Dia berpura-pura tertidur agar tidak perlu berbicara dengan petugas kebersihan malam itu… tetapi sebuah panggilan telepon memecah kesunyian—sebuah panggilan yang membongkar konspirasi senilai dua puluh juta dolar.

Pintu kantor Isabella terbuka perlahan, memperlihatkan sosok pria berusia enam puluhan yang masih mengenakan jas hitam rapi meskipun waktu sudah menunjukkan pukul dua lewat lima belas menit dini hari. Rambutnya yang memutih disisir ke belakang dengan sempurna. Di tangannya, ia menggenggam map kulit berwarna cokelat tua.

Isabella merasakan darahnya seakan membeku.

Pria itu adalah Surya Pradana, chairman Luntian Dynamics sekaligus orang yang dua puluh tahun lalu menjadi investor pertama yang percaya pada mimpinya.

Di sisi lain ruangan, Pak Budi, petugas kebersihan yang selama ini nyaris tak pernah diperhatikan siapa pun, buru-buru meletakkan telepon ke saku celananya dan memungut pel yang jatuh.

“Maaf, Pak Surya,” katanya pelan. “Saya hanya sedang membersihkan.”

Tatapan Surya berpindah dari Pak Budi ke layar komputer yang masih menyala. Untuk sesaat, wajah tenangnya tampak retak.

“Jam segini masih bekerja?” tanyanya datar.

Pak Budi mengangguk gugup.

Isabella, yang beberapa detik sebelumnya berpura-pura tertidur, akhirnya berdiri dari kursinya.

“Saya juga bisa bertanya hal yang sama,” ucapnya.

Surya menoleh. Keterkejutan melintas singkat di wajahnya sebelum ia kembali memasang senyum yang selama bertahun-tahun selalu membuat para investor merasa aman.

“Kau belum pulang rupanya.”

“Aku bisa mengatakan hal yang sama.”

Ruangan itu mendadak dipenuhi ketegangan yang nyaris terasa seperti kabut. Pak Budi melirik Isabella, lalu ke arah pintu, seolah mencari jalan keluar.

Surya melangkah mendekat ke meja kerja Isabella.

“Aku mendengar kau masih berada di kantor. Kupikir sebaiknya kita membicarakan pengumuman besok pagi.”

Isabella menatap pria yang selama ini ia anggap sebagai ayah kedua. Dialah yang menemukannya dua dekade lalu, ketika Isabella masih seorang programmer muda dengan laptop bekas dan mimpi yang terlalu besar untuk ukuran siapa pun.

“Pengumuman kebangkrutan?” tanya Isabella.

Surya menarik napas panjang.

“Kadang-kadang, perusahaan besar pun harus menerima akhir.”

Isabella tertawa kecil, tetapi tidak ada sedikit pun kehangatan dalam tawanya.

“Atau mungkin ada orang yang sengaja mengatur akhirnya?”

Mata Surya menyipit.

“Apa maksudmu?”

Isabella melangkah mendekat ke komputer. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia memutar layar ke arah Surya.

“Project Sampaguita.”

Wajah Surya berubah.

Hanya sepersekian detik. Sangat singkat hingga hampir tidak terlihat. Namun Isabella mengenalnya terlalu baik untuk melewatkan ekspresi itu.

Pak Budi menundukkan kepala.

“Maaf, Pak,” katanya lirih. “Saya tidak sengaja melihat file itu.”

Surya terdiam beberapa saat. Kemudian, tanpa diduga, ia tersenyum tipis.

“Jadi kalian sudah tahu.”

Kalimat itu menghantam Isabella lebih keras daripada apa pun yang ia bayangkan.

“Kenapa?” suaranya pecah. “Kenapa melakukan semua ini?”

Surya meletakkan map kulitnya di atas meja.

“Karena perusahaan ini sudah tidak lagi mengikuti zaman.”

Isabella menatapnya tak percaya.

“Luntian membangun teknologi yang mengubah hidup jutaan orang.”

“Dan itulah masalahnya.” Surya memotong. “Kau terlalu idealis.”

Ia berjalan perlahan menuju jendela besar yang menghadap ke Jakarta yang masih terjaga.

“Dua puluh tahun lalu, kita membangun perusahaan ini bersama. Tetapi kau terlalu sibuk menyelamatkan dunia. Kau membangun pusat teknologi gratis, memberikan pelatihan kepada anak-anak miskin, menghabiskan keuntungan perusahaan untuk proyek sosial.”

Isabella mengerutkan dahi.

“Itu bukan kesalahan.”

“Tidak untukmu. Tapi bagi investor, itu adalah pemborosan.”

Suara Surya terdengar dingin.

“Apex menawarkan sesuatu yang berbeda. Mereka menginginkan teknologi kita. Mereka bersedia membayar dua puluh juta dolar agar proses akuisisi berlangsung diam-diam.”

Pak Budi menggenggam gagang pel begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.

“Jadi Bapak menjual perusahaan ini?”

Surya menoleh.

“Aku menyelamatkan masa depannya.”

“Dengan menghancurkannya?” Isabella hampir berteriak.

Surya menghela napas panjang.

“Kau pikir dunia bisnis dibangun atas idealisme? Tidak, Isabella. Dunia ini dibangun oleh orang-orang yang tahu kapan harus menjual dan kapan harus pergi.”

Isabella memandangi pria itu dengan mata berkaca-kaca.

“Tapi Renato?”

Surya tertawa pelan.

“Renato hanya pion. Dia terlalu serakah untuk menolak tawaran Apex.”

Tiba-tiba telepon di saku Pak Budi bergetar. Nama Carlo muncul di layar.

Pak Budi mengangkatnya dengan tangan gemetar.

“Bagaimana?”

Suara Carlo terdengar keras bahkan dari kejauhan.

“Ayah, keluar dari sana sekarang. Tim kami menemukan sesuatu.”

Pak Budi mengernyit.

“Sesuatu apa?”

“Rekening offshore itu bukan milik Pak Surya.”

Semua orang di ruangan terdiam.

Isabella menoleh cepat.

“Apa maksudmu?”

Carlo berbicara cepat.

“Nama pemilik rekening itu baru saja diverifikasi. Uangnya tidak dikirim ke Surya Pradana.”

“Lalu ke siapa?”

Di ujung telepon, Carlo menarik napas panjang.

“Pemilik rekeningnya adalah Renato Alcantara.”

Surya membeku.

Isabella merasakan pikirannya berputar.

“Tidak mungkin.”

“Tunggu, belum selesai,” kata Carlo. “Ada transfer lain senilai lima juta dolar dari rekening Renato ke seseorang bernama Adrian Wijaya.”

Pak Budi mengerutkan kening.

“Siapa Adrian?”

Isabella merasakan dunia di bawah kakinya runtuh.

Ia mengenal nama itu.

Sangat mengenalnya.

Adrian Wijaya adalah kepala divisi teknologi yang mengundurkan diri tiga bulan lalu dan pindah ke Apex. Namun lebih dari itu, Adrian adalah pria yang pernah ia cintai diam-diam hampir sepuluh tahun lalu.

Hubungan mereka tak pernah benar-benar dimulai karena Isabella selalu memilih pekerjaan di atas segalanya.

Surya tampak benar-benar terkejut.

“Ini tidak masuk akal.”

Tetapi sebelum siapa pun sempat berkata apa-apa, layar komputer kembali menyala.

Sebuah panggilan video masuk dari akun yang tidak dikenal.

Semua orang saling memandang.

Isabella menekan tombol terima.

Wajah Renato muncul.

Ia berada di sebuah ruangan hotel mewah, dengan koper terbuka di belakangnya.

“Kalau kalian melihat ini, berarti semuanya sudah terlambat.”

“Renato!” bentak Isabella.

Pria itu tersenyum pahit.

“Aku tidak pernah menyangka Pak Budi akan menemukan file itu.”

Pak Budi menelan ludah.

“Kenapa kamu melakukan ini?”

Renato menggeleng pelan.

“Karena aku lelah menjadi bayangan Isabella Villanueva.”

Isabella terdiam.

“Selama delapan tahun aku bekerja siang malam. Tapi semua orang hanya mengenal satu nama. Semua penghargaan, semua wawancara, semua pujian selalu untuk Isabella.”

“Kau mengkhianati tiga ribu karyawan hanya karena iri?”

“Aku mengkhianati sistem yang tidak pernah memberiku tempat.”

Surya melangkah mendekat ke layar.

“Kau bilang uang itu untuk akuisisi!”

Renato tertawa.

“Karena Bapak terlalu mudah percaya.”

Untuk pertama kalinya malam itu, ekspresi Surya berubah menjadi kemarahan.

“Kau mempermainkanku?”

Renato mengangguk santai.

“Apex memang ingin membeli teknologi Luntian. Tapi aku punya rencana sendiri. Aku mengambil data, menjualnya kepada mereka, lalu membuat semua orang saling menyalahkan.”

Ia memandang Isabella.

“Termasuk dirimu.”

Isabella menggigit bibir.

“Dan Adrian?”

Senyum Renato memudar.

“Dia tidak pernah tahu semuanya. Dia hanya percaya bahwa perusahaan ini benar-benar bangkrut.”

Isabella menatap kosong.

Selama berbulan-bulan, ia mengutuk Adrian karena pergi. Namun ternyata pria itu hanyalah korban lain dari permainan Renato.

Tiba-tiba, suara sirene terdengar dari luar gedung.

Renato melihat ke arah jendela hotelnya.

Ekspresinya berubah.

“Bagaimana—”

Carlo muncul dalam panggilan telepon Pak Budi.

