Hari kelulusan di Universitas San Lorenzo selalu dipenuhi oleh suasana yang meriah.

Sejak subuh, Joy sudah terbangun meski semalaman hampir tidak bisa memejamkan mata. Hari itu adalah hari yang telah ia impikan selama bertahun-tahun, hari ketika namanya akan dipanggil sebagai lulusan terbaik Fakultas Ekonomi Universitas San Lorenzo di Jakarta. Dari jendela rumah kontrakan kecil mereka di pinggiran kota, ia melihat ayahnya sedang membersihkan becak motor tua yang setiap hari digunakan untuk mencari nafkah. Sementara itu, ibunya sibuk menyetrika toga yang dipinjam dari kampus.

“Ayah, tidak perlu dibersihkan terlalu lama. Nanti kita terlambat,” kata Joy sambil tersenyum.

Pak Narding mengangkat kepala dan menyeka keringat di dahinya. Wajahnya yang mulai dipenuhi keriput tampak berbeda pagi itu. Ada kebanggaan yang sulit disembunyikan.

“Hari ini anak Ayah wisuda. Becak ini juga harus tampil bagus.”

Joy tertawa kecil. Ia tahu ayahnya hanya bercanda. Becak motor itu sudah berusia lebih dari lima belas tahun. Catnya pudar dan beberapa bagian bodinya mulai berkarat. Namun, kendaraan itulah yang telah mengantar ribuan penumpang dan membiayai pendidikan Joy hingga ke bangku universitas.

Ibunya keluar sambil membawa kotak plastik besar.

“Hati-hati membawanya, Pak. Jangan sampai tumpah.”

Joy mengernyit. “Ibu membawa apa?”

Bu Pacing tersenyum misterius. “Nanti juga tahu.”

Perjalanan menuju kampus memakan waktu hampir satu jam. Jalanan Jakarta sudah dipenuhi kendaraan, sementara becak motor tua mereka melaju pelan di antara mobil-mobil mewah. Sesekali, Joy melihat keluarga mahasiswa lain turun dari SUV besar sambil membawa buket bunga dan hadiah mahal.

Ia menoleh ke arah ayah dan ibunya. Keduanya mengenakan pakaian terbaik yang mereka miliki. Kemeja putih Pak Narding sudah dipakai bertahun-tahun, sementara kebaya sederhana Bu Pacing tampak sedikit pudar. Namun, mereka tersenyum sepanjang perjalanan.

Ketika upacara wisuda dimulai, ribuan orang memenuhi aula kampus. Nama Joy dipanggil paling akhir bersama para penerima penghargaan akademik.

“Joy Marlina Saputra, Magna Cum Laude.”

Tepuk tangan bergemuruh memenuhi ruangan.

Joy melangkah ke atas panggung dengan jantung berdebar. Saat rektor menyerahkan ijazah dan medali, matanya langsung mencari kedua orang tuanya di antara kerumunan.

Ia menemukan mereka.

Pak Narding berdiri sambil bertepuk tangan dengan mata berkaca-kaca. Bu Pacing bahkan tidak berusaha menyembunyikan air matanya.

Bagi orang lain, itu mungkin hanya sebuah wisuda. Namun, bagi keluarga kecil itu, hari tersebut adalah bukti bahwa semua pengorbanan mereka tidak sia-sia.

Seusai acara, halaman kampus berubah menjadi lautan manusia. Para lulusan berfoto bersama teman-teman mereka. Banyak keluarga menuju restoran atau hotel untuk merayakan.

“Joy, ikut kami ke buffet di hotel Grand Mahesa!” seru salah satu temannya.

Teman yang lain menyahut, “Atau ikut pesta di apartemen Brian malam ini!”

Joy tersenyum sopan.

“Terima kasih, tapi aku sudah punya rencana dengan orang tuaku.”

Teman-temannya mengangguk dan segera pergi.

Pak Narding berdiri beberapa langkah di belakang sambil merogoh saku celananya. Ia menghitung uang yang tersisa dengan hati-hati. Hanya ada lima ratus ribu rupiah. Sebagian besar tabungan mereka sudah habis untuk biaya wisuda, sewa toga, dan ongkos.

Ia mendekati Joy dengan sedikit rasa bersalah.

“Nak, maaf ya. Ayah belum bisa mengajakmu makan di restoran.”

Joy menggenggam tangan ayahnya.

“Yah, aku tidak pernah meminta itu.”

Pak Narding tersenyum tipis.

“Tapi Ayah sudah menyiapkan kejutan.”

Mereka berjalan menuju area parkir kampus. Dari bagasi becak motor, Pak Narding mengeluarkan tikar lusuh dan kotak plastik yang sejak tadi dibawa ibunya.

Mereka mencari tempat teduh di bawah pohon besar di dekat lapangan kampus. Di sana, Pak Narding membentangkan tikar, sementara Bu Pacing membuka kotak makanan.

Aroma bihun goreng langsung memenuhi udara.

Ada bihun dengan sayuran, udang kecil, hati ayam, telur rebus, kerupuk, dan segelas besar es cincau yang masih dingin.

Joy terdiam beberapa saat.

“Ayah yang memasak semua ini?”

Pak Narding mengangguk sambil tersenyum malu.

“Tadi malam. Setelah pulang kerja.”

“Bukannya Ayah baru sampai rumah hampir tengah malam?”

“Justru karena hari ini spesial.”

Joy memeluk ayahnya erat-erat. Ia tahu ayahnya pasti sangat lelah, tetapi lelaki itu tetap memasak demi membuat putrinya bahagia.

Mereka bertiga duduk di atas rumput, menikmati makanan sederhana sambil bercanda. Joy menceritakan rencananya untuk mencari pekerjaan, sementara Bu Pacing sibuk menyuapi putrinya seperti ketika Joy masih kecil.

Di kejauhan, mobil-mobil mewah terus keluar masuk area kampus.

Salah satunya adalah SUV hitam milik keluarga Brian Wijaya, teman sekelas Joy yang berasal dari keluarga pengusaha terkenal.

Brian sebenarnya tidak terlalu mengenal Joy. Ia hanya tahu bahwa gadis itu selalu mendapat nilai tertinggi dan jarang berbicara dengan orang lain.

Namun, ketika mobil mereka melewati lapangan kampus, Brian tanpa sengaja melihat Joy dan keluarganya.

“Ayah, lihat.”

Pak Robert Wijaya, ayah Brian, menoleh ke luar jendela.

Ia melihat seorang gadis dengan medali kelulusan duduk di atas tikar bersama kedua orang tuanya. Tidak ada dekorasi mewah. Tidak ada pesta besar. Hanya sepiring bihun dan tawa yang terdengar tulus.

Entah mengapa, Pak Robert meminta sopir menghentikan mobil.

“Mengapa berhenti?” tanya istrinya.

Pria itu tidak langsung menjawab.

Sudah lama ia tidak melihat pemandangan seperti itu. Sejak perusahaannya berkembang pesat, hidupnya dipenuhi rapat, investasi, dan acara bisnis. Ia bahkan hampir lupa kapan terakhir kali makan bersama keluarganya tanpa membicarakan pekerjaan.

“Pak sopir, tunggu sebentar.”

Ia membuka pintu dan turun dari mobil.

Brian dan ibunya ikut menyusul.

Ketika melihat keluarga kaya itu mendekat, Pak Narding buru-buru berdiri.

“Selamat siang, Pak.”

Pak Robert tersenyum ramah.

“Maaf mengganggu. Saya melihat kalian dari sana.”

Pak Narding mengangguk canggung.

Lalu, tanpa diduga, Pak Robert bertanya, “Apakah kami boleh bergabung?”

Joy dan kedua orang tuanya saling berpandangan.

“Tentu saja, Pak. Tapi makanan kami sangat sederhana.”

“Tidak masalah.”

Mereka pun duduk di atas tikar yang sama.

Awalnya suasana terasa kaku. Namun, beberapa menit kemudian, percakapan mulai mengalir.

Pak Robert bertanya tentang jurusan Joy, perjuangannya selama kuliah, dan pekerjaan kedua orang tuanya.

Joy menjawab dengan jujur.

Ia bercerita bagaimana ibunya menerima cucian dari lima rumah setiap hari dan bagaimana ayahnya tetap bekerja bahkan saat hujan deras demi membayar uang semester.

“Aku pernah hampir berhenti kuliah pada semester tiga,” kata Joy pelan.

Pak Robert menatapnya.

“Mengapa?”

Joy tersenyum pahit.

“Ayah mengalami kecelakaan kecil. Becaknya rusak. Kami tidak punya uang.”

Pak Narding langsung memotong.

“Tapi semuanya sudah lewat.”

Joy menggeleng.

“Belum selesai, Yah. Aku masih ingat malam itu.”

Ia menatap kedua orang tuanya.

“Malam ketika Ayah menjual cincin pernikahan yang selama ini disimpan Ibu.”

Bu Pacing tertunduk.

“Waktu itu, kami hanya ingin kamu tetap kuliah.”

Untuk pertama kalinya, Brian yang sejak tadi diam mulai merasa dadanya sesak. Selama hidupnya, ia tidak pernah memikirkan biaya pendidikan. Semua kebutuhan selalu tersedia.

Pak Robert juga terdiam cukup lama.

Ia memandangi tangan Pak Narding yang kasar dan wajah Bu Pacing yang tampak lelah.

Tanpa sadar, ia teringat masa mudanya sendiri.

Dulu, sebelum menjadi pengusaha sukses, ia berasal dari keluarga miskin di sebuah desa kecil di Jawa Tengah. Ayahnya hanyalah buruh tani.

Namun, setelah sukses, ia perlahan melupakan semua itu.

Di tengah percakapan, ponsel Pak Robert tiba-tiba berdering. Wajah sekretarisnya muncul di layar.

“Pak, investor dari Singapura sudah menunggu di hotel.”

Pak Robert menatap layar beberapa detik, lalu mematikannya.

Brian terkejut.

“Ayah membatalkan pertemuan?”

Pak Robert tersenyum.

“Ada hal yang lebih penting.”

Mereka kembali menikmati bihun bersama.

Beberapa mahasiswa mulai memperhatikan pemandangan aneh itu. Keluarga kaya yang seharusnya berada di hotel mewah justru duduk di atas rumput bersama keluarga sederhana.

Namun, kejutan sesungguhnya belum terjadi.

Setelah makan selesai, Pak Robert berdiri dan mengeluarkan sebuah amplop dari dalam tas kerjanya.

“Joy.”

Gadis itu menoleh.

“Saya memiliki sebuah perusahaan teknologi dan lembaga pendidikan.”

Joy langsung menggeleng.

“Pak, kami tidak meminta bantuan apa pun.”

“Saya tahu.”

Pak Robert menyerahkan amplop itu.

Dengan tangan gemetar, Joy membukanya.

Di dalamnya terdapat surat penawaran beasiswa penuh untuk program magister di universitas mana pun yang ia pilih di Indonesia, lengkap dengan biaya hidup selama dua tahun.

Joy terdiam.

Bu Pacing langsung menangis.

Pak Narding tampak kebingungan.

“Pak, ini terlalu besar untuk kami.”

Pak Robert tersenyum.

“Belum selesai.”

Ia mengeluarkan sebuah map lain.

“Mulai bulan depan, saya juga ingin mempekerjakan Pak Narding.”

Semua orang terkejut.

“Saya?” tanya Pak Narding.

“Saya sedang membangun program transportasi gratis untuk anak-anak kurang mampu. Saya membutuhkan seseorang yang mengerti kerasnya hidup dan tahu arti tanggung jawab.”

Pak Narding hampir tidak bisa berbicara.

“Tapi saya hanya pengemudi becak.”

“Justru itu alasan saya memilih Bapak.”

Brian yang berdiri di samping ayahnya ikut tersenyum.

Namun, yang paling mengejutkan adalah perkataan Pak Robert berikutnya.

“Sebenarnya, hari ini saya tidak datang ke kampus untuk menghadiri wisuda Brian.”

Semua orang memandangnya heran.

“Saya datang untuk mencari seseorang.”

Joy mengernyit.

“Mencari siapa?”

Pak Robert mengeluarkan sebuah foto tua dari dompetnya.

Foto itu menunjukkan seorang anak laki-laki kurus berdiri di depan becak motor bersama seorang pria muda.

Pak Narding memucat.

“Itu…”

Pak Robert tersenyum tipis.

“Dua puluh lima tahun lalu, ketika saya merantau ke Jakarta dan tidak punya uang, ada seorang pengemudi becak yang memberi saya tumpangan gratis selama berminggu-minggu.”

Air mata mulai mengalir di pipi Pak Narding.

“Saya ingat sekarang.”

Pria tua itu menutup mulutnya.

“Anak kecil itu adalah saya,” lanjut Pak Robert. “Dan pengemudi becak itu adalah almarhum ayah Bapak.”

Semua orang terdiam.

Pak Robert menatap Pak Narding dengan mata berkaca-kaca.

“Ayah Bapak pernah berkata kepada saya, kalau suatu hari saya berhasil, jangan pernah lupa membantu orang lain.”

Ia menarik napas panjang.

“Selama bertahun-tahun saya mencari keluarga beliau, tetapi tidak pernah berhasil menemukannya. Sampai hari ini, tanpa sengaja, saya melihat nama Bapak di kartu parkir becak.”

Pak Narding tidak mampu lagi menahan tangis.

Di tengah lapangan kampus yang ramai, dua keluarga dari dunia yang berbeda berdiri saling berpelukan.

Joy memandang langit sore yang mulai berubah jingga.

Ia baru menyadari bahwa semua perjuangan, air mata, dan pengorbanan orang tuanya ternyata telah menanam kebaikan jauh sebelum dirinya lahir.

Hari itu, bukan restoran mewah atau pesta megah yang membuat banyak orang terdiam.

Melainkan sebuah tikar tua di atas rumput, sepiring bihun sederhana, dan sebuah kenyataan bahwa kebaikan yang dilakukan dengan tulus mungkin akan kembali bertahun-tahun kemudian, pada saat yang paling tidak terduga.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang