Malam itu, Nafisa berdiri sendirian di balkon kamarnya, menatap lampu-lampu Jakarta yang berpendar di kejauhan. Hujan baru saja reda, meninggalkan udara dingin yang menusuk kulit. Dari lantai bawah, suara tawa Risya sesekali terdengar, bercampur dengan suara Sofyan yang selama beberapa bulan terakhir terasa semakin asing baginya.
Dulu, laki-laki itu adalah orang yang ia perjuangkan dengan seluruh hidupnya.
Delapan tahun lalu, Nafisa menikahi Sofyan bukan karena cinta yang menggebu-gebu, melainkan karena keyakinan bahwa mereka bisa tumbuh bersama. Saat itu, Semboyan Group hanyalah perusahaan keluarga yang terlilit utang. Sofyan memang anak tunggal pemilik perusahaan, tetapi ia tak pernah benar-benar memahami cara mengelola bisnis.

Nafisa yang datang dari keluarga sederhana justru menjadi orang yang perlahan menyelamatkan perusahaan itu. Dengan kecerdasannya, ia membangun kembali kepercayaan investor, merancang strategi baru, dan menghabiskan siang malam di kantor. Bertahun-tahun, ia rela mengorbankan impiannya sendiri demi memastikan perusahaan suaminya terus berdiri.
Namun semua pengorbanan itu seolah lenyap ketika dokter memvonis bahwa peluang Nafisa untuk memiliki anak sangat kecil.
Sejak hari itu, sikap Sofyan berubah sedikit demi sedikit.
Awalnya hanya tatapan dingin dan kata-kata yang menusuk. Lama-kelamaan, ia mulai pulang larut malam, semakin jarang mengajak Nafisa berbicara, hingga akhirnya membawa Risya ke rumah mereka dengan perut yang sudah membesar.
Bagi Nafisa, pengkhianatan itu jauh lebih menyakitkan daripada sekadar perselingkuhan. Yang hancur bukan hanya rumah tangganya, tetapi juga harga dirinya.
Pagi berikutnya, suasana kantor Semboyan Group mendadak kacau.
Kabar bahwa Nafisa akan mengundurkan diri menyebar lebih cepat daripada gosip apa pun. Para direktur senior berkumpul di ruang rapat, sementara telepon dari investor terus berdatangan.
Sofyan berjalan mondar-mandir dengan wajah tegang.
“Aku bilang batalkan semua pertemuan hari ini!” bentaknya pada sekretaris.
“Tapi, Pak, pihak Tirta Capital Group meminta kepastian soal saham Bu Nafisa.”
Sofyan memukul meja dengan keras.
“Dia tidak akan menjual sahamnya!”
Sayangnya, bahkan ia sendiri tidak yakin dengan kalimat itu.
Selama ini, ia terlalu bergantung pada Nafisa. Setiap proyek besar, setiap negosiasi penting, semua berada di tangan istrinya. Baru sekarang ia menyadari bahwa kursi direktur utama yang didudukinya selama ini lebih banyak ditopang oleh kerja keras perempuan yang ia khianati.
Sementara itu, Nafisa duduk tenang di sebuah kantor hukum di kawasan Sudirman.
Di depannya, pengacaranya meletakkan beberapa dokumen.
“Sidang pertama dijadwalkan minggu depan, Bu.”
Nafisa membaca surat itu dengan saksama.
“Apakah Sofyan sudah menerima panggilannya?”
“Belum. Tapi cepat atau lambat dia akan tahu.”
Nafisa menarik napas panjang. Ia tahu perceraian ini tidak akan mudah. Sofyan bukan tipe pria yang rela kehilangan apa yang selama ini dimilikinya.
“Pastikan semua bukti aman.”
“Tenang saja. Perselingkuhan, ancaman terhadap keluarga Ibu, dan bukti keberadaan wanita itu di rumah sudah cukup kuat.”
Nafisa mengangguk.
Setelah bertahun-tahun hidup sebagai istri yang penurut, untuk pertama kalinya ia memilih dirinya sendiri.
Di sisi lain kota, Risya mulai kehilangan ketenangannya.
Sejak mendengar ucapan Nafisa beberapa malam lalu, ia tidak bisa tidur nyenyak. Ia terus dihantui satu pertanyaan yang sama.
Seberapa banyak yang diketahui Nafisa?
Siang itu, ketika Sofyan pergi ke kantor, Risya diam-diam keluar rumah dan bertemu seorang pria di sebuah apartemen kecil.
Pria itu bernama Bima.
Begitu pintu terbuka, Risya langsung masuk dengan wajah cemas.
“Kita harus berhenti bertemu untuk sementara.”
Bima tertawa kecil.
“Kamu takut?”
“Perempuan itu mungkin sudah tahu semuanya.”
Bima duduk santai di sofa.
“Kamu terlalu khawatir. Lagipula, bukankah rencanamu hampir berhasil? Sebentar lagi kamu akan menikah dengan pewaris Semboyan Group.”
Risya menggigit bibirnya.
“Aku serius.”
Bima menatapnya beberapa saat sebelum berkata pelan, “Kalau Sofyan tahu bahwa anak yang kamu kandung bukan anaknya, habislah kita.”
Wajah Risya seketika pucat.
Ia memejamkan mata, mencoba menenangkan diri.
Tiga bulan lalu, saat mengetahui dirinya hamil akibat hubungannya dengan Bima, Risya panik. Ia tahu Bima tidak punya pekerjaan tetap dan tak akan mampu memberinya kehidupan mewah.
Lalu, ia bertemu Sofyan.
Pria kaya yang sedang putus asa karena belum memiliki keturunan.
Kesempatan itu terlalu sempurna untuk dilewatkan.
Risya mendekati Sofyan dengan hati-hati, memainkan peran sebagai perempuan lembut yang mengerti penderitaannya. Hanya dalam waktu singkat, Sofyan benar-benar jatuh ke dalam perangkapnya.
Namun, Risya tidak pernah menyangka bahwa Nafisa ternyata jauh lebih cerdas daripada yang ia bayangkan.
Sore itu, Nafisa menerima telepon dari seseorang yang sudah lama bekerja dengannya.
“Bu, saya baru dapat informasi.”
“Apa?”
“Wanita itu ternyata sering bertemu dengan seorang pria bernama Bima.”
Nafisa terdiam.
“Punya bukti?”
“Sudah saya kirim ke email Ibu.”
Nafisa membuka laptopnya.
Beberapa foto muncul di layar.
Foto Risya dan Bima memasuki apartemen bersama.
Foto mereka makan malam.
Dan sebuah rekaman CCTV dari klinik kandungan yang menunjukkan keduanya datang berdua sebelum Risya mengenal Sofyan.
Nafisa menyandarkan tubuhnya ke kursi.
Ternyata dugaannya benar.
Selama ini, ada sesuatu yang disembunyikan Risya.
Malam harinya, Pak Sony memanggil Sofyan ke rumah utamanya.
Pria tua itu tampak jauh lebih tua daripada biasanya.
“Ayah dengar saham Nafisa benar-benar akan dijual.”
Sofyan menghela napas kesal.
“Dia hanya marah.”
“Kamu masih belum sadar?”
“Ayah selalu membela Nafisa!”
Pak Sony bangkit dari kursinya.
“Karena dia yang menyelamatkan perusahaan ini!”
Ruangan mendadak hening.
Sofyan menatap ayahnya dengan tidak percaya.
“Apa maksud Ayah?”
Pak Sony menatap anaknya lekat-lekat.
“Delapan tahun lalu, perusahaan kita hampir bangkrut. Investor mundur satu per satu. Kamu terlalu sibuk mengejar gaya hidupmu. Yang menyusun strategi penyelamatan perusahaan adalah Nafisa.”
Sofyan membeku.
“Ayah memilih dia menjadi istrimu bukan hanya karena dia perempuan baik. Ayah tahu kamu membutuhkan seseorang yang mampu menutupi kelemahanmu.”
Untuk pertama kalinya, harga diri Sofyan runtuh.
Ia selalu merasa dirinya adalah sosok penting di perusahaan.
Nyatanya, selama ini ia hanya berdiri di atas fondasi yang dibangun istrinya sendiri.
Malam itu, Sofyan pulang dalam keadaan kacau.
Ia membuka pintu kamar Nafisa tanpa mengetuk.
“Kita harus bicara.”
Nafisa menutup laptopnya.
“Masih ada yang perlu dibicarakan?”
Sofyan duduk di tepi tempat tidur.
“Aku bisa membatalkan rencana pernikahanku dengan Risya.”
Nafisa tersenyum tipis.
“Kamu pikir semuanya sesederhana itu?”
“Aku hanya ingin memperbaiki keadaan.”
“Memperbaiki?”
Nafisa berdiri dan menatapnya lurus.
“Kamu membawa perempuan lain ke rumah ini. Kamu mengancam keluargaku. Kamu menghancurkan delapan tahun hidupku. Lalu sekarang, karena takut kehilangan perusahaan, kamu ingin memperbaiki semuanya?”
Sofyan terdiam.
Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa Nafisa benar-benar akan pergi.
“Aku minta maaf.”
Nafisa memalingkan wajah.
“Permintaan maaf tidak selalu bisa mengembalikan sesuatu yang sudah hancur.”
Seminggu kemudian, sidang pertama perceraian digelar.
Sofyan datang dengan keyakinan bahwa ia masih bisa membujuk Nafisa. Namun, perempuan itu justru hadir dengan ketenangan yang membuatnya semakin gelisah.
Hakim membuka persidangan seperti biasa.
Tetapi suasana berubah ketika pengacara Nafisa menyerahkan bukti baru.
Sofyan mengerutkan dahi.
“Bukti apa itu?”
Nafisa menatap lurus ke depan.
“Bukti yang seharusnya kamu lihat sejak lama.”
Sebuah layar dinyalakan.
Foto-foto Risya bersama Bima muncul satu per satu.
Wajah Sofyan langsung pucat.
“Ini bohong.”
Namun, rekaman berikutnya jauh lebih menghancurkan.
Terdengar suara Risya dan Bima yang sedang berbicara di apartemen.
“Kalau Sofyan tahu bahwa anak yang kamu kandung bukan anaknya, habislah kita.”
Ruangan mendadak sunyi.
Risya yang duduk di kursi pengunjung langsung berdiri.
“Itu fitnah!”
Tetapi wajahnya yang panik justru menjawab semuanya.
Sofyan menoleh perlahan.
Tatapannya kosong.
Ia merasa seluruh dunianya runtuh dalam hitungan detik.
Selama ini, ia meninggalkan perempuan yang setia demi seseorang yang ternyata memanfaatkannya.
Risya mencoba mendekatinya.
“Mas, aku bisa jelaskan.”
Namun Sofyan mundur selangkah.
Untuk pertama kalinya, ia melihat wanita itu tanpa cinta dan tanpa ilusi.
Beberapa hari setelah persidangan, kabar tersebut menyebar luas. Risya menghilang tanpa jejak bersama Bima. Sementara itu, saham Nafisa resmi dibeli oleh Tirta Capital Group.
Keputusan itu mengguncang Semboyan Group.
Beberapa investor menarik diri, proyek-proyek tertunda, dan posisi Sofyan sebagai direktur utama mulai dipertanyakan.
Di tengah kekacauan itu, Nafisa memilih pergi.
Ia menerima tawaran Fikri untuk memimpin divisi baru di perusahaan investasinya.
Pagi sebelum keberangkatannya ke Singapura untuk menghadiri pertemuan penting, Sofyan datang ke bandara.
Pria itu tampak jauh berbeda.
Lebih kurus, lebih lelah, dan untuk pertama kalinya, benar-benar terlihat menyesal.
“Aku kehilangan semuanya,” katanya pelan.
Nafisa menatapnya beberapa saat.
“Kamu tidak kehilangan semuanya hari ini, Sofyan.”
“Lalu kapan?”
“Kamu kehilangannya sedikit demi sedikit setiap kali menganggap pengorbanan seseorang sebagai sesuatu yang pasti akan selalu ada.”
Sofyan menunduk.
Ia ingin meminta kesempatan kedua, tetapi akhirnya sadar bahwa tidak semua luka bisa disembuhkan oleh penyesalan.
Panggilan keberangkatan terdengar.
Nafisa mengangkat koper dan melangkah pergi.
Sebelum menghilang di balik keramaian bandara, ia menoleh untuk terakhir kalinya.
“Aku harap suatu hari nanti kamu belajar bahwa cinta bukan tentang memiliki seseorang yang sempurna, tetapi tentang menghargai orang yang tetap bertahan saat hidup sedang tidak sempurna.”
Sofyan berdiri terpaku.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia memahami arti kehilangan yang sesungguhnya.
Dan bagi Nafisa, hari itu bukanlah akhir dari sebuah pernikahan, melainkan awal dari kehidupan yang selama ini tertunda karena terlalu lama ia korbankan demi orang lain.