“Kami sudah melacak lokasi IP-nya.”

Wajah Renato memucat.

“Kalian tidak akan mendapatkan apa pun dariku.”

Layar mendadak gelap.

Panggilan terputus.

Selama beberapa detik, tidak ada yang berbicara.

Jakarta tetap bersinar di balik dinding kaca, seolah tidak peduli bahwa hidup beberapa orang baru saja berubah selamanya.

Pak Budi duduk perlahan di kursi dekat pintu.

“Astaga…”

Isabella memandang pria tua itu.

“Kenapa Bapak membantu saya?”

Pak Budi tersenyum kecil.

“Tiga tahun lalu, ketika pusat teknologi itu dibuka, anak saya adalah salah satu murid pertama.”

Ia mengeluarkan sebuah foto kusam dari dompetnya.

Di dalam foto itu, seorang pemuda tersenyum sambil memegang sertifikat kelulusan.

“Carlo dulu hampir putus sekolah. Ibunya sudah meninggal, dan saya hanya petugas kebersihan. Tidak ada yang percaya dia bisa berhasil.”

Matanya berkaca-kaca.

“Tapi Ibu percaya.”

Isabella terdiam.

Selama bertahun-tahun, ia selalu menganggap program sosialnya hanyalah bagian kecil dari perusahaan. Sesuatu yang bahkan tidak layak dimasukkan dalam laporan tahunan.

Namun malam itu, seorang petugas kebersihan mempertaruhkan pekerjaannya demi menyelamatkan dirinya.

Pukul lima pagi, berita penangkapan Renato memenuhi seluruh media sosial Indonesia. Investigasi pun berkembang dengan cepat. Data perusahaan berhasil dipulihkan sebelum seluruh sistem dihancurkan.

Beberapa minggu kemudian, terbukti bahwa Surya memang menerima tawaran dari Apex, tetapi ia tidak pernah menikmati uang itu. Keserakahannya membuka jalan bagi pengkhianatan yang lebih besar.

Ia mengundurkan diri sebagai chairman.

Banyak investor meninggalkan Luntian. Harga saham anjlok. Semua orang memprediksi perusahaan itu akan runtuh dalam hitungan bulan.

Tetapi mereka salah.

Tiga bulan kemudian, Isabella berdiri di aula pusat teknologi di Tanjung Priok. Kali ini tanpa kamera dan tanpa wartawan.

Di hadapannya duduk puluhan anak muda yang sedang belajar pemrograman.

Pak Budi berada di barisan belakang.

“Dulu saya membangun perusahaan ini dengan keyakinan bahwa teknologi bisa mengubah hidup,” kata Isabella. “Lalu saya lupa mengapa saya memulainya.”

Ia berhenti sejenak.

“Malam ketika semuanya hampir berakhir, justru orang yang paling jarang saya perhatikan yang menyelamatkan saya.”

Semua mata tertuju pada Pak Budi, yang langsung menunduk malu.

Isabella tersenyum.

“Kadang-kadang, orang yang mengubah hidup kita bukanlah mereka yang duduk di ruang rapat atau memakai jas mahal. Kadang, mereka adalah orang-orang yang bekerja diam-diam, yang kebaikannya tak pernah terlihat.”

Setelah acara selesai, Pak Budi menghampirinya.

“Bu Isabella.”

“Ya, Pak?”

Pria tua itu tersenyum.

“Ada satu hal yang belum pernah saya ceritakan.”

“Apa?”

Pak Budi mengeluarkan sebuah amplop tua dari tasnya.

“Dua puluh tahun lalu, saat Ibu masih menyewa kantor kecil di Menteng, saya adalah penjaga gedung di sana.”

Isabella tertegun.

“Saya ingat malam ketika listrik padam dan semua orang pulang. Hanya Ibu yang tetap bekerja sambil menangis karena proyek pertama ditolak investor.”

Ia tertawa pelan.

“Waktu itu, saya yang membelikan Ibu semangkuk mi instan.”

Isabella memandangnya dengan mata membesar.

Perlahan-lahan, kenangan lama yang hampir terlupakan kembali muncul.

Seorang penjaga malam yang memberinya makanan hangat ketika ia merasa seluruh dunia melawannya.

Air mata menggenang di pelupuk matanya.

“Jadi… selama ini…”

Pak Budi mengangguk.

“Saya hanya senang melihat Ibu tidak menyerah.”

Di tengah keramaian aula yang mulai kosong, Isabella akhirnya memahami sesuatu yang tidak pernah diajarkan oleh dunia bisnis.

Bahwa perusahaan bisa dibangun dengan kecerdasan.

Kekayaan bisa diperoleh dengan ambisi.

Tetapi seseorang hanya akan benar-benar bertahan karena kebaikan yang pernah ia berikan kepada orang lain, bahkan ketika ia sendiri tidak menyadarinya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang