ia memejamkan mata.
“Ya.”
“Sejak kapan?”
Lucas tertawa pelan.
“Mungkin sejak aku kehilanganmu.”
Aku tidak menangis.
Anehnya, hatiku justru terasa tenang.
Aku mengurus pengacara terbaik untuknya, bukan karena cinta yang belum selesai, melainkan karena aku akhirnya ingin menutup babak hidupku dengan damai.
Beberapa minggu kemudian, tuduhan terhadap Lucas terbukti tidak sepenuhnya benar. Ia memang menerima uang ilegal, tetapi bukan untuk dirinya sendiri. Hukuman disipliner tetap dijatuhkan, dan karier militernya berakhir.
Sebelum meninggalkan Jakarta, Lucas datang ke butikku untuk terakhir kalinya.
“Aku akan pindah ke Yogyakarta.”
Aku mengangguk.
“Vivian?”
Lucas menatap langit sore di luar jendela.
“Dia meninggal tiga hari yang lalu.”
Aku membeku.
Selama ini, aku membenci perempuan yang bahkan sedang bertarung melawan kematian.
Lucas mengeluarkan sebuah kotak kecil dari tasnya.
Kotak hadiah tahun keempat.
“Aku ingin memberikannya kepadamu.”
Aku membukanya perlahan.
Di dalamnya tidak ada perhiasan mahal.
Hanya sebuah bros berbentuk mawar putih dan secarik kertas.
Tulisan tangan Lucas memenuhi lembaran itu.
“Untuk perempuan yang telah mengajariku arti pulang.”
Aku mengangkat kepala, tetapi Lucas sudah berdiri.
“Aku tidak meminta kesempatan kedua, Teresa.”
“Karena aku tahu, beberapa penyesalan memang harus dibawa seumur hidup.”
Ia tersenyum, lalu pergi.
Aku berdiri lama di depan jendela, memperhatikan punggungnya menghilang di antara keramaian Jakarta.
Bertahun-tahun kemudian, butik kecilku berkembang menjadi merek fesyen yang dikenal di seluruh Indonesia.
Orang-orang sering bertanya mengapa aku tidak pernah menikah lagi.
Aku selalu tersenyum dan menjawab bahwa hidup tidak selalu membutuhkan akhir yang sempurna untuk menjadi indah.
Kadang-kadang, cinta datang terlambat.
Kadang-kadang, kita kehilangan seseorang tepat ketika kita mulai memahami perasaannya.
Namun, hidup tidak berhenti karena kehilangan.
Karena pada akhirnya, yang paling sulit bukanlah belajar mencintai seseorang, melainkan belajar melepaskannya dengan hati yang utuh.
