Maya menatap uang yang berserakan di lantai dalam diam. Tidak ada kilatan amarah di matanya, tidak ada air mata yang menetes. Hanya ada keheningan yang dingin. Ia perlahan berjongkok, memungut lembaran uang tersebut satu per satu dengan gerakan yang sangat tenang, lalu meletakkannya dengan rapi di atas meja terdekat.

“Uang yang cukup banyak untuk segelas kopi,” ujar Maya lirih, suaranya terdengar jelas di tengah keheningan paviliun yang mencekam.
Ia kemudian membuka kantong kertasnya, mengambil gelas iced coffee pesanan tersebut, dan menuangkannya ke dalam gelas kristal milik Isabella dengan tangan yang sangat stabil. Isabella tersenyum penuh kemenangan, sementara Adrian memalingkan wajahnya, tak sanggup menatap mantan kekasihnya direndahkan sedemikian rupa.
Namun, senyum kemenangan Isabella tidak bertahan lama.
Creeeech!
Suara decitan ban yang sangat keras terdengar dari arah halaman depan Grand Pavilion. Bukan hanya satu, melainkan lima mobil SUV hitam pekat berukuran besar berhenti mendadak tepat di depan pintu masuk. Pintu-pintu mobil tersebut terbuka serentak. Belasan pria berjas hitam dengan postur tegap dan tatapan tajam langsung turun, membentuk barisan pengamanan yang ketat.
Pintu tengah dari SUV paling mewah terbuka. Seorang pria paruh baya dengan karisma yang luar biasa melangkah keluar. Ia adalah Don Alejandro Monteverde—pemilik bank terbesar di negara ini, sekaligus kakek kandung Isabella yang selama ini mengendalikan seluruh kekayaan keluarga Monteverde dari balik layar.
Isabella terkejut melihat kehadiran kakeknya yang mendadak. “Lolo? (Kakek?)” gumamnya heran. “Bukankah katanya Kakek sedang menghadiri pertemuan darurat dengan investor utama konsorsium baru di Manila?”
Don Alejandro tidak menjawab cucunya. Ia berjalan dengan langkah besar dan tergesa-gesa memasuki paviliun, diikuti oleh jajaran direksi dan pengacara setianya. Wajah pria tua itu tampak tegang, dipenuhi kecemasan yang mendalam.
Semua tamu VIP menundukkan kepala penuh hormat saat Don Alejandro lewat. Adrian dan Isabella segera merapikan pakaian mereka, bersiap menyambut sang penguasa bisnis dengan senyum paling menawan.
“Lolo, untunglah Kakek sempat datang—” Isabella melangkah maju dengan tangan terbuka.
Namun, Don Alejandro melewatinya begitu saja. Ia bahkan tidak melirik cucunya sendiri ataupun Adrian yang sudah membungkuk hormat.
Langkah kaki Don Alejandro berhenti tepat di depan seorang gadis berjaket hijau.
Di hadapan seluruh tamu undangan yang tercengang, pria paling berkuasa di industri perbankan itu membungkuk dalam-dalam—sebuah penghormatan yang belum pernah ia berikan kepada siapa pun seumur hidupnya.
“Nona Maya… maafkan kelalaian saya,” kata Don Alejandro dengan suara yang bergetar karena panik. “Saya baru tahu Anda berada di sini setelah tim protokoler mendeteksi sinyal GPS kendaraan Anda. Mengapa Anda harus menyamar dan mengantarkan pesanan sendiri seperti ini?”
Seluruh ruangan seketika sunyi senyap. Musik pengiring benar-benar mati.
“Kakek? Apa yang Kakek lakukan?!” jerit Isabella, suaranya melengking karena syok. “Dia hanya seorang delivery rider miskin! Dia mantan kekasih Adrian yang gagal dalam hidup!”
“Diam kamu, Isabella!” bentak Don Alejandro dengan suara menggelegar yang membuat seluruh paviliun bergidik ngeri. “Jaga bicaramu atau aku akan mencoret namamu dari seluruh aset Monteverde detik ini juga!”
Don Alejandro kembali menatap Maya dengan wajah pucat. “Nona Maya, tolong jangan biarkan tindakan bodoh cucu saya membatalkan kerja sama kita. Dewan direksi baru saja menandatangani pengalihan saham.”
Maya melepaskan helmnya, membiarkan rambut panjangnya terurai bebas. Ia menatap Don Alejandro, lalu beralih ke arah Isabella dan Adrian yang kini mematung bagai patung lilin.
“Saya tidak sedang menyamar, Don Alejandro,” ucap Maya dengan nada datar namun penuh penekanan. “Perusahaan ride-hailing dan logistik hijau yang jaketnya sedang saya kenakan ini… adalah salah satu dari sekian banyak anak perusahaan milik Reyes Holdings. Saya hanya ingin turun langsung ke lapangan hari ini untuk memastikan layanan aplikasi baru kami berjalan lancar. Kebetulan, pesanan kopi ini datang dari salah satu tamu di sini.”
Mendengar nama Reyes Holdings, wajah Adrian langsung berubah pucat pasi. Reyes Holdings adalah raksasa konglomerat baru yang memegang kendali atas 60% saham konsorsium perbankan yang baru saja menyuntikkan dana segar untuk menyelamatkan bank milik keluarga Monteverde dari kebangkrutan.
Dengan kata lain, Maya Reyes adalah pemilik sah dari seluruh aset yang selama ini disombongkan oleh Isabella. Dan Maya jugalah yang memegang keputusan akhir apakah firma arsitektur milik Adrian akan mendapatkan proyek megah bernilai miliaran peso di Tagaytay, atau hancur tanpa sisa.
“T-tidak mungkin…” bisik Adrian, lututnya terasa lemas. Ia teringat kembali saat ia mencpndakkan Maya, menuduhnya sebagai wanita tanpa ambisi hanya karena Maya memilih merawat ibunya yang sakit di rumah, tanpa tahu bahwa ibu Maya adalah salah satu pendiri yayasan medis terbesar di Asia.
Maya melangkah mendekati meja pengantin. Ia menatap segelas iced coffee yang baru saja ia tuangkan, lalu menatap Isabella yang kini gemetar ketakutan, air mata kecemasan mulai merusak riasan wajahnya yang mahal.
“Kopinya sudah saya tuangkan, sesuai permintaanmu,” kata Maya sambil tersenyum tipis. “Tapi sepertinya, pernikahan mewah ini tidak akan berlangsung semanis kopi ini.”
Maya berbalik menatap Don Alejandro. “Don Alejandro, sampaikan pada dewan direksi. Saya membatalkan investasi Reyes Holdings di bank Anda. Saya tidak sudi bekerja sama dengan keluarga yang tidak tahu cara menghormati pekerja keras.”
“Nona Maya, saya mohon… beri kami kesempatan lagi!” Don Alejandro memohon, melupakan semua harga dirinya di depan para tamu VIP. Jika investasi itu batal, keluarga Monteverde akan hancur dalam hitungan hari.
Maya tidak memedulikan permohonan itu. Ia memakai kembali helmnya, berbalik dengan anggun, dan berjalan keluar dari Grand Pavilion.
Lima SUV hitam di luar segera membuka jalan, dan para pengawal membungkuk hormat saat Maya berjalan melewati mereka. Di dalam paviliun, suasana berubah menjadi kekacauan total. Isabella menangis histeris menyalahkan Adrian, Don Alejandro memaki mereka berdua, sementara para tamu mulai berbisik-bisik sinis.
Mereka baru sadar—mereka telah menundukkan kepala pada pengantin yang salah, dan menertawakan ratu yang sesungguhnya.
