Suatu siang, ibu mertuaku melemparkanku ke depan gerbang mansion seperti selembar kain lap, sementara aku masih menggendong bayi kami yang baru lahir.

“Diego, kehidupan yang kalian nikmati selama ini hanyalah pinjaman. Dan sekarang, waktu pinjaman itu telah berakhir.”

Suasana di depan mansion megah di kawasan elite Jakarta Selatan itu mendadak sunyi. Deru mesin mobil-mobil hitam yang berjejer di pinggir jalan terdengar begitu kontras dengan ekspresi terkejut keluarga Santos. Angin sore meniup rambut Maria yang masih berantakan setelah diusir tanpa belas kasihan beberapa menit sebelumnya.

Diego melangkah maju, wajahnya pucat. Pria yang baru beberapa jam lalu membiarkan ibunya mengusir istri dan anaknya kini menatap Maria seperti melihat orang asing.

“Apa ini semua, Maria? Siapa sebenarnya kamu?”

Maria mengusap kepala Baby Angelo yang tertidur dalam gendongannya. Tatapannya dingin, jauh berbeda dari perempuan lembut yang selama tiga tahun terakhir hidup sederhana bersama keluarga Santos.

“Aku pikir kamu sudah mengenalku, Diego. Bukankah kau selalu bilang mencintaiku apa adanya?”

Nyonya Victoria mendengus sinis. “Jangan coba-coba menipu kami dengan sandiwara murahan ini. Kau pasti menyewa orang-orang itu.”

Belum sempat Maria menjawab, seorang pria paruh baya turun dari mobil paling depan. Ia mengenakan jas abu-abu mahal dan membawa map kulit hitam.

“Selamat sore, Nyonya Maria.”

Nyonya Victoria memicingkan mata. Wajahnya perlahan berubah ketika mengenali pria itu.

“Ramos?”

Atty. Ramos adalah salah satu pengacara paling disegani di Indonesia. Selama puluhan tahun, namanya identik dengan keluarga konglomerat dan perusahaan besar. Mustahil baginya bekerja untuk perempuan yang selama ini dianggap hanya berasal dari desa kecil di Jawa Tengah.

“Maaf, Nyonya Victoria,” kata Ramos tenang. “Mulai hari ini, seluruh aset keluarga Santos berada di bawah pembekuan sementara atas perintah pemilik mayoritas perusahaan.”

Diego tertawa pendek, berusaha menyembunyikan kegelisahannya.

“Pemilik mayoritas? Itu mustahil. Aku direktur utama Santos Property.”

Ramos membuka mapnya.

“Lima tahun lalu, perusahaan Anda mengalami kebangkrutan dan nyaris ditutup. Seluruh utang dilunasi melalui investasi rahasia dari Dela Cruz Group. Berdasarkan kontrak, tujuh puluh lima persen saham perusahaan berada di tangan Nona Maria Dela Cruz.”

Wajah Diego seketika kehilangan warna.

“Itu tidak mungkin.”

Maria tersenyum tipis.

“Dulu ayahmu memohon kepada keluargaku untuk menyelamatkan bisnis kalian. Aku yang meyakinkan kakekku agar membantu. Saat itu aku percaya bahwa cinta lebih penting daripada uang.”

Mata Nyonya Victoria membelalak. Selama bertahun-tahun, ia bangga mengaku bahwa keluarganya membangun kerajaan bisnis dengan tangan sendiri. Kini, kenyataan menghantamnya seperti badai.

“Jadi… semua ini milikmu?”

“Bukan hanya mansion ini,” jawab Maria pelan. “Perusahaan, mobil, vila di Bali, apartemen di Singapura. Semuanya.”

Di samping Diego, perempuan muda bergaun merah yang sejak tadi diam mulai mundur perlahan.

“Sayang, kau bilang keluargamu pemilik semuanya…”

Diego menggenggam tangannya panik. “Tunggu dulu, Clarissa.”

Namun Clarissa melepaskan diri.

“Aku tidak pernah berkencan dengan pria miskin.”

Tanpa menoleh lagi, perempuan itu masuk ke mobilnya dan pergi meninggalkan Diego di depan gerbang rumahnya sendiri.

Nyonya Victoria terduduk lemas di tangga. Selama ini, ia memperlakukan Maria seperti pembantu. Ia melarang Maria makan bersama keluarga, menghinanya karena pakaian sederhana yang dikenakannya, bahkan menyuruhnya membersihkan rumah meski sedang hamil besar.

Semua kenangan itu kini berputar di kepalanya.

Sementara itu, Maria menyerahkan Baby Angelo kepada pengasuh yang baru tiba.

“Bawa Angelo pulang.”

“Baik, Nyonya.”

Saat mobil pengasuh mulai bergerak, Diego mendekati Maria.

