Sejak suaminya meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan beberapa tahun sebelumnya, Mirna menjalani hidup yang sunyi di ujung sebuah desa kecil di pedalaman Sumatera Selatan. Usianya baru dua puluh enam tahun, tetapi garis-garis kelelahan sudah tampak di wajahnya. Ia tinggal bersama Aldi, putra semata wayangnya yang baru berusia delapan tahun. Rumah panggung kecil mereka berdiri sendiri di pinggir hutan, jauh dari keramaian, dikelilingi pepohonan tinggi yang seolah menyimpan ribuan rahasia.
Setiap pagi sebelum matahari terbit, Mirna dan Aldi berjalan kaki menuju kebun balam peninggalan almarhum suaminya. Perjalanan itu panjang dan melelahkan. Mereka harus melewati jalan tanah, menyusuri perkebunan milik warga lain, menembus hutan lebat, lalu menyeberangi sungai dengan sebuah sampan kecil. Di seberang sungai itulah kebun Mirna berada, berbatasan langsung dengan hutan belantara yang konon masih menjadi tempat berkeliarannya harimau Sumatra.
Hari itu, sesuatu terasa berbeda.

Sejak bangun pagi, Mirna lebih banyak diam. Matanya sembap seperti orang yang semalaman menangis. Ia bekerja tanpa semangat, beberapa kali salah mengambil alat sadap, bahkan sempat berdiri lama menatap pohon-pohon balam tanpa alasan yang jelas.
Aldi memperhatikan ibunya dari kejauhan.
“Bu, Ibu sakit?”
Mirna menggeleng pelan sambil memaksakan senyum.
“Tidak, Nak. Ibu cuma kurang tidur.”
Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu. Malam sebelumnya, Mirna bermimpi bertemu dengan suaminya. Dalam mimpi itu, suaminya berdiri di tepi sungai sambil mengenakan pakaian yang biasa dipakai saat pergi ke kebun. Wajahnya pucat, tetapi senyumnya tetap hangat.
“Aku rindu kalian,” katanya dalam mimpi itu.
Mirna terbangun dengan dada sesak. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, rasa kehilangan itu kembali menghantamnya begitu keras.
Menjelang sore, mereka pun bersiap pulang. Setelah menyeberangi sungai dan menambatkan sampan, Mirna tiba-tiba teringat sesuatu yang membuatnya panik.
Pisau peninggalan suaminya tertinggal di pondok.
Pisau itu bukan sekadar alat kerja. Suaminya membuat pisau tersebut sendiri dari besi tua yang ditempa berhari-hari. Gagangnya diukir dengan nama kecil Mirna. Sejak sang suami meninggal, pisau itu menjadi benda yang paling berharga baginya.
“Besok saja kita ambil lagi, Bu,” kata Aldi dengan suara memohon.
Namun Mirna menggeleng.
“Tidak bisa, Di. Ibu harus mengambilnya sekarang.”
Langit mulai berubah jingga. Bayangan pepohonan memanjang, sementara suara burung-burung perlahan menghilang, digantikan kesunyian yang aneh.
“Kamu tunggu di sini. Jangan ke mana-mana.”
Tanpa menunggu jawaban, Mirna menaiki sampan dan mendayung kembali ke seberang.
Aldi duduk di tepi sungai sambil memeluk lututnya. Dadanya dipenuhi perasaan yang sulit dijelaskan. Ia teringat cerita ayahnya dulu, tentang hutan di sekitar kebun mereka.
“Kalau malam mulai turun, jangan pernah memanggil nama orang dari dalam hutan,” kata ayahnya suatu malam.
“Kenapa, Pak?”
“Karena kadang yang menjawab bukan manusia.”
Saat itu Aldi hanya tertawa. Namun sore ini, cerita itu terus terngiang di kepalanya.
Waktu berlalu.
Lima belas menit.
Tiga puluh menit.
Matahari hampir tenggelam seluruhnya.
“Ibu!” teriak Aldi dari seberang sungai.
Tidak ada jawaban.
Ia mulai menangis pelan.
“Ibu!”
Hanya suara jangkrik yang menyahut.
Dengan tangan gemetar, Aldi mencoba mendorong sampan kecil itu ke air. Ia memang belum terlalu mahir mendayung, tetapi rasa takut membuatnya nekat. Sampan bergerak perlahan menuju seberang.
Saat tiba di tepian, suasana hutan sudah berubah gelap. Kabut tipis mulai turun di antara pepohonan. Aldi berlari kecil menuju pondok di tengah kebun.
“Ibu!”
Tetap tidak ada jawaban.
Napasnya mulai tersengal. Ia menaiki tangga pondok dan mendapati tempat itu kosong. Pisau peninggalan ayahnya tergeletak di lantai, tetapi Mirna tidak ada di sana.
Jantung Aldi berdegup kencang.
Tiba-tiba, dari arah hutan terdengar suara ranting patah.
Krek.
Krek.
Aldi membeku.
Di antara semak-semak, muncul seekor harimau Sumatra berukuran besar. Matanya berkilat terkena cahaya senja yang tersisa.
Tubuh Aldi gemetar hebat. Ia teringat pesan ayahnya untuk tidak bergerak jika bertemu harimau.
Harimau itu berjalan perlahan mengelilingi pondok. Sesekali ia mengendus tanah, lalu mengeluarkan suara rendah yang membuat bulu kuduk Aldi berdiri.
Anak itu menahan napas sekuat tenaga.
Beberapa menit kemudian, harimau tersebut berhenti, menatap ke arah hutan yang lebih dalam, lalu tiba-tiba pergi begitu saja.
Begitu binatang itu menghilang, Aldi menangis sejadi-jadinya.
“Ibu…”
Ia turun dari pondok dan berlari menyusuri jalan kecil di sekitar kebun sambil terus memanggil nama ibunya. Langit kini hampir sepenuhnya gelap.
Di dekat sebuah pohon besar, Aldi melihat sesuatu yang membuat langkahnya terhenti.
Selendang milik Mirna tersangkut di ranting rendah.
“Astaga…”
Tangannya gemetar saat mengambil kain itu. Tak jauh dari sana, ia menemukan jejak kaki ibunya menuju ke arah hutan.
Tanpa berpikir panjang, Aldi mengikuti jejak tersebut.
Semakin jauh ia melangkah, hutan terasa semakin sunyi. Udara menjadi dingin. Sesekali terdengar suara burung malam dan desir angin yang menggoyangkan dedaunan.
Lalu, dari kejauhan, ia mendengar suara seseorang menangis.
Tangisan itu sangat pelan, tetapi jelas.
“Ibu?”
Aldi berlari ke arah suara itu.
Di sebuah tanah lapang kecil, ia akhirnya menemukan Mirna.
Perempuan itu terduduk di bawah pohon besar sambil memeluk lututnya. Wajahnya basah oleh air mata.
“Ibu!”
Mirna menoleh perlahan. Matanya tampak kosong.
“Aldi?”
Anak itu langsung memeluk ibunya erat.
“Kenapa Ibu pergi? Aku takut sekali.”
Mirna menangis semakin keras.
“Tadi… Ibu melihat bapakmu.”
Aldi terdiam.
Mirna menatap ke arah pepohonan gelap di belakang mereka.
“Saat Ibu mengambil pisau di pondok, Ibu mendengar suara seseorang memanggil. Suaranya sama persis seperti bapakmu.”
Aldi merasakan tubuhnya merinding.
“Ibu pikir itu hanya perasaan. Tapi suara itu terus memanggil dari dalam hutan. Ibu mengikutinya.”
“Lalu?”
Mirna menggeleng.
“Tidak ada siapa-siapa. Hanya hutan yang gelap.”
Aldi teringat cerita para tetua desa tentang hutan tua yang kadang mempermainkan pikiran manusia, terutama mereka yang sedang dilanda kesedihan mendalam.
“Ibu, kita pulang.”
Mirna mengangguk lemah.
Mereka berjalan kembali menuju sungai dengan diterangi cahaya bulan yang mulai muncul. Namun perjalanan pulang malam itu terasa jauh lebih berat.
Ketika mereka hampir tiba di tepi sungai, Aldi tiba-tiba berhenti.
Di depan mereka, tepat di dekat sampan, berdiri seekor harimau besar yang tadi dilihatnya.
Mirna refleks memeluk Aldi.
Keduanya terpaku.
Namun anehnya, harimau itu tidak menunjukkan tanda-tanda menyerang. Binatang itu hanya berdiri diam beberapa saat, menatap mereka dengan tenang.
Lalu, perlahan, harimau tersebut berjalan melewati mereka dan menghilang ke dalam hutan.
Mirna dan Aldi saling berpandangan tanpa mengerti.
Malam itu mereka berhasil pulang dengan selamat. Tetapi kejadian tersebut segera menyebar ke seluruh desa.
Keesokan harinya, seorang tetua kampung datang ke rumah mereka. Setelah mendengar cerita Mirna, lelaki tua itu terdiam cukup lama.
“Aku pernah mendengar kisah seperti ini dari orang-orang tua dulu,” katanya.
“Maksud Pak Tua?”
Tetua itu menatap ke arah hutan di kejauhan.
“Kadang, rasa rindu yang terlalu dalam bisa membuat seseorang mendengar hal-hal yang ingin ia dengar. Hutan hanya memperkuat suara hati manusia.”
Mirna menunduk.
“Tapi soal harimau itu…” lanjut sang tetua pelan, “ayahmu dulu pernah menyelamatkan seekor anak harimau yang terjebak jerat pemburu.”
Aldi membelalakkan mata.
“Ayah tidak pernah bercerita.”
“Dia memang tidak banyak bicara soal itu. Mungkin harimau yang kalian lihat bukan kebetulan.”
Sejak hari itu, Mirna tak pernah lagi kembali sendirian ke kebun. Setiap kali rasa rindu kepada suaminya datang, ia memilih duduk bersama Aldi di beranda rumah sambil mengenang masa lalu.
Bertahun-tahun kemudian, ketika Aldi telah dewasa dan memiliki keluarga sendiri, ia masih sering mengingat malam itu. Ia tidak pernah tahu apakah suara yang didengar ibunya benar-benar berasal dari ayahnya, dari hutan, atau hanya dari luka yang belum sembuh.
Namun satu hal yang selalu ia ingat adalah tatapan harimau di tepi sungai malam itu.
Tatapan yang tidak buas.
Tatapan yang justru terasa seperti penjaga terakhir dari seseorang yang telah lama pergi.
Dan sejak saat itu, Aldi memahami bahwa kehilangan tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berubah bentuk, tinggal di dalam kenangan, lalu sesekali datang mengetuk hati manusia ketika kesunyian turun bersama senja.
