Berikut adalah kelanjutan kisah Althea, yang membawa twist tak terduga dan konfrontasi puncak.

Berikut adalah kelanjutan kisah Althea, yang membawa twist tak terduga dan konfrontasi puncak.

Doña Celia tiba dalam hitungan menit, membawa serta raut wajah yang lebih tajam dari silet. Dia tidak masuk dengan belas kasihan seorang nenek, melainkan dengan aura seorang penguasa yang baru saja menemukan pengkhianatan di dalam bentengnya sendiri.

Joaquin, yang berdiri di sudut ruangan dengan wajah angkuh, tersenyum sinis. “Ma, jangan dengarkan dia. Althea hanya depresi pasca persalinan. Dia tidak tahu apa yang dia katakan.”

Doña Celia tidak memedulikan putranya. Dia berjalan mendekati ranjang, menatap mata Althea yang redup namun penuh tekad. “Katakan padaku, Althea. Mengapa kamu ingin menceraikan pria yang baru saja memberikan ‘pewaris’ yang selama ini kukehendaki?”

Althea, dengan suara parau, menekan tombol di ponselnya. Rekaman suara terputar. Bukan suara pengakuan perselingkuhan, melainkan rekaman medis yang selama ini disembunyikan oleh Joaquin dari keluarganya sendiri.

“Berdasarkan hasil tes genetik dan analisis fertilitas, Tuan Joaquin Monteverde secara medis didiagnosis mandul permanen akibat komplikasi masa kecil…”

Ruangan itu mendadak hening total. Wajah Joaquin berubah dari angkuh menjadi pucat pasi, seperti mayat yang baru bangkit.

“Apa ini?” suara Doña Celia bergetar, bukan karena sedih, tapi karena amarah yang meledak-ledak. “Joaquin! Kamu bilang anak itu adalah darah dagingmu!”

Joaquin tergagap. “Ma, itu… itu hasil tes lama! Aku sudah sembuh! Lihat, anak itu… dia mirip denganku!”

Althea tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyayat. “Dia mirip denganmu, Joaquin? Atau dia mirip dengan Rafael, sahabatmu yang selalu mengirimkan dana setiap bulan itu?”

Althea kemudian membeberkan bukti yang telah ia kumpulkan selama dua hari di bawah pengaruh obat bius. Dia tidak tidur. Dia bekerja. Dia menggunakan akses perbankan suaminya yang sempat ia buka sebelum kehilangan kesadaran.

“Rafael S. bukan sekadar donatur,” lanjut Althea. “Dia adalah rekan bisnis sekaligus pria yang disewa Marielle untuk ‘mempercepat’ proses kehamilan tersebut. Kamu, Joaquin, hanyalah pion yang merasa dirimu adalah seorang raja. Kamu membesarkan anak orang lain, sementara kamu sendiri tidak mungkin memiliki keturunan.”

Joaquin mencoba menyambar ponsel Althea, namun Doña Celia lebih cepat. Dia menampar wajah putranya dengan keras, suara tamparan itu bergema di dinding rumah sakit.

“Aku menginginkan pewaris Monteverde,” desis Doña Celia dengan dingin. “Tapi aku tidak menginginkan parasit yang memalsukan silsilah keluarga. Kamu menghinaku, Joaquin. Kamu membawa benih orang asing ke dalam garis keturunan keluarga ini!”

Di luar pintu, terdengar langkah kaki. Marielle muncul, terengah-engah, masih membawa bayi laki-laki itu di gendongannya. Dia tampak panik mendengar keributan. Namun, langkahnya terhenti saat melihat polisi berdiri di belakang Doña Celia.

“Marielle,” panggil Althea dengan suara tenang yang mematikan. “Terima kasih sudah datang. Anak itu… dia bukan milik Joaquin. Tapi dia milik hasil penipuan asuransi dan penggelapan dana perusahaan yang dilakukan Joaquin bersama Rafael. Kamu membantu mereka mencuci uang melalui biaya ‘persalinan’ ini.”

Ternyata, Althea telah melaporkan aktivitas mencurigakan pada rekening perusahaan yang digunakan untuk mentransfer dana “pewaris” tersebut ke pihak berwenang.

Joaquin jatuh terduduk. Dia menyadari hidupnya hancur bukan karena istrinya yang tak bisa memberinya anak laki-laki, tapi karena kebohongannya sendiri yang ia bangun di atas landasan yang rapuh.

“Althea,” rengek Joaquin, mencoba merangkak ke arah kaki ranjang. “Kita bisa memperbaikinya! Aku masih mencintaimu!”

Althea hanya menatapnya dengan tatapan kosong. Dia tidak lagi merasa sakit hati. Yang tersisa hanyalah rasa mual yang luar biasa.

“Joaquin,” ucap Althea pelan, “Kamu ingin seorang pewaris? Baiklah. Kamu akan mewarisi semua hutang, tuntutan hukum, dan penghinaan yang akan segera datang saat media tahu bahwa pewaris Monteverde yang agung sebenarnya hanyalah anak haram dari seorang pria yang bahkan tidak memiliki nama besar.”

Doña Celia menatap Althea, kali ini dengan kilatan rasa hormat yang aneh. “Kamu cerdas, Althea. Jauh lebih cerdas daripada pria ini.”

“Saya bukan lagi Nyonya Monteverde,” jawab Althea. “Saya adalah orang yang akan menghancurkan nama itu sampai ke akar-akarnya.”

Saat polisi membawa Joaquin dan Marielle pergi, Althea meminta perawat membawakan putri ketiganya. Dia menggendong bayi mungil itu dengan erat.

“Nak,” bisiknya pada sang bayi yang tertidur pulas. “Kita tidak butuh nama besar itu. Kita akan membangun nama kita sendiri.”

Namun, saat pintu ditutup, Althea menyadari sesuatu yang janggal. Dia melihat Doña Celia berdiri di dekat jendela, menatap ke arah bayi di tangan Althea dengan tatapan yang sulit diartikan. Ibu mertuanya itu tidak pergi.

“Apa yang Ibu inginkan?” tanya Althea waspada.

Doña Celia berbalik, tersenyum tipis. “Kamu pikir aku tidak tahu sejak awal, Althea? Aku tahu Joaquin mandul. Aku membiarkan drama ini terjadi hanya untuk melihat siapa yang akan menjadi korban dan siapa yang akan menjadi pemenang.”

Althea tertegun. “Jadi Ibu membiarkan saya menderita?”

“Aku membiarkanmu ditempa,” jawab Doña Celia dingin. “Keluarga Monteverde tidak butuh wanita lemah yang hanya bisa melahirkan anak laki-laki. Kita butuh wanita yang bisa memusnahkan musuh tanpa mengeluarkan satu tetes darah pun. Selamat, Althea. Kamu bukan lagi menantuku. Kamu adalah penerus sebenarnya.”

Doña Celia meletakkan sebuah dokumen di atas meja. Itu adalah surat kuasa penuh atas seluruh aset perusahaan yang telah dipindahkan dari tangan Joaquin ke tangan Althea, yang diam-diam telah diurus oleh Doña Celia sendiri selama berbulan-bulan.

Althea menatap dokumen itu, lalu menatap bayinya. Dia tidak menang. Dia baru saja masuk ke dalam permainan yang jauh lebih besar dan berbahaya.

Di lantai atas, pewaris palsu itu telah tiada. Namun, di lantai ini, seorang ratu baru saja lahir dari abu kehancuran pernikahannya sendiri.

Tiba-tiba, ponsel Althea berdering. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal.

“Terima kasih telah membersihkan sampah itu, Althea. Sekarang, mari kita bicara tentang siapa yang sebenarnya membunuh ayahmu tujuh tahun lalu.”

Althea membeku. Rahasia baru saja dimulai. Kebenaran ternyata jauh lebih gelap daripada pengkhianatan yang baru saja ia selesaikan. Dan musuh sebenarnya, kini baru saja menampakkan diri dari balik bayang-bayang.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang