SEORANG AYAH YANG PUTUS ASA MENGAMUK DI IGD DEMI ANAKNYA—IA SIAP DIBORGOL, TAPI SAAT PERAWAT KELUARKAN HASILNYA, PARA POLISI BERLUTUT…

Dua polisi datang dengan langkah cepat, tangan siap di sabuk senjata mereka. Ketegangan di lorong IGD langsung memuncak.

“Pak, mundur! Jangan membuat keributan atau kami terpaksa mengamankan Anda!” bentak salah satu polisi, bersiap mencabut borgol dari pinggangnya.

Mang Rodel tidak mundur. Ia justru maju, menyodorkan kedua pergelangan tangannya yang gemetar ke hadapan polisi tersebut. Air matanya luruh membasahi pipinya yang kotor oleh debu jalanan.

“Borgol saya! Tangkap saya! Saya tidak peduli!” teriak Rodel dengan suara serak, dadanya naik turun menahan beban yang teramat sangat. “Penjarakan saya seumur hidup, tapi saya mohon… selamatkan anak saya dulu! Jangan biarkan dia mati hanya karena saya miskin!”

Suasana IGD mendadak hening. Kata-kata Rodel memotong ketegangan seperti pisau panas merobek es. Kedua polisi itu sempat termangu, melihat ketulusan dan keputusasaan yang begitu murni di mata sang ayah. Namun, tugas tetaplah tugas. Ketika Rodel kembali bergerak histeris hendak menerobos pintu kaca ruang tindakan, kedua polisi itu terpaksa meringkusnya. Tubuh kurus Rodel ditekan ke lantai dingin.

“Lepaskan! Jomar! Jomar!” Rodel menjerit, wajahnya menempel di lantai, sementara besi borgol yang dingin mulai mengunci pergelangan tangannya.

Pada detik yang paling krusial itu, pintu ruang tindakan mendadak terbuka dengan sentakan keras. Suster Rani, perawat senior yang sejak tadi menangani Jomar, melangkah keluar. Tangannya memegang selembar kertas hasil laboratorium yang baru saja keluar dari mesin faks darurat.

Wajah Suster Rani pucat pasi, matanya bergetar menatap kertas di tangannya, lalu beralih menatap pemandangan di lantai lorong.

“Tunggu! Lepaskan dia! Lepaskan pria itu sekarang juga!” teriak Suster Rani, suaranya melengking memecah keheningan.

Kedua polisi itu mendongak, bingung. “Tapi suster, pria ini mengamuk dan membahayakan—”

“Kalian tidak mengerti!” Suster Rani memotong dengan napas terengah-engah, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia berjalan mendekat, tangannya gemetar hebat saat menyodorkan kertas hasil lab tersebut ke arah polisi yang sedang menindih Rodel. “Lihat nama anak ini. Lihat nama ibunya di data pendaftaran. Dia… dia anak dari mendiang Aiptu Jefri!”

Mendengar nama itu, kedua polisi tersebut membeku. Jantung mereka seakan berhenti berdetak.

Polisi yang memegang borgol segera membaca kertas itu dengan mata terbelalak. Di sana tertera nama lengkap pasien: Jomar Alexander. Dan di kolom riwayat medis keluarga, tertulis nama ibu kandungnya yang sudah meninggal dunia tiga tahun lalu: Yati Sartika.

Seketika itu juga, cengkeraman kedua polisi pada tubuh Rodel mengendur.

Aiptu Jefri adalah seorang polisi legendaris di kota itu. Dua tahun lalu, ia gugur dalam sebuah aksi baku hantam demi menyelamatkan sebuah bus berisi warga sipil dari aksi terorisme. Jefri tewas sebagai pahlawan nasional. Dan kedua polisi yang berdiri di IGD saat ini adalah mantan anak buah langsung dari Aiptu Jefri. Mereka tahu betul bahwa setelah Jefri gugur dan istrinya meninggal karena kanker, anak tunggal Jefri dirawat oleh adik angkat Jefri yang berprofesi sebagai kuli panggul pasar—pria itu adalah Mang Rodel.

Rodel telah menghabiskan seluruh sisa tabungannya, bahkan rela kelaparan, demi membesarkan anak sang pahlawan dengan penuh kasih sayang. Dan hari ini, anak pahlawan mereka nyaris mengembuskan napas terakhir karena birokrasi rumah sakit yang rumit.

Kehormatan di Lantai IGD

Sadar akan kesalahan besar yang nyaris mereka lakukan, kedua polisi itu langsung melepaskan cengkeraman mereka. Borgol yang belum sempat terkunci sempurna itu ditarik kembali.

Tanpa memedulikan tatapan tak percaya dari para pengunjung IGD, kedua polisi bertubuh tegap itu perlahan mundur satu langkah. Secara serentak, mereka berlutut di lantai, menundukkan kepala dalam-dalam di hadapan Mang Rodel yang masih terduduk lemas dengan baju basah kuyup.

“Bang Rodel… maafkan kami. Kami tidak tahu kalau ini Jomar,” ucap polisi yang lebih senior dengan suara bergetar menahan tangis. “Kami telah gagal menjaga keluarga komandan kami.”

Polisi satunya lagi langsung berdiri dan berbalik menatap petugas administrasi serta dokter jaga dengan tatapan sekeras baja.

“Anak ini adalah anak kandung dari Aiptu Jefri! Pahlawan yang fotonya dipajang di markas besar! Demi Tuhan, jika terjadi sesuatu pada anak ini karena kalian menunda pengobatan demi uang, saya sendiri yang akan menyeret kalian semua ke jalur hukum!”

Mendengar hal itu, seluruh staf rumah sakit mendadak tegang. Dokter jaga yang tadinya hendak dipindahkan ke kasus lain langsung berlari masuk ke bilik Jomar. Petugas administrasi yang tadinya kaku, dengan jemari gemetar langsung menekan tombol override darurat pada komputer untuk membebaskan semua biaya.

Akhir yang Mengharukan

Dua jam berlalu seperti neraka bagi Rodel. Namun, berkat penanganan instan tanpa hambatan, kondisi Jomar yang mengalami pecah apendiks (usus buntu akut) berhasil diselamatkan tepat pada waktunya melalui operasi darurat.

Ketika fajar mulai menyingsing, Jomar dipindahkan ke ruang pemulihan. Kondisinya sudah stabil.

Rodel duduk di samping ranjang Jomar, menggenggam erat tangan kecil anaknya yang kini sudah mulai menghangat. Di belakangnya, kedua polisi tadi masih setia berdiri berjaga di depan pintu kamar, memastikan tidak ada lagi “birokrasi” yang akan menyakiti anak itu.

Kepala rumah sakit bahkan datang langsung ke kamar tersebut, membungkuk meminta maaf kepada Mang Rodel dan berjanji bahwa seluruh biaya perawatan Jomar hingga sembuh total akan ditanggung sepenuhnya oleh yayasan rumah sakit sebagai bentuk penghormatan kepada mendiang ayahnya.

Rodel tidak lagi marah. Ia hanya menatap wajah polos Jomar yang sedang tertidur lelap, lalu berbisik pelan ke arah langit, “Jef… anakmu aman. Ayahmu di surga masih terus melindunginya lewat orang-orang baik di sekitarnya.”

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang