Matthew Reyes mengenali jalan tempat tinggalnya bahkan sebelum sempat membaca nama yang tertera di papan jalan. Tujuh tahun bukan waktu yang singkat, tetapi ingatan tentang rumah masa kecilnya masih tersimpan begitu jelas. Deretan pohon mahoni di trotoar, pagar-pagar tua yang mulai berkarat, dan suara anak-anak bermain bola di ujung gang membangkitkan sesuatu yang selama ini ia kubur rapat-rapat di dalam hati.
Langkahnya melambat saat rumah itu akhirnya terlihat.

Rumah bercat putih yang dulu selalu dirawat ibunya kini tampak kusam. Catnya mengelupas di beberapa bagian, dan halaman depan yang biasanya dipenuhi bunga mawar kini dipenuhi rumput liar. Matthew berhenti di depan pagar, menggenggam tas kecilnya lebih erat.
Ia menarik napas panjang, lalu membuka pagar itu.
Suara deritnya terdengar asing.
Matthew mengetuk pintu.
Tidak ada jawaban.
Ia mengetuk lagi, lebih keras kali ini. Setelah beberapa saat, terdengar langkah kaki pelan dari dalam rumah. Pintu terbuka sedikit, dan seorang perempuan tua menatapnya dengan bingung.
Matthew mengernyit.
“Maaf… saya mencari keluarga Reyes.”
Perempuan itu memandangnya beberapa detik sebelum menjawab, “Mereka pindah lima tahun lalu.”
Dunia Matthew seperti berhenti berputar.
“Pindah?”
“Iya. Mereka menjual rumah ini setelah suami istrinya sakit-sakitan. Kamu keluarga mereka?”
Matthew tidak langsung menjawab. Tenggorokannya terasa kering.
“Saya anak mereka.”
Perempuan itu tampak terkejut. “Kamu Matthew?”
Matthew mengangguk perlahan.
Perempuan itu membuka pintu lebih lebar. “Masuklah sebentar. Ada sesuatu yang harus kamu lihat.”
Di ruang tamu, perempuan itu mengambil sebuah kotak tua dari lemari. Di atasnya tertulis nama Matthew dengan tulisan tangan ibunya.
“Ayahmu menitipkan ini kepada pemilik rumah sebelumnya. Katanya, kalau suatu hari kamu pulang, kotak ini harus diberikan kepadamu.”
Tangan Matthew gemetar ketika membuka tutup kotak itu.
Di dalamnya ada puluhan amplop.
Semuanya ditujukan kepadanya.
Dengan napas memburu, Matthew membuka surat pertama.
Nak, kami datang ke penjara hari ini, tetapi petugas bilang kamu menolak bertemu kami. Ibumu menangis sepanjang perjalanan pulang. Kami tidak tahu apa kesalahan kami.
Matthew membeku.
Ia membuka surat kedua.
Kami datang lagi bulan ini. Kata mereka, kamu tidak ingin menerima kunjungan siapa pun. Jika suatu saat kamu berubah pikiran, kami akan selalu menunggumu.
Surat ketiga.
Surat keempat.
Surat kelima.
Semua berisi hal yang sama.
Setiap bulan, selama bertahun-tahun, orang tuanya datang mengunjunginya. Dan setiap kali, mereka dipulangkan dengan jawaban yang sama: Matthew tidak ingin bertemu mereka.
“Itu tidak mungkin,” bisiknya.
Perempuan tua itu menghela napas. “Ayahmu pernah bilang bahwa kalian pasti sedang terjebak dalam kesalahpahaman yang besar.”
Matthew hampir tidak mendengar kalimat itu. Kepalanya dipenuhi kenangan tentang malam-malam di penjara ketika ia menunggu seseorang datang. Tentang ulang tahunnya yang ketiga puluh, ketika ia duduk sendirian di sel sambil meyakinkan dirinya bahwa keluarganya telah melupakannya.
Ternyata, selama ini, mereka datang.
Mereka selalu datang.
“Di mana mereka tinggal sekarang?” tanyanya cepat.
Perempuan itu menuliskan sebuah alamat di secarik kertas.
“Tidak jauh dari sini. Tapi ayahmu sudah sakit cukup lama.”
Matthew berlari keluar sebelum perempuan itu sempat menyelesaikan kalimatnya.
Perjalanan menuju alamat baru itu terasa seperti mimpi buruk. Setiap langkah membuat dadanya semakin sesak. Kemarahan, kebingungan, dan rasa bersalah bercampur menjadi satu.
Siapa yang telah membohongi mereka?
Siapa yang membuat kedua belah pihak percaya bahwa mereka saling meninggalkan?
Rumah baru orang tuanya jauh lebih kecil. Sebuah rumah sederhana di pinggiran kota dengan cat hijau pucat dan teras sempit.
Matthew berdiri beberapa saat di depan pintu.
Tiba-tiba, pintu terbuka.
Seorang anak laki-laki keluar sambil membawa mobil-mobilan.
Usianya sekitar delapan tahun.
Anak itu menatap Matthew dengan rasa ingin tahu.
“Om cari siapa?”
“Aku mencari Carlos dan Elena Reyes.”
Anak itu tersenyum. “Kakek dan nenek ada di dalam.”
Sebelum Matthew sempat bertanya lebih jauh, terdengar suara batuk dari dalam rumah.
Kemudian ibunya muncul.
Rambut Elena yang dulu hitam kini hampir seluruhnya memutih. Wajahnya dipenuhi kerutan yang tak pernah ada tujuh tahun lalu.
Ia menatap Matthew tanpa bergerak.
Tas kecil Matthew terjatuh ke tanah.
“Ibu…”
Elena memegang kusen pintu agar tidak terjatuh.
“Matthew?”
Hanya satu kata.
Namun tujuh tahun kerinduan, kemarahan, dan kesedihan runtuh bersamanya.
Ibunya memeluknya erat sambil menangis. Matthew bisa merasakan tubuh perempuan itu gemetar.
“Kau pulang,” bisik Elena.
“Aku pulang.”
Dari dalam rumah, Carlos berjalan tertatih dengan tongkat. Wajah pria itu jauh lebih tua dari yang Matthew ingat.
Namun matanya masih sama.
Mereka saling menatap cukup lama sebelum Carlos mendekat dan meletakkan tangannya di bahu Matthew.
“Akhirnya,” katanya pelan.
Malam itu, mereka duduk di ruang tamu kecil dan mulai menceritakan semua yang telah terjadi.
“Kami datang setiap bulan,” kata Elena sambil menyeka air mata. “Tapi petugas selalu bilang kau menolak bertemu kami.”
Matthew menggeleng keras.
“Aku menunggu kalian setiap hari. Mereka bilang kalian tidak pernah datang.”
Keheningan menyelimuti ruangan.
“Bagaimana mungkin?” gumam Carlos.
Anak laki-laki yang tadi membuka pintu duduk diam di sudut ruangan, memperhatikan percakapan mereka.
“Dia siapa?” tanya Matthew.
“Nico,” jawab Elena. “Anak tetangga. Orang tuanya meninggal dua tahun lalu, jadi dia sering tinggal bersama kami.”
Anak itu tersenyum malu-malu.
Matthew mengangguk, tetapi pikirannya masih dipenuhi pertanyaan.
Malam semakin larut ketika Nico tiba-tiba berkata, “Aku pernah melihat orang yang membawa surat-surat itu.”
Semua orang menoleh.
“Apa maksudmu?”
Nico tampak ragu.
“Dulu, waktu aku masih kecil, aku sering ikut nenek ke kantor pos dekat sini. Ada seorang pria yang beberapa kali datang membawa banyak amplop dari kakek dan nenek.”
“Lalu?”
“Dia selalu memasukkan amplop itu ke mobil hitam. Tapi suatu hari, aku lihat dia membuang sebagian surat ke tempat sampah.”
Ruangan mendadak sunyi.
“Kau ingat siapa orang itu?” tanya Matthew.
Anak itu mengangguk perlahan.
“Namanya Daniel.”
Nama itu menghantam Matthew seperti pukulan.
Daniel Harper.
Petugas administrasi penjara yang selama bertahun-tahun mengurus surat dan daftar kunjungan narapidana.
Matthew mengenalnya.
Pria itu selalu terlihat ramah.
Tetapi kini, untuk pertama kalinya, sesuatu terasa salah.
Keesokan harinya, Matthew pergi ke penjara tempat ia menjalani hukuman. Setelah beberapa pertanyaan dan tekanan, seorang mantan sipir akhirnya mengaku bahwa Daniel pernah diberhentikan tiga tahun sebelumnya karena kasus manipulasi dokumen.
“Dia sering menerima uang dari keluarga narapidana lain untuk mempermudah kunjungan,” kata sipir itu. “Tapi kami tidak pernah tahu seberapa jauh dia melakukannya.”
Matthew merasa darahnya mendidih.
Setelah mencari selama beberapa hari, ia akhirnya menemukan alamat Daniel.
Pria itu tinggal sendirian di apartemen kecil.
Ketika membuka pintu dan melihat Matthew berdiri di depannya, wajah Daniel langsung pucat.
“Aku hanya ingin tahu satu hal,” kata Matthew dingin. “Kenapa?”
Daniel duduk lemas di sofa.
“Aku tidak punya pilihan.”
“Itu bukan jawaban.”
Pria itu menunduk.
“Tujuh tahun lalu, seseorang membayarku.”
Matthew terdiam.
“Siapa?”
Daniel memejamkan mata.
“Jaksa yang menangani kasusmu.”
Matthew mengernyit.
“Untuk apa?”
“Dia yakin kau bersalah. Dia bilang keluargamu akan mengganggu proses hukum dan membuatmu terus berharap. Dia memintaku memutus semua hubungan kalian.”
“Dan kau menerimanya?”
“Aku punya utang. Anakku sakit. Aku pikir hanya beberapa bulan. Tapi semuanya semakin jauh.”
Matthew mengepalkan tangannya.
Tujuh tahun.
Tujuh tahun hidupnya hilang karena kebohongan seseorang yang bahkan tidak mengenalnya.
Ia meninggalkan apartemen itu tanpa memukul Daniel, meskipun sebagian dirinya menginginkannya.
Saat berjalan pulang, ia menyadari sesuatu yang lebih menyakitkan daripada pengkhianatan itu sendiri.
Selama bertahun-tahun, ia telah membenci orang tuanya.
Sementara orang tuanya menyalahkan diri mereka sendiri.
Dan tidak ada yang bisa mengembalikan waktu yang telah dicuri.
Beberapa minggu kemudian, Matthew mulai membangun kembali hidupnya. Ia membantu ayahnya memperbaiki rumah, menemani ibunya memasak, dan perlahan belajar mengenal Nico yang ternyata sangat cerdas.
Suatu sore, ketika mereka duduk di teras, Nico bertanya, “Om marah sama kakek dan nenek?”
Matthew tersenyum tipis.
“Dulu, iya.”
“Sekarang?”
Matthew memandang kedua orang tuanya yang sedang tertawa di dapur.
“Sekarang aku tahu bahwa terkadang orang-orang bisa dipisahkan bukan karena mereka berhenti saling mencintai, tetapi karena seseorang membuat mereka percaya bahwa cinta itu sudah hilang.”
Nico terdiam beberapa saat.
“Aku takut melupakan wajah ayah dan ibuku.”
Matthew mengusap kepala anak itu.
“Kalau begitu, jangan simpan mereka hanya di ingatanmu. Simpan mereka dalam setiap hal baik yang kau lakukan.”
Beberapa bulan kemudian, sebuah surat datang.
Bukan dari penjara.
Bukan dari pengadilan.
Melainkan dari kantor kejaksaan.
Setelah penyelidikan baru terhadap sejumlah pelanggaran prosedur, ditemukan bukti bahwa kasus Matthew dahulu dipenuhi manipulasi kesaksian dan penyembunyian informasi penting. Namanya resmi dibersihkan.
Matthew membaca surat itu dua kali.
Anehnya, ia tidak merasa bahagia.
Kebebasan sejatinya bukanlah surat itu.
Kebebasannya dimulai pada hari ketika pintu rumah kecil itu dibuka oleh ibunya.
Pada hari ia mengetahui bahwa selama ini ia tidak pernah ditinggalkan.
Malam itu, ia menyimpan surat resmi tersebut ke dalam kotak yang sama dengan puluhan surat dari orang tuanya.
Lalu ia mengambil foto keluarga yang sudah lusuh dan meletakkannya di atas semua surat.
Untuk pertama kalinya setelah tujuh tahun, Matthew memahami sesuatu yang selama ini tak pernah diajarkan siapa pun kepadanya.
Keheningan tidak selalu berarti ketiadaan cinta.
Kadang-kadang, keheningan hanyalah suara dari sebuah kebohongan yang terlalu lama dibiarkan hidup.
Dan terkadang, satu-satunya cara untuk mematahkannya adalah dengan tetap percaya bahwa seseorang, di suatu tempat, masih menunggu kita pulang.