“Kenapa kau melakukan semua ini? Kalau kau memang kaya, kenapa menyembunyikannya?”

Maria memandang langit yang mulai berubah jingga.

“Aku kehilangan ibuku sejak kecil. Sejak itu, aku tumbuh di tengah orang-orang yang mendekatiku hanya karena uang. Saat bertemu denganmu di kampus, aku ingin percaya bahwa masih ada orang yang mencintaiku tanpa melihat kekayaan.”

“Aku mencintaimu.”

Maria menoleh, lalu tersenyum pahit.

“Benarkah? Kalau begitu, mengapa kau diam saat ibumu melemparkanku keluar sambil membawa anak kita?”

Diego tak mampu menjawab.

Hari itu, Maria pergi meninggalkan mansion bersama iring-iringan mobil mewah. Untuk pertama kalinya sejak menikah, Diego menyadari bahwa ia telah kehilangan sesuatu yang tak akan pernah bisa dibeli.

Berita tentang identitas asli Maria menyebar dengan cepat. Media sosial dipenuhi foto-foto dirinya sebagai pewaris tunggal Dela Cruz Group, perusahaan properti terbesar di Asia Tenggara. Banyak orang terkejut mengetahui bahwa perempuan sederhana yang selama ini diremehkan ternyata memiliki kekayaan yang bahkan tak bisa dibayangkan keluarga Santos.

Dalam hitungan minggu, kehidupan Diego berubah drastis.

Rekening perusahaan dibekukan. Investor menarik dana mereka. Proyek-proyek besar dibatalkan satu demi satu. Mansion yang selama ini menjadi simbol kejayaan keluarga Santos disita oleh bank.

Nyonya Victoria yang dulu selalu tampil anggun di acara sosial kini harus pindah ke apartemen kecil di pinggiran kota.

Suatu malam, Diego berdiri di balkon apartemen sempit itu sambil memandangi lampu Jakarta. Sudah tiga bulan sejak Maria pergi. Ia belum pernah melihat putranya lagi.

“Aku ingin menemui Angelo,” katanya pelan kepada ibunya.

Nyonya Victoria yang duduk di ruang tamu hanya terdiam. Kesombongannya telah runtuh bersama perusahaan keluarga mereka.

“Aku salah,” bisiknya akhirnya.

Diego menoleh.

“Apa?”

“Aku salah tentang Maria.”

Kalimat itu terasa begitu berat keluar dari mulut perempuan yang sepanjang hidupnya tidak pernah mengakui kesalahan.

Beberapa hari kemudian, Diego memberanikan diri datang ke kantor pusat Dela Cruz Group di kawasan SCBD. Gedung kaca setinggi lima puluh lantai itu menjulang megah di tengah kota.

Saat memasuki lobi, ia melihat foto besar Maria terpajang di dinding utama.

“Presiden Direktur.”

Dadanya terasa sesak.

Resepsionis mengenalinya.

“Maaf, Pak Diego. Ibu Maria sedang rapat.”

“Aku akan menunggu.”

Ia menunggu selama enam jam.

Menjelang malam, pintu lift terbuka. Maria keluar mengenakan setelan putih sederhana. Wibawanya berbeda. Tidak ada lagi perempuan pemalu yang dulu selalu menunduk di hadapan ibu mertuanya.

Baby Angelo berada dalam gendongan seorang pengasuh di belakangnya.

Diego berdiri.

“Maria.”

Maria menghentikan langkah.

“Ada apa?”

“Aku ingin meminta maaf.”

Maria menatapnya tanpa emosi.

“Untuk yang mana? Karena membiarkan ibumu menghina istrimu? Karena berselingkuh? Atau karena mengabaikan anakmu?”

Diego menunduk.

“Aku tahu aku tidak pantas dimaafkan.”

Maria diam beberapa saat.

“Aku tidak datang ke keluargamu untuk mencari uang, Diego. Aku datang karena cinta. Tapi cinta tidak bisa bertahan jika hanya diperjuangkan oleh satu orang.”

“Aku menyesal.”

“Penyesalan selalu datang terlambat.”

Diego memandang putranya yang tertidur.

“Bolehkah aku menjadi ayah untuk Angelo?”

Pertanyaan itu membuat Maria terdiam lebih lama.

“Aku tidak akan memisahkan Angelo dari ayahnya,” katanya akhirnya. “Tapi jangan berharap aku kembali.”

Diego mengangguk pelan. Ia tahu kesempatan itu telah hilang selamanya.

Waktu berlalu.

Setahun kemudian, kehidupan Maria kembali stabil. Dela Cruz Group berkembang pesat di bawah kepemimpinannya. Ia menjadi salah satu pengusaha perempuan paling berpengaruh di Indonesia.

Namun, di balik semua keberhasilannya, masih ada satu rahasia yang belum pernah ia ungkap kepada siapa pun.

Malam itu, Maria mengunjungi makam kakeknya di Bandung. Hujan gerimis turun membasahi batu nisan.

Atty. Ramos berdiri di sampingnya.

“Apakah Anda yakin tidak ingin memberi tahu Diego?”

Maria memandangi nama yang terukir di batu.

“Kakek memintaku merahasiakannya.”

“Cepat atau lambat, dia akan tahu.”

Maria menarik napas panjang.

Tepat dua tahun sebelum bertemu Diego, Maria sebenarnya telah mengetahui bahwa dirinya mengidap penyakit jantung langka yang diwariskan dalam keluarganya. Dokter mengatakan bahwa usianya mungkin tidak panjang.

Karena itulah ia memilih meninggalkan kehidupan mewah dan hidup sederhana. Ia ingin merasakan dicintai sebagai manusia biasa sebelum waktunya habis.

Namun takdir mempertemukannya dengan Diego.

“Aku hanya ingin Angelo tumbuh dengan ayah dan ibu yang mencintainya,” kata Maria lirih.

Beberapa bulan kemudian, kondisinya mulai memburuk. Ia sering pingsan di tengah rapat dan diam-diam menjalani perawatan.

Suatu malam, ketika sedang bermain dengan Angelo di taman rumahnya, Maria tiba-tiba jatuh tak sadarkan diri.

Kabar itu sampai ke Diego.

Tanpa berpikir panjang, Diego bergegas ke rumah sakit. Di ruang ICU, ia melihat Maria terbaring lemah untuk pertama kalinya.

Atty. Ramos menyerahkan sebuah amplop.

“Ada sesuatu yang harus Anda ketahui.”

Di dalamnya terdapat hasil pemeriksaan medis Maria selama bertahun-tahun.

Diego membaca lembar demi lembar dengan tangan gemetar.

Air matanya jatuh.

Selama ini, ia mengira Maria menyamar demi mengujinya. Ia tidak pernah tahu bahwa perempuan itu sedang berpacu dengan waktu.

Saat Maria sadar beberapa jam kemudian, Diego duduk di samping tempat tidurnya.

“Kenapa kau tidak pernah bilang?”

Maria tersenyum lemah.

“Karena aku tidak ingin dikasihani.”

“Kau bodoh.”

Maria terkekeh pelan.

“Mungkin.”

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, mereka berbicara tanpa kemarahan.

“Aku tidak tahu apakah kita bisa kembali seperti dulu,” kata Maria.

Diego menggenggam tangannya.

“Aku juga tidak tahu. Tapi apa pun yang terjadi, aku tidak akan meninggalkanmu lagi.”

Maria menatap wajah pria yang dulu sangat dicintainya. Luka di hatinya belum sepenuhnya sembuh, tetapi untuk pertama kalinya, ia melihat penyesalan yang tulus.

Beberapa minggu kemudian, Maria menjalani operasi besar.

Operasi itu berlangsung hampir dua belas jam.

Diego menunggu di depan ruang operasi bersama Nyonya Victoria, yang kini tampak jauh lebih tua dan rapuh.

“Aku ingin meminta maaf padanya,” bisik perempuan tua itu.

“Kalau Maria selamat, katakan sendiri.”

Pintu ruang operasi akhirnya terbuka.

Dokter keluar sambil melepas masker.

“Operasinya berhasil.”

Nyonya Victoria menangis untuk pertama kalinya dalam hidupnya.

Enam bulan kemudian, di taman rumah baru Maria yang sederhana di pinggiran Jakarta, Baby Angelo berlari mengejar kupu-kupu.

Maria duduk di kursi kayu sambil menikmati matahari sore.

Diego datang membawa dua cangkir teh.

“Apa kau masih marah padaku?”

Maria menerima cangkir itu dan tersenyum tipis.

“Aku tidak tahu.”

“Berapa lama lagi aku harus menunggu?”

Maria memandang putra mereka yang tertawa riang.

“Mungkin seumur hidup.”

Diego tertawa kecil.

“Kalau begitu, aku akan menunggu.”

Di kejauhan, Nyonya Victoria memperhatikan mereka sambil menggendong Angelo. Perempuan yang dulu mengusir menantunya seperti sampah kini menghabiskan hari-harinya membantu merawat cucunya.

Maria akhirnya menyadari sesuatu yang selama ini tidak dipahaminya.

Kekayaan bisa membeli rumah terbesar, mobil termewah, dan perusahaan paling sukses. Namun, uang tidak pernah bisa membeli ketulusan, kesetiaan, ataupun kesempatan kedua.

Dan terkadang, kehilangan adalah satu-satunya cara agar seseorang belajar menghargai apa yang pernah dimilikinya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang